NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: JAMUAN DI ISTANA ULAR

Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajah Saga saat ia berdiri di tepian balkon lantai lima, menatap kobaran api yang mulai menjilat tirai ruang arsip di belakangnya. Suara dentuman sepatu bot militer dan teriakan dalam bahasa instruksi taktis terdengar kian mendekat. Tim pembersih Dewan Waskita tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk menghapus eksistensi Saga Anindita dari muka bumi.

"Melompatlah, atau mati terbakar," Nikolai berbisik di sampingnya. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah kematian hanyalah sebuah variabel teknis dalam misi ini.

Saga menoleh sekilas ke arah Sakti dan Bramasta yang sudah menghilang di balik pintu rahasia menuju jalur bawah tanah. Hatinya berat, namun ia tahu bahwa tetap bersama mereka hanya akan membawa maut bagi kedua pria setia itu. Musuh kali ini bukan lagi sekadar preman korporat, melainkan mesin pembunuh yang digerakkan oleh ketakutan para elit Dewan.

"Ayo," desis Saga.

Tanpa ragu, Nikolai menyambar pinggang Saga, mengaitkan tali rappel taktis ke besi balkon, dan meluncur turun menembus kegelapan. Mereka mendarat di gang sempit di samping gedung tepat saat sebuah ledakan besar menghancurkan lantai atas markas Yayasan Melati Putih. Puing-puing beton dan kaca menghujani aspal seperti kembang api maut.

Di ujung gang, sebuah van hitam tanpa pelat nomor sudah menunggu dengan mesin menderu.

Di dalam van yang kedap suara, suasana terasa sangat dingin. Nikolai duduk di depan barisan monitor pengintai, sementara Saga mencoba mengatur napasnya. Jam saku pemberian Nikolai masih tergenggam erat di telapak tangannya. Lambang elang ganda itu terasa tajam, seolah sedang menghujam kulitnya untuk mengingatkan siapa dia sebenarnya.

"Kenapa Dewan Waskita begitu takut padaku sekarang? Bukankah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau dengan memenjarakan Agatha?" tanya Saga, suaranya parah namun stabil.

Nikolai menoleh, separuh wajahnya masih tertutup bayangan. "Agatha adalah penipu, tapi dia tahu satu hal: siapa ayahmu. Selama dua puluh tahun, Dewan Waskita membayar 'uang perlindungan' kepada Sindikat Sokolov melalui perusahaan cangkang yang dikelola Wirya Janardana. Saat kamu menghapus aset-aset digital itu, kamu tidak sengaja memutus aliran dana gelap yang digunakan Dewan untuk menyuap jaringan internasional. Sekarang, Dewan terjepit antara kemarahan Sokolov dan ketakutan akan terbongkarnya identitas asli mereka."

Saga menyandarkan kepalanya ke dinding van yang empuk. "Jadi aku adalah alasan mereka kaya, dan aku adalah alasan mereka akan hancur."

"Tepat," Nikolai menyeringai. "Dan malam ini, Romo Waskita sedang mengadakan jamuan tertutup di kediaman pribadinya di Dharmawangsa. Dia sedang mencoba meyakinkan para anggota Dewan lainnya bahwa dia bisa mengendalikan situasi ini dengan membunuhmu. Kita akan datang ke sana untuk membuktikan bahwa dia salah."

Kediaman Romo Waskita adalah sebuah mahakarya arsitektur kolonial yang angkuh, dikelilingi oleh tembok setinggi tiga meter dan dijaga oleh barisan pengawal bersenjata otomatis. Di dalamnya, denting gelas kristal dan aroma cerutu mahal mengisi udara. Para pria paruh baya dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah duduk mengelilingi meja jati besar, mendiskusikan nasib ekonomi negara seolah itu hanyalah permainan catur di sore hari.

Romo Waskita berdiri di ujung meja, memegang gelas wiski. "Sasmita... atau Saga, sudah ditangani. Tim pembersih sedang meratakan gedungnya saat ini. Besok pagi, kita akan merilis pernyataan bahwa terjadi kecelakaan arus pendek listrik. Masalah selesai."

"Apakah kamu yakin, Romo?" salah satu pria, seorang menteri yang berpengaruh, bertanya dengan nada ragu. "Gadis itu licin. Dia selamat dari racun Aris, dia selamat dari penembakan di pengadilan."

"Dia hanya seorang wanita muda yang penuh emosi, Tuan-tuan," Romo terkekeh. "Dia bukan petarung. Dia hanya—"

Tiba-tiba, lampu di ruang perjamuan padam. Keheningan yang mencekam menyergap.

"Ada apa ini? Keamanan!" teriak Romo.

Suara desisan halus terdengar, diikuti oleh aroma gas air mata yang memenuhi ruangan. Para anggota Dewan mulai terbatuk-batuk, menutupi wajah mereka dengan serbet sutra. Di tengah kegelapan, pintu ganda ruang perjamuan terbuka perlahan.

