NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Petir yang Membelah Malam

Dentang logam menggema memecah keheningan malam.

Percikan api berhamburan di udara, menyala sesaat sebelum lenyap ditelan gelap. Jalan utama kota Pingxi yang tadi sunyi kini berubah menjadi medan pembantaian.

Wang Jianhong melompat mundur.

Dua bayangan hitam melesat dari kiri dan kanan, pedang mereka mengarah ke titik vitalnya tanpa ragu.

Cepat.

Tepat.

Mematikan.

Namun—

Gerakan Jianhong lebih cepat.

Tubuhnya berputar, jubahnya berkibar, dan dalam satu tarikan napas—

Qi di dalam tubuhnya meledak.

Pedangnya bergetar.

Cahaya biru keunguan menyala liar.

Matanya berkilat.

“Thunder Slash!”

BOOM!

Petir meledak dari ujung pedangnya.

Bukan sekadar kilat biasa—itu adalah petir liar yang menggila, mengamuk seperti naga yang dilepaskan dari belenggu.

Dua sosok itu bahkan tidak sempat berteriak.

Tubuh mereka terbelah.

Lalu—

Hancur.

Menjadi abu yang tersebar di udara.

Wang Jianhong mendarat dengan satu lutut menyentuh tanah.

Napasnya sedikit terengah.

Namun matanya tetap tajam.

Dingin.

Mematikan.

Di depannya—

Mad Dog bertepuk tangan perlahan.

“Seperti biasa…” suaranya datar namun penuh ejekan, “teknik pedang klan Wang memang selalu menyilaukan.”

Ia memiringkan kepalanya.

“Julukan Lightning Saint Sword memang cocok untukmu.”

Wang Jianhong tidak menjawab.

Dadanya naik turun.

Ia sudah bertarung cukup lama.

Namun—

Tidak ada perubahan.

Musuh… tidak berkurang.

Justru—

Semakin banyak.

Bayangan hitam terus bermunculan dari kegelapan, seperti tidak ada habisnya.

Mata Jianhong menyipit.

Dan saat itu—

Ia mengerti.

Tatapannya berubah.

“Apa yang telah kau lakukan pada bawahanmu…?” suaranya rendah, penuh tekanan.

Mad Dog terdiam sesaat.

Lalu—

Tertawa.

Keras.

Gila.

“Kau ingin tahu?” katanya dengan nada main-main.

Namun Wang Jianhong tidak memberinya waktu.

Aura pedangnya meledak.

Tanah di bawah kakinya retak.

Ia menerjang ke depan.

Seperti kilat.

“Heaven Splitting Thunder Fang!”

Pedangnya mengaum.

Petir melilit bilahnya, membentuk taring raksasa yang seolah mampu merobek langit.

Bawahan Mad Dog langsung bergerak.

Mereka menerjang.

Namun—

Tebas!

Tebas!

Tebas!

Satu demi satu mereka dipotong.

Tanpa perlawanan berarti.

Tanpa rasa sakit.

Tanpa suara.

Tubuh mereka terbelah… lalu kembali menjadi abu.

Namun Jianhong tidak peduli.

Targetnya hanya satu.

Mad Dog.

Dalam sekejap—

Ia telah berada tepat di depan pria bertopeng itu.

Pedangnya berayun.

Mengarah ke leher.

Cepat.

Akurat.

Mematikan.

Namun—

CLANG!

Suara logam beradu keras menggema.

Mata Wang Jianhong melebar.

Pedangnya—

Ditahan.

Dengan mudah.

Mad Dog mengangkat tangannya.

Di sana—

Tiga bilah pedang pendek terpasang di antara jari-jarinya.

Seperti cakar.

Ia menahan serangan itu hanya dengan satu tangan.

“Petirmu…” katanya pelan, suaranya dingin, “sangat menggelitik.”

Senyumnya melebar di balik topeng.

Lalu—

Aura hitam pekat meledak dari tubuhnya.

“Abyssal Blood Rend!”

Tangan bercakarnya bergerak.

Cepat.

Brutal.

Serangan itu tidak indah.

Tidak elegan.

Namun—

Penuh niat membunuh.

Wang Jianhong terpukul mundur.

Tubuhnya terhempas beberapa meter.

Kakinya menyeret tanah, meninggalkan jejak panjang.

Namun sebelum ia sempat menstabilkan diri—

Mad Dog sudah ada di depannya.

Serangan demi serangan datang.

Tanpa jeda.

Tanpa ampun.

Clang! Clang! Clang!

