NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penantian yang Penuh Keprihatinan

Jam terus berputar, detik demi detik berlalu terasa begitu lambat dan menyiksa. Sudah hampir empat jam pintu ruang gawat darurat itu tertutup rapat, memisahkan mereka dari wanita yang menjadi pusat dunia keduanya. Sepanjang waktu itu, tidak ada satu kata pun yang terucap di antara Zyro maupun Ansel. Mereka hanya duduk terdiam di bangku tunggu rumah sakit, wajah mereka masih terlihat berantakan, penuh noda darah dan memar akibat perkelahian yang terjadi sebelumnya. Hati mereka sama-sama cemas, takut, dan dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam.

Tiba-tiba pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah yang terlihat lelah namun tenang. Zyro dan Ansel seketika bangkit berdiri serentak, mendekati dokter itu dengan napas tertahan dan pandangan penuh harap sekaligus cemas.

"Dok! Bagaimana keadaan kekasihku? Apakah dia selamat? Cepat katakan padaku!" seru Zyro tak sabar, suaranya terdengar gemetar.

"Ya Dokter, bagaimana nasib calon istriku? Apakah lukanya parah? Apakah dia aman sekarang?" sambung Ansel tak kalah cemas, matanya menatap tajam ke arah dokter itu.

Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap kedua pria itu bergantian dengan tatapan yang penuh kebingungan dan keprihatinan.

"Tenanglah, Tuan-tuan. Operasi berjalan cukup lancar dan kami berhasil menghentikan pendarahannya. Pisau yang menancap di perutnya cukup dalam, namun untungnya tidak mengenai organ vital yang berbahaya. Begitu juga dengan lukanya di pergelangan tangannya, jahitan sudah kami pasang dengan rapi," jelas dokter itu perlahan.

Mendengar penjelasan itu, napas Zyro dan Ansel seketika terasa lebih lega. Rasa takut kehilangan yang tadi menghantui hati mereka perlahan berkurang sedikit demi sedikit.

"Jadi... dia sudah selamat, kan Dok? Dia akan baik-baik saja, kan?" tanya Ansel kembali, matanya berharap mendengar jawaban yang menenangkan.

Dokter itu kembali menghela napas pelan, wajahnya kembali terlihat serius.

"Memang secara fisik luka-lukanya sudah kami tangani dan kondisinya sekarang stabil. Tapi ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucap dokter itu pelan namun tegas. "Karena kehilangan banyak darah dan juga dampak dari guncangan fisik maupun batin yang berat, kondisi kesadarannya terganggu. Saat ini... Nona Valencia mengalami keadaan koma."

"Koma?!" seru Zyro dan Ansel serentak dengan nada tak percaya dan kaget. Wajah mereka seketika kembali muram dan pucat.

"Ya, koma. Artinya dia sedang tertidur dan tak bisa di tentukan kapan dia akan terbangun, dan belum bisa sadar. Kami tidak bisa memastikan berapa lama keadaan ini akan berlangsung. Bisa beberapa hari, bisa berminggu-minggu, atau bahkan lebih lama lagi. Semuanya tergantung pada kekuatan fisiknya dan juga kemauan batinnya untuk bangun kembali," jelas dokter itu panjang lebar.

"Untuk saat ini, kami akan memindahkannya ke ruang ICU agar dia bisa dipantau kondisinya secara ketat. Kalian boleh menemuinya, tapi jangan terlalu banyak mengganggu dan pastikan suasananya tenang agar dia bisa beristirahat dengan baik."

Setelah memberikan penjelasan dan beberapa pesan lainnya, dokter itu berlalu pergi meninggalkan mereka. Zyro dan Ansel masih terdiam terpaku di tempat mereka berdiri. Kabar bahwa Valencia mengalami koma seolah menjadi pukulan telak bagi mereka, seolah-olah kebahagiaan yang sempat mereka harapkan perlahan menjauh.

Tak lama kemudian, perawat mendorong brankar tempat Valencia berbaring keluar dari ruang operasi. Tubuhnya kini tertutup kain putih bersih, wajahnya pucat sekali, matanya terpejam rapat, dan di berbagai bagian tubuhnya terpasang selang serta alat bantu medis. Ia terlihat begitu lemah, tenang, dan tak berdaya, persis seperti bidadari yang sedang tertidur panjang dalam mimpi yang panjang.

