Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 27 : Kepulangan La'Mortine
Kapal Aurora mendarat dengan guncangan keras di landasan pacu pribadi kastil Augustine. Salju tebal beterbangan saat mesin uap alkimia dimatikan secara paksa.
Belum sempat pintu pendaratan terbuka sempurna, puluhan ksatria dengan zirah perak berlogo elang, Penjaga Suci dari Utara sudah mengepung mereka dengan tombak yang diarahkan tepat ke pintu kapal.
"Turunkan senjata kalian atau kami anggap ini sebagai serangan pemberontakan!" teriak seorang komandan dengan suara parau yang menggema di tengah badai.
George melangkah keluar paling depan. Langkah kakinya yang berat meninggalkan jejak es di lantai logam landasan. Ia tidak menghunus pedangnya, namun aura yang terpancar dari tubuhnya membuat para ksatria di depannya mundur selangkah.
"Aku adalah George Augustine. Aku datang ke rumahku sendiri. Sejak kapan seorang anak butuh izin untuk menemui ayahnya?" George bertanya dengan nada suara yang begitu dingin, hingga uap napasnya membeku di udara.
"George! Akhirnya kau sampai juga!" Julian berlari keluar dari belakang kakaknya, diikuti oleh Theodore dan Celestine.
"Pangeran Julian? Apa yang kau lakukan bersama pengkhianat ini?" sang komandan tampak bingung melihat adik George ada di sana.
"Haga, jaga bicaramu! Kak George adalah delegasi resmi dari Kerajaan Valley. Dan di sampingnya adalah Raja Theodore Vallery sendiri. Jika kau tidak ingin memicu perang besar antara Utara dan Selatan, singkirkan tombak konyolmu itu!" perintah Julian dengan wibawa yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Komandan bernama Haga itu ragu sejenak. Ia menatap Theodore yang berdiri dengan angkuh sambil memegang jubah kebesarannya. "Maafkan kekasaran kami, Yang Mulia. Namun perintah Orde Tertinggi sangat jelas. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar dari kastil Augustine sampai penyelidikan selesai."
"Penyelidikan apa, Haga? Penyelidikan tentang bagaimana kalian mencoba merampas aset keluarga kami?" tanya George sambil melangkah maju hingga ujung tombak Haga menyentuh zirah dadanya.
"George, jangan memancing keributan di sini," bisik Celestine sambil memegang lengan George. 'Aku bisa merasakan ribuan mata mengawasi kita dari atas menara,' batinnya dengan cemas.
"Biarkan mereka masuk, Haga." Sebuah suara berat dan serak terdengar dari arah gerbang dalam kastil.
Sesosok pria tua dengan jubah bulu serigala hitam muncul. Rambutnya yang seputih salju tertiup angin, dan wajahnya dipenuhi garis-garis kelelahan yang mendalam. Itu adalah Marquess Augustine, ayah George.
"Ayah..." gumam Julian dengan mata berkaca-kaca.
Marquess Augustine menatap George cukup lama. Tidak ada pelukan, tidak ada air mata. Hanya tatapan antara dua ksatria yang telah lama terpisah oleh takdir yang kejam. "Kau tumbuh menjadi pria yang berbahaya, George. Bahkan lebih berbahaya dari yang aku perkirakan."
"Dan kau tampak jauh lebih tua dari terakhir kali kau mengusirku, Ayah." jawab George tanpa ekspresi.
"Masuklah. Theodore Vallery, maaf atas sambutan yang kurang pantas ini. Kastilku sedang tidak dalam keadaan terbaiknya untuk menjamu tamu agung." Marquess memberikan isyarat agar para pengawal menyingkir.
Mereka berjalan menyusuri koridor kastil yang dingin. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh potret leluhur keluarga Augustine yang tampak mengawasi setiap langkah George. George merasa asing di rumahnya sendiri, namun setiap sudut ruangan ini membangkitkan memori tentang latihan pedang yang melelahkan dan kesepian yang mencekam.
"Di mana Ibu?" tanya George tiba-tiba saat mereka sampai di ruang pertemuan utama.
Langkah Marquess terhenti. Ia membelakangi mereka, menatap ke luar jendela yang memperlihatkan badai salju yang semakin mengamuk. "Ibumu... dia sudah dibawa oleh Orde dua hari yang lalu. Mereka mengklaim bahwa garis keturunannya adalah ancaman bagi stabilitas sihir Utara."