Jianhong mengangkat pedangnya.

Menahan.

Menangkis.

Namun tekanan itu—

Terlalu berat.

Setiap benturan membuat lengannya bergetar.

Setiap serangan mengikis pertahanannya.

Mad Dog tertawa keras.

“Apakah hanya segini kekuatan seorang Sword Saint!?”

Serangannya semakin brutal.

“Jangan membuatku tertawa!”

Wang Jianhong menggertakkan giginya.

Qi di dalam tubuhnya bergejolak.

Namun—

Ia dipaksa bertahan.

Dipaksa mundur.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—

Ia berada di posisi terdesak.

Di sisi lain—

Angin malam meraung di dataran gersang di luar kota.

Wang Yihan dan Wang Zhenyu berlari sekuat tenaga.

Napas mereka berat.

Langkah mereka cepat.

Namun—

Di belakang mereka—

Puluhan bayangan hitam mengejar.

Tanpa suara.

Tanpa henti.

“Brengsek!” Zhenyu mengumpat.

Ia berbalik sejenak.

Pedangnya berkilat.

Slash!

Dua sosok yang terlalu dekat langsung terbelah.

Namun—

Seperti sebelumnya—

Tubuh mereka hancur menjadi abu.

Dan yang lain tetap datang.

Tidak berhenti.

Tidak takut.

“Mereka tidak ada habisnya!” desis Zhenyu.

Wang Yihan menggertakkan giginya.

Namun matanya berubah.

“Apa kau merasakan sesuatu yang aneh…?”

Zhenyu terdiam.

Langkahnya melambat sesaat.

Ia menoleh ke belakang.

Menatap para pengejar itu.

Lalu—

Keningnya berkerut.

“…Benar.”

Suaranya pelan.

“Aku tidak merasakan… esensi kehidupan dari mereka.”

Wang Yihan merasakan dingin menjalar di punggungnya.

“Menjijikkan…” gumamnya.

“Lupakan dulu!” Zhenyu berkata cepat. “Kita harus fokus—”

Namun—

Kalimatnya terputus.

BOOM!

Sebuah serangan melesat dari depan.

Ledakan terjadi tepat di jalur mereka.

Tanah terangkat.

Debu beterbangan.

Tubuh mereka terpental.

Wang Yihan terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.

“Ugh—!”

Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.

Namun ia memaksa bangkit.

Di sisi lain, Zhenyu sudah berdiri.

Ia langsung bergerak.

Menempatkan dirinya di depan Yihan.

Melindungi.

Matanya menyapu sekeliling.

“Serangan penyergapan…”

Debu perlahan menghilang.

Dan yang terlihat—

Membuat jantung Yihan berdegup kencang.

Mereka—

Terkepung.

Dari depan.

Dari belakang.

Dari segala arah.

Tidak ada jalan keluar.

Langkah kaki terdengar.

Pelan.

Tenang.

Seorang pria berjalan keluar dari bayangan.

Pakaiannya elegan.

Rapih.

Wajahnya—

Paruh baya.

Namun penuh kepalsuan.

Mata Wang Yihan langsung berubah.

Tajam.

Penuh amarah.

“Guo Liang…”

Suaranya bergetar.

“Walikota… sialan.”

Ia melangkah maju sedikit.

“Jadi benar… kau bajingan busuk yang bersekutu dengan kultus iblis!”

Guo Liang tersenyum.

Sinis.

Seolah ucapan itu hanyalah angin lalu.

“Ah… nona termuda klan Wang,” katanya ringan. “Sungguh disayangkan…”

Ia menghela napas pura-pura.

“Seorang bunga seperti anda harus layu di tempat seperti ini.”

Matanya berkilat dingin.

“Tapi… mau bagaimana lagi?”

Ia mengangkat bahu.

“Salahkan diri anda sendiri… karena masuk ke dalam masalah yang bukan milik anda.”

Aura di sekelilingnya berubah.

Gelap.

Menekan.

Zhenyu mengangkat pedangnya.

Petir mulai menyelimuti tubuhnya.

“...Nona,” katanya tanpa menoleh. “Kita sudah terkepung.”

Wang Yihan menarik napas dalam.

Tangannya gemetar—

Namun bukan karena takut.

Melainkan—

Marah.

Ia menghunus pedangnya.

Cahaya dingin memantul di matanya.

“Aku tahu.”

Suaranya tegas.

“...Tapi kakek masih menunggu kita.”

Ia mengangkat pedangnya.

Mengarah ke depan.

