Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di gerbang salsabila
Mentari pagi di Pesantren Salsabila biasanya membawa ketenangan, namun hari ini, udara terasa berat oleh deru mesin mobil-mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang utama. Tiga buah sedan hitam mengkilap berjejer, menghalangi akses masuk para santri yang hendak memulai kegiatan halaqah. Dari dalam mobil paling depan, keluar seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang kaku, didampingi oleh dua orang pria tegap berkacamata hitam.
Itu adalah Tuan Mahendra Kencana, kepala keluarga dari dinasti bisnis Kencana yang selama ini menjadi donatur bayangan bagi ambisi Bunda Aminah.
Di dalam ndalem, Ghibran sedang menyesap kopi hitamnya sambil memeriksa laporan keuangan yayasan saat Azka masuk dengan napas terengah-engah.
"Ghib! Si Mahendra Kencana itu benar-benar datang. Dia membawa pengacara dan dua 'beruang' penjaga. Dia menuntut untuk bertemu dengan Zivanna sekarang juga!" seru Azka, wajahnya yang biasa jenaka kini terlihat tegang.
Ghibran meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan. Bunyi denting keramik yang beradu dengan meja kaca terasa begitu tajam di ruangan yang sunyi itu. "Suruh mereka menunggu di ruang tamu luar. Jangan biarkan mereka masuk ke area paviliun wanita."
Aira, yang baru saja selesai merapikan kerudungnya, muncul dari arah koridor dalam. Ia mendengar ucapan Azka dan langsung menggenggam tangan Ghibran. "Kak, Zivanna sedang sangat ketakutan. Dia tidak mau melepaskan bayinya sejak tadi malam."
Ghibran berdiri, ia merapikan kemejanya dan menatap Aira dengan sorot mata yang menenangkan. "Tetaplah di sini bersama Zivanna. Biar aku yang menghadapi mereka. Pesantren ini sekarang bernama Salsabila, bukan lagi tempat di mana transaksi manusia bisa dilakukan dengan bebas."
Negosiasi yang Berdarah Dingin
Di ruang tamu luar, Mahendra Kencana duduk dengan kaki bersilang, menatap sekeliling dengan pandangan meremehkan. Begitu Ghibran masuk, Mahendra tidak beranjak dari kursinya, hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan.
"Ah, Ghibran Al-Husayn. Selamat atas posisi barumu," ujar Mahendra dengan suara yang berat dan berwibawa. "Tapi aku ke sini bukan untuk basa-basi. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hak milikku. Aminah sudah menandatangani kontrak penyerahan bayi itu sejak enam bulan lalu."
Ghibran duduk di hadapan Mahendra, punggungnya tegak lurus, memancarkan wibawa yang tak kalah kuat. "Kontrak itu batal demi hukum, Tuan Mahendra. Zivanna adalah individu yang merdeka, bukan komoditas. Aminah tidak memiliki hak atas rahim anaknya sendiri untuk dijadikan jaminan utang."
"Jangan bicara moral padaku, anak muda!" sentak Mahendra, suaranya naik satu oktaf. "Aku sudah mengucurkan dana miliaran untuk butik istrimu dan operasional pesantren ini melalui Aminah. Bayi itu adalah bayiku secara genetik. Zivanna hanyalah wadah!"
"Wadah yang Anda paksa melalui manipulasi Aminah," sahut Ghibran dingin. "Dan perlu Anda tahu, catatan medis yang dilakukan secara rahasia di klinik lama—sebelum dibakar—menunjukkan bahwa tidak ada prosedur legal yang diikuti. Itu adalah tindak pidana perdagangan manusia. Jika Anda melangkah satu senti pun menuju paviliun Zivanna, aku pastikan besok pagi wajah Anda menghiasi halaman utama berita kriminal."
Mahendra tampak terperanjat. Ia tidak menyangka Ghibran memiliki nyali sebesar itu. "Kau menantang keluarga Kencana? Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada pesantren kecil ini?"
"Pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf yang sah milik ibu istriku, Sarah binti Abdullah. Kami tidak butuh satu rupiah pun dari uang haram hasil transaksi bayi," tegas Ghibran. "Azka, antarkan Tuan Mahendra keluar. Dan berikan salinan surat somasi dari tim hukum kita."
Mahendra berdiri dengan kasar, wajahnya merah padam. "Ini belum selesai, Ghibran. Kamu akan menyesal karena telah mencampuri urusan keluarga Kencana."
