Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Manja Mode Max
Matahari Bali sudah bersinar terik, menembus sela-sela gorden vila yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Arga semalam. Namun, bagi Aneska, dunia seolah masih berputar di tempat tidur. Ia mencoba membuka matanya, tapi kelopak matanya terasa begitu berat. Seluruh sendinya terasa seperti dicopot dan dipasang kembali dengan posisi yang salah.
"Eungh..." Aneska mengerang pelan. Ia mencoba menggeser kakinya, namun sensasi geli dan nyeri yang tertinggal dari "eksperimen" gila semalam membuatnya kembali memekik kecil. "Aduh... perih banget, gila..."
"Sudah bangun, Sayang?"
Suara bariton itu terdengar dari arah teras kamar. Arga masuk dengan hanya mengenakan celana pendek santai, tanpa atasan, memperlihatkan tubuh atletisnya yang basah—sepertinya dia baru saja berenang pagi untuk membuang sisa-saran energinya yang tak habis-habis. Di tangannya, ia membawa nampan berisi sarapan mewah dan segelas jus jeruk segar.
"Arga... lo beneran bukan manusia ya?" suara Aneska parau, hampir hilang. "Satu kotak, Arga. Satu kotak beneran abis! Lo mau bikin gue masuk berita 'Pengantin Baru Tewas Mengenaskan' apa gimana?"
Arga tertawa rendah, sebuah tawa puas yang terdengar sangat seksi di pagi hari. Ia meletakkan nampan di nakas, lalu duduk di tepi ranjang, mengelus pipi Aneska yang masih tampak memerah.
"Jangan berlebihan, Anes. Buktinya lo masih bisa ngomel," goda Arga. Ia membantu Aneska untuk duduk, menyandarkan punggung istrinya ke tumpukan bantal yang empuk. "Lagian semalam siapa yang awalnya teriak ampun tapi akhirnya malah narik leher gue kenceng banget pas puncaknya? Hmm?"
Aneska langsung menarik selimut sampai ke hidung. "Itu... itu refleks saraf! Bukan berarti gue mau! Lo tuh ya, om-om mesum yang obsesif banget. Gue nggak mau lagi ya pake yang bergerigi itu, kapok! Rasanya kayak diputer-puter di dalam mesin cuci!"
"Tapi lo dapet sensasi yang belum pernah lo rasain, kan?" Arga menyeringai nakal sembari menyuapkan potongan pepaya ke mulut Aneska. "Wajah lo semalam itu... pemandangan paling indah yang pernah gue liat seumur hidup. Gue beneran hampir nggak bisa berhenti."
"Ya emang lo nggak berhenti! Lo baru berhenti pas ayam tetangga udah bunyi kali!" cerocos Aneska, meskipun ia tetap menerima suapan dari Arga dengan manja. "Udah ah, gue mau HP gue. Mana?!"
Arga menghela napas, ia meraih ponsel Aneska yang semalam ia lempar ke sofa. "Nih. Tapi janji, jangan kepikiran soal Clara. Semuanya udah beres."
Aneska segera menyalakan ponselnya. Benar saja, ribuan notifikasi masuk. Namun, yang paling atas adalah berita terbaru: "Hoax Korban Fitnah! Tim Hukum Sebasta Group Rilis Bukti Rekaman Suara Clara Mahendra yang Merencanakan Pencemaran Nama Baik Aneska Graceva."
Aneska melongo saat membaca detailnya. Ternyata semalam, saat Arga sedang "menghabiskan satu kotak" bersamanya, tim hukum Arga bekerja lembur untuk menyebarkan bukti tandingan yang jauh lebih valid. Nama Clara kini benar-benar hancur, dan publik berbalik membelanya.
"Mas... lo beneran gercep banget ya?" gumam Aneska, menatap Arga dengan pandangan kagum yang sulit disembunyikan.
Arga meletakkan piring sarapan, lalu ia merangkak naik ke tempat tidur, mengurung Aneska dalam pelukannya. "Gue udah bilang, Nes. Tugas lo cuma fokus sama gue. Biar gue yang urus semua sampah yang berani ganggu ketenangan lo. Clara nggak akan bisa keluar dari sana dalam waktu lama. Dia udah gali kuburannya sendiri."
Aneska menyandarkan kepalanya di dada Arga, menghirup aroma sabun dan maskulin suaminya. Sisi cueknya benar-benar luluh. "Makasih ya, Mas Arga. Gue nggak nyangka perjaka tua kayak lo bisa jadi pahlawan juga."
"Halah, masih aja dipanggil perjaka tua," Arga mencubit pinggang Aneska gemas, membuat Aneska memekik kegelian. "Mau gue buktiin lagi kalau gue masih punya cadangan tenaga buat siang ini? Kotaknya masih sisa yang model lain lho di tas belanja."
"ARGA! NGGAK! STOP!" Aneska memukul dada Arga dengan panik. "Gue mau jalan-jalan ke Ubud! Gue mau makan bebek goreng! Gue mau belanja tas lagi! Pokoknya gue nggak mau liat kasur sampe nanti malem!"
Arga tertawa terbahak-bahak, ia menciumi seluruh wajah Aneska dengan posesif. "Iya, iya. Hari ini gue bakal jadi supir pribadi lo, pembawa belanjaan lo, dan pelindung lo. Tapi syaratnya satu..."
"Apa lagi?!"
"Jangan sebut nama Satria atau aktor China itu lagi di depan gue. Dan... lo harus tetep manja begini terus sama gue," bisik Arga, matanya menatap Aneska dengan cinta yang begitu dalam.
Aneska tersenyum lebar, ia menarik leher Arga dan mencium pipi suaminya dengan bunyi yang nyaring. "Dasar bayi besar! Iya, cuma lo doang cowok paling ganteng di dunia gue sekarang. Puas?!"
"Kurang puas," sahut Arga sembari mulai mencium bibir Aneska lagi. "Tapi buat sekarang, gue terima."
Maka pagi itu di Bali, Aneska menyadari satu hal: Menikah dengan Argani Sebasta bukan hanya soal kemewahan dan perlindungan, tapi soal menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria yang begitu obsesif mencintainya—pria yang tahu kapan harus menjadi singa yang dominan, dan kapan harus menjadi kucing manja yang hanya butuh perhatian darinya.