NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYIRAM BENSIN PADA API

Keheningan di koridor gedung fakultas sore itu terasa mencekam, seolah-olah tembok beton di sana ikut menahan napas. Di dalam ruang penelitian yang remang, jantung Ana berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di rongga dadanya. Beberapa detik yang lalu, dunia mereka nyaris runtuh. Suara gagang pintu yang diputar paksa dari luar dan langkah kaki seseorang di luar sana adalah lonceng peringatan yang nyata.

Namun, begitu bayangan di balik jendela sudut ruangan itu melangkah pergi dan suara gesekan sapu lidi menjauh, ketakutan Ana perlahan menguap, digantikan oleh getaran adrenalin yang jauh lebih dahsyat.

Ana mengembuskan napas panjang yang gemetar. Tubuhnya lemas seketika, bersandar pada dinginnya permukaan meja kayu jati yang keras. "Mas... hampir aja..." bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya parau karena sisa-sisa pekikan yang ia redam di tenggorokan.

Ia mendongak, berharap menemukan sisa-sisa kekhawatiran atau setidaknya napas lega di wajah pria di hadapannya. Namun, Adi tidak tampak ingin berhenti. Tidak ada setitik pun tanda kecemasan di balik lensa kacamatanya yang sedikit miring. Alih-alih takut akan risiko skandal yang bisa menghancurkan karier akademisnya, gangguan tadi justru bagaikan siraman bensin pada api gairah yang sudah menyala hebat.

Tatapannya kini lebih gelap, lebih liar. Adrenalin karena nyaris tertangkap basah tampaknya telah melumpuhkan sisi logis sang dosen Psikologi tersebut, membiarkan insting predatornya mengambil alih sepenuhnya.

"Biarin aja mereka, Ana... itu cuman Security yang lagi patroli ngecek ruangan" geram Adi rendah. Suaranya serak, bergetar oleh gairah yang sudah mencapai ubun-ubun. "Sekarang nggak akan ada lagi yang berani mengganggu kita."

Tanpa membuang waktu, Adi kembali membuka resleting celana kainnya dengan gerakan kasar dan tidak sabar. Ini adalah pemandangan yang sangat kontras dengan imej "Pak Adi" yang dikenal mahasiswa di kelas; pria yang selalu tenang, terkontrol, dan perfeksionis. Saat ia membebaskan miliknya yang sudah menegang sempurna, Ana hanya bisa menahan napas. Ia terpaku pada kontradiksi pria ini—pria yang mampu membedah teori hegemoni di siang hari, namun menjadi sosok yang begitu menuntut dan tak dapat dihentikan di balik pintu terkunci.

Adi memposisikan dirinya kembali di antara pangkal paha Ana yang sudah basah dan terbuka. Ia menatap mata Ana dalam-dalam dengan tatapan 'pembunuh' yang khas, namun kali ini penuh dengan pemujaan fisik yang absolut.

Bless! 

"Hngghhh! Masss!" Ana memekik tertahan. Wajahnya terbenam di perpotongan leher Adi, menggigit bahu pria itu kuat-kuat untuk meredam suaranya agar tidak merambat keluar ruangan. Sensasi penuh itu seolah menarik seluruh kesadaran Ana dari realita.

Adi menghujamkan miliknya kembali dalam satu sentakan yang jauh lebih dalam dan bertenaga dari sebelumnya. Meja kayu penelitian itu kembali berderit keras, seolah ikut menjerit menahan beban penyatuan dua tubuh yang tidak lagi memedulikan norma moral.

"Ahhh... An... punyaku masuk... emhh..." bisik Adi parau, sebuah pengakuan intuitif yang jarang ia ucapkan.

Ia mulai memacu ritme pinggulnya dengan kecepatan yang brutal. "Mas... Mas Adi... ahhh!" rintih Ana setiap kali Adi menarik keluar hingga nyaris terlepas, hanya untuk menghujam balik dengan kekuatan yang membuat punggung Ana bergesekan panas dengan permukaan meja yang keras.

Krieeet... krieeet...

Bunyi derit kayu yang bergesekan itu terdengar ritmis, menyatu dengan desahan napas yang memburu. Setiap gerakan Adi yang dalam membuat meja itu bergetar hebat, menciptakan suara nyaring yang seolah-olah mengkhianati rahasia mereka di ruangan sunyi itu.

Suara benturan kulit mereka yang intens beradu dengan suara derit kayu tua, menciptakan simfoni gairah di ruang penelitian yang biasanya hanya diisi oleh debat intelektual yang membosankan. Tangan Adi yang besar merayap ke bawah, meremas bagian bawah belakang Ana dengan posesif, mengangkatnya agar sudut penyatuannya menjadi lebih tajam dan menusuk. Ia seolah ingin memastikan bahwa setiap inci dari diri Ana menyadari keberadaannya, otoritasnya, dan kepemilikannya.