“Kita tidak bisa berhenti di sini.”

Angin malam bertiup.

Debu berputar.

Dan di antara kepungan musuh—

Dua sosok berdiri.

Tidak mundur.

Tidak goyah.

Zhenyu tersenyum tipis.

“Kalau begitu… kita buka jalan.”

Wang Yihan mengangguk.

“Ya.”

Guo Liang menghela napas.

“Bunuh mereka.”

Dalam sekejap—

Semua bergerak.

______

Di tengah gemuruh pertempuran yang mengguncang jalan utama kota—

Ada satu tempat… yang terasa seperti dunia lain.

Di atas atap sebuah restoran yang tampak sederhana—

Seorang pria duduk santai.

Kakinya menjuntai di pinggir atap.

Di tangannya—

Semangkuk ramen masih mengepul hangat.

Zhao.

Ia menyedot mie dengan tenang.

“Slurp—”

Suara itu kontras sekali dengan ledakan dan dentingan logam di kejauhan.

Kilatan petir membelah langit.

Disusul cahaya hitam pekat dari teknik iblis yang saling bertabrakan.

BOOM!

CRACK!

Langit seperti sedang perang sendiri.

Zhao mengangkat alis.

Menatap ke arah itu sambil mengunyah.

“Haishh…” ia menghela napas panjang.

“Belum beres juga ya mereka?”

Ia menggeleng pelan.

“Lama amat anjir… aku mau tidur aja susah.”

Ia menyuap lagi.

Tetap santai.

Seolah yang ia tonton bukan pertarungan hidup mati… tapi pertunjukan kembang api yang terlalu berisik.

CRAAACK!!

Petir lain menyambar.

Cahayanya bahkan sampai memantul di matanya.

Zhao menyipitkan mata.

“Wah… yang itu lumayan keren,” gumamnya.

Lalu—

Ia mengetuk atap dengan ujung sumpitnya.

Tok.

Tok.

Seketika—

Sebuah gelombang halus tak terlihat berdenyut dari bawahnya.

Pelindung.

Barrier.

Zhao tersenyum puas.

“Untung saja aku sudah pasang barrier pelindung…”

Ia menyandarkan tubuh ke belakang.

Meregangkan bahu.

“…jadi istriku bisa istirahat dengan nyenyak.”

Nada suaranya berubah sedikit lembut saat menyebut itu.

Ia melirik ke bawah.

Ke arah kamar.

Tempat Yueling tertidur pulas.

Sunyi.

Tenang.

Tidak terganggu oleh kekacauan di luar sana.

Zhao mengangguk puas.

Namun—

Saat ia kembali menoleh ke sekitar—

Alisnya sedikit terangkat.

Rumah-rumah di sekitar…

Gelap.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada aktivitas.

Seolah seluruh kota sudah mati.

“Hmm…”

Ia menggaruk pipinya.

“Aku tidak tahu yang lain bisa tidur atau tidak ya…”

Ia berpikir sejenak.

Lalu mengangkat bahu.

“Semoga saja mereka nggak telat kerja besok pagi.”

Ia menyedot mie lagi.

“Kalau telat… nanti yang ribet aku juga.”

Slurp.

Slurp.

Di kejauhan—

BOOOOOOM!!

Ledakan besar terjadi.

Cahaya putih dan hitam saling bertabrakan.

Langit seperti robek sesaat.

Zhao menatap itu.

Diam sejenak.

Lalu menghela napas lagi.

“Ha…”

Ia menunduk sedikit.

Menatap mangkuknya.

“Padahal aku sudah pasang barrier biar suara mereka nggak masuk…”

Ia berhenti.

Lalu menambahkan dengan nada datar—

“…sayangnya itu nggak berlaku buat aku.”

Ia terdiam beberapa detik.

Lalu—

Mengingat sesuatu.

Beberapa saat sebelumnya.

Zhao sudah berbaring di ranjang.

Selimut ditarik sampai dada.

Mata terpejam.

Sunyi.

Tenang.

Lalu—

BOOM!

Matanya langsung terbuka.

"-_-"

Ia memejamkan mata lagi.

Menarik napas.

Menenangkan diri.

CRACK!!

" °∆° "

Keningnya berdenyut.

Ia membalik badan.

Menutup telinga dengan bantal.

DUAR!

Zhao membuka mata lagi.

Tatapannya kosong.

“Jingan…”

Ia duduk.

Rambutnya sedikit berantakan.

“Kapan selesainya sih…?”

Namun—

Saat itu—

Sebuah suara kecil terdengar.

