Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Mas Bara Beli Pakaian Baru
Bara dengan sigap menyampirkan tas milik Renata di bahunya, sebuah pemandangan yang mungkin akan membuat para karyawannya di kantor terbelalak jika melihat sang atasan yang dingin itu kini berubah menjadi suami yang begitu perhatian. Mereka berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju area parkir, dengan tangan Bara yang tak sedetik pun melepas pegangannya pada jemari Renata, seolah-olah istrinya itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Setibanya di depan mobil yang terparkir di bawah naungan pohon besar, Renata merogoh saku gaunnya sebentar sebelum menoleh ke arah suaminya. "Itu, Mas... kuncinya ada di dalam tas aku, di bagian tengah," ucapnya dengan suara yang masih terdengar sedikit letih.
Bara mengangguk, membuka resleting tas tersebut dan menemukan kunci mobilnya. Dengan gerakan lembut, ia membuka pintu mobil depan untuk istrinya. "Hati-hati, awas kepalamu," bisik Bara sambil meletakkan telapak tangannya di atas bingkai pintu agar kepala Renata tidak terbentur.
Setelah memastikan Renata duduk dengan nyaman dan mengenakan sabuk pengaman, Bara menutup pintu dengan pelan. Ia mengitari moncong mobil dan segera masuk ke kursi kemudi. Aroma harum pewangi jeruk yang menyambut mereka, kontras dengan bau antiseptik rumah sakit yang sejak semalam mereka hirup.
Bara menghidupkan mesin, lalu melirik Renata yang sedang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. "Kita mampir ke apotek dulu ya sebelum sampai rumah?" tanyanya lembut sambil mulai menjalankan mobil meninggalkan area rumah sakit.
Renata hanya menjawab dengan anggukan kecil. Jantungnya berdebar kencang; antara harapan besar dan rasa takut akan kekecewaan kini berperang di dalam dadanya. Di sisi lain, Bara mengemudi dengan sangat hati-hati, menghindari setiap lubang atau gundukan di jalan raya agar tidak membuat mual istrinya kambuh lagi.
Jalanan pagi menuju rumah mereka terasa sedikit lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja melambat untuk memberi ruang bagi kecemasan yang sedang menyelimuti pasangan itu.
Bara memperlambat laju kendaraannya saat papan bertuliskan "APOTEK" terlihat di depan mata. Dengan gerakan halus, ia membelokkan kemudi ke area parkir yang cukup lenggang, kemudian mematikan mesin.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang beli," ujar Bara sambil hendak membuka pintu.
Namun, jemari hangat Renata segera menahan lengan suaminya. "Nggak usah, Mas. Biar aku aja yang beli, aku sudah nggak pusing kok. Lagian... ada sesuatu yang mau aku beli juga, kamu nggak bakal tahu juga," ucap Renata dengan senyum tipis.
Bara menatap istrinya sejenak, lalu mengangguk singkat. "Oh, ya sudah. Tapi hati-hati jalannya, jangan buru-buru."
Renata turun dari mobil, menghirup udara luar yang sedikit lebih segar, lalu melangkah masuk ke dalam apotek yang sejuk. Seorang karyawan wanita di balik meja resepsionis menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang Kak, ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu.
Renata sedikit berdehem, mencoba menetralkan rasa gugupnya. "Ini... saya mau beli test pack, ada nggak ya?"
Mendengar permintaan itu, sang karyawan sempat menunjukkan raut terkejut sesaat—mungkin karena melihat penampilan Renata yang tampak agak pucat namun tetap anggun—tapi ia segera bersikap profesional. "Ada Kak, sebentar saya ambilkan."
Wanita itu kembali dengan tiga pilihan di tangannya. "Ini Kak, ada tiga jenis. Yang model strip ini harganya lima ribu, dan yang dua ini digital Kak. Yang ini lima puluh ribu, dan yang satunya lagi seratus ribu aja. Silakan mau yang mana?"
Tanpa ragu sedikit pun, Renata menunjuk pilihan yang di tengah. "Saya ambil yang harga lima puluh ribu aja deh, Mbak."