"Apa?! Dan kau membiarkannya?!" teriak George. Listrik biru mulai memercik dari tangan kristalnya, menghancurkan vas bunga di dekatnya hingga berkeping-keping.
"George, tenanglah!" Theodore memegang bahu George, mencoba meredam emosi sang jenderal.
"Aku tidak punya pilihan, George! Mereka datang dengan mandat dari Kaisar dan dukungan dari Orde Tertinggi! Jika aku melawan, mereka akan membantai seluruh pelayan di kastil ini!" Marquess berbalik dengan wajah penuh amarah dan keputusasaan.
"Kau selalu punya pilihan, Ayah. Kau hanya terlalu takut kehilangan posisimu," tuduh George dengan suara rendah yang penuh kebencian.
'Aku tahu Ayah menyembunyikan sesuatu. Dia tidak mungkin menyerahkan Ibu begitu saja tanpa rencana,' batin Julian sambil memperhatikan ayahnya dengan teliti.
"Ayah, apa sebenarnya Proyek Altar Salju itu? Kenapa mereka menginginkan Ibu dan mawar salju yang dibawa Kak George?" tanya Julian mencoba mencairkan ketegangan.
Marquess Augustine menghela napas panjang, ia duduk di kursi kebesarannya yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mulai rapuh. "Legenda mawar salju bukan hanya soal keindahan, Julian. Mawar itu adalah wadah energi yang bisa mengendalikan denyut nadi mana di seluruh Benua Utara. Orde ingin menggunakannya untuk membangkitkan 'Jantung Salju', sebuah artefak kuno yang konon bisa membekukan waktu."
"Membekukan waktu? Untuk apa?" tanya Celestine dengan heran.
"Untuk menghentikan kematian para tetua Orde. Mereka ingin hidup selamanya dalam keabadian es," jawab Marquess pahit.
"Dan untuk itu mereka butuh darah Eleanor..." gumam George. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Di mana mereka membawanya? Ke Puncak Kesunyian?"
"Benar. Ritualnya akan diadakan saat bulan mencapai titik puncaknya besok malam. Mereka sedang menyiapkan altar di dalam gua kristal terdalam," jawab Marquess.
"Kita harus berangkat sekarang juga!" seru George sambil berbalik menuju pintu.
"Tunggu, George! Kau tidak bisa menyerbu ke sana sendirian. Itu adalah bunuh diri. Ada ribuan ksatria dan penyihir Orde yang menjaga tempat itu," cegah Theodore.
"Aku adalah Master Pedang tingkat dua belas, Theodore. Aku tidak peduli berapa banyak mereka. Aku akan meratakan gunung itu jika perlu," jawab George dengan mata yang berkilat petir.
"Jangan sombong, George. Kekuatanmu memang besar, tapi mereka memiliki penetral sihir yang bisa mematikan elemen esmu dalam sekejap," peringat Marquess. "Namun, ada satu hal yang mereka tidak tahu. Kau memiliki elemen petir. Itulah satu-satunya kartu as kita."
George terhenti. Ia menatap ayahnya dengan penuh tanya. "Bagaimana kau tahu?"
Marquess Augustine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan. "Akulah yang memasangkan segel di tubuhmu saat kau bayi, George. Aku tahu potensi itu akan membunuhmu jika tidak dijaga. Aku membuangmu ke Selatan bukan karena aku membencimu, tapi karena aku ingin kau belajar mengendalikan petir itu di tempat yang tidak memiliki energi es yang terlalu pekat."
George terpaku. Seluruh kebencian yang ia simpan selama bertahun-tahun seolah-olah menghantam dinding kenyataan yang baru saja terungkap. 'Jadi, selama ini... dia melindungiku dengan caranya yang kejam?' batin George dengan perasaan campur aduk.
"Kita akan menyusun rencana. Julian, bawa mawar salju itu ke laboratorium rahasia di bawah kastil. Kita perlu menyinkronkan energinya dengan petir George sebelum penyerangan dimulai," perintah Marquess.
"Siap, Ayah!" Julian segera bergerak menuju kapal Aurora.
Celestine mendekati George dan memegang tangannya yang masih bergetar karena emosi. "George, dengarkan ayahmu kali ini. Kita butuh rencana yang matang agar kita bisa menyelamatkan ibumu dengan selamat."
