NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendaratan Sang Tuan Kecil

Episode 26

Langit di atas Samudra Pasifik tidak lagi berwarna hitam, melainkan berubah menjadi ungu kelam yang berpendar, seolah olah atmosfer telah diresapi oleh tinta dimensi lain. The Absolute berdiri tegak di tengah gejolak ombak, sebuah pulau besi yang tampak tak berdaya menghadapi keheningan maut dari piramida hitam di depannya. Tidak ada suara mesin, tidak ada suara burung laut, hanya ada dengungan frekuensi rendah yang membuat tulang sumsum siapa pun yang mendengarnya terasa bergetar.

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah distorsi udara muncul tepat di atas dek penerbangan kapal induk. Udara seolah terlipat, menyingkapkan sosok jet siluman The Phantom 0 yang mendarat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu kaki-kaki pesawat menyentuh lantai logam, pintu kabin terbuka dengan desis udara yang halus.

Arthur melangkah keluar. Ia masih mengenakan seragam olahraga sekolahnya yang berwarna biru, dengan tas ransel kuning bergambar dinosaurus yang masih bertengger di pundaknya. Di tangan kanannya, ia memegang kotak susu stroberi yang sudah kosong, menghisap sisa-sisa terakhirnya dengan bunyi sedotan yang terdengar sangat keras di tengah keheningan samudra.

Valerius segera berlari menghampiri, sepatunya berdentum keras di atas dek. Pahlawan peringkat satu itu tampak sangat berantakan, zirah emasnya dipenuhi oleh retakan halus akibat tekanan gravitasi yang tidak stabil. Ia berhenti beberapa langkah di depan Arthur, membungkuk sedikit demi mengatur napasnya yang sesak.

“Kau tepat waktu, Arthur,” bisik Valerius. “Benih itu... ia baru saja berubah frekuensi. Ia tidak lagi menyerap energi bumi. Ia mulai memancarkan energi penghancur ke arah luar. Jika ini berlanjut, Sektor Tujuh akan hancur oleh gelombang kejutnya dalam tiga puluh menit.”

Arthur membuang kotak susu kosongnya ke dalam tempat sampah kecil di dekat pintu pesawat dengan akurasi yang sempurna. Ia menatap ke arah piramida hitam yang berjarak dua kilometer dari kapal mereka.

“Ia sedang melakukan Pre-Ignition. Para Architects menyadari bahwa aku sedang mengunci ‘keran’ energinya, jadi mereka memutuskan untuk meledakkan tangkinya sekalian.”

Arthur berjalan perlahan menuju ujung dek, tangannya masuk ke dalam saku celana pendeknya. Setiap langkah yang ia ambil seolah olah menstabilkan permukaan kapal induk yang tadinya bergoyang hebat. Di bawah kakinya, logam The Absolute yang tadinya mengerang karena tekanan gravitasi, mendadak menjadi sangat kokoh.

“Arthur, apa yang harus kulakukan?” tanya Valerius, mengikuti di belakang dengan tangan yang masih memegang erat hulu pedangnya.

“Berdirilah di sana, Paman,” jawab Arthur tanpa menoleh. “Aktifkan semua pelindung energi yang kau punya. Dan jangan pernah berkedip. Media sebentar lagi akan mencoba menembus kabut ini dengan satelit infra-merah. Kau harus terlihat seperti sedang melakukan ‘Meditasi Terlarang’ atau apa pun itu namanya.”

Arthur berdiri di tepian dek yang paling ujung. Angin laut yang membawa hawa dingin dimensi lain menerpa wajahnya, namun ia tidak bergeming. Ia menutup matanya, membiarkan kesadarannya merambat melalui molekul air laut, masuk ke dalam inti piramida hitam tersebut.

Ia bisa mendengar “nyanyian” Benih itu. Itu adalah sebuah algoritma penghancur yang sangat indah namun mematikan. Architects telah memprogram benih ini untuk meledakkan diri jika proses konversi terraforming mereka diganggu oleh pihak ketiga. Ledakan ini tidak hanya akan menghancurkan bumi, tapi juga akan menciptakan lubang hitam permanen di tata surya ini.

“Konsep Kehancuran: Ditolak,” bisik Arthur pelan.

Tiba-tiba, piramida hitam itu bereaksi. Seolah-olah ia menyadari kehadiran sang Sovereign, struktur itu melepaskan sebuah gelombang kejut berwarna ungu yang menyapu permukaan laut. Ombak setinggi gedung lima puluh lantai tercipta secara instan, meluncur ke arah kapal induk dengan kecepatan mengerikan.

Valerius membelalakkan mata. Ia sudah bersiap untuk menggunakan seluruh energinya guna menahan ombak tersebut. Namun, sebelum ombak itu menyentuh kapal, Arthur hanya mengangkat tangan kirinya sedikit.

SLAP.

Bukan suara benturan air yang terdengar, melainkan suara seperti kain yang dirobek. Ombak raksasa itu terbelah menjadi dua tepat di depan kapal induk, seolah-olah ada dinding tak kasat mata yang sangat tajam memotongnya. Air laut itu jatuh kembali ke samudra dengan tenang, tanpa menciptakan guncangan sedikit pun pada kapal.

