NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

"Sudah Teteh tutup warung dengan tirai," bisiknya sangat pelan, suaranya terdengar berat dan serak, nyaris seperti desah panas yang menggelitik lubang telinga Juan. "Jam segini tidak akan ada orang yang datang belanja. Semuanya masih sibuk mencangkul di ladang."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Juan untuk berpikir, Teteh Ayu langsung meraup bibir pemuda itu. Bukan sebuah ciuman lembut yang ragu-ragu, melainkan ciuman liar yang menuntut lebih, seolah ia ingin menghisap seluruh napas Juan ke dalam dirinya.

Tanpa menunggu lama, Juan yang darah mudanya sudah mendidih segera menyambar pinggang ramping wanita yang menjadi buah bibir kaum pria di desa itu.

Ia menariknya hingga tubuh mereka bertabrakan tanpa celah. Ayu menyambutnya dengan damba yang meluap-luap.

Teteh Ayu kembali melumat bibir Juan dengan panas, lidah mereka saling bertaut, menjadi awal dari pergulatan yang membakar di tengah hari yang terik itu.

Meskipun di dunia luar Juan hanyalah pemuda yang sering dipandang sebelah mata, dianggap pengangguran tidak berguna atau sekadar anak muda tanpa masa depan, tetapi di dalam dapur yang pengap ini, ia adalah penguasa tunggal.

Pengalaman dari pergulatan panasnya dengan Tante Hena beberapa hari yang lalu, ditambah malam yang liar bersama Nurita, telah menempa insting Juan.

Ia mampu mengendalikan setiap gerak dan tempo permainan mereka dengan sangat presisi. Juan tahu persis di mana titik-titik lemah sang janda primadona desa ini, dan ia tidak ragu untuk menekannya.

Ayu terengah-engah, merasa dirinya seolah terbang melayang-layang ke awang-awang.

Kenikmatan pemanasan yang diberikan Juan begitu intens dan mendominasi, membuatnya lupa sejenak akan status janda kembang dan reputasi yang ia jaga mati-matian di depan warga desa.

Di bawah kendali penuh Juan, Ayu seolah kehilangan seluruh kekuatannya untuk sekadar berkata tidak.

Perlahan, Teteh Ayu merosot dan berjongkok di depan Juan. Jemarinya yang lentur membuka ritsleting penutup pusaka sakti milik Juan.

Ia terperangah selama beberapa saat ketika menemukan pusaka milik Juan sudah keluar dengan gagah, begitu besar, kokoh, dan dibalut urat-urat kencang yang berdenyut, membuat pusaka itu terlihat sangat perkasa dan mengintimidasi.

“Waw... Timun pusakamu sangat besar, Juan," puji Teteh Ayu dengan suara parau yang penuh kekaguman.

Tangannya mulai mengelus dan mengocok batang hangat itu dengan perlahan namun pasti.

"Bolehkan Teteh coba gimana rasanya timun pusakamu ini?" goda Teteh Ayu sembari memberikan tatapan sayu yang sangat menggoda, sementara tangannya terus membelai pusaka itu.

Tanpa menunggu jawaban dari bibir Juan, Teteh Ayu langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Timun besar itu seketika hilang, tenggelam ke dalam rongga mulutnya yang hangat dan basah.

Juan dibuat bak terbang ke langit ketujuh akibat servisan luar biasa yang diberikan oleh Teteh Ayu.

Setiap gerakan lidah dan hisapan yang diberikan Teteh Ayu terasa seperti servis terbaik yang pernah Juan rasakan seumur hidupnya, jauh melampaui teknik Tante Hena ataupun Nurita yang notabene memiliki jam terbang sangat tinggi di dunia malam.

"Bagaimana Juan? Hebat kan servis yang Teteh berikan?" Teteh Ayu mendongak dan tersenyum genit, memperlihatkan kepuasannya melihat Juan yang hampir hilang kendali.

Teteh Ayu kemudian bangkit dan naik ke atas pangkuan Juan. Senyum genitnya benar-benar membuat gairah Juan meningkat sampai ke puncak. Ia melumat bibir tipis Juan dengan rakus dan menuntut.

Juan merespons dengan liar, membalas lumatan itu dengan lilitan lidah yang kuat, sementara tangannya bergerak aktif meremas-remas "melon" besar milik Teteh Ayu yang menggantung manja di balik pakaiannya yang tersingkap.

"Teteh udah nggak tahan, kita langsung aja ya... "

Teteh Ayu memegang erat timun pusaka milik Juan, menuntun ujungnya yang berdenyut untuk memasuki "lembah basah" dan nikmat miliknya.

Timun besar itu nyata-nyata mengalami kesulitan untuk menerobos masuk. Pasalnya, lembah milik Teteh Ayu sudah sangat lama tidak kedatangan tamu, sehingga otot-otot di sana mulai menyempit kembali seperti semula.

"Teteh, punyamu kenapa sangat sempit," tanya Juan dengan suara berat, sebuah pujian yang terselip di tengah napasnya yang memburu.

