Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seakan Jadi Nyata
"Lebih baik kita pergi, Urusan kita sudah selesai..." Ucap Papa Damian mengajak seluruh keluarganya untuk pulang. Lagipula apalagi yang perlu dibahas. Toh semua sudah selesai, Kedatangannya kesini ternyata tak hanya membahas tentang pembatalan pernikahan tapi juga membuka sifat Hans yang sebenarnya.
"Pa, Ma.. Dek Raisha, Kalian tidak boleh pergi.. Pa.. Hans mohon Pa, Jangan batalkan pernikahan kami.." Hans menahan keluarga pangestu untuk tidak pergi.
Tidak! Ia tidak mau pernikahan ini batal begitu begitu saja. Dia tidak rela kalau sampai Raisha menikah dengan pria lain..
"Dek.. Tolong pikirkan baik-baik Dek, Susah payah Mas berusaha untuk bisa mendapatkanmu.. Bagaimana mungkin kamu batalkan pernikahan ini begitu saja.." Raisha tak peduli lagi. Melihat tingkah Hans yang sejak tadi menghalangi jalan, Rayyan maju.
Sebenarnya tangannya sudah gatal sejak tadi ingin sekali memukul Hans. Namun pria itu masih menahannyq, Tapi sekarang sepertinya tidak bisa ia tahan lagi.
Bugh!!
"Diam! Kami tidak peduli dengan usahamu dulu berusaha untuk mendapatkan adikku. Buktinya, Saat kau sedang bersama Wanita yang janda itu kau tidak ingat akan usahamu.. Jadi jangan salahkan kami. Kau tidak pantas sama sekali masuk kedalam keluarga pangestu.." Setelah memberikan satu pukulan untuk Hans, Pria itu berlalu ikut masuk mobil dan pergi dari sana.
Hans masih tak mau menyerah, Pria itu mengejar kendaraan roda empat milik Papa Damian demi bisa mengejar Raisha.
"Dek Raisha!!! Tolong jangan Batalkan pernikahan kita!!" Teriak Hans yang sama sekali tidak dipedulikan lagi. Bahkan kedua orang tuanya pun ikut tak peduli.
"Ayah, Bunda.." Hans kembali masuk. Disana Bunda Fatimah dan Ayah Mansyur masih terdiam. Video itu sungguh membuat batin keduanya terguncang.
Ternyata Hans, Putranya yang sejak kecil mereka didik dengan baik, Di ajari agama untuk taat serta untuk tanggung jawab ternyata semua berubah hanya demi seorang wanita saja.
Dan wanita itu adalah wanita yang pernah membuat putra sulungnya depresi bahkan hampir gila.
"Ayah, Bunda... Tolong Hans, Cegah Raisha agar jangan pergi. Bilang sama dia kalau dia harus cabut pembatalan pernikahannya.." Hans mendekati Ayah dan Bundanya agar mencegah Raisha. Akan terapi Ayah Mansyur dan Bunda Fatimah tak mau mendengar.
"Ayah, Bunda.. Kenapa kalian hanya diam saja??" Bunda Fatimah beranjak lalu menatap sang putra dengan tajam.
PLAAAK!
PLAAAK!
Dua tamparan mendarat dipipi Hans. Bunda Fatimah tak dapat menahan emosinya lagi. Sudah cukup Abangnya dulu yang mengecewakannya kenapa sekarang adiknya malah ikut-ikutan.
"PUAS KAMU!! Ini kan yang kamu inginkan Hans? Sekarang Raisha sudah kabulkan keinginanmu.. Dan sekarang kamu bisa puas-puasin berdua dengan Wanita itu.. Dasar anak gak tahu diri kamu!!" Ayah Mansyur memeluk sang istri agar lebih tenang.
"Udah Bun.. Bunda jangan emosi yang berlebihan, Ayah takut Bunda drop lagi.. " Bunda Fatimah menarik nafas panjang.
"Bunda pernah bilang sama kamu Hans.. Bukan sekali dua kali Bunda bilang berhenti. Jangan sering-sering mendatangi Wanita itu.. Bunda juga pernah bilang bukan? Ipar itu adalah maut.. Dan sekarang terbukti kan? Kamu dan wanita itu, Astagfirullahal Adzim.. Cukup Abang kamu aja Hans yang buat Bunda dan Ayah kecewa.. Kenapa kamu juga terjun ke jurang yang sama?" Bunda Fatimah menangis tersedu-sedu. Dia tak menyangka saja kalau kedua putranya bisa terjebak dalam permainan wanita itu.
"Kamu yang lebih tahu Hans.. Gara-gara wanita itu, Abang kamu depresi dan hampir gila.. Wanita itu pernah meninggalkan Abang kamu demi pria yang lebih kaya.. Dan setelah itu, Dia datang untuk meminta kembali.. Harusnya dari sana kamu sudah tahu Hans. Tidak ada wanita setia yang tega meninggalkan prianya demi pria lain.. Tidak ada wanita baik-baik yang suka mengganggu hubungan orang lain.. Dan sekarang kamu berhasil membuat Bunda dan Ayah kecewa. Padahal dulu kamu satu-satunya harapan Bunda dan Ayah.. Tapi sejak Abang kamu tiada, Semua berubah. Kamu jadi anak yang pembangkang hanya demi si Ajeng itu!!"
