NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3 Pelukan Terhangat Yang Pernah Ada

Devina baru selesai bersih-bersih dan keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian Aksa yang sedikit longgar di badannya. Namun, tetap kelihatan bagus dikenakannya. Devina masih memeluk baju kotor miliknya itu karena ia bingung harus menaruh baju kotornya itu dimana. Seketika Santi datang menghampiri dan mengambil baju seragam kotor milik Devina itu.

"Sini, baju kotornya biar Tante cuci. Nanti kamu ambil lagi saja kesini kalau sudah bersih, " tukasnya.

Devina merasa sangat tidak enak dan hendak mengambil kembali baju kotornya itu. "Eh, gak usah Tante. Biar saya bawa pulang aja. Gak enak ngerepotin. "

"Gak repot sama sekali, kok! Ayo, duduk dan makan. Nanti malah keburu dingin makanannya." Santi menarik lembut tangan Devina menuju kursi di meja makan untuk duduk.

"Udah gak papah. Loh makan saja, " ujar Aksa yang melihat Devina kalang kabut karena merasa tidak enak kepada Santi, Ibunya Aksa.

"Iyah. Kalau begitu, Ibu ke belakang dulu. Kalian makan saja dengan santai, " ucap Santi lagi sambil berlalu pergi ke belakang untuk mencuci pakaian Devina.

"Gue jadi ngerepotin Ibu loh. Gue gak enak, " ucap Devina lagi.

"Gak papah. Ibu emang orangnya kayak gitu. Gak bisa diem sedikit pun. Cepat makan, habis itu gue antar loh pulang. Sebentar lagi gue harus keluar, " balas Aksa.

"Loh mau kemana? " tanya Devina penasaran.

"Gue harus kerja paruh waktu." Aksa menjawab dengan santai sambil melanjutkan makannya.

Devina sejenak terdiam dan berpikir. Ia penasaran mengapa Aksa harus bekerja paruh waktu dan bukannya belajar. Meskipun ia memang selalu menjadi juara kelas. Tetapi Devina ingin tahu alasannya dan ingin bertanya lebih lanjut. Tapi ia urungkan niatnya itu karena takut Aksa akan merasa tidak nyaman jika ia terus mencampuri urusan hidupnya. Lantas, ia pun hanya menyantap makanan yang ada didepannya. Menunya terlihat sangat sederhana tetapi rasanya begitu enak. Entah masakannya memang sangat enak atau entah karena Devina tidak pernah merasakan hidangan seperti ini sebelumnya. Terlebih lagi ada orang yang menemaninya makan. Rasanya jadi lebih enak dan nikmat.

"Enak sekali. Masakan Ibumu sangat lezat sekali."

Devina pun makan dengan begitu lahap sampai ia menambah nasi lagi. Aksa hanya tersenyum senang melihat Devina yang makan seperti orang rakus yang kelaparan. Ia juga lega karena ternyata masakan sederhana Ibunya itu masuk di lidah Devina. Saking nikmatnya makan, Devina sampai tidak sadar kalau ia menghabiskan semua lauk yang ada di atas meja. Ia tersadar setelah ia merasa sangat puas dan kenyang. Devina terkejut sejenak sambil menatap meja yang penuh dengan piring kotor yang kosong itu.

"Kenapa? Loh masih lapar? " tanya Aksa saat melihat ekspresi Devina yang seakan kosong menatap meja makan yang sudah kosong juga.

Devina menelan makanan yang tersisa di mulutnya dan membuat ekspresi menyesal. "Maaf, gue gak bermaksud untuk menghabiskan semua makanannya. Gue cuma gak sadar karena saking enaknya. Gue minta maaf! " seru Devina sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sambil menunduk dan menutup mata.

"Yaelah, gak papah. Lagi pula, loh suka itu udah bagus. Ayo, kalau sudah selesai gue antar loh pulang sekarang, " sahut Aksa sambil berdiri dan membereskan piring-piring kotor itu untuk ditaruh di wastafel sebelum pergi.

"Tunggu dulu! Bisakah gue pulang nanti aja. Perut gue terlalu kenyang sampe gak sanggup berdiri."

Aksa menarik napas panjang melihat Devina yang benar-benar kekenyangan.

