NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Daya tarik yang luar biasa.

Sore hari, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan kota. Zinnia keluar rumah mengenakan dress ruffle tanpa lengan berwarna merah menyala, modelnya manis tapi tetap terlihat elegan, membuat kulit putihnya makin bersinar kontras. Langkahnya ringan dan anggun saat masuk ke dalam sebuah cafe bernam 'Shoot Coffe Hot'.

Begitu dia melangkah masuk, seketika segala percakapan dan suara di dalam ruangan perlahan meredup, semua mata langsung tertuju padanya. Entah itu pengunjung biasa, pelayan, bahkan pemuda-pemuda yang sedang duduk berkelompok, semuanya tak bisa mengalihkan pandangan. Pesonanya seperti magnet yang kuat, menarik perhatian siapa saja yang melihatnya, tapi Zinnia sama sekali tak peduli. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, baginya itu cuma angin lalu saja.

Dia memesan kopi latte, lalu duduk di meja dekat jendela. Dengan santai dia memegang cangkirnya, menyesap perlahan sambil menatap pemandangan di luar, menikmati setiap tegukan dan suasana sore yang tenang.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Tiba-tiba, dia merasakan ada jari-jari tangan yang menyentuh dan memainkan helaian rambutnya dengan santai dari arah belakang. Sentuhan itu terlalu berani, terlalu akrab, membuat alis Zinnia langsung berkerut kesal. Dia menoleh cepat dengan wajah sudah siap marah dan menepis tangan itu, tapi saat matanya bertemu dengan sepasang mata gelap dan senyum khas yang sudah dikenalnya... gerakannya berhenti seketika.

Itu Darren.

Pria itu berdiri di belakangnya dengan senyum tipis yang terlihat ramah tapi menyimpan banyak rahasia, seolah dia sudah tahu pasti reaksi apa yang akan dia dapatkan. Tanpa minta izin sedikitpun, dia berjalan memutar meja lalu duduk santai tepat di hadapan Zinnia, menyandarkan punggungnya di kursi seolah tempat itu memang sudah miliknya.

" Kita bertemu lagi ya.. Tuan putri.. " Ucap Darren dengan nada ringan.

" Ya. " Jawab Zinnia singkat dan acuh, dia kembali menunduk menatap cangkir kopinya, pura-pura tak peduli sama sekali dengan kehadiran lelaki di depannya.

" Hari ini kamu luar biasa sangat cantik, sampai banyak orang menatap ke arahmu. " puji Darren lagi, matanya tak berkedip menatap wajah dan tubuh gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, menikmati setiap detilnya.

Tapi pujian itu kembali diabaikan begitu saja oleh Zinnia, dia seolah mendengar angin lalu saja.

Darren tak kehabisan akal, dia mengubah topik pembicaraan, dan tepat sasaran.

" Soal Bros itu... "

Belum selesai kalimat itu keluar, sikap Zinnia berubah 180 derajat. Matanya langsung berbinar terang, kepalanya terangkat cepat menatap Darren, antusiasme terlihat jelas di seluruh raut wajahnya, dia bahkan langsung memotong ucapan lelaki itu.

" Apa kamu membawanya? dan mau memberikannya padaku? " tanyanya cepat, nadanya terdengar penuh harap.

Melihat perubahan drastis itu, Darren tak bisa menahan tawa. Dia tertawa lepas, suara rendah itu terdengar jelas di telinga Zinnia, membuatnya sedikit kesal tapi tak mau marah karena hatinya sedang penuh harapan.

" Aku tidak membawanya.. tapi.. kalau memberikannya padamu.. itu.. mungkin saja." jawab Darren sambil mengangkat bahu santai, sengaja menggantung kalimatnya untuk membuat gadis itu makin penasaran.

Mendengar kata-kata itu, Zinnia langsung bangkit berdiri, tangannya terulur dan menarik pergelangan tangan Darren dengan enteng.

" Ayo ngobrol di tempat lain, " Ajaknya tanpa basa basi, lalu langsung menarik Darren keluar dari area dalam cafe menuju bagian taman belakang yang lebih sepi dan teduh.

Mereka berhenti di dekat deretan pohon rindang, lalu duduk berdampingan di atas kursi beton yang sudah disediakan disana. Suasana disana jauh lebih tenang, hanya terdengar suara angin dan burung berkicau.