Sesosok siluet berdiri di sana, diterangi oleh kilatan petir dari luar jendela. Saga Anindita melangkah masuk, mengenakan gaun hitam yang terkoyak di bagian bawah, namun matanya berkilat seperti mata elang yang baru saja menemukan mangsanya. Di sampingnya, Nikolai berdiri dengan senapan serbu tersampir di bahu, kehadirannya seperti malaikat pencabut nyawa yang tenang.

"Maaf mengganggu perjamuan kalian, Romo," suara Saga menggema di ruangan yang sunyi itu. "Tapi sepertinya laporan tentang kematianku sedikit terlalu dini."

Romo terhuyung ke belakang, wajahnya yang tadi merah karena wiski kini pucat pasi. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"

"Istana ini indah, tapi pondasinya dibangun di atas tanah yang busuk," Saga berjalan mendekati meja jati itu, jemarinya mengelus permukaan kayu yang halus. "Kalian bicara tentang keseimbangan sistem? Kalian bicara tentang menyelamatkan negara? Kalian hanya sekelompok pencuri tua yang ketakutan kehilangan kursi empuk kalian."

Saga mengeluarkan jam saku milik Viktor Sokolov dan meletakkannya di tengah meja. Melihat lambang elang ganda itu, beberapa anggota Dewan tersentak mundur seolah melihat bom yang siap meledak.

"Kalian kenal lambang ini, bukan?" tanya Saga. "Kalian telah mencuri dari orang yang salah selama dua dekade. Ayahku, Viktor Sokolov, mengirimkan salamnya. Dan dia tidak suka jika investasinya diusik oleh orang-orang picik seperti kalian."

Romo Waskita mencoba mengambil senjatanya dari laci meja, namun sebuah pisau lempar dari Nikolai melesat lebih cepat, menghujam tangan Romo hingga pria tua itu menjerit kesakitan.

"Jangan coba-pilih, Romo," Nikolai memperingatkan dengan nada dingin.

Saga mencondongkan tubuhnya ke arah Romo, menatap langsung ke dalam mata pria yang telah memerintahkan kematiannya berkali-kali itu. "Aku punya penawaran baru. Bukan kompromi, tapi penyerahan diri total. Dalam dua puluh empat jam, kalian semua harus menyerahkan seluruh bukti keterlibatan Dewan Waskita dalam proyek-proyek fiktif sepuluh tahun terakhir kepada pihak berwenang. Jika tidak, Nikolai akan memastikan bahwa Sindikat Sokolov mengambil kembali 'hutang' mereka secara fisik... mulai dari keluarga kalian."

"Kamu... kamu tidak akan berani," bisik salah satu anggota Dewan dengan suara gemetar.

"Aku sudah kehilangan segalanya," balas Saga. "Ibu yang gila, ayah angkat yang dibunuh, dan identitas yang dirampas. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Tapi kalian? Kalian punya reputasi, harta, dan keluarga yang sangat kalian cintai. Pikirkan itu."

Saga berbalik, memberi isyarat pada Nikolai untuk pergi. Namun, sebelum ia melangkah keluar, ia menoleh kembali ke arah Romo yang masih memegangi tangannya yang berdarah.

"Satu hal lagi, Romo. Beritahu Agatha di penjara... bahwa putrinya sudah menemukan jalan pulang. Dan jalan itu akan melewati mayat-mayat kalian semua."

Saga dan Nikolai kembali ke van yang terparkir di luar gerbang yang kini sudah dilumpuhkan. Hujan mulai turun membasahi bumi, seolah mencoba mencuci noda darah di tangan Saga.

"Kamu melakukannya dengan baik, Tuan Putri," ujar Nikolai saat mereka sudah di dalam van. "Gertakan yang bagus."

"Itu bukan gertakan, Nikolai," Saga menatap tangannya yang sedikit bergetar. "Aku benar-benar akan melakukannya jika mereka tidak patuh."

"Aku tahu. Itulah kenapa kamu adalah seorang Sokolov," Nikolai menyalakan mesin van. "Sekarang, kita harus bergerak. Dewan Waskita mungkin terpojok, tapi mereka akan mencoba melakukan satu hal terakhir: menghubungi ayahmu secara langsung untuk menukarmu dengan penghapusan hutang mereka."

Saga terdiam. Pikiran tentang bertemu dengan Viktor Sokolov, pria misterius di balik jam saku itu, membuatnya merasa asing sekaligus takut. "Apakah dia benar-benar menginginkanku kembali, Nikolai? Atau aku hanya alat politik baginya?"

Nikolai menatap Saga melalui spion tengah. "Di dunia kami, tidak ada perbedaan antara keluarga dan alat politik. Tapi satu hal yang pasti: dia telah mencari ibumu dan kamu selama dua puluh tahun. Baginya, kamu adalah satu-satunya warisan yang tersisa dari wanita yang pernah dia cintai... dan khianati."

Van itu melaju menembus malam, meninggalkan kediaman Romo yang kini dipenuhi kepanikan. Saga memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam memeluknya. Ia tahu bahwa mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi pejuang keadilan dari Yayasan Melati Putih; ia adalah putri dari sebuah dinasti gelap yang baru saja bangkit dari tidurnya.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!