Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Memulih dan Memilih
"Mara," ucap Dirga dengan suara rendah namun penuh tekanan, "Jangan pernah merasa bertanggung jawab atas perasaan Sagara."
Amara menoleh. Bersamaan dengan itu, tatapan Dirga menajam hingga membuat dadanya sedikit sesak.
"Kalaupun kamu istrinya, keputusan yang dia ambil tetap tanggung jawab dia sendiri. Kamu nggak seharusnya terbebani oleh konsekuensi yang diterimanya. Berani bermain api berarti sudah siap tersulut atau terbakar. Udah risiko," tegas Dirga.
Bahkan, setiap kata yang keluar dari mulut Dirga terdengar terlalu tegas dan personal seolah ia sedang berusaha memutus sesuatu sebelum sempat tumbuh.
Amara mengernyit. Ia merasakan makin banyak hal yang terasa janggal dalam sikap Dirga. Sejak percakapan mereka di balkon rumah Hendratama, Dirga seakan terus-menerus berusaha menjauhkan dirinya dari Sagara. Awalnya, ia menganggap itu hanya bentuk kekhawatiran seorang kakak. Namun sekarang rasanya tidak sesederhana itu.
"Mas Dirga," tutur Amara sembari menatap Dirga lekat-lekat, "Ada apa sebenarnya?"
Dirga enggan menjawab. Ia tetap fokus pada jalan.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Amara makin curiga, "Sejak di balkon itu, kamu selalu bicara seolah aku nggak boleh dekat sama Mas Aga."
Dirga menggenggam kemudi semakin erat. Urat-urat di punggung tangannya sampai terlihat jelas.
"Mas Aga itu adikmu loh, Mas. Kalian lahir dari rahim yang sama," lanjut Amara.
Kalimat itu tiba-tiba membuat rahang Dirga menegang. Beberapa detik pun diselimuti kesunyian. Hanya suara mesin mobil yang memenuhi ruang sempit di antara mereka.
Lalu, akhirnya, Dirga berbicara, "Karena aku tahu, dia nggak baik buat kamu."
Amara terdiam.
Sementara itu, Dirga melanjutkan dengan suara yang semakin berat, "Sagara nggak akan pernah bisa mencintaimu secara utuh. Perasaannya udah habis utuk Denisa. Saga bukan orang yang mudah adaptasi, apalagi jatuh cinta."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Dirga terasa seperti pisau yang perlahan mengiris kesadaran Amara.
"Kalau kamu tetap bertahan di sampingnya, kamu cuma akan jadi bayang," sambung Dirga dengan mata sendu.
Dirga mengembuskan napas panjang. Sorot matanya lurus ke depan. Namun entah kenapa, suaranya terdengar jauh lebih terluka daripada yang seharusnya.
"Aku cuma takut kamu hancur dan terluka karena Sagara. Kamu terlalu polos. Ketulusanmu bisa saja dimanfaatkan," ucap Dirga memungkasi kalimat panjangnya.
Amara menatap profil wajah Dirga lebih serius. Untuk sesaat, ia merasa bahwa Dirga tidak sedang membicarakan dirinya, melainkan seseorang. Atau mungkin juga sesuatu yang pernah menghancurkan dirinya lebih dulu. Dan, justru itulah yang membuat Amara semakin tidak mengerti.
"Mas..." panggil Amara pelan.
Dirga tidak menoleh. Mulutnya benar-benar bungkam seribu bahasa.
"Kamu ini sebenarnya sedang bicara sebagai kakaknya Mas Aga... atau sebagai orang lain, Mas?" tanya Amara sangat penasaran.
Sontak saja, sorot mata Dirga berubah sepersekian detik namun cukup untuk membuat Amara menangkapnya. Ia dapat merasakan sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang begitu dalam hingga bahkan Dirga sendiri tampak kesulitan menahannya.
"Jangan salah paham. Aku cuma nggak mau kamu terluka. Itu aja," jawab Dirga dengan nada datar namun seolah sengaja dipilih untuk menutupi jawaban yang sebenarnya.
Namun kali ini, Amara tidak ingin menyerah dan lebih menegaskan suaranya, "Mas Dirga, aku menghargai kekhawatiran kamu. Tapi sekarang, Mas Aga kecelakaan. Mas Aga butuh kita."
Mata Amara mulai memanas lagi mengingat kondisi terakhir yang dilihatnya melalui panggilan video. Meski tak melihat wajah Sagara secara langsung, namun seakan dapat membayangkan bagaimana dahsyatnya dampak kecelakaan itu.