"Terus, loh mau pulang kapan? Gue pulang kerja tengah malam nanti. Rumah loh kan, jauh. Gue gak mungkin anterin loh pulang setelah pulang kerja nanti, " balas Aksa sambil mendesah pelan.

"Baiklah."

Devina pun bangkit walaupun ia merasa sedikit sulit. Ia tidak mungkin terus merepotkan Aksa seperti ini. Apalagi Aksa pasti lelah karena harus bekerja sampai malam.

"Bu? Aksa mau nganterin Devina pulang dulu! Habis itu Aksa mau langsung berangkat kerja, " ujar Aksa sambil bersiap memakai jaket dan tasnya yang di dalamnya ada baju seragam pekerjaannya.

Santi pun bergegas ke depan menemui mereka. "Yasudah, Hati-hati dijalan. Lain kali datang lagi, yah? Jangan sungkan sama Tante. Nanti Tante masakin kamu lagi. "

"Iyah, Tante. Sebelumnya terima kasih banyak untuk makanannya. Masakan Tante enak sekali sampai aku gak sadar menghabiskan semua makanannya, " sahut Devina merasa semakin tidak enak dan sedikit malu.

"Tidak papah. Nafsu makan mu sangat bagus. Itu sangat bagus, " jawab Santi sambil menepuk-nepuk lengan Devina dengan begitu lembut.

Devina tersenyum senang karena perlakuan hangat dari Santi. Sebelumnya ia tidak pernah merasa sehangat ini. "Tante? " Panggil Devina kemudian.

"Ada apa? "

"Bolehkah, aku memelukmu sekali saja. Ah, tidak. Maaf kalau aku terlalu lancang dan tidak sopan."

Santi tanpa pikir panjang ataupun ragu langsung memeluk Devina dengan begitu hangat. Santi menyadari sesuatu dari permintaan Devina. Karena itu ia langsung memeluknya. Dan menepuk punggungnya beberapa kali.

"Kenapa tidak? Anak baik."

Tiba-tiba saja, air mata Devina mengalir begitu saja. Untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan yang terasa begitu tulus seperti ini. Devina dengan ragu-ragu membalas pelukan Santi dengan terisak. Jujur saja, walaupun Devina terlihat sangat ceria dan gembira. Walaupun ia mudah sekali tertawa lepas. Tapi sebenarnya dalam hatinya ia rindu akan kasih sayang dari orang tuanya. Hatinya terasa sepi dan hampa. Makannya ketika Santi memeluknya dengan hangat, ia merasa sangat sedih. Karena sudah lama ia tidak dipeluk seperti ini oleh kedua orang tuanya.

Aksa terdiam sejenak. Entah kenapa dadanya terasa sesak dan sakit ketika melihat Devina menangis untuk pertama kalinya. Padahal selama ini, Aksa hanya melihat senyum dan tawa Devina yang lepas tanpa beban. Bahkan Aksa berpikir hidup Devina itu sangat mudah dan senang. Devina memiliki segalanya. Dan ia tidak perlu bekerja keras untuk merasakan kesenangan itu. Tapi, setelah melihat Devina menangis dengan hal sepele seperti ini, membuat Aksa jadi sadar bahwa hal yang dia lihat mudah dan senang di orang lain, belum tentu mudah dan senang bagi orang yang merasakannya.

Namun, Aksa masih tidak tahu dan tidak mengerti apa yang membuat Devina begitu terisak hanya karena sebuah pelukan kecil. Aksa jadi ingin tahu lebih banyak tentang Devina.

Setelah beberapa saat Santi melepaskan pelukannya.

"Ah, maaf. Kenapa aku malah begini? Memalukan sekali, " ujar Devina sambil mengusap air matanya sendiri dan tertawa kecil karena malu.

"Tidak papah. Kamu sudah hebat. Sekarang pergilah! Nanti kamu terlambat bekerja. "

"Iyah, Bu! " Aksa mencium tangan Santi sebelum pergi,disusul oleh Devina yang juga ikut mencium tangan Santi.

"Sampai jumpa lagi, Tante! " Devina melambai canggung kepada Santi sambil melangkah pergi.

