NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

canda tawa

Siang itu suasana ruang rawat sudah jauh lebih tenang.

Cahaya matahari masuk dari jendela, membuat ruangan terasa hangat—berbeda dengan hari sebelumnya yang penuh ketegangan.

Yoga sudah tampak sedikit lebih segar, meski tubuhnya masih lemas dan harus tetap berbaring.

Sementara itu…

Bella masih setia di sampingnya.

Bella duduk di kursi dekat ranjang, sebuah mangkuk berisi buah di tangannya.

Apel, anggur… dan jeruk.

“Dokter bilang kamu harus makan buah juga,” ucap Bella sambil mengambil potongan kecil.

Yoga melirik sekilas.

“Sejak kapan kamu jadi dokter?”

Bella mendengus pelan.

“Sejak kamu jadi pasien paling bandel.”

Rafi yang kebetulan duduk di sudut ruangan langsung terkikik.

“Wah, kena.”

Yoga hanya menghela napas, tapi ada senyum tipis di wajahnya.

Bella menusuk potongan buah dengan garpu kecil.

Lalu menyodorkannya ke arah Yoga.

“Buka.”

Yoga menurut.

Tapi saat buah itu hampir masuk ke mulutnya—

Bella tiba-tiba menariknya lagi.

Yoga langsung mengernyit.

“Eh?”

Bella malah memasukkan buah itu ke mulutnya sendiri.

Dengan santai.

Hening satu detik.

Rafi langsung meledak kecil.

“HAHAHA anjir!”

Yoga menatap Bella dengan tatapan tidak percaya.

“Serius?”

Bella mengunyah santai.

“Kenapa?”

Yoga menggeleng pelan.

“Lagi sakit gini masih dikerjain…”

Bella tersenyum tipis.

“Biar nggak bosan.”

Yoga mendecak pelan.

“Nyebelin…”

Bella mengambil potongan jeruk kali ini.

Mengupas sedikit seratnya dengan teliti.

Lalu menyodorkannya lagi.

“Sekarang beneran.”

Yoga menatapnya curiga.

“Yakin?”

Bella mengangguk serius.

“Yakin.”

Yoga perlahan membuka mulut.

Tapi lagi-lagi—

saat sudah dekat—

Bella sengaja menggeser sedikit ke samping.

“BELLA.”

Nada suara Yoga mulai kesal.

Rafi makin ngakak.

“Gue nggak kuat ini…”

Bella langsung tertawa kecil.

“Iya iya, ini terakhir.”

Kali ini benar-benar ia masukkan ke mulut Yoga.

Yoga mengunyah pelan.

Matanya masih menatap Bella dengan kesal setengah bercanda.

“Puas?” tanyanya.

Bella mengangguk.

“Lumayan.”

Yoga mendecak pelan.

Lalu tiba-tiba—

ia meraih tangan Bella.

Gerakannya tidak kuat, tapi cukup untuk menarik tangan itu mendekat.

Bella sedikit kaget.

“Eh?”

Yoga mengambil satu potong buah dari mangkuk.

Dengan susah payah.

“Sekarang giliran gue.”

Bella langsung menggeleng cepat.

“Nggak usah, kamu kan lagi sakit—”

“Buka.”

Nada Yoga pelan… tapi tidak bisa dibantah.

Bella terdiam.

Lalu perlahan membuka mulut.

Yoga menyuapinya.

Sedikit miring.

Hampir jatuh.

Bella refleks menahan dengan tangan.

Rafi langsung nyeletuk,

“Ini mah bukan nyuapin, ini eksperimen.”

Bella tertawa kecil.

Yoga hanya mendengus pelan.

Tapi ada senyum tipis di wajahnya.

“Balas dendam,” gumamnya.

Bella menatapnya.

Lalu tersenyum.

Suasana di ruangan itu berubah ringan.

Penuh canda kecil.

Namun di balik itu—

ada sesuatu yang terasa jelas.

Tanpa mereka sadari…

hubungan mereka sudah jauh berubah.

Bukan lagi sekadar perjanjian.

Bukan lagi pura-pura.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Siang mulai beranjak sore.

Ruangan rawat itu kembali tenang setelah Rafi, Althea, dan Kania keluar sebentar.

Kini… hanya ada mereka berdua.

Bella dan Yoga.

Bella masih duduk di kursi di samping ranjang, memegang buku kecil yang sebenarnya tidak ia baca.

Sesekali matanya melirik ke arah Yoga.

Memastikan… ia baik-baik saja.

Yoga yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menghela napas pelan.

“Capek nggak sih duduk terus di situ?”