"Entah dia bodoh, egois, atau masih terobsesi sama Denisa, itu bisa kita bahas nanti," sambung Amada dengan suara bergetar namun mantap, "Yang penting sekarang dia masih keluarga kamu."
Lalu, Amara menjeda ucapannya dan menatap lurus ke depan, "Dan dia juga masih suamiku."
Kalimat terakhir Amara benar-benar membuat rahang Dirga kembali mengeras.
"Aku nggak peduli dia mencintaiku atau nggak," sahut Amara dengan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, "Aku cuma nggak mau menyesal kalau terjadi sesuatu saat aku masih sempat menolongnya. Mas tahu kan bagaimana traumaku dengan kecelakaan. Kuharap, Mas mengerti keadaanku sekarang."
Mendadak begitu sunyi Tak ada lagi bantahan dari Dirga. Tak ada lagi nasihat. Tak ada lagi usaha untuk menjauhkan Amara dari Sagara. Hanya ada suara napas mereka yang sama-sama berat.
Lalu tanpa sepatah kata pun, Dirga menginjak pedal gas lebih dalam hingga mobil melesat dengan cepat. Wajahnya kembali dingin, keras, dan nyaris tak terbaca. Namun jemarinya yang mencengkeram kemudi terlalu kuat menunjukkan bahwa di dalam dirinya sedang terjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ingin ia perlihatkan.
Akhirnya, Amara menyadari sesuatu. Entah hanya perasaannya atau bukan, Dirga bukan sedang berusaha menjauhkan dirinya dari Sagara, melainkan sedang berusaha melawan sesuatu dalam dirinya sendiri.
...----------------...
Tak butuh waktu lama hingga mobil Dirga berhenti di lokasi kecelakaan.
Lampu ambulans yang berkedip-kedip memantulkan warna merah dan biru ke wajah orang-orang yang berkerumun di pinggir jalan. Suara sirene, teriakan warga, dan gemuruh kendaraan yang melintas bercampur menjadi satu.
Namun bagi Amara, semua suara itu terasa jauh. Yang ia lihat hanya satu: mobil Sagara yang ringsek tak berbentuk. Jantungnya langsung jatuh ke dasar perut.
"Mas Aga..." rintih Amara begitu lirih, bahkan nyaris tak terdengar.
Tanpa menunggu Dirga, Amara langsung berlari. Ia menerobos kerumunan. Mendorong siapa saja yang menghalangi jalannya. Air mata sudah mengaburkan pandangannya sebelum ia benar-benar melihat kondisi Sagara.
Lalu, Amara melihat dengan mata kepalanya, tubuh lelaki akhirnya muncul dari balik kerumunan.
Sagara baru saja berhasil dievakuasi setelah kakinya terjepit bagian depan mobil. Wajah, telapak tangan, kaki, hingga kemejanya dipenuhi darah. Kepalanya terkulai lemah di atas tandu.
Sejenak, dunia Amara seperti berhenti berputar menyaksikan ketidakberdayaan suaminya.
"Mas Aga!" jerit Amara pecah.
Amara langsung berlutut di samping tandu. Tangannya gemetar hebat. Tangan itu ingin menyentuh namun takut melukai. Takut membuat keadaan semakin buruk. Takut mendapati tubuh itu sudah tak lagi merespons.
"Mas... bangun..." rengek Amara dengan air mata yang jatuh satu demi satu, "Mas Aga..."
Salah seorang petugas ambulans menoleh, "Mbak kenal korban?"
Amara menatap wajah pucat Sagara. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang berat.
Lalu dengan suara yang nyaris pecah, Amara menjawab, "Ini... suami saya."
Petugas itu mengembuskan napas lega meski ketegangan masih tampak di matanya, "Syukurlah ada keluarga yang datang."
"Mari segera kita bawa ke rumah sakit," instruksi salah satu perawat.
Amara mengangguk berkali-kali meski tubuhnya terasa lemas. Saat petugas mulai mendorong tandu menuju ambulans, ia langsung bergerak mengikuti. Namun sebuah tangan menahan pergelangan tangannya tatkala ingin masuk ke ambulans.
"Sama aku aja," ujar Dirga datar.
Amara menoleh. Dirga pun sudah terlebih dahulu menatapnya penuh harap. Kemudian, ia balas dengan tatapan tajam. Tentu bukan karena marah, melainkan karena ia sudah terlalu lelah menahan semuanya. Dengan perlahan, ia menarik tangannya dari genggaman Dirga.
"Ini bukan waktunya membahas siapa yang baik dan siapa yang buruk," tegas Amara tak tergoyahkan, "Adikmu sedang sekarat, Mas."
Dirga terdiam.
"Aku tahu kamu kecewa sama dia," tambah Amara, "Tapi kalau kamu memilih nggak peduli, bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama."