Ya, Dulu Hans memang anak yang penurut. Pria itu menjadi satu-satunya harapan Ayah Mansyur dan Bunda Fatimah. Hans juga tidak terlalu dekat dengan Ajeng..
Dan memang benar, Semua berubah sejak Bram meninggal dengan meninggalkan pesan terakhir agar Hans menjaga Ajeng dan Haura.
Hans telah diracuni oleh wanita itu. Hans memilih tidak mempedulikan Raisha daripada harus mengabaikan Ajeng dan Haura.
"Hans cuma menjalankan amanah dari Abang aja Bun..
"Persetan dengan pesan itu.. Kalian berdua itu sama saja.. Bunda Muak.." Wanita paruh baya itu beranjak dibantu oleh Ayah Mansyur.
Hans ditinggalkan diruang tamu seorang diri. Matanya menatap nanar kedua orangtuanya. Bundanya marah, Tapi tidak dengan Ayah Mansyur. Pria itu memang terkenal pendiam dan tidak banyak bicara. Maka dari itu, Ayah Mansyur tak pernah marah. Pria paruh baya itu enggan ribut yang ujungnya akan membuat pusing.
"Dek Raisha...
"Dek Raishaaa!!
"Hans... Hans bangun.. " Hans langsung beranjak duduk. Adik dari Bram itu menoleh kesana kemari melihat sekitar.
"Hans, Kamu kenapa? Kamu mimpi buruk ya?" Tanya Ajeng. Hans tak menjawab. Dadanya naik turun dengan nafas yang tak beraturan.
"Hans..
"Mbak, Aku pulang dulu.. " Tanpa mengatakan apapun lagi Hans berlalu pergi meninggalkan Ajeng.
"Hans.. Mbak belum selesai.. Ada yang mau mbak bicarakan!!" Pekik Ajeng yang tak lagi didengar oleh pria itu.
Hans pulang dengan keadaan yang terburu-buru. Begitu sampai dirumahnya, Kondisi rumahnya sepi. Tidak ada siapapun disana.
Hans masuk, Dia mendapati ayahnya yang hendak masuk kedalam kamarnya.
"Yah..
Langkah pria paruh baya itu terhenti.
"Apa?" Tanya Ayah Mansyur tanpa menoleh..
"Tadi ada Dek Raisha kesini tidak?"
"Tidak ada.." Jawab Ayah Mansyur datar. Setelah itu Ayah Mansyur masuk kekamar nya.
Hans merasa aneh dengan sikap Ayahnya yang seperti itu.
"Sepertinya memang aku yang bermimpi buruk dan terlalu berlebihan. Lagipula malam itu cuma ada aku dan Mbak Ajeng, Raisha tidak mungkin tahu." Monolog Hans yang mengira Raisha tidak tahu tentang malam panasnya dengan Ajeng.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Raisha dan keluarganya telah sampai dikediamannya. Satu keluarga itu turun dari kendaraan roda empatnya masing-masing. Saat hendak masuk.
"Papa..." Panggil Kaivan membuat Papa Damian menghentikan langkahnya. Tak hanya Papa Damian saja, Mama Adiba, Raisha dan Rayyan juga.
"Ya, Kai.. Ada apa?" Kaivan melirik Raisha sebentar lalu melihat ke arah Ayah mertuanya.
"Eum, Besok.. Boleh Kai ajak Nona untuk mencari cincin pernikahan?" Papa Damian menoleh pada sang putri yang menunduk malu. Pria paruh baya itu tersenyum tipis seraya menepuk pundak calon menantunya ini.
"Silahkan saja.. Tapi awas, Jaga jarak ya... Jangan macam-macam.." Kaivan mengangguk tersenyum.
"Ya sudah, Kalau begitu kami pamit masuk dulu.."
"Semoga sukses ya..." Kata Rayyan sebelum pria itu masuk. Kaivan tersenyum penuh kemenangan. Dia didukung oleh keluarga wanita yang menjadi calon istrinya. Tentu saja Kaivan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dan akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.
Kaivan masuk ke paviliun belakang tempat para pekerja tidur. Kaivan pun juga ikut tidur disana meski terkadang pria itu pulang dan lebih memilih tidur rumahnya. Akan tetapi tak jarang pula Kaivan tidur disini bersama para temannya yang lain.
"Wah.. Ada calon bos kita ini.." Baru satu langkah masuk, Kaivan sudah disambut oleh para teman-temannya.
Tentu saja mereka mendengar tentang kabar Kaivan yang dijodohkan dengan Nona mudanya.
"Apaan sih..
"Kita ikut senang..
"Ya, Semoga langgeng ya.." Kaivan tersenyum bahagia. Para teman-temannya banyak yang mendukung. Karena diantara para pekerja hanya Kaivan yang belum menikah padahal usianya sudah cukup matang.
"Aamiin.. Doakan saja yang baik-baik..
"Siap.. Gak mau cepet nikah katanya.. Sekalinya mau nikah langsung sama Nona muda.. Asyik...
"Hahaha..
Kaivan menggelengkan kepalanya. Ya, Dia memang belum siap menikah karena masih trauma. Namun sekarang Kaivan benar-benar telah siap dan sangat siap sekali..
•
•
•
TBC