Santi membalas lambaian tangan Devina sambil tersenyum lebar untuk nya. Santi dapat merasakan kalau Devina itu anak yang kurang akan kasih sayang orang tuanya. Ia dapat merasakan dari isakan tangisnya yang terdengar sangat berat dan cekat.

"Anak itu pasti sangat kesepian. " Gumam Santi kemudian, kembali pergi ke belakang untuk melanjutkan mencuci baju.

Di perjalanan pulang. Devina merasa canggung dan malu karena sudah menangis begitu didepan Aksa. Jadi, sepanjang jalan ia hanya terdiam dibonceng oleh sepeda tua milik Aksa. Begitu pula Aksa yang sedari tadi membisu seribu bahasa membuat Devina semakin merasa canggung.

"Loh biak-baik saja? " tanya Aksa kemudian memecah keheningan yang ada diantara mereka untuk waktu yang cukup lama.

"Hah? Ah, iyah. " Jawab Devina gelagapan dan tidak tahu harus ngomong apa lagi kepada Aksa.

"Syukurlah kalau begitu. Gue sempat heran kenapa loh tiba-tiba nangis kayak gitu? Padahal loh selalu tampil penuh semangat dan selalu tersenyum didepan semua orang. Gue sedikit kaget, saat melihat loh nangis kayak gitu, " ujar Aksa berterus terang saja.

Sejenak Devina terdiam. "Iyah kan? Gue juga agak kaget, karena ternyata gue bisa nangis selepas itu di depan loh. Mungkin karena gue udah lama gak pernah nangis kayak gitu. Dan selalu memaksakan diri untuk tersenyum walau hati tidak menginginkannya, " balas Devina kini akhirnya mulai sedikit terbuka pada Aksa.

Aksa tidak langsung menggubris perkataan Devina untuk sesaat lamanya. Lalu kemudian, ia berhenti mengayuh sepeda dan menoleh kebelakang dan menunduk menangkap wajah Devina yang lusuh dengan mata sembabnya.

"Kenapa? Kenapa loh natap gue kayak gitu? " tanya Devina terbata-bata dan gelagapan.

"Padahal loh kelihatan seperti orang yang tanpa beban sebelumnya. Hidup loh enak, mudah, dan senang. Loh punya segalanya. Dan loh gak perlu khawatir soal masa depan loh, pendidikan loh dan karir loh nantinya. Karena semuanya sudah terjamin oleh orang tua loh. Gue sempat berpikir, betapa enaknya hidup loh, karena loh gak perlu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang loh inginkan. Gue juga sempat iri sama hidup loh. Tapi, seperti nya gue sudah salah sangka dengan semua itu. Ternyata apa yang gue pikirin, hanyalah asumsi gue sendiri. Gue gak pernah sadar, kalau dibalik keceriaan loh, ada perasaan yang bisa loh lepaskan atau ungkapkan.

Sepertinya loh terjebak dalam kesenangan yang palsu. Ada yang hilang dari diri loh. Karena itu, loh nangis kayak tadi. Gue rasa menahan kesedihan itu sendirian tanpa diketahui oleh orang lain itu lebih menyakitkan dari apapun. Karena itu, jangan di pendam lagi. Jika loh ingin menangis, menangislah. Karena air mata punya cara tersendiri untuk meringankan beban dihati seseorang. " Aksa berbicara panjang lebar tanpa sadar.

Lagi-lagi Devina tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir. Ia keluar begitu saja.

"Ah! Ada apa sama gue? Kenapa hari ini gue banyak menangis? Ini benar-benar memalukan. Hei? Jangan pernah beritahu teman-teman kalau gue nangis kayak gini. " sahut Devina merasa terharu tetapi juga senang karena Aksa ternyata peduli kepadanya.

Aksa tertawa kecil sambil mengacak rambut Devina. "Kalau malu, tutupi saja wajah loh! "

"Hei! "

Aksa kembali mengayuh sepedanya. Dan melaju pergi menuju rumah Devina yang sudah dekat dan terlihat.

_________________

Eh? Kalian pasti lupa meninggalkan jejak😕 di bab yang ini. Mungkin aku harus ingatkan lagi. 🙃 Like sama komentarnya jangan tertinggal yah... 😆

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!