George menatap Celestine, lalu menatap ayahnya. Akhirnya, ia menurunkan pedangnya. "Dua puluh empat jam. Itu waktu yang kita punya sebelum bulan mencapai puncaknya. Jika rencana ini gagal, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."
"Itu sudah lebih dari cukup," sahut Marquess Augustine.
Lorong-lorong Kastil Augustine terasa lebih sempit dan pengap daripada yang George ingat. Meskipun dindingnya terbuat dari batu gunung yang kokoh, hawa dingin yang merayap di lantai seolah membawa bisikan-bisikan dari masa lalunya yang kelam. Mereka kini berada di dalam ruang kerja Marquess yang tersembunyi di balik perpustakaan besar, sebuah ruangan yang dulunya terlarang bagi George kecil.
"Duduklah, George. Kau juga, Raja Theodore. Kita tidak punya banyak waktu untuk formalitas yang tidak perlu." Marquess Augustine mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar para pelayan keluar dan mengunci pintu ganda ruangan itu.
"Aku lebih suka berdiri. Katakan padaku, Ayah, jika kau memang memasang segel itu untuk melindungiku, kenapa kau membiarkan kabar tentang 'kutukan' esku menyebar ke seluruh penjuru Utara?" tanya George sambil bersedekap, matanya tidak lepas dari sosok pria tua di depannya.
Marquess menghela napas, ia menuangkan anggur merah ke dalam gelas kristal dengan tangan yang sedikit gemetar. "Karena jika kau dianggap sebagai pahlawan atau jenius, Orde Tertinggi akan membawamu lebih awal. Mereka butuh wadah yang sempurna, George. Dengan membuatmu terlihat seperti kegagalan yang terkutuk, aku memberimu waktu untuk tumbuh tanpa pengawasan mereka."
"Dan mengorbankan kehormatanku dalam prosesnya?" sahut George dengan nada getir.
"Kehormatan bisa dibangun kembali, tapi nyawa yang hilang tidak akan pernah kembali." jawab Marquess tegas.
Theodore berdehem, mencoba menengahi ketegangan ayah dan anak itu. "Marquess, mari kita fokus pada teknisnya. Anda bilang mawar salju ini harus disinkronkan dengan petir George. Bagaimana caranya? Eldric bilang mawar itu sangat sensitif terhadap lonjakan listrik."
"Mawar itu bukan tanaman biasa, Theodore. Ia adalah organisme penyerap mana yang dirancang untuk menyeimbangkan suhu ekstrem. Eleanor... ibumu, George, dia adalah keturunan terakhir dari Klan Penjaga Langit. Darahnya mengandung frekuensi yang bisa menjinakkan petir murni," jelas Marquess.
'Jadi itu alasan kenapa petirku tidak pernah menghancurkan mawar itu saat pertempuran di Valley,' batin George sambil menatap tangan kristalnya.
"Jadi, mawar ini bertindak sebagai transformator?" tanya Celestine yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama. "Jika George mengalirkan petirnya ke mawar, mawar itu akan mengubahnya menjadi energi yang bisa diterima oleh Altar Salju tanpa menghancurkan ekosistem mana di sana?"
"Tepat sekali, Tuan Putri. Orde ingin menggunakan darah Eleanor untuk memaksa mawar itu terbuka. Tapi jika George hadir di sana dan memberikan petirnya secara sukarela melalui mawar tersebut, dia bisa mengambil alih kendali atas Altar Salju." Marquess menunjuk sebuah titik di peta kuno yang terbentang di meja.
"Itu berarti George akan menjadi pusat dari seluruh energi di Puncak Kesunyian?" tanya Julian yang baru saja kembali setelah mengamankan kotak stasis.
"Benar. Tapi risikonya sangat besar. Jika George tidak kuat menahan arus mana yang kembali dari Altar, dia akan meledak dari dalam." Marquess menatap George dengan tatapan yang sangat dalam, seolah mencari kepastian di mata anaknya.
"Aku sudah terbiasa bermain dengan kematian, Ayah. Katakan saja apa yang harus kulakukan sekarang." jawab George tanpa ragu.
"Kita akan melakukan prosedur awal di laboratorium bawah tanah. Aku butuh kau melepaskan sedikit segelmu agar mawar itu bisa mengenali frekuensi aslimu." Marquess berdiri dan menekan sebuah tombol rahasia di bawah mejanya.