Tapi sesaat kemudian, Zinnia yang tadi masih terlihat sangat antusias dan sibuk membayangkan bagaimana cara mendapatkan kalung itu, tiba-tiba berdiri tegak dan menghadap langsung ke arah Darren, jarak di antara mereka tinggal beberapa senti saja.

" Aku jadi antusias banget denger soal bros itu.. " ucapnya jujur, matanya berbinar-binar.

" Hm.. begitu ya. " balas Darren santai, menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang makin dalam dan tak terbaca.

Namun tiba-tiba, kerutan kecil muncul di dahi Zinnia, dia mencondongkan badan sedikit ke depan.

" Tapi.. tunggu dulu, kenapa kamu bisa berada disini? " Tanya Zinnia heran dan mulai berprasangka aneh-aneh pada Darren.

Darren tersenyum miring, tangannya terulur menyapu helaian rambut yang jatuh menutupi dahi Zinnia, gerakannya terlihat alami dan akrab.

" Aku sering kesini, cafe ini adalah salah satu bisnisku. " Jelasnya tenang.

" Oh. "

Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Zinnia. Baru dia sadar, kemana pun dia pergi, orang-orang ini seolah selalu ada disana, seolah dunia mereka terlalu kecil atau memang mereka sengaja mengatur agar selalu bertemu. Dan di dalam hatinya, dia mulai sadar... ini baru permulaan saja, dan dia sudah terjebak di tengah-tengah mereka berdua.

Tiba-tiba Darren berdiri tegak tepat di hadapannya. Dengan postur tubuh yang menjulang tinggi, bahu lebar dan tubuh tegapnya, dia membuat Zinnia yang berdiri di depannya terlihat semakin mungil dan kecil, perbedaan bentuk tubuh mereka terlihat jelas dan kontras sekali. Tanpa memberi kesempatan Zinnia bergerak sedikitpun, kedua tangan Darren terulur dan erat menarik pinggang gadis itu mendekat, sampai tubuh mereka saling menempel rapat, tak ada jarak lagi di antara keduanya.

Kepalanya menunduk, hidungnya menyapu lembut leher dan rambut Zinnia, menghirup dalam-dalam aroma parfum bunga mawar yang melekat di tubuh gadis itu, aroma yang membuat kepalanya sedikit pusing dan perasaannya makin tak karuan.

" Kamu cantik sekali Zinnia.. Mengoda tanpa harus mencoba.. " Bisik Darren dengan suara rendah, berat dan serak, hanya terdengar di telinga gadis itu saja.

Zinnia menelan ludah, mencoba mempertahankan sikapnya meski jantungnya sudah berdegup kencang.

" Jangan puji aku berlebihan, sekarang katakan soal bros itu.. "

Belum sempat dia melanjutkan ucapannya, bibir hangat Darren mendarat tepat di pipi putihnya, menciumnya lama dan lembut. Seketika seluruh wajah dan leher Zinnia terasa panas, memerah habis sampai ke telinga, matanya membelalak kaget.

" Kenapa kam.. "

" Kenapa? aku justru yang harusnya tanya kenap, sihir apa yang kamu gunakan sampai aku lemah begini.. " potong Darren cepat, suaranya masih rendah dan penuh getaran.

" Sihir? Kamu pikir aku dukun atau apa.. Jangan asal bicara.. Sihir? Aku jadi terdengar seperti orang jahat saja. " bantah Zinnia cepat, tangannya mendorong dada Darren tapi sama sekali tak ada kekuatan di dorongan itu.

Darren tertawa pelan, tapi tetap tak mau menjaga jarak sedikitpun, masih menempel rapat di hadapan gadis itu. Tatapannya makin gelap dan tajam, menatap lurus ke dalam mata Zinnia seolah ingin membaca isi hati dan pikirannya.

" Aku mau kamu Zinnia dan kamu malah inginkan bros itu ketimbang diriku.. sungguh miris.. " Bisiknya lagi, dan kali ini ada penekanan jelas di akhir kalimatnya, penuh rasa kecewa, cemburu dan juga tekad yang tak tergoyahkan.

Sungguh daya tarik yang luar biasa kuat, bahkan untuk seorang Playboy kelas kakap saja, luluh lantah seketika saat melihat tatapan mata Zinnia yang mengoda tanpa harus mencoba.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!