Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saved By The Bell
Ketiga pria itu saling berpandangan dengan sikap siaga satu sama lain, hingga suara code blue terdengar membuat perhatian dokter Westin teralihkan. AKP Dean Thomas dan Kompol Jarot saling melirik satu sama lain.
"Saya belum selesai dengan anda berdua!"
Lekas-lekas dokter Westin keluar dari ruang arsip itu sementara dua perwira di dalam, menghembuskan nafas lega. Kompol Jarot sampai harus menepuk-nepuk dadanya agar jantungnya berdetak normal.
"Aku sudah lama tidak menyamar jadi macam gini deh!" ucap Kompol Jarot.
"Ya Tuhan ... Terimakasih Yesus. Sudah melindungi aku ...." AKP Dean Thomas agak lemas di kursinya.
Tiba-tiba seseorang masuk membuat keduanya terkaget lagi. Namun mereka merasa lega karena sangat mengenal siapa yang datang.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya dokter Rahmat yang datang dengan wajah cemas.
"Kami tidak apa-apa, hanya sedikit kena stroke," cengir Kompol Jarot dengan wajah pucat.
"Ya ampun. Untung kalian tidak apa-apa." Dokter Rahmat langsung menghampiri Kompol Jarot dan memeriksa nadinya. "Aku tahu pak Jarot dulu kena tembak jadi aku harus cek."
"Aman. Tadi ada code blue apa ya?" tanya Kompol Jarot.
"Entah. Aku langsung kesini dengan berusaha menghindar dokter Westin. Tunggu ... Code blue?" Dokter Rahmat menatap horor ke kedua perwira itu.
"Kenapa?"
Dokter Rahmat tidak menjawab namun bergegas keluar. AKP Dean Thomas dan Kompol Jarot saling berpandangan.
"Oke, data sudah aku pindahkan. Sekarang kita keluar!" ujar AKP Dean Thomas.
"Tapi kita jangan pakai begini, mas Dean. Ketahuan!" ucap Kompol Jarot.
"Lha pakai apa?"
***
Dokter Rahmat berlari ke arah ruang pasien yang kemarin mereka operasi. Dia sudah panik karena tahu, pasti akan terjadi sesuatu. Di dalam kamar, dokter Westin berusaha untuk menyelamatkan pasiennya. Tak lama suara mesin EKG kembali stabil dan semua orang merasa lega.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter Rahmat.
"Pasien mengalami fasikulasi. Mioklonus pasca-anestesi." Dokter Westin menatap ke arah juniornya.
Dokter Rahmat hanya mengangguk. Fasikulasi? Sebenarnya bisa terjadi tapi di matanya ini aneh. Kondisi ini umum terjadi karena efek sisa obat bius, gangguan keseimbangan elektrolit, atau reaksi stres tubuh terhadap prosedur operasi.
"Makanya terjadi code blue."
Dokter Rahmat melihat ke arah para perawat yang hanya diam. Bisa jadi sih. Alatnya membaca sebagai code blue.
Code Blue adalah kode isyarat darurat di rumah sakit yang menandakan adanya pasien mengalami henti jantung ( cardiac arrest ) atau henti napas ( respiratory arrest ) yang membutuhkan resusitasi segera. Kode ini diaktifkan untuk memanggil tim medis khusus agar memberikan pertolongan darurat. Sumber Google.
"Tapi aman kan Dok?" tanya dokter Rahmat berlagak bodoh.
"Aman. Kamu awasi ya dok!" Dokter Westin pun keluar dari ruangan itu. Dia hendak mencari dua orang penyusup itu.
"Apakah pasien mengalami fasikulasi? " tanya dokter Rahmat ke Suster Intan, salah satu suster junior yang merupakan atlet gulat nasional.
"Aku tidak tahu Dok. Tiba-tiba saja semua berbunyi," jawab Suster Intan bingung.
Dokter Rahmat memeriksa kembali kondisi pasien. Dia memeriksakan dengan teliti semua peralatan.
"Kok ada yang aneh ya?" gumamnya.