Getaran yang Kian Dalam
Setelah ketegangan dengan Mahendra mereda, Ghibran kembali ke bagian dalam rumah. Ia menemukan Aira sedang duduk di beranda belakang, tampak termenung menatap kebun mawar yang mulai mekar. Di sampingnya, Zivanna sudah sedikit lebih tenang setelah diberi pengertian bahwa Ghibran telah mengusir Mahendra.
Ghibran menghampiri Aira, duduk di sampingnya tanpa mengeluarkan suara. Ia bisa merasakan kelelahan yang luar biasa dari istrinya. Aira menoleh, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Ghibran.
"Terima kasih sudah melindungi Zivanna, Kak," bisik Aira. "Aku tidak bisa membayangkan jika bayi itu benar-benar diambil. Zivanna pasti akan kehilangan akal sehatnya."
Ghibran melingkarkan lengannya di bahu Aira, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. "Aku akan melindungi siapa pun yang berada di bawah atap Salsabila, Aira. Terutama kamu."
Aira mendongak, menatap wajah Ghibran dari dekat. Di bawah cahaya sore yang mulai memudar, wajah suaminya tampak begitu tulus. Rasa kagum yang selama ini ia pendam kini perlahan bermutasi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ia bukan lagi sekadar menghormati Ghibran sebagai pelindung, tapi ia mulai mendambakannya sebagai seorang pria.
"Kak Ghibran..." panggil Aira lirih.
"Ya?"
"Dulu... aku pikir cinta itu seperti Azlan. Penuh tawa, puisi, dan janji-janji manis di bawah hujan," ujar Aira sambil menelusuri garis telapak tangan Ghibran dengan jemarinya. "Tapi sekarang aku tahu, cinta yang sebenarnya adalah seseorang yang tetap memegang tanganku saat dunia mencoba meruntuhkanku. Seseorang yang tidak banyak bicara, tapi tindakannya adalah rumah bagiku."
Ghibran tertegun. Ia meraih tangan Aira, membawa jemari kecil itu ke bibirnya dan mengecupnya dengan sangat lembut. "Aku bukan pria yang pandai merangkai kata, Aira. Puisiku adalah caraku menjagamu. Musikku adalah setiap detak jantungku yang memanggil namamu sejak dulu, meski aku harus berpura-pura membencimu."
Aira tersenyum, pipinya merona merah. Ia memberanikan diri untuk membalas kecupan itu dengan mendaratkan ciuman singkat di pipi Ghibran. Sebuah tindakan spontan yang membuat Ghibran sedikit terperanjat, namun kemudian diikuti oleh senyum lebar yang sangat jarang ia tunjukkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, tidak ada lagi kecanggungan di meja makan. Mereka bercanda tentang kelakuan Azka yang konyol, mendiskusikan rencana pembangunan perpustakaan baru, dan berbagi mimpi-mimpi kecil yang selama ini terkubur oleh konflik nasab.
Bayangan di Balik Jendela
Namun, kebahagiaan itu seolah selalu dibayangi oleh kegelapan yang belum sepenuhnya pergi. Saat Aira sedang merapikan tempat tidur, ia melihat sebuah bayangan bergerak di antara pepohonan jati di luar jendela kamarnya.
Ia segera memanggil Ghibran. Ghibran dengan sigap memeriksa ke luar, namun tidak menemukan siapa pun. Hanya ada sebuah bungkusan kecil yang tergeletak di teras balkon.
Ghibran membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan milik Azlan—jam tangan yang dipakai Azlan di hari kematiannya—dan sebuah catatan pendek dengan tinta merah:
"Kalian pikir semua sudah selesai? Pengkhianat yang sebenarnya belum tertangkap. Tanya pada Babamu, siapa orang ketiga di ICU malam itu."
Aira gemetar hebat. "Kak... jam tangan Azlan? Bukankah itu seharusnya disita polisi?"
Ghibran menatap jam tangan itu dengan tatapan yang sangat tajam. Ia menyadari satu hal: Mahendra Kencana mungkin hanyalah pengalih perhatian. Ada satu kekuatan lagi yang masih bersembunyi di dalam pesantren ini, seseorang yang sangat dekat, yang ingin melihat keluarga Al-Husayn hancur hingga ke akar-akarnya.
Dan pengungkapan tentang "orang ketiga" di ICU ini mengancam untuk merobek kembali luka yang baru saja mulai mengering.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