Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Hadiah berbisa
Pagi itu, kediaman Bramasta diselimuti ketenangan yang menipu. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan yang megah, namun bagi Aluna, atmosfer itu terasa pengap.
Ia turun dengan langkah yang masih sedikit kaku, mencoba menutupi jejak malam terlarang di bawah gaun rumahnya. Di meja makan, Nyonya Widya sudah duduk dengan binar mata senang, menunjuk sebuah kotak besar berwarna tiffany blue di atas meja konsol.
"Dari Clara, Sayang," ujar Nyonya Widya antusias. "Dia mengirimkan pengawal pribadinya tadi subuh. Katanya, ini hadiah tanda perkenalan agar kalian bisa lebih akrab."
Aluna mendekati kotak itu dengan hati yang berdebar tidak keruan. Ia menarik pita sutranya, dan begitu tutup kotak dibuka, aroma parfum mawar yang sangat mahal—aroma khas Clara—menyeruak.
Namun, saat Aluna mengangkat gaun sutra berwarna putih gading itu, matanya membelalak.
Gaun itu sangat indah, namun ukurannya... sangat luar biasa besar. Jika Aluna memakainya, gaun itu akan menenggelamkan seluruh tubuhnya, terlihat seperti karung mahal yang tidak berbentuk.
Ini bukan sekadar salah ukuran; ini adalah penghinaan visual. Clara sedang memberitahunya bahwa ia hanyalah bocah yang tidak akan pernah bisa mengisi "posisi" wanita dewasa di samping Bram.
"Nenek... ini... ini kebesaran sekali," suara Aluna bergetar, matanya mulai berkaca-kaca karena terhina.
Nyonya Widya mengernyit, ikut memeriksa gaun itu. "Lho? Iya ya, ini sepertinya ukuran XL atau bahkan lebih. Clara kan sangat teliti, kenapa bisa salah ya?"
Bram, yang sedari tadi hanya menyimak dari balik tabletnya, berdiri. Matanya yang tajam menatap gaun itu dengan rahang yang mengeras. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Clara.
"Kembalikan, Aluna," perintah Bram dingin.
"Daddy akan membawanya ke kantor sekarang juga."
"Tapi Bram, mungkin dia hanya salah kirim—"
"Kembalikan, Bu," potong Bram tidak terbantahkan. Ia menyambar kotak itu dengan gerakan kasar, seolah ingin membuang kotoran.
Di Kantor Bramasta Corp
Bram membanting kotak itu ke atas meja kerjanya tepat saat Clara masuk dengan senyum manis tanpa dosa. "Pak Bram? Anda sudah datang? Kenapa wajah Anda—"
"Apa maksudmu dengan gaun ini, Clara?" geram Bram, suaranya rendah dan mengancam.
Clara menatap gaun yang terserak itu, lalu menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat rapi.
"Astaga! Jadi itu yang terkirim? Ya Tuhan, Pak Bram, saya benar-benar minta maaf! Sepertinya asisten saya salah mengambil kotak. Itu seharusnya gaun pesanan klien saya yang... ukurannya memang jauh lebih besar dari Aluna."
Clara mendekat, matanya menatap Bram dengan penuh permohonan maaf yang tulus.
"Saya merasa sangat bersalah. Aluna pasti merasa tersinggung, ya? Padahal saya ingin dia terlihat cantik di acara nanti."
Bram tidak bergeming. "Jangan gunakan alasan asisten, Clara. Kau tahu ukuran Aluna."
"Benar, saya tahu. Itulah sebabnya saya ingin menebus kesalahan bodoh ini," ujar Clara dengan nada yang sangat rendah hati.
"Bagaimana jika siang ini saya menjemput Aluna dan Nyonya Widya? Kita pergi ke mall bersama. Saya ingin membelikan Aluna gaun yang benar-benar pas secara langsung. Saya tidak ingin hubungan kita berawal dari kesalahpahaman kecil ini."
Clara mengambil ponselnya, dan sebelum Bram sempat menolak, ia sudah menelepon Nyonya Widya.
"Halo, Nyonya? Iya, ini Clara... saya benar-benar minta maaf soal gaun tadi pagi... asisten saya sangat ceroboh... Sebagai gantinya, bolehkah saya menjemput Anda dan Aluna siang ini untuk belanja bersama? Saya ingin memastikan Aluna mendapatkan yang terbaik."
Di seberang telepon, Nyonya Widya tentu saja langsung setuju dengan girang.
Aluna terpaksa ikut. Ia duduk di kursi belakang mobil mewah Clara, sementara Nenek Widya duduk di depan bersama Clara yang sepanjang jalan terus bercerita dengan riang tentang tren mode terbaru. Aluna merasa seperti tawanan yang sedang dibawa menuju tempat eksekusi.
Sesampainya di butik kelas atas, Clara mulai beraksi. Ia memilah puluhan gaun, namun setiap kali Aluna menyukai sesuatu, Clara akan berkomentar dengan sangat halus namun menjatuhkan.
"Oh, Aluna... yang itu warnanya terlalu cerah untuk kulitmu. Nanti kau malah terlihat seperti anak SMP yang mau pergi ke pesta ulang tahun teman," ujar Clara sambil tersenyum manis pada Nenek Widya.
"Benar kan, Nyonya? Aluna harus mulai memakai warna-warna yang lebih 'matang' agar serasi saat berdiri di samping Pak Bramasta."
Nyonya Widya mengangguk setuju. "Benar juga kata Clara, Sayang. Kau harus terlihat seperti wanita terhormat, bukan anak kecil lagi."
Clara kemudian mengambil sebuah gaun hitam dengan potongan dada yang cukup rendah—sesuatu yang sangat bukan selera Aluna.
"Nah, yang ini. Coba kau pakai. Aku ingin melihat apakah kau sudah 'cukup umur' untuk memakai potongan seperti ini."
Aluna memegang gaun itu dengan tangan gemetar. Ia melirik bayangannya di cermin besar butik tersebut. Clara berdiri di belakangnya, menatapnya melalui pantulan cermin dengan tatapan predator yang sangat tenang.
"Ayo, Aluna. Jangan malu-malu," bisik Clara tepat di samping telinga Aluna saat Nenek Widya sedang sibuk memilih tas di sudut lain.
"Jangan sampai Daddy-mu bosan karena kau terus-menerus bertingkah seperti bayi yang butuh disuapi ceri. Pria seperti Bramasta... dia butuh wanita yang bisa melayaninya, bukan sekadar merengek di lutut kakeknya."
Aluna mengepalkan tangannya di balik gaun hitam itu. Ia menyadari bahwa ajakan belanja ini adalah cara Clara untuk menelanjanginya secara mental di depan neneknya.
Di sini, Clara adalah sang "guru" yang memegang kendali, dan Aluna hanyalah "murid" yang payah.
keluarga yg dibangun dengan pikiran dangkal dan bodoh..jeluarga terhormat tapi lawan satu aja..kalah..wkwkkwkw
....dewasa😌