NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Langkah Yang Lebih Dalam

Udara malam terasa lebih dingin saat Lisa melangkah keluar dari restoran, namun wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan sedikit pun emosi yang tadi sempat muncul di dalam, seolah semua ketegangan yang terjadi hanyalah bagian kecil dari rencana yang sudah ia perhitungkan sejak awal, dan meskipun pertemuan itu berakhir lebih cepat dari yang terlihat normal, bagi Lisa justru itu adalah hasil yang ia inginkan karena semakin cepat Arvin kehilangan kendali, semakin mudah baginya untuk membuat pria itu melakukan kesalahan berikutnya tanpa berpikir panjang.

Mobilnya sudah menunggu di depan, tetapi Lisa tidak langsung masuk, ia berhenti sejenak dan menatap ke arah jalan yang dipenuhi lampu kota, pikirannya kembali memutar setiap reaksi yang ia lihat malam ini—tatapan Arvin yang mulai goyah, sikap Luna yang terlalu penasaran, dan kehadiran Devan yang justru mempercepat semua proses yang ia rancang, lalu tanpa sadar ia tersenyum tipis karena semua itu bergerak sesuai dengan arah yang ia inginkan, bahkan lebih cepat dari yang ia perkirakan.

“Semakin tidak stabil…” gumamnya pelan, “semakin mudah dihancurkan.”

Namun sebelum ia sempat membuka pintu mobil, suara langkah mendekat dari belakang membuatnya berhenti, dan tanpa perlu menoleh ia sudah tahu siapa itu.

“Pergi tanpa pamit bukan kebiasaan yang baik.”

Suara itu rendah.

Tenang.

Namun sangat jelas.

Lisa akhirnya menoleh.

Devan berdiri di sana dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, ekspresinya tetap datar namun matanya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Lisa mengangkat alis sedikit.

“Aku sudah pamit,” jawabnya santai.

Devan melangkah mendekat satu langkah.

“Kepada mereka,” katanya, “bukan kepadaku.”

Lisa tersenyum tipis.

“Sejak kapan aku harus pamit padamu?” balasnya.

Devan tidak langsung menjawab, ia justru menatap Lisa beberapa detik sebelum berkata dengan suara yang lebih rendah, “Sejak kamu melibatkan aku dalam permainanmu.”

Kalimat itu membuat Lisa terdiam sejenak.

Namun bukan karena terkejut.

Melainkan karena ia tahu pria ini tidak akan berhenti di permukaan.

Lisa menyilangkan tangannya dengan santai.

“Dan kamu menyesal?” tanyanya.

Devan menggeleng pelan.

“Tidak,” jawabnya singkat, lalu menambahkan, “justru sebaliknya.”

Lisa menatapnya.

“Lalu?” tanyanya.

Devan sedikit mendekat, cukup untuk membuat jarak mereka semakin sempit, lalu berkata dengan nada yang lebih serius, “Kamu hampir kehilangan kendali tadi.”

Lisa tersenyum.

“Tidak,” jawabnya pelan, “aku hanya membiarkan mereka berpikir seperti itu.”

Devan memperhatikan wajahnya lebih lama.

Seolah mencoba memastikan apakah itu benar atau hanya bagian dari akting.

Namun semakin ia melihat…

Semakin ia yakin.

Wanita ini benar-benar berbahaya.

“Arvin tidak akan diam,” kata Devan.

Lisa mengangguk pelan.

“Aku tahu,” jawabnya.

“Dan wanita itu…” lanjut Devan.

“Luna,” potong Lisa.

Devan mengangguk.

“Dia bukan tipe yang mudah menyerah.”

Lisa tersenyum tipis.

“Itu justru membuatnya lebih mudah ditebak,” katanya.

Kalimat itu diucapkan dengan ringan.

Namun penuh keyakinan.

Devan menghela napas pelan, lalu berkata, “Kamu terlalu percaya diri.”

Lisa menatapnya langsung.

“Dan kamu terlalu khawatir,” balasnya.

Beberapa detik hening.

Namun kali ini…

Tidak tegang.

Lebih seperti dua orang yang mulai memahami cara berpikir satu sama lain.

“Kalau begitu,” kata Devan akhirnya, “apa langkah berikutnya?”

Lisa tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah jalan di depannya seolah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain, lalu berkata dengan nada pelan namun jelas, “Mereka sudah mulai bergerak… sekarang giliranku membuat mereka berlari.”

Devan sedikit mengangkat alis.

“Bagaimana caranya?” tanyanya.

Lisa menoleh kembali, senyumnya perlahan muncul.

“Kita buat mereka saling mencurigai,” katanya.

Kalimat itu sederhana.

Namun efeknya…

Akan sangat besar.

Devan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Menarik,” katanya.

Lisa membuka pintu mobilnya.

Namun sebelum masuk, ia berhenti sejenak.

Lalu menoleh ke arah Devan.

“Kamu ikut?” tanyanya singkat.

Devan tidak langsung menjawab.

Namun beberapa detik kemudian…

Ia berjalan mendekat.

Dan masuk ke dalam mobil tanpa ragu.

Malam itu…

Bukan hanya satu langkah yang diambil.

Tetapi dua orang dengan tujuan berbeda…

Mulai benar-benar berjalan di jalur yang sama.

Dan di tempat lain…

Di dalam apartemen mewahnya, Clara Wijaya berdiri di depan jendela dengan ponsel di tangannya, wajahnya tidak lagi menunjukkan kelembutan seperti biasanya, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin.

“Luna,” katanya saat panggilan tersambung.

“Aku lihat mereka tadi,” jawab Luna santai.

Clara menutup matanya sejenak.

“Dan?”

Luna tersenyum tipis.

“Lisa bukan ancaman biasa,” katanya, “dan pria itu… lebih berbahaya dari yang kamu kira.”

Clara membuka matanya perlahan.

Sorotnya berubah.

“Kalau begitu…” katanya pelan.

Nada suaranya dingin.

“kita tidak bisa bermain setengah-setengah lagi.”

Di sisi lain, Arvin Pratama duduk sendirian di ruangannya dengan gelas di tangannya, pikirannya tidak tenang, emosinya mulai bercampur antara marah, bingung, dan sesuatu yang tidak ingin ia akui—ketakutan kehilangan sesuatu yang dulu ia anggap pasti.

Ia menatap kosong ke depan.

Lalu berkata pelan…

“Lisa… kamu tidak akan lepas begitu saja.”

Dan di saat yang sama…

Lisa yang berada di dalam mobil hanya menatap ke depan dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

Karena ia tahu…

Semua orang sudah mulai bergerak.

Dan semakin mereka bergerak…

Semakin dekat mereka dengan kehancuran yang telah ia siapkan. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!