"Kamu... bener-bener... candu buatku, Ana," erang Adi di sela-sela napasnya yang menderu.

Pada titik ini, dunia seolah runtuh bagi mereka berdua. Segala teori Psikologi Sosial tentang kontrol sosial, tatanan masyarakat, hingga kode etik kampus tak lagi memiliki arti. Yang ada hanyalah hukum rimba gairah di mana Adi adalah penguasanya dan Ana adalah tawanan yang sukarela.

Adi mempercepat temponya, pelukannya semakin erat seolah ia ingin meleburkan tubuh Ana ke dalam dirinya sendiri. Keringat bercucuran dari pelipisnya, jatuh mengenai dada Ana. Dengan satu erangan panjang yang dalam, tepat sebelum mencapai puncak ledakannya, Adi mencabut miliknya dengan sentakan cepat.

Cairan kenikmatan itu menyembur deras, tumpah dan menyebar di atas permukaan meja di bawah tubuh Ana—sebuah jejak nyata, sebuah "bukti" dari kegilaan sang Dosen Killer yang telah ditaklukkan oleh calon asistennya sendiri.

*

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya dipecah oleh suara napas mereka yang masih tidak beraturan. Udara di dalam ruangan itu terasa berat oleh aroma keringat dan kopi yang bercampur menjadi satu. Adi masih menempelkan wajahnya di dada Ana yang naik-turun, menikmati detak jantung wanita itu yang perlahan mulai stabil.

Ana, meski masih merasa pusing oleh gelombang kenikmatan yang baru saja menerjangnya, mengelus rambut Adi yang berantakan dengan sayang. Rasa kesal dan gundah yang menghantuinya sejak kemarin benar-benar luruh, digantikan oleh rasa nyaman dan kepastian yang luar biasa. Gengsinya yang setinggi langit seolah mencair di bawah sentuhan pria ini.

"Mas..." panggil Ana lirih.

"Ya?" Adi menyahut pendek. Ia mengecup kening Ana dengan lembut, sebuah gestur yang sangat kontras dengan kebrutalan mereka beberapa menit lalu. Ia kemudian bangkit perlahan, mulai memungut pakaiannya dan merapikan diri.

"Tadi itu... bimbingan teknis bagian mana ya?" goda Ana. Senyum jutek dan cerdasnya mulai kembali menghiasi wajahnya yang masih memerah. Ia ingin memancing pria ini kembali ke mode "dosen"-nya.

Adi memakai kembali kacamatanya, dan dalam sekejap, auranya kembali ke mode sang Dosen Killer yang disegani. Namun, kali ini ada binar jenaka dan kehangatan yang hanya diperuntukkan bagi Ana di matanya. Ia merapikan kemejanya yang kusut, mengancingkannya satu per satu dengan tenang, lalu menatap Ana yang masih terduduk di atas meja dengan pakaian berantakan. Bagian intim mahasiswinya itu masih sedikit terekspose, menciptakan pemandangan yang membuat jakun Adi naik-turun sesaat.

"Itu adalah bagian 'Evaluasi Akhir', Ana. Dan selamat, kamu lulus dengan hasil yang sangat memuaskan," jawab Adi sambil menyeringai tipis. Ia mengulurkan tangan yang kuat untuk membantu Ana turun dari meja penelitian itu.

Begitu kaki Ana menyentuh lantai yang dingin, Adi tidak langsung melepaskannya. Ia menarik Ana ke dalam pelukannya sekali lagi, mengecup bibirnya singkat namun penuh penekanan.

"Besok pagi, datang ke ruangan saya jam 9 tepat ya. Kita urus berkas beasiswamu agar segera masuk ke dekanat," bisik Adi di telinga Ana. "Dan kali ini, saya janji akan membalas pesan WhatsApp-mu dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya. Puas?"

Ana tertawa kecil, rasa menang kini menghampirinya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Adi, menghirup aroma parfum dan maskulinitas yang kini menjadi favoritnya. "Puas, Pak Dosen."

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari gedung fakultas secara terpisah. Adi berjalan lebih dulu dengan langkah tegap dan wajah datar, kembali menjadi sosok dosen Psikologi yang paling ditakuti. Ana menyusul lima menit kemudian.

Saat Ana melangkah keluar, koridor sudah gelap total, hanya diterangi beberapa lampu taman yang temaram. Namun bagi Ana, kegelapan itu tidak lagi terasa mengancam seperti sore tadi. Langkah kakinya terasa ringan di atas aspal kampus. Hatinya kini merasa lebih tenang, karena ia telah mendapat kepastian yang lebih dari sekadar kata-kata; bahwa di balik topeng dingin Pak Adi, ada seorang pria yang menginginkannya sama besarnya dengan keinginannya sendiri.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Ana tahu persis bagaimana cara memenangkannya.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!