Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Besar Keluarga Vasiliev
Pagi itu langit kota cerah tanpa awan ketika iring-iringan mobil hitam kembali bergerak keluar dari penthouse pusat kota.
Kali ini tujuan mereka bukan gedung perusahaan, bukan hotel mewah, bukan rumah sakit tempat Tuan Octavian dirawat.
Tujuannya adalah tempat yang jarang dibicarakan publik, tetapi dikenal semua kalangan elite:
Rumah Besar Keluarga Vasiliev.
Mobil utama melaju melewati kawasan utara kota, menembus jalanan rindang yang dijaga keamanan berlapis. Semakin jauh dari pusat kota, bangunan-bangunan modern berganti dengan lahan luas dan pagar tinggi.
Di dalam mobil, Elara duduk diam sambil membaca beberapa dokumen.
Viktor menoleh sedikit.
“Sudah lama Anda tidak ke sana.”
“Tiga tahun.”
“Tuan Besar sengaja meminta Anda datang pagi ini.”
“Aku tahu.”
“Anda gugup?”
Elara menutup map.
“Tidak.”
Namun setelah jeda pendek, ia menambahkan,
“Hanya tidak suka nostalgia.”
Gerbang utama rumah besar akhirnya terlihat.
Besi hitam setinggi dua lantai dengan lambang keluarga V berwarna emas di tengahnya. Dua penjaga berseragam berdiri tegak di kanan kiri.
Saat mobil mendekat, gerbang terbuka perlahan.
Jalan masuk membentang panjang, diapit pepohonan pinus tua dan taman terawat sempurna. Air mancur marmer berdiri megah di bundaran tengah, memantulkan cahaya pagi.
Di kejauhan, bangunan utama menjulang seperti istana modern klasik.
Dinding batu putih.
Pilar tinggi.
Jendela-jendela besar.
Atap gelap berukir detail.
Rumah itu tidak sekadar besar.
Rumah itu dibuat untuk mengingatkan siapa pun yang datang bahwa keluarga ini telah berkuasa lama sebelum mereka lahir.
Viktor tersenyum tipis.
“Masih mengintimidasi?”
“Masih berlebihan.”
Mobil berhenti di depan tangga utama.
Puluhan staf rumah sudah berbaris rapi.
Kepala pelayan tua, Madame Irina, maju selangkah dan membungkuk hormat.
“Selamat datang kembali, Nona Anastasia.”
Elara turun dari mobil.
Udara pagi terasa berbeda di tempat ini—lebih dingin, lebih tenang, lebih berat oleh kenangan.
“Irina.”
Wanita tua itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Rumah ini terlalu lama sepi tanpa Anda.”
Elara tersenyum kecil.
“Rumah sebesar ini tidak pernah sepi.”
“Benar.”
Irina menatap lurus.
“Tapi bisa kosong.”
Saat Elara melangkah masuk ke foyer utama, langkahnya sempat terhenti.
Ruangan itu sama seperti dulu.
Lantai marmer putih mengilap.
Tangga melingkar kembar ke lantai dua.
Lampu gantung kristal raksasa.
Lukisan leluhur keluarga memenuhi dinding.
Dan aroma kayu tua bercampur bunga segar yang selalu sama sejak masa kecilnya.
Ia teringat dirinya kecil berlari di lantai itu sambil dikejar guru privat.
Teringat duduk di tangga sambil menangis saat dimarahi Octavian pertama kali.
Teringat berdiri di tengah ruangan pada usia tujuh belas, diminta memilih antara hidup biasa atau menjadi penerus.
Ia memilih pergi tiga tahun lalu.
Dan kini ia kembali.
Di ruang sarapan timur, Tuan Octavian sudah menunggu.
Hari ini ia tidak memakai pakaian rumah sakit, melainkan setelan abu tua lengkap. Tongkat kayunya berada di samping kursi.
Ia tampak lebih kuat dari kabar terakhir.
“Kau lambat.”
Elara duduk di hadapannya.
“Aku datang tepat waktu.”
“Kau mewarisi kebiasaanku membantah.”
“Aku mewarisi terlalu banyak hal dari Kakek.”
Octavian tersenyum.
“Bagus. Artinya aset keluarga aman.”
Irina menyajikan teh dan roti hangat.
Elara menatap pria tua itu.
“Kondisi Kakek cukup baik untuk pulang rupanya.”
“Aku cukup baik untuk mengatur orang bodoh dari rumah sendiri.”
“Kakek selalu terdengar sehat saat menghina orang.”
“Rahasia umur panjang.”
Elara hampir tersenyum.
Hanya di depan pria tua ini ia masih bisa menjadi cucu… walau setengah dipaksa.
Setelah sarapan, Octavian memintanya ikut ke ruang keluarga utama.
Ruangan itu lebih besar dari sebagian apartemen mewah di kota.
Perapian marmer.
Rak buku setinggi dinding.
Piano hitam mengilap.
Dan di tengah, meja oval panjang yang sering dipakai rapat internal keluarga.
Beberapa orang sudah menunggu di sana.
Cassian.
Dua bibi Elara.
Seorang paman.
Tiga pengacara keluarga.
Dan beberapa anggota keluarga lain yang baru muncul saat harta sedang bergerak.
Cassian menyandarkan tubuh sambil tersenyum tipis.
“Putri hilang akhirnya pulang ke istana.”
Elara duduk tanpa menoleh padanya.
“Sementara tikus sudah nyaman di ruang makan.”
Suasana langsung menegang.