Mereka mengikuti perawat itu hingga ke ruangan rawat inap yang ditentukan. Setelah perawat menata segalanya dan pamit pergi, kini tinggallah mereka berdua di dalam ruangan itu. Suasana di dalam sana terasa hening dan sunyi, hanya terdengar suara dengungan lembut dari alat pemantau jantung yang menunjukkan detak jantung Valencia yang teratur namun lemah.

Zyro berjalan perlahan mendekati sisi tempat tidur. Ia duduk di kursi di samping tubuh Valencia, lalu mengulurkan tangannya gemetar untuk menggenggam tangan wanita itu yang terasa begitu dingin dan lembut. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.

"Valen... Sayangku... Bangunlah... Kumohon bangunlah..." bisik Zyro dengan suara parau dan terputus-putus.

"Kau dengar kan apa yang dikatakan dokter tadi? Kau harus bangun, Sayang... Kau berjanji tidak akan meninggalkanku... Jangan tidur terlalu lama seperti ini... Aku sangat merindukan senyummu, merindukan suaramu... Aku merindukan semuanya darimu..."

Ansel berada Di sisi sebelah Valencia, hatinya terasa seperti dirobek-robek. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya mengepal erat menahan amarah pada dirinya sendiri.

"Semua ini salahku... Semuanya salahku..." gumam Ansel lirih, suaranya terdengar penuh kepedihan. "Andai aku tak mengabaikan mu, andai aku mendengar mu.. ini tak akan terjadi.

Zyro yang mendengar gumaman itu perlahan menoleh ke arah Ansel. Ia melihat kesedihan dan penyesalan yang tulus terpancar jelas dari wajah pria itu. Ia ingat pesan terakhir Valencia sebelum ia pingsan:

"Jangan benci Ansel... Dia juga mencintaiku... Jangan saling menyakiti lagi..."

Zyro menghela napas panjang, lalu perlahan ia berkata dengan suara berat namun lebih tenang dari sebelumnya.

,"Ansel..." panggil Zyro pelan.

Ansel mendongak kaget, menatap Zyro dengan tatapan tak percaya.

"Hmm?" tanyanya ragu.

"Apa kah kau benar benar mencintainya, apa itu bukan sekedar rasa penasaran, atau obsesimu padanya. Katakan padanya apa yang ada di hatimu," ucap Zyro dengan nada datar.

"Valen memintaku untuk tidak membencimu dan tidak saling menyakiti lagi. Dan aku akan menuruti permintaannya... Demi dia." ucapnya lirih

Ansel menatap wajah Valencia yang pucat dan tenang.

"Maafkan aku, Valen... Maafkan aku..." bisik Ansel, air matanya akhirnya tumpah juga. Ia tidak lagi peduli pada gengsi atau harga dirinya. Di hadapan wanita yang dicintainya, ia hanyalah pria yang penuh penyesalan.

"Sungguh Aku mencintaimu, aku tak sanggup melihat mu seperti ini, aku tak sanggup kehilanganmu. Aku akan menjagamu, melindungi mu, dan membuatmu bahagia... Kumohon bangunlah..."

Di ruangan itu, kedua pria yang dulunya saling membenci dan ingin saling melumpuhkan itu kini berdiri berdampingan, sama-sama menangis dan berdoa untuk kesembuhan wanita yang mereka cintai. Rasa benci di antara mereka perlahan-lahan luntur, tergantikan oleh rasa sakit yang sama, rasa khawatir yang sama, dan tekad yang sama: mereka akan menunggu, menjaga, dan berjuang bersama hingga Valencia membuka matanya kembali.

"Kami akan menunggumu, Valen... Selama apa pun itu, kami akan tetap di sini bersamamu," ucap mereka serentak dalam hati.

Sejak hari itu, kehidupan mereka berubah drastis. Zyro menunda semua jadwal latihan dan pertandingannya. Ia bahkan rela mengorbankan karirnya demi bisa selalu ada di samping Valencia. Begitu juga dengan Ansel, ia menyerahkan sebagian besar urusan perusahaannya kepada wakilnya, dan hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya di rumah sakit, di samping tempat tidur Valencia.

Mereka bergantian menjaga, merawat, dan berbicara pada Valencia seolah wanita itu bisa mendengar segalanya. Mereka menceritakan hal-hal indah, mengenang masa lalu, atau sekadar berjanji akan membuatnya bahagia nanti saat ia sadar. Tak jarang di antara mereka masih terjadi perdebatan kecil atau perbedaan pendapat, namun tidak lagi berujung pada kekerasan fisik atau kebencian. Mereka belajar untuk saling menghargai dan bekerja sama demi satu tujuan: kesembuhan Valencia.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!