"Oke baik Kak, jadi lima puluh ribu ya," jawab wanita itu sambil memasukkan alat tersebut ke dalam plastik kecil warna putih bening.
Renata mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya dan menyerahkannya. Namun, sebelum ia membalikkan badan untuk keluar, Renata tampak ragu sejenak. Ia memajukan tubuhnya sedikit, lalu bertanya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh wanita di hadapannya.
Renata sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah pelayan apotek itu hingga suaranya terdengar seperti bisikan rahasia. "Mbak, saya mau nanya sedikit nih... emang kalau mual-mual terus pusing, itu tanda pasti hamil ya?"
Pelayan itu tampak tersentak, wajahnya berubah bingung sekaligus kikuk. "Waduh! Kak..." Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya saja belum pernah merasakan seperti Kakak, jadi saya kurang tahu deh soal begituan. Takut salah jawab saya, Kak."
Renata tertegun sejenak. Di dalam benaknya, ia menggerutu pelan, Gue pikir nih wanita tahu, apa dia masih terlalu polos atau memang belum pernah berhubungan intim sampai nggak tahu gejala umum begini?
Merasa tidak enak karena telah menanyakan hal yang cukup pribadi pada orang yang salah, Renata segera menyunggingkan senyum tipis sebagai bentuk permohonan maaf. "Maaf ya, Mbak, perkataan saya tadi. Mungkin saya cuma sedikit panik. Terima kasih ya..."
"Sama-sama Kak, senang bisa membantu. Sampai jumpa kembali!" jawab pelayan itu dengan ramah, tampak lega karena sesi tanya jawab yang canggung itu berakhir.
Renata melangkah keluar dari apotek, menggenggam plastik kecil itu dengan erat seolah sedang membawa harta karun yang paling berharga sekaligus paling menakutkan. Begitu ia membuka pintu mobil, aroma parfum maskulin Bara langsung menyambutnya.
Ia duduk di kursi penumpang, mencoba bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia segera menyimpan plastik itu di dalam tasnya, tidak ingin Bara melihatnya terlalu lama.
Bara menoleh, matanya langsung tertuju pada wajah Renata yang tampak sedikit lebih "hidup" setelah keluar dari apotek. "Gimana? Sudah dapat semua yang kamu cari?" tanya Bara sambil mulai menyalakan mesin mobil.
"Sudah, Mas," jawab Renata singkat sambil memakai sabuk pengamannya.
"Tadi kamu beli apa lagi selain itu?" tanya Bara penasaran, teringat ucapan Renata sebelumnya bahwa ada sesuatu yang 'rahasia'.
Renata hanya melirik suaminya sekilas, lalu membuang muka ke arah jendela. "Ada deh. Urusan perempuan, Mas nggak perlu tahu."
Bara terkekeh pelan, ia tidak memaksa. Mobil pun perlahan bergerak meninggalkan pelataran apotek, membelah jalanan menuju rumah mereka. Keheningan sempat menyelimuti kabin mobil selama beberapa menit, sebelum akhirnya Bara kembali membuka suara.
"Sayang..." panggil Bara dengan nada yang lebih serius. "Apapun hasilnya nanti, aku mau kamu tahu kalau itu nggak akan mengubah posisi kamu sebagai istri aku. Kita bakal hadapi bareng-bareng."
Renata terdiam, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan. Kata-kata Bara barusan terasa seperti embusan angin sejuk yang sedikit mendinginkan rasa cemasnya. Namun, tetap saja, bayangan dua garis merah itu terus menari-nari di pikirannya.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai. Saat tiba di sebuah persimpangan, lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Bara menginjak rem dengan halus, lalu menoleh ke arah istrinya.
"Kita mampir dulu ya ke butik, aku mau beli pakaian baru," ucap Bara memecah keheningan.
Renata sedikit mengernyitkan dahi, menatap suaminya dengan heran. "Iya, Mas. Tapi pakaian kamu itu sudah banyak lho di lemari. Bahkan kalau dibandingin, pakaian kamu sama aku kayaknya kalah banyak deh jumlahnya."