Dinding di belakang rak buku bergeser, memperlihatkan tangga spiral yang menuju ke kedalaman kastil. George, Celestine, Theodore, dan Julian mengikuti Marquess turun ke bawah. Laboratorium itu penuh dengan peralatan alkimia kuno yang jauh lebih canggih daripada milik Master Eldric di Valley.
"Letakkan mawarnya di tengah lingkaran resonansi ini, Julian." perintah Marquess.
Julian meletakkan kotak stasis itu di atas meja batu yang dikelilingi oleh ukiran rune perak. Saat penutup kaca dibuka, mawar salju itu tampak sedikit layu karena perbedaan tekanan udara.
"George, letakkan tanganmu di atas kelopaknya. Jangan gunakan es, gunakan petirmu. Bayangkan aliran listrik itu sebagai aliran darah, bukan senjata." bisik Celestine, mencoba memberikan ketenangan.
George menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, mencari percikan kecil yang selalu ia sembunyikan di balik lapisan esnya. 'Ayo, kawan lama. Tunjukkan padanya siapa kita,' batin George.
"Zzzzt!" Percikan kilat biru mulai menari di ujung jari George. Begitu ia menyentuh mawar itu, seluruh ruangan mendadak bergetar. Mawar salju itu tidak terbakar; sebaliknya, ia mulai mekar dengan sangat lebar, kelopaknya berubah warna menjadi biru elektrik yang menyilaukan.
"Luar biasa... sinkronisasinya mencapai sembilan puluh persen dalam hitungan detik!" teriak Marquess dengan suara yang gemetar karena haru.
"Argh! Tekanannya... sangat kuat!" George menggeram, otot-otot di lengannya mulai menegang hebat.
"Tahan, George! Jangan ditarik! Jika kau menariknya sekarang, mawar itu akan hancur!" teriak Theodore sambil mencoba menahan meja batu yang mulai bergetar hebat.
Celestine segera mengangkat tangannya, menyalurkan cahaya matahari untuk menstabilkan suhu di sekitar George. "Gunakan cahayaku sebagai jembatannya, George! Jangan biarkan petirmu liar!"
Perlahan, getaran itu mereda. Mawar salju itu kini bersinar dengan cahaya yang sangat murni, perpaduan antara biru petir dan emas cahaya. George jatuh terduduk, napasnya memburu.
"Berhasil. Mawar ini sekarang sudah mengenali manamu sepenuhnya. Besok, saat kau berhadapan dengan Altar Salju, mawar ini akan menjadi perisaimu yang paling kuat." Marquess mendekati George dan, untuk pertama kalinya, meletakkan tangannya di bahu anaknya dengan lembut. "Maafkan aku, George. Maafkan aku karena harus membuatmu menanggung semua ini sendirian selama bertahun-tahun."
George menatap tangan ayahnya, lalu menatap wajah tua yang penuh penyesalan itu. "Simpan permintaan maafmu sampai Ibu kembali di antara kita, Ayah."
Marquess mengangguk pelan. "Tentu. Sekarang, kalian semua harus beristirahat. Besok sebelum matahari terbit, kita akan memulai pendakian ke Puncak Kesunyian. Julian, siapkan peralatan pendaki dan jubah kamuflase termal."
"Siap, Ayah!" jawab Julian dengan mantap.
Saat mereka keluar dari laboratorium, Theodore menarik George sedikit ke belakang. "George, kau benar-benar percaya pada rencananya? Dia adalah orang yang sama yang membuangmu sepuluh tahun lalu."
"Aku tidak percaya padanya sepenuhnya, Theodore. Tapi aku percaya pada darah yang mengalir di tubuhku. Aku bisa merasakannya melalui mawar itu. Ibu masih hidup, dan dia sedang menungguku." jawab George dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
"Baiklah. Aku akan bersamamu di depan Altar itu besok. Jika ayahnya mencoba macam-macam, pedang emas Valley akan tetap berada di lehernya." janji Theodore.
George tersenyum tipis. "Terima kasih, kawan."
Malam itu, George berdiri di menara tertinggi Kastil Augustine, menatap ke arah Puncak Kesunyian yang diselimuti badai. Di tangannya, percikan petir kecil tampak lebih tenang, seolah telah menemukan rumahnya yang baru.
'Besok, aku akan menjemputmu, Ibu. Dan aku akan memastikan Orde Tertinggi menyesal karena pernah menyentuh keluarga Augustine,' batin George sambil menatap bulan yang hampir mencapai puncaknya.