“Terlalu agresif,” gumam Arthur. “Kalian benar-benar benci kalah, ya?”

Arthur kemudian merobek tas sekolahnya sedikit, mengambil Heart of Gaia. Kristal itu kini bersinar dengan cahaya yang sangat putih hingga membuat Valerius harus memalingkan wajahnya. Arthur memegang kristal itu tinggi-tinggi ke arah piramida.

“Gaia, bantu aku mematikan lampu ini,” perintah Arthur.

Cahaya putih dari kristal itu melesat keluar, membentuk garis lurus yang membelah kegelapan langit Pasifik. Garis cahaya itu menghantam puncak piramida hitam, dan seketika, dengungan frekuensi rendah yang memekakkan telinga tadi berubah menjadi pekikan nyaring yang menyayat hati.

Di dimensi tinggi, para Architects berteriak ngeri.

“Dia menggunakan energi penstabil planet untuk mematikan inti ledakan kita! Bagaimana dia bisa mengendalikan energi Gaia dengan begitu sempurna dalam tubuh yang sekecil itu?”

“Tingkatkan Output!” perintah pemimpin mereka. “Gunakan cadangan energi dari galaksi terdekat! Kita tidak boleh membiarkan anomali itu menang!”

Arthur merasakan tekanan yang meningkat dari sisi lain Jembatan. Ia bisa merasakan energi dari jutaan bintang sedang disalurkan ke dalam piramida di depannya. Berat konseptual dari piramida itu kini setara dengan sepuluh kali lipat massa matahari.

Dek kapal induk The Absolute mulai retak di bawah kaki Arthur. Bukan karena beban fisik, tapi karena kehadiran energi yang melampaui kapasitas planet ini untuk menampungnya. Valerius terjatuh berlutut, napasnya terasa seperti ditarik paksa dari paru-parunya.

“Arthur... aku... tidak bisa... bernapas...” rintih Valerius.

Arthur menoleh sedikit. “Tarik napas melalui jiwamu, Valerius. Jangan gunakan paru parumu. Dunia ini sedang menjadi sangat padat.”

Arthur menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa jika ia terus menahan ini dari jarak jauh, kapal induk ini dan Valerius akan hancur oleh efek sampingnya. Ia harus mendekat. Ia harus berdiri tepat di atas “Benih” itu untuk melakukan prosedur penutupan manual.

“Valerius, jaga tempat ini,” ujar Arthur.

Tanpa menunggu jawaban, Arthur melangkah maju ke udara kosong. Ia berjalan di atas laut yang mendidih menuju piramida hitam. Setiap langkahnya menciptakan jejak cahaya emas yang menenangkan permukaan air yang mengamuk.

Dunia di sekitar Arthur mulai melambat. Ia bisa melihat setiap molekul air yang beterbangan, setiap percikan listrik dari piramida, dan setiap sinyal energi yang datang dari luar angkasa. Baginya, ini bukan lagi pertempuran, ini adalah sebuah pekerjaan restorasi.

Ia sampai di depan piramida raksasa itu. Dibandingkan dengan struktur hitam setinggi tiga kilometer itu, Arthur tampak seperti seekor semut di depan gunung. Namun, saat Arthur menaruh telapak tangan kecilnya di permukaan logam piramida tersebut, seluruh struktur itu terdiam seketika.

“Matikan,” perintah Arthur.

Satu kata itu mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah oleh hukum alam mana pun. Cahaya ungu pada piramida itu mulai meredup. Retakan-retakan emas mulai muncul di permukaannya, menjalar seperti akar pohon yang kuat. Arthur sedang menyuntikkan energi murni Sovereign untuk membatalkan seluruh program kehancuran yang telah ditanamkan Architects.

Namun, para Architects belum menyerah. Mereka memicu “Sinyal Pemicu Terakhir”.

“Jika kau ingin mematikannya, maka kau harus menanggung seluruh energinya!” teriak pemimpin Architects melalui frekuensi ruang.

Ledakan yang seharusnya menyebar keluar ke seluruh dunia, kini dipaksa untuk menciut dan meledak di satu titik: titik di mana Arthur berdiri. Ini adalah serangan bunuh diri tingkat galaksi yang ditujukan hanya untuk membunuh satu orang.

Arthur tersenyum tipis.

“Oh? Kalian ingin memberikan semua energi ini kepadaku? Terima kasih atas makan siangnya.”

Arthur tidak menghindar. Ia justru membuka “gerbang” di dalam batinnya. Ia membiarkan seluruh ledakan energi yang mampu menghancurkan tata surya itu masuk ke dalam tubuhnya yang mungil.

Cahaya menyilaukan menelan Arthur dan piramida itu sepenuhnya. Valerius yang melihat dari kejauhan hanya bisa berteriak memanggil nama Arthur sebelum gelombang cahaya putih membutakan pandangannya. Selama beberapa detik, Samudra Pasifik seolah-olah memiliki matahari kedua yang jauh lebih terang dari aslinya.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!