Bara terkekeh mendengar protes kecil istrinya itu. Suara tawa rendahnya memenuhi kabin mobil yang kedap suara. "Kenapa? Kamu melarang aku beli pakaian baru? Ya sudah aku izin sama kamu mau beli pakaian baru."
Renata langsung tertawa renyah, rasa mualnya sejenak terlupakan oleh tingkah aneh suaminya. "Aduh-aduh... nggak usah pakai izin segala, Mas. Kayak mau pergi jauh saja pakai kata izin. Jadi aneh tahu, Mas, denger kamu ngomong begitu."
Bara tidak mau kalah, ia justru semakin menggoda Renata dengan raut wajah yang dibuat serius. "Lho, ini kan kita mau pergi ke toko butik, berarti secara etika aku harus izin juga dong sama kamu. Nah, sekarang aku nunggu jawaban resmi dari kamu, sayang."
Dalam sebuah hubungan rumah tangga, biasanya istri yang meminta izin, namun bagi Bara, melibatkan Renata dalam setiap keputusannya—sekecil apa pun—adalah caranya untuk menunjukkan bahwa posisi Renata kini sangat penting baginya.
Renata menjulurkan lidahnya sedikit, merasa geli sendiri. "Iya, Mas... aku izinkan kamu buat pergi ke toko butik, terus aku bolehin kamu beli apa aja yang kamu mau, asalkan bukan pakai duit aku, wle!"
Bara tertawa lepas, ia mencubit pelan hidung Renata yang masih pucat itu. "Siapa juga yang mau pakai duit kamu, wle!"
Lampu lalu lintas kembali berubah menjadi hijau. Bara melepaskan rem dan mulai menginjak pedal gas perlahan. Mobil mewah itu mulai berjalan dengan tenang menuju sebuah butik eksklusif yang terletak di kawasan elit. Di sepanjang jalan, tangan kiri Bara kembali menggenggam tangan Renata, mencoba memberikan ketenangan sebelum mereka benar-benar menghadapi kenyataan di dalam plastik bening yang tersimpan di dalam tas Renata.
Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan butik Nezora, sebuah bangunan berarsitektur modern minimalis dengan etalase kaca raksasa yang memancarkan kemewahan. Bara turun hampir bersamaan dengan Renata. Ia tidak membiarkan istrinya berjalan sendirian; tangan besarnya segera menyambut jemari Renata, menautkannya dengan erat saat mereka melangkah masuk.
Bara membukakan pintu jati berlapis kuningan itu untuk Renata, membiarkan aroma parfum ruangan yang elegan dan mahal menyambut indra penciuman mereka. Begitu masuk, seorang pelayan wanita dengan seragam formal hitam yang sangat rapi dan wangi segera mendekat, memberikan bungkukan hormat dengan senyuman tipis yang sangat sopan.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu, Bapak, Ibu?" tanya pelayan itu ramah.
Bara tidak langsung menjawab. Matanya menyisir sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan koleksi pakaian pria dan wanita yang tertata sangat estetis. Beberapa koleksi high-end bahkan dipajang secara eksklusif di dalam lemari kaca dengan pencahayaan khusus, seolah-olah pakaian itu adalah sebuah karya seni yang tak ternilai harganya.
Renata terpaku sejenak. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di butik Nezora. Ia menatap deretan pakaian di sana dengan rasa kagum yang sulit disembunyikan. Mas Bara memang nggak pernah salah kalau soal selera, batinnya heran.
"Saya mau model terbaru yang ada di butik ini," ucap Bara dengan nada tenang namun penuh wibawa.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar, saya ambilkan edisi terbaru yang baru saja launching minggu lalu," jawab pelayan itu dengan sigap.
Namun, baru saja pelayan itu hendak melangkah, Bara mengangkat tangannya. "Tunggu sebentar."
Bara merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam matte dengan logo emas bertuliskan Nezora Executive Member. Kartu itu bukan sekadar kartu VIP biasa; itu adalah kasta tertinggi di butik tersebut.
