Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Hanya lukisan
Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang hanya dipecah oleh suara jangkrik dan gesekan dedaunan raksasa yang tertiup angin sepoi-sepoi.
Di bawah naungan pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti urat nadi raksasa, Tian Shan duduk bersandar.
Cahaya bulan menembus celah dedaunan, menciptakan pola perak di atas rumput yang menjadi tempat peristirahatannya.
Tian Feng, yang energinya terkuras habis setelah duel dan pengobatan tadi, sudah mendengkur halus.
Senjata barunya dipeluk erat dalam tidurnya. Di sampingnya, Tian Mei mencoba memejamkan mata, namun napasnya masih terasa tidak teratur.
"Tidurlah. Aku akan menjaga kalian," ucap Tian Shan pelan, suaranya sedingin embun malam namun memberikan rasa aman yang aneh bagi kedua adiknya.
Saat kedua adiknya mulai terlelap, Tian Shan membiarkan pikirannya melayang ke masa yang sangat jauh—ke kehidupan sebelumnya yang penuh dengan darah dan air mata.
Ia mengingat bagaimana orang tuanya sebelumnya di masa itu membuangnya saat masih bayi, membiarkannya kedinginan di ambang maut.
Namun takdir berkata lain; ia tumbuh menjadi entitas yang ditakuti setelah kematian gurunya.
Saat usianya mencapai puluhan tahun, ia kembali dan menuntut balas dendam yang setimpal, meruntuhkan klan yang membuangnya tanpa sisa.
Di masa itu pun, ia memiliki adik laki-laki dan perempuan. Pertemuan dengan Tian Feng dan Tian Mei saat ini terasa seperti dejavu yang menyesakkan.
"Apakah diriku di masa ini tetap akan ada dan akan tetap lahir? Ataukah perbuatanku memutar balikkan waktu akan menghapus keberadaanku yang lain tanpa penjelasan?" batinnya.
Ia menatap tangannya yang kini berkilau oleh energi perak. Banyak hal yang tidak dapat ia prediksi.
Garis waktu adalah aliran sungai yang liar; satu batu kecil yang ia lempar bisa mengubah hilir yang sangat jauh.
Namun, ia segera menepis pikiran itu. Masa depan adalah masalah bagi dirinya di masa depan. Tugasnya sekarang adalah memperbaiki apa yang rusak di masa kini.
Tian Shan mengeluarkan selembar kertas perkamen besar dan sebuah kuas bulu musang.
Ia tidak menggunakan tinta biasa, melainkan sedikit energi mentalnya yang dicampur dengan sari tanaman herbal.
Dengan gerakan tangan yang anggun dan mantap, ia mulai melukis.
Di atas kertas itu, muncul sosok pria yang sangat tampan dengan sorot mata tajam.
Bagian paling mencolok adalah pupil matanya yang berbentuk vertikal layaknya naga purba.
Di punggung pria itu, tampak seorang wanita rubah berambut putih salju yang sangat cantik sedang bersandar lemah.
Wajah wanita itu digambarkan dengan sangat detail—pucat, sakit, namun memancarkan kasih sayang yang tulus.
Namun, ada yang janggal. Rubah itu hanya memiliki satu ekor, sementara aura di sekelilingnya menunjukkan bahwa ia seharusnya adalah makhluk surgawi.
TAK TAK TAK
Langkah kaki ringan mendekat. Tian Shan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Kau belum tidur? Ini masih malam, Tian Mei."
Gadis itu mendekat sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Saat pandangannya jatuh ke atas kertas, ia tertegun.
Lukisan itu seolah-olah bernapas; ia bisa merasakan kesedihan yang memancar dari gambar tersebut.
"Kakak bisa melukis juga? Sebenarnya apa yang kakak tidak bisa? Aku lihat-lihat ... kakak seolah-olah bisa melakukan segalanya," gumam Tian Mei takjub.
Tian Shan tetap diam, tangannya memberikan sentuhan terakhir pada helai rambut rubah putih itu.
"Sangat cantik dan tampan. Siapa itu, Kak? Dan ... kenapa dia hanya memiliki satu ekor? Bukankah rubah surgawi seharusnya memiliki sembilan?"
Tian Shan tidak menjawab secara langsung. Dadanya terasa sedikit sesak.
Lukisan ini bukan sekadar imajinasi; ini adalah monumen memorinya bersama Bai Yaoji.
Ia ingat bagaimana selama sepuluh tahun ia menggendong rubah itu di punggungnya, mencoba mencari obat ke seluruh penjuru dunia walaupun tahu itu hal yang sia-sia dan akhirnya Bai Yaoji tewas karena usia.
Rubah itu telah mengorbankan delapan ekornya—setara dengan delapan nyawa—hanya agar Tian Shan tetap bisa bernapas.
"Dia ... dia bukan siapa-siapa," dusta Tian Shan dengan suara datar. "Aku hanya terinspirasi dari sebuah cerita kuno yang pernah kubaca. Cepat tidur lagi, Tian Mei. Besok perjalanan kita masih sangat jauh."