Octavian tertawa pendek.
“Bagus. Sekarang kita mulai.”
Paman Gregor, pria berusia lima puluhan dengan wajah keras, membuka map.
“Ayah memanggil kami mendadak. Untuk apa?”
Octavian mengetuk tongkat sekali ke lantai.
“Untuk mengingatkan bahwa aku belum mati.”
Tak ada yang berani bicara.
Ia melanjutkan,
“Dan untuk mengumumkan perubahan struktur keluarga.”
Salah satu bibi langsung menegang.
“Perubahan apa?”
Octavian menatap Elara.
“Mulai hari ini, Anastasia Elara Vasiliev kembali menjadi pemegang hak suara utama kedua setelah aku.”
Ruangan seketika gaduh.
“Ini gila!”
“Dia pergi bertahun-tahun!”
“Cassian yang bekerja selama ini!”
Cassian tak bicara, tetapi rahangnya mengeras.
Elara sendiri tetap diam.
Ia tahu ini akan datang.
Tetap saja, keluarga selalu lebih bising dari pasar saham.
Paman Gregor berdiri.
“Saya menolak.”
Octavian menoleh pelan.
“Kau tidak diminta setuju.”
“Dia meninggalkan tanggung jawab!”
“Dan kau memanfaatkan ketidakhadirannya.”
“Fitnah!”
Octavian menunjuk pengacara.
“Tampilkan file 12B.”
Layar besar di dinding menyala.
Data transaksi muncul.
Transfer mencurigakan.
Properti dialihkan.
Dana yayasan keluarga dipakai untuk kepentingan pribadi.
Wajah Gregor memucat.
Ruangan membeku.
Elara menatap datar.
“Aku baru duduk lima menit dan sudah dapat hiburan.”
Bibi Valentina buru-buru bicara.
“Ayah, kita keluarga. Tak perlu membuka aib.”
Octavian menatap tajam.
“Kalian ingat kata keluarga saat uang mulai ditanya.”
Cassian akhirnya bersuara.
“Kalau Elara kembali hanya untuk perang, perusahaan akan hancur.”
Elara menoleh padanya untuk pertama kali.
“Perusahaan hampir hancur saat aku belum bicara apa-apa.”
Cassian tersenyum miring.
“Kau merasa paling pintar.”
“Tidak.”
Ia merapikan lengan baju.
“Aku hanya dikelilingi standar rendah.”
Beberapa pengacara menunduk menahan ekspresi.
Sementara itu, di kantor Moretti Holdings, Damian menerima laporan tentang jaringan kepemilikan Vasiliev.
Asistennya menunjuk diagram di layar.
“Rumah besar keluarga menjadi pusat trust utama.”
Damian membaca cepat.
“Siapa pengendali kedua sekarang?”
Asisten ragu.
“Anastasia Elara Vasiliev.”
Damian berhenti sejenak.
Nama itu kini muncul di laporan bisnis, berita, dan pikirannya terlalu sering.
“Jadwalkan pertemuan dengan konsultan merger.”
“Terkait Vasiliev?”
“Terkait masa depan perusahaan kita.”
Ia tak menambahkan satu hal lain:
dan mungkin masa depan hidupnya.
Kembali di rumah besar.
Setelah rapat panas selesai, anggota keluarga keluar satu per satu dengan wajah gelap.
Cassian berhenti di dekat Elara.
“Kau suka membuat musuh.”
Elara tetap duduk.
“Aku suka memperjelas siapa mereka.”
Cassian membungkuk sedikit.
“Hati-hati di rumah ini. Dindingnya mendengar.”
Ia pergi.
Viktor yang berdiri di pintu berkata pelan,
“Perlu pengamanan tambahan?”
Elara bangkit.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kalau orang mau menusuk dari belakang, biarkan mereka mendekat.”
Siang hari, Elara berjalan sendiri ke taman belakang rumah.
Hamparan rumput luas, kolam batu, dan gazebo kayu tua masih sama seperti dulu.
Di sanalah ibunya dulu membacakan cerita saat ia kecil.
Di sanalah ia pernah bersumpah akan pergi dan tak kembali.
Ia menyentuh bangku taman tua.
Kenangan kadang lebih tajam dari musuh hidup.
Irina datang membawa selimut tipis.
“Angin dingin.”
“Aku baik.”
“Boleh saya jujur?”
Elara mengangguk.
“Rumah ini besar, Nona.”
Irina menatap bangunan utama.
“Tapi selama Anda pergi… terasa kecil sekali.”
Elara diam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa pada kesetiaan sederhana seperti itu.
Menjelang sore, Octavian memanggilnya ke perpustakaan pribadi.
Pria tua itu berdiri di depan jendela.
“Apa pendapatmu?”
“Tentang keluarga kita?”
“Ya.”
Elara berjalan mendekat.
“Berisik, rakus, dan mudah panik.”
Octavian tersenyum puas.
“Bagus. Kau masih cocok memimpin.”
“Aku belum bilang mau.”
Pria tua itu menoleh.
“Kau sudah kembali ke rumah ini. Itu sudah jawaban.”
Elara menatap keluar jendela.
Di kejauhan kota tampak kecil.
Jauh di tempat lain, ada mansion Moretti yang dulu terasa besar.
Kini dibanding rumah ini… tampak seperti panggung kecil dari pelajaran singkat.
Namun anehnya, justru dari panggung kecil itulah sesuatu di hidupnya mulai berubah.
Dan ia tidak yakin apakah itu bisnis…
atau Damian Moretti.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