Pelayan wanita itu menerima kartu tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Begitu melihat kode unik di permukaan kartu, ia spontan menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak kaget. Ternyata, pria dan wanita di hadapannya bukan sekadar pelanggan kaya, melainkan pemilik akses tak terbatas yang sangat jarang muncul.
"Kartu ini..." Ucapan pelayan itu tertahan di tenggorokan. Ia segera membungkukkan badannya lebih dalam dari sebelumnya. "Mohon maaf sebesar-besarnya, Bapak dan Ibu. Silakan tunggu di ruang private lounge. Saya akan segera memanggil manajer butik untuk melayani Bapak dan Ibu secara langsung."
Tanpa banyak bicara lagi, pelayan itu segera bergegas pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Renata yang masih bingung dengan reaksi berlebihan pelayan tersebut.
"Mas... kartu apa itu tadi?" bisik Renata penasaran, sambil menatap wajah Bara yang tampak sangat santai seolah hal tersebut adalah sesuatu yang biasa.
Bara hanya tersenyum miring, menatap mata istrinya dengan dalam. "Cuma kartu akses, sayang. Supaya kita jadi prioritas di tempat ini."
Renata mengangguk pelan, meski dalam hatinya masih tersimpan rasa penasaran yang besar. "Ehm... begitu ya, Mas," gumamnya singkat.
Bara menuntun pinggang Renata dengan protektif.
"Yaudah, ayok kita tunggu di ruangan itu," ajak Bara sambil mengarahkan langkah mereka menuju private lounge—sebuah ruangan eksklusif di sudut butik yang dipisahkan oleh pintu geser kayu ek dan aroma terapi yang menenangkan.
Sementara itu, di dalam ruang manajer, suasana mendadak tegang. Pelayan wanita tadi mengetuk pintu dengan terburu-buru.
"Permisi, Pak," ucapnya dengan suara sedikit tertahan.
Manajer yang bernama Andi itu mendongak dari balik meja kerjanya. Ia merapikan kacamatanya sambil menatap pelayan tersebut. "Iya, masuk. Ada apa kamu ke sini? Ada masalah di luar sampai kamu terlihat panik begitu?" tanya Andi penuh selidik.
"Begini, Pak... kita kedatangan pelanggan yang memegang kartu Executive Member," lapor pelayan itu sambil menyodorkan kartu hitam matte yang tadi diberikan oleh Bara.
Andi menerima kartu itu dengan gerakan skeptis, namun begitu ia membalikkan kartu dan memperhatikan nomor seri di belakangnya, napasnya seolah terhenti. Tiga angka terakhir di kartu itu adalah kode khusus butik Nezora—kode yang hanya dimiliki oleh segelintir orang yang berada dalam lingkaran kerja sama bisnis utama dengan pemilik butik ini.
"Kartu ini..." Andi bergumam dengan mata membelalak. Ia tahu persis siapa saja yang memegang kartu dengan seri ini. Bukan sekadar orang kaya, melainkan sosok yang secara finansial adalah investor dari bisnis ini.
Andi segera berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dengan gugup. "Ya sudah, kamu kembali bekerja. Saya sendiri yang akan menemui pelanggan terhormat saya ini. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun!"
Dengan langkah cepat namun tetap menjaga wibawa, Andi bergegas menuju private lounge. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu ruangan tersebut, menyadari bahwa siapa pun yang duduk di dalam sana bukanlah orang sembarangan.
Begitu pintu terbuka, Andi membungkuk hormat bahkan sebelum melihat wajah tamunya. "Selamat datang di butik kami, Pak. Mohon maaf atas keterlambatan saya menyambut Anda..."
Suara Andi memelan saat ia mendongak dan melihat Bara yang sedang duduk santai sambil menggenggam tangan Renata. Andi menelan ludah, ia mengenali sosok pria di hadapannya sebagai salah satu pilar bisnis terpenting yang selama ini hanya ia dengar namanya di rapat-rapat besar.