"Punyaku sudah lama tidak dimasuki, Sayang. Kamu orang pertama setelah aku bercerai dengan mantan suamiku," jawab Teteh Ayu dengan raut wajah yang meringis, menahan rasa sakit sekaligus nikmat yang luar biasa saat timun besar itu terus memaksa menerobos masuk.

"Uhh... punyaku serasa akan robek, Juan...!" teriak Teteh Ayu tertahan saat timun pusaka milik Juan akhirnya berhasil terbenam sepenuhnya di dalam lembahnya.

Teteh Ayu terdiam sejenak, memberi waktu agar lembahnya beradaptasi terhadap ukuran timun Juan yang sangat besar itu.

"Juan... " erang Teteh Ayu saat merasakan remasan Juan pada melonnya semakin kuat dan menuntut.

Teteh Ayu menarik kepala Juan ke arah buah melon besarnya yang putih mulus. Juan yang sangat mengerti keinginan itu langsung melahap melon tersebut dengan ganas, menyesap putingnya yang menegang.

Juan bahkan sesekali dapat merasakan sisa ASI masih keluar dari melon itu, memberikan sensasi rasa yang unik di lidahnya.

"Ohh Juan... " Mata Teteh Ayu terpejam rapat, menikmati setiap inci sensasi yang diberikan oleh Juan. "Kamu benar-benar nakal, Juan."

Teteh Ayu kembali melumat rakus bibir Juan sembari mulai menggerakkan tubuhnya naik-turun secara perlahan.

Meskipun ia masih merasakan sedikit perih karena ukuran timun Juan yang sangat besar, namun rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya jauh lebih mendominasi.

Seiring berjalannya waktu, suasana di dapur sempit itu menjadi semakin panas dan pengap oleh aroma gairah. Juan dan Teteh Ayu benar-benar terbakar hasrat yang luar biasa.

"Ooo, Juan... timun milikmu sangat nikmat... " Teteh Ayu terpekik pelan dengan napas yang terputus-putus. "Jika seperti ini, Teteh akan benar-benar ketagihan!"

Ayu melumat bibir Juan kembali, melilit lidah dan saling bertukar ludah dengan liar. "Aku hampir sampai, Juan!" Teteh Ayu semakin menggila, gerakannya semakin cepat dan tak beraturan.

Juan yang juga merasakan cairannya sudah berada di ujung, ikut menggerakkan tubuhnya dengan perkasa.

Ia menghujamkan timunnya ke dalam lembah milik Teteh Ayu dengan tenaga penuh, menghunjam hingga mentok ke dasar terdalam.

"Ohhh yes... Juan, aku sampai!" tubuh Teteh Ayu menggeliat hebat, menjepit milik Juan dengan kontraksi yang sangat kencang.

Juan yang juga sudah tidak tahan, terus menghujamkan timunnya dengan kecepatan tinggi tanpa henti.

"Aku juga hampir sampai...!"

"Keluarkan di dalam, Juan! Keluarkan di dalam!"

Lahar panas milik Juan akhirnya meledak, membanjiri bagian dalam lembah milik Teteh Ayu dengan deras.

Sensasi panas itu membuat Teteh Ayu kembali bergetar dan meledak untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat berdekatan.

"Ini sangat nikmat, aku pasti akan ketagihan... " ujar Teteh Ayu dengan suara lemas sambil membelai lembut wajah Juan.

Juan hanya tersenyum puas. Ternyata timunnya masih tetap keras dan menegang, sehingga mereka kembali melakukannya lagi dan lagi.

Ayu benar-benar dibuat terbang tinggi ke awang-awang, merasakan kenikmatan surga dunia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Waktu terus merambat naik hingga matahari mulai condong ke arah barat.

Juan seolah memiliki stamina ganda, tenaganya tak kunjung surut meski peluh sudah membanjiri seluruh tubuh mereka, membuat kulit mereka yang bersentuhan terasa licin.

Hingga akhirnya, Ayu-lah yang menyerah kalah. Dengan napas tersengal-sengal dan tubuh yang benar-benar lemas tak bertulang, ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Juan.

"Cukup, Juan... Teteh benar-benar habis tenaga," bisiknya dengan suara parau yang nyaris habis. Matanya melirik ke arah jam dinding tua yang berdetak di sudut warung. "Sebentar lagi anak Teteh pulang dari les. Kita harus benar-benar berhenti sekarang."

Sebelum mereka benar-benar menyudahi pertemuan panas itu, Ayu kembali meraih wajah Juan dengan kedua tangannya.

Ia melumat bibir pemuda itu sekali lagi dengan ciuman yang sangat panas dan penuh tuntutan, seolah-olah ia ingin menyimpan rasa dan aroma Juan lebih lama lagi di bibirnya.

Dengan gerakan yang dipaksakan cekatan meski tubuhnya masih gemetar, Ayu mulai merapikan pakaian dan rambutnya yang sangat berantakan.

Ia berjalan berjinjit ke arah pintu depan, menyibak sedikit tirai penutup untuk memastikan situasi di luar kedai tetap aman dan sepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!