Tian Mei duduk di sebelah Tian Shan dengan canggung. Ia memeluk lututnya, menatap api kecil yang menyala di dekat mereka. "A-aku tidak menyangka kakak suka membaca cerita melankolis seperti itu ..."
Suasana hening sejenak, hanya suara api yang berderak. Tian Mei menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sudah ia pendam sejak tadi.
" ... S-sebenarnya, aku ingin meminta maaf kepada Kakak. Atas semua perlakuanku ... perlakuan klan ... Apa Kakak akan memaafkanku?"
"Ya," jawab Tian Shan singkat tanpa jeda.
Tian Mei tersentak, matanya membelalak. "Apa?! Semudah ini? Memangnya Kakak tidak marah atau memiliki dendam kepada kami? Kami telah menghinamu selama bertahun-tahun!"
Tian Shan meletakkan kuasnya dan menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang. "Tidak. Aku tidak pernah marah dan tidak memiliki dendam sedikit pun kepada kalian maupun seluruh keluarga Tian."
"Kenapa? Bagaimana mungkin bisa begitu?"
"Karena dendam adalah beban, dan aku memilih untuk tidak memanggulnya," sahut Tian Shan. "Memilih untuk memaafkan bukan berarti apa yang kalian lakukan itu benar, tapi itu adalah pilihanku agar jiwaku tetap bebas. Marah pada semut yang menggigit kaki hanya akan membuang-buang energi seorang pengembara."
Tian Mei menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa kakaknya ini benar-benar telah menjadi orang yang berbeda—seperti seorang pertapa tua yang terjebak di tubuh pemuda.
"Kakak itu aneh sekali. Tapi ... terima kasih. Apa ... apa aku boleh memelukmu?"
"Tidak bole—"
Belum sempat Tian Shan menyelesaikan kalimatnya, Tian Mei sudah melingkarkan lengannya di leher kakaknya.
Ia memeluk Tian Shan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, kakaknya akan menghilang kembali ke dalam kabut misteri.
Tian Shan tertegun. Di kehidupan sebelumnya, pelukan adalah hal yang sangat langka.
Ia terbiasa dengan pedang dan darah, bukan kehangatan antar saudara. Tubuhnya sempat kaku, namun perlahan ia membiarkan adiknya bersandar.
"Apa Kakak akan pulang? Ibu selalu merindukanmu ... ia merasa sangat bersalah karena jarang memperhatikanmu dulu," bisik Tian Mei di pundaknya.
"Aku akan pulang nanti."
"Kapan?"
"Entahlah. Mungkin setelah beberapa urusan pribadiku selesai, atau setelah aku mencapai puncak Ranah Pendekar Langit."
"Itu lama sekali!" keluh Tian Mei.
"Tidak akan lama bagi mereka yang tahu cara melangkah," balas Tian Shan pelan.
Beberapa waktu berlalu, rasa kantuk akhirnya mengalahkan Tian Mei. Ia tertidur sambil menjadikan paha kakaknya sebagai bantal, tangannya masih memegang ujung jubah Tian Shan.
Tian Shan menatap wajah adiknya yang tampak damai. "Selamat tidur," bisiknya hampir tak terdengar.
Ia kembali menatap bintang-bintang. Masih banyak misteri yang harus ia pecahkan, banyak kesalahan di masa lalu yang harus ia luruskan melalui teknik pemutar waktu yang sangat berisiko ini.
Namun, melihat kedua adiknya tidur dengan tenang, ada sedikit kebahagiaan yang menyelinap di hatinya—sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kultivasi mana pun.
"Memaafkan bukanlah tentang menghapus apa yang telah terjadi, melainkan tentang melepaskan cengkeraman masa lalu agar tanganmu bebas untuk menggenggam masa depan yang lebih cerah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗡𝗢𝗧𝗘:
𝗡𝗔𝗠𝗔 𝗧𝗜𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗡 𝗗𝗜 𝗞𝗘𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠𝗡𝗬𝗔 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗣𝗘𝗠𝗕𝗘𝗥𝗜𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗡𝗬𝗔 𝗗𝗔𝗡 𝗡𝗔𝗠𝗔 𝗜𝗡𝗜 𝗦𝗔𝗡𝗚𝗔𝗧 𝗕𝗘𝗥𝗛𝗔𝗥𝗚𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗣𝗔𝗜-𝗦𝗔𝗠𝗣𝗔𝗜 𝗜𝗔 𝗟𝗔𝗛𝗜𝗥 𝗗𝗜 𝗞𝗘𝗟𝗨𝗔𝗥𝗚𝗔 𝗧𝗜𝗔𝗡.
𝗡𝗔𝗠𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗞 𝗡𝗬𝗔 𝗗𝗜 𝗠𝗔𝗦𝗔 𝗜𝗧𝗨 𝗕𝗘𝗥𝗡𝗔𝗠𝗔 𝗭𝗛𝗔𝗢 𝗙𝗘𝗡𝗚 𝗗𝗔𝗡 𝗭𝗛𝗔𝗢 𝗠𝗘𝗜.
lanjut thor💪