Tanpa mereka sadari, ada tiga arwah yang tersenyum usil karena sudah membuat dokter Westin pergi dari ruang arsip.
"Ini kalau dijadikan film, judulnya Saved by the Bell," ucap Tole sambil makan kacang yang diambilnya dari meja suster.
"Bukannya dulu ada sitcom nya?" tanya Mbak Susi.
"Seingat ku ada tuh filmnya dulu," timpal Suster Ngesot.
"Yah, kok udah ada yang pakai sih?" gerutu Tole.
"Itu kacang siapa?" tanya Mbak Susi.
"Tuh, di meja perawat. Nganggur. Aku ambil saja," jawab Tole tanpa beban.
***
Dokter Westin berlari ke arah ruang arsip dan semuanya sudah kosong. Dua orang yang dia curigai, sudah tidak ada disana. Dokter Westin bergegas ke ruang monitor, membuat petugas yang jaga bingung.
"Cari apa Dok?" tanya si petugas.
"Rekaman satu jam yang lalu. Kamu selalu melihat monitor kan?" tanya dokter Westin.
"Errrr, tadi saya ... istri saya datang Dok, bawain makanan. Jadi saya makan sama istri di luar. Kan ruang monitor harus steril dari makanan," jawab petugas itu tidak enak.
Rasanya dokter Westin ingin mencekik petugas itu. "Ya sudah! Perlihatkan!" perintahnya.
Petugas monitoring itu mulai menyalakan rekaman satu jam sebelumnya. Dokter Westin mulai mencari dua orang itu dan melihat AKP Dean Thomas bersama dengan Kompol Jarot masuk ke dalam lobby rumah sakit.
Dia tahu bahwa setelahnya akan terlihat dua orang itu ke lift. Namun rekaman CCTV di sudut lift, tidak memperlihatkan keduanya. Dokter Westin mulai panik. Dia berusaha mencari semua CCTV tapi tidak ada. Bahkan dirinya masuk ke ruang arsip pun tidak ada!
"Ba ... bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Dokter Westin tidak percaya bahwa ada yang bisa utak atik CCTV RS Bhayangkara.
"Ada apa Dok?" tanya petugas itu.
"Kamu ... Benar tidak ada di sini?" tanya dokter Westin panik.
"Tidak ada Dok. Aku makan diluar sama istriku. Sini kosong Dok."
Dokter Westin mengusap dagunya. What the f****!
***
"Haaaahhh .... tidak sia-sia aku kena omel mas Ai dan mas Kai waktu ajaran jadi hacker!" ucap Iptu Rayyan di ruang monitor kasus dingin.
"Kalau bang Dean nggak pasang jammer juga nggak bisa, Rayyan," kekeh Iptu Atikah.
"Tapi serius ... Dia benar-benar panik pas lihat bang Dean dan bang Jarot," timpal dokter Aji yang menemani istrinya di markas.
"Serem dia, Ji! Kita harus lihat besok bang Dean bawa apa datanya." Iptu Rayyan menghela nafas panjang. "Aku bakalan jadi jomblo ini."
"Nala jadi ambil spesialis?" goda dokter Aji.
"Jadiiii ... Huwaaaaaa!" Iptu Rayyan auto mewek lebay.
"Tikah, kamu disini saja ya. Jangan pindah divisi. Seru lho," senyum dokter Aji ke istrinya.
"Iya mas."
***
RS Bhayangkara Jakarta
Dokter Rahmat menahan kantuk karena dia harus jaga usai kasus tadi. Pria itu duduk di kursi suster bersama Suster Intan.
"Sus Intan ... ada Kopiko?" tanya dokter Rahmat.
"Permen Dok?" balas Suster Intan sambil menguap. "Nggak ngefek Dok! Kantuk nggak hilang, diabetes datang!"
"Judes banget," kekeh dokter Rahmat.
"Dok, apa anda tidak curiga?" bisik Suster Intan.
"Soal apa?"
"Fasikulasi. Aku tadi sudah periksa, semua aman," jawab Suster Intan.
Dokter Rahmat hanya terdiam. "Aneh kan?"
"Iya."
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....