“Grrr…”

Zhao membeku.

Pelan…

Sangat pelan…

Ia menoleh ke samping.

Yueling.

Masih tertidur.

Namun sedikit menggeram dalam tidurnya.

Zhao langsung panik.

“Eh eh eh eh—”

Ia menahan napas.

Tidak bergerak.

Tidak berani bersuara.

Beberapa detik terasa seperti menit.

Namun—

Yueling kembali tenang.

Napasnya kembali stabil.

Zhao menatap itu.

Beberapa saat.

Lalu—

Huuuh…

Ia menghela napas lega.

Sangat lega.

Sampai bahunya turun.

“Hampir aja…”

Ia bergumam pelan.

“Kalau dia bangun… yang ada aku yang nggak bisa tidur seminggu.”

Kembali ke sekarang.

Zhao menatap mangkuknya.

Kosong.

Ia terdiam.

Lalu memiringkan mangkuk.

Meneguk kuah terakhir.

“Slurp—”

Sampai habis.

Ia menurunkan mangkuk dengan ekspresi… frustasi.

“Ah…”

Ia menghela napas panjang.

“Bahkan ramen pun nggak bisa dinikmati dengan tenang.”

Ia menatap ke kejauhan lagi.

Pertarungan masih berlangsung.

Bahkan semakin liar.

Petir.

Api.

Aura hitam.

Segalanya bercampur.

Zhao menopang dagunya.

“Hmm…”

Ia berpikir.

“...apa aku bantu aja ya?”

Ia mengangkat satu alis.

Seolah benar-benar mempertimbangkan.

Namun—

Beberapa detik kemudian—

Ia menggeleng.

“Ah males.”

Jawaban yang sangat cepat.

Tanpa beban.

Ia melirik ke arah lain.

Ke luar kota.

Matanya sedikit menyipit.

“Hmm… di luar kota juga nggak kalah rame ya…”

Aura-aura besar bergerak.

Jauh di horizon.

Tidak kalah berbahaya.

Zhao terdiam sejenak.

Lalu—

“...lebih males lagi.”

Ia langsung rebahan di atap.

Tanpa ragu.

Tangannya jadi bantal.

Menatap langit.

“Aku niatnya buka restoran…”

Ia menghela napas panjang.

“…bukan balik terlibat di adegan klimaks kayak gini.”

BOOM!!

Ledakan lain.

Lebih dekat.

Atap sedikit bergetar.

Zhao memejamkan mata.

“…”

Diam.

Dua detik.

Tiga detik.

Matanya terbuka lagi.

“Aih Si KontSabar…”

Ia menutup wajahnya dengan tangan.

“Ini mereka berantem apa latihan festival petir sih…”

Ia menoleh sedikit.

Menatap restorannya.

“Kalau restoran ku kena dampaknya… siapa yang mau bayar perbaikan nanti?”

Ia terdiam.

Lalu mengangkat satu jari.

“...ujung-ujungnya aku juga yang kena imbas.”

Hening sejenak.

Lalu—

Ia bangkit setengah duduk.

Menatap serius ke arah pertempuran.

Ekspresi… serius.

Untuk pertama kalinya.

“…kalau mereka hancurin jalan utama…”

Ia berhenti.

Wajahnya berubah datar.

“…pelanggan besok pasti sepi. Pasar juga akan tutup dalam waktu yang lama..”

Sunyi.

Angin malam berhembus.

Ia menarik napas dalam.

CRAAACK!!

Matanya terbuka lagi.

“…”

Ia menatap langit dengan ekspresi kosong.

Beberapa detik.

Lalu—

“…aku benci tetangga berisik.”

1
SENJA
wakaaka tanpa basa basi banget 😅
Pakde Bejo
ceritanya bagus ... tapi sayang MC nya lemot... terlalu banyak berpikir.
fajaraditya medsos
mantap, lanjutkan
SENJA
wah hayoloh ngamuk dia 🤣
SENJA
wakakaa bersihin aja semua 🤣
SENJA
lu lemah tapi sombong oiii😤
SENJA
zhao cuma perlu jentik jari lu bertiga mati oii 🤣
SENJA
naaah ini 🤣🤣🤣
SENJA
udah zhao kasih pelajaran aja ini betina cuyy😤
SENJA
lu yang dihajar wahai lemah
SENJA
lu doyanya cari perkara aja wanita lemah
SENJA
ilmu lu cetek aja belaguuu
SENJA
mati lu ga lama lagi, ngeselin 😤
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!