Bella menoleh.

“Nggak kok.”

Yoga mengangkat alis.

“Boong.”

Bella mendengus pelan.

“Beneran.”

Yoga diam sebentar.

Lalu menggeser sedikit tubuhnya di ranjang, memberi ruang.

“Naik sini.”

Bella langsung kaget.

“Hah? Nggak usah.”

“Naik.”

“Nggak.”

“Bella…”

Nada suara Yoga mulai serius.

Bella langsung menggeleng cepat.

“Ini rumah sakit, Yog.”

Yoga menatapnya datar.

“Terus?”

Bella kehabisan kata.

Tanpa banyak bicara lagi—

Yoga menarik tangan Bella.

“Eh— Yoga!”

Dengan kondisi lemah pun, ia tetap memaksa.

Dan akhirnya—

Bella terpaksa naik ke ranjang.

“Yoga!”

Wajah Bella langsung merah.

Yoga hanya menghela napas kecil.

“Berisik…”

Dan tanpa menunggu protes lagi—

ia menarik tubuh Bella lebih dekat.

Sekarang…

Bella berada di pelukannya.

Kepalanya bersandar di dada Yoga.

Bella membeku beberapa detik.

Jantungnya berdegup cepat.

“Yoga…”

“Diam.”

Suara Yoga pelan.

Tangannya mulai mengelus pelan rambut Bella.

Gerakan lembut.

Tenang.

Aneh…

tapi justru itu membuat Bella perlahan… rileks.

Napasnya mulai teratur.

Ia tidak lagi melawan.

Hanya diam…

menikmati detak jantung Yoga yang terdengar jelas dari dekat.

“Sejak kapan kamu jadi sekeras ini…” gumam Bella pelan.

Yoga tersenyum tipis.

“Sejak kamu keras kepala.”

Bella mendecak kecil.

“Salahin aku terus.”

“Emang.”

Bella mencubit pelan pinggang Yoga.

“Ah—”

Yoga sedikit meringis.

“Lagi sakit, Bela…”

Bella langsung panik.

“Ih maaf! Sakit ya?”

Yoga diam sebentar…

lalu tersenyum tipis.

“Enggak.”

Bella langsung sadar.

“Yoga!”

Ia memukul pelan dada Yoga.

Yoga tertawa kecil.

Suara pelan… tapi hangat.

“Balas dendam.”

Bella mendengus, tapi ikut tersenyum.

Hening sejenak.

Namun bukan hening yang canggung.

Melainkan… nyaman.

“Bela…”

“Hm?”

Yoga menatap langit-langit.

Tangannya masih mengelus rambut Bella.

“Pertama kali kita ketemu…”

Ia tersenyum kecil.

“Lo galak banget.”

Bella langsung mengangkat kepala sedikit.

“Hah? Kamu yang nyebelin duluan!”

Yoga menggeleng pelan.

“Lo yang nyiram kopi ke gue.”

Bella langsung tertawa kecil.

“Itu karena kamu sombong!”

Yoga tersenyum.

“Sekarang?”

Bella terdiam sebentar.

Menatap wajah Yoga.

“Sekarang…”

Ia ragu sejenak.

“Masih sih…”

Yoga mengernyit.

“Bela…”

Bella langsung tertawa kecil.

“Bercanda…”

Yoga menghela napas.

“Jail banget…”

Bella kembali menyandarkan kepalanya.

“Kalau kamu nggak sombong dulu…”

“Kenapa?”

Bella tersenyum kecil.

“Mungkin kita nggak bakal sejauh ini.”

Yoga terdiam.

Kalimat itu… sederhana.

Tapi dalam.

“Lo nyesel?”

Bella langsung menggeleng cepat.

“Nggak.”

Hening lagi.

“Kalau kamu nggak sakit…”

Bella bicara pelan.

“Aku juga mungkin nggak bakal… kayak gini.”

“Kayak gimana?”

Bella tidak langsung jawab.

Ia malah mencubit lagi.

“Ah!”

Yoga langsung mengernyit.

“Kayak gini.”

Bella tersenyum nakal.

Yoga menghela napas panjang.

“Gue tarik lagi ya pernyataan gue…”

Bella tertawa kecil.

“Apa?”

“Lo masih galak.”

Bella tertawa makin lepas.

Namun di balik tawa itu…

ada sesuatu yang tidak terucap.

Yoga menatap Bella yang tertawa di pelukannya.

Matanya lembut.

bella mendongak menatap yoga

"tetap di sini ya,jangan pergi"

Aku juga dari kemarin tetap disini gak pergi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!