NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua puluh Enam.

Sinta baru saja selesai menyapu daun-daun kering yang berjatuhan di halaman belakang. Ia hanya sendirian di sana. Sementara Lani yang sebelumnya izin ke kamar mandi, belum juga menampakkan wajahnya kembali di sini.

Sinta berdecak kesal.

"Kemana gadis itu pergi? Kenapa dia tidak kunjung kembali? Apa dia sekalian mencuci kamar mandinya?" ia tak berhenti menggerutu di sela-sela pekerjaannya.

Ia mau tak mau menyapu halaman yang luas itu seorang diri.

Tak lama, Lani datang dengan langkah yang tergesa-gesa. Wajahnya terlihat penuh keringat dengan napas yang tersengal.

"Kau darimana saja? Kenapa tampak kelelahan begitu? Apa kau habis berlari?" Sinta langsung mencecarnya dengan serentetan pertanyaan.

Lani tampak mengatur napasnya sejenak sebelum menjawabnya.

"Aku dari kamar mandi. Kan aku sudah bilang tadi." jawabnya setelah napasnya lebih stabil.

"Kenapa lama sekali? Kau hampir satu jam di sana. Aku bahkan sudah menyapu setengah halaman sendirian." Sinta tak berhenti mengomeli dirinya.

Lani malah terkekeh pelan. "Perutku sakit." jelasnya santai, seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.

"Dasar kau ini." keluh Sinta kesal.

Mereka lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

🌺🌺🌺

Siang harinya di kantor Maxime.

Suasana ruang rapat siang itu tampak kacau, tegang dan sedikit mencekam.

Brand Manager dan seluruh divisi marketing tampak pucat dan ketakutan melihat amarah Maxime yang meledak-ledak.

"Apa ini?" tanyanya tajam, dengan nada tinggi yang menekan.

Ia melemparkan berkas ke atas meja dengan kasar, ke hadapan mereka. Berkas tersebut berisi beberapa data calon talent yang akan di pakai sebagai brand ambassador untuk produk make-up serian terbaru yang akan mereka luncurkan.

Namun, tidak ada satupun yang di terima oleh Maxime. Padahal calon-calon talent yang mereka siapkan, bukanlah orang biasa. Melainkan model-model terkenal dan beberapa influencer terkenal yang memiliki jutaan pengikut.

Maxime menghela napas sejenak, mencoba mengontrol emosinya agar tidak semakin meluap.

"Apa kalian benar-benar memahami apa yang aku minta?" tanya Maxime dengan nada rendah, tenang, namun penuh ketegasan.

Tak ada satu pun yang berani menjawab. Semua orang serentak menundukkan wajahnya. Beberapa bahkan tak henti menyeka keringat dingin yang membanjiri pelisnya.

Bukan karena ruangan yang terasa panas, melainkan karena ketakutan yang meliputi semua orang.

Maxime berdiri dari kursinya perlahan. Tatapannya menyapu satu per satu tim marketing di hadapannya, dingin, tajam dan penuh penilaian.

"Aku tidak butuh model yang terkenal dan memiliki jutaan pengikut di media sosialnya." lanjutnya, suaranya kini lebih tegas.

"Brand ini sedang meluncurkan seri make-up dengan konsep natural, segar dan real. Bukan wajah yang sudah terlalu sering muncul di layar televisi." lanjutnya sambil menggebrak meja di hadapan manager nya.

Pria itu memegang jantungnya yang nyaris melompat keluar karena terkejut.

"Lalu apa ini?" Maxime menyilangkan kedua tangan di dada. "Nama-nama lama, wajah lama. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi brand ambassador kompetitor."

Seorang wanita dari tim marketing menelan ludah dengan gugup. "Kami pikir..."

"Kalian tidak berpikir." potong Maxime tajam. "Kalau kalian berpikir, kalian akan tahu bahwa pasar sekarang haus akan sesuatu yang baru. Bukan sekedar cantik, tapi punya aura yang menampilkan kecantikan alaminya."

Ruangan kembali hening. Bahkan suara napas pun terasa berat.

Maxime melangkah mendekat ke meja, kedua tangannya bertumpu di atas permukaan kaca, sedikit membungkuk. Sorot matanya semakin tajam dan dalam.

"Aku minta wajah baru. Seseorang yang belum pernah terjamah industri. Yang masih punya keaslian, bukan yang sudah dipoles apalagi di 'permak' oleh dokter bedak plastik."

Ia berhenti sejenak, lalu menegakkan tubuhnya.

"Kalian punya waktu satu minggu." ucapnya pelan, namun penuh ketegasan yang tidak terbantahkan, membuat semua orang merinding ketakutan. "Cari, seleksi. Dan pastikan saat kalian kembali ke ruangan ini, kalian membawa sesuatu yang layak untuk dilihat."

"Apa boleh dari kalangan orang biasa, Pak?" seseorang memberanikan diri untuk bertanya, dan lebih memperjelas kebingungannya.

"Terserah dari mana pun itu. Entah itu kalangan biasa, saudara, ataupun teman perempuan, bahkan penjual sayur di pasar. Siapa pun itu yang memenuhi kriteria yang ku minta." jawabnya tajam, sedikit melebarkan matanya, menatap orang tersebut.

"B-baik, Pak." ia menjawab dengan bibir yang bergetar.

Maxime berbalik, berjalan ke arah pintu keluar. Di ikuti oleh Jordi di belakangnya.

"Oh, satu lagi..." langkahnya terhenti, ia menoleh sekilas ke arah mereka. Senyum tipis tersungging di bibirnya, dingin dan terlihat mengerikan. "Kalau kali ini kalian masih gagal, mungkin aku harus mencari tim marketing lain yang bisa bekerja dengan sempurna."

Pintu ruangan itu lalu tertutup. Orang-orang yang tertinggal di ruangan itu tampak panik dan dengan cepat ikut meninggalkan ruangan tersebut.

🌺🌺🌺

Jonathan baru saja pulang ke apartemennya bersama seorang wanita. Namanya Clara, dia adalah salah seorang kliennya. Wanita itu baru saja resmi bercerai beberapa bulan yang lalu.

Jonathan mengundangnya ke apartemen untuk makan malam bersama.

Si pria hidung belang itu sepertinya tertarik pada Clara.

Makan malam itu berjalan lancar dan dipenuhi oleh percakapan ringan. Denting sendok dan garpu beradu pelan di atas piring porselen, sementara cahaya lampu gantung memantul hangat di atas meja makan.

Aroma steak panggang dan saus lada hitam memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang nyaris sempurna.

Clara tersenyum sesekali menanggapi candaan yang dilontarkan oleh Jonathan. Dua gelas anggur merah melengkapi makan malam yang indah itu.

Keduanya tampak bersulang, untuk merayakan malam yang dipenuhi dengan suasana romantis.

Kini, keduanya sudah berada di sofa panjang. Dengan cahaya lampu yang berpendar lembut, menyelimuti ruangan dengan nuansa hangat yang menenangkan.

Clara duduk dengan anggun, kedua tangannya bertaut di atas pangkuan. Sementara Jonathan berada tak jauh darinya, satu tangan bersandar di punggung sofa, tubuhnya sedikit condong mendekat.

"Apartemenmu sangat nyaman." ucap Clara lembut.

"Tidak akan terasa nyaman kalau tidak ditemani oleh orang yang tepat." balas Jonathan tanpa ragu.

Clara tersenyum tipis. "Apa kau juga bicara begitu pada tamu wanitamu yang lain?"

Jonathan membalas senyumannya. "Tentu saja tidak."

"Tidak semua..." sahut Clara, sengaja menggodanya.

Jonathan menggeser tubuhnya lebih dekat. Jarak di antara keduanya semakin menipis. Aroma parfumnya yang lembut terasa semakin jelas.

"Clara..." suaranya merendah, nyaris seperti bisikan.

Wanita itu menoleh, tatapan keduanya bertemu sejenak. Ada sesuatu yang menggantung di udara, ketegangan yang tidak terucap.

Tatapan itu semakin dalam dan dekat. Bibir mereka nyaris bersentuhan, namun suara bel di pintu menahan segalanya.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali tanpa henti.

"Siapa yang tidak tahu diri mengganggu orang semalam ini." pria itu tampak menggerutu.

"Sebentar ya. Aku akan lihat siapa yang datang." ucapnya pada wanita itu.

Clara tersenyum dan meminum anggurnya dengan tenang.

Sementara Jonathan melangkah cepat menuju pintu masuk. Ia melihat lebih dulu dari layar intercom di dekat pintu.

Wajah Maxime yang menyebalkan terlihat pada layar. Ia ingin sekali mengabaikannya, namun si bodoh itu terus menekan bel tanpa henti.

Jonathan segera membuka pintu depan sedikit kasar. Raut wajahnya tampak kesal, seolah ingin membunuh pria di hadapannya itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jonathan dingin.

"Hei, kenapa kau tampak marah?" tanya Maxime balik. "Apa aku mengganggu si 'kecil' yang sedang aktif?"

Jonathan tidak menjawab, ia hanya menghunuskan tatapan tajam ke arahnya.

Rasanya ia ingin sekali menendangnya keluar.

🌺🌺🌺

1
Xlyzy
Alya yang kuat ya, semoga Oprasi ibu mu berhasil
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!