Napas Amara pun memburu. Dadanya naik turun menahan tangis.
"Aku di sini adalah istri sah Sagara Hendratama. Selagi dia baik padaku, maka aku nggak peduli ucapan buruk orang tentangnya. Dia suamiku, maka hormat dan baktiku harus utuh kepadanya," lanjut Amara benar-benar tak terbantahkan.
Kalimat demi kalimat Amara benar-benar menghantam tepat ke dada Dirga—begitu keras, begitu menyakitkan. Hingga, Dirga benar-benar kehabisan alasan.
Namun, Amara tak menunggu jawaban. Ia langsung masuk ke ambulans.
Setelah pintu ambulans ditutup, Dirga masih berdiri mematung di tempatnya. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa memandangi ambulans yang mulai bergerak menjauh. Ada sesuatu yang terasa sesak di dalam dadanya. Sesuatu yang sudah lama ia tekan. Di satu sisi, ia ingin melindungi Amara dari luka yang pasti akan diberikan Sagara. Namun di sisi lain, ia tak memiliki hak untuk menarik gadis itu ke sisinya—tidak sekarang, mungkin juga tidak akan pernah.
Lalu, di dalam ambulans, suasana tak kalah menegangkan. Perawat sibuk membersihkan darah yang mengering di wajah Sagara. Bising mesin oksigen makin membuat suasana mencekam.
Sementara itu, Amara duduk di samping tandu dengan tubuh yang dingin dan gemetar. Tangannya perlahan menggenggam jemari Sagara hati-hati. Dan saat itulah, ia melihat luka-luka di telapak tangan lelaki itu. Ia tahu betul bahwa itu luka akibat benturan, melainkan luka yang tampak seperti bekas meremas sesuatu yang tajam. Seolah seseorang sengaja menggenggam pecahan kaca hingga melukai dirinya sendiri.
Mata Amara langsung memanas. Dadanya semakin nyeri.
"Mas..." panggil Amara lirih dan begitu rapuh, "Bangun..."
Amara menunduk. Ia genggam tangan Sagara lebih erat.
"Aku cuma punya kamu sekarang," tutur Amara terlontar begitu saja tanpa sempat ia tahan, "Udah cukup aku kehilangan Ibu sama Bapak karena kecelakaan."
Tangis Amara akhirnya pecah. Bahu kecilnya bergetar hebat.
"Aku takut, Mas..." tangis Amara lirih namun sangat pilu.
Lalu, air mata Amara pun jatuh di punggung tangan Sagara.
"Aku takut banget," rintih Amara.
Dan tepat saat itu, jemari yang digenggaman Amara bergerak. Amara pun membeku, sedangkan perawat ikut menoleh.
Lalu sebelum siapa pun sempat bereaksi, Sagara tiba-tiba membuka mata.
"Duh..." keluh Sagara sambil memegang kepalanya yang sedikit pening.
Refleks, lelaki itu langsung bangun dan duduk seolah lupa kalau baru saja mengalami kecelakaan.
"Ara!" panggil Sagara setelah mendapati istri di sisinya.
Tanpa aba-aba, Sagara langsung menarik Amara ke dalam pelukannya.
Perawat pun sampai terlonjak kaget hingga kapas di tangannya nyaris jatuh.
"Pak! Pak! Jangan banyak bergerak dulu!" ucap perawat penuh peringatan.
Namun Sagara sama sekali tak mengindahkan ucapan perawat itu. Baginya, kehadiran Amara sangat menyita perhatiannya. Lalu, ia rengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.
"Ara..." panggil Sagara dengan suara lemah, "Ngapain di sini? Kamu nemenin aku?"
Amara yang sempat ketakutan justru langsung memukul bahu Sagara pelan, "Dasar bodoh!"
Sagara berkedip. Lalu, ia tertawa kecil meski wajahnya meringis karena luka.
"Wah..." balas Sagara dengan mata berbinar meski masih tersirat kesedihan, "Baru sadar udah dimarahin."
Amara mendengus namun air matanya justru semakin deras.
Sagara pun perlahan mengusap pipi gadis itu. Tangannya masih penuh luka dan bercak darah sehingga sentuhannya terasa begitu hati-hati.
"Ara nangis karena Mas Aga-mu ini?" goda Sagara tak habis akalnya.
Amara langsung menepis tangan Sagara kasar, "Nggak usah ge-er! Aku nangisin mobilmu. Kasihan dia ringsek gitu. Nggak bisa dibenerin itu."
Perawat yang sejak tadi menahan senyum akhirnya menyela, "Pak Sagara, boleh saya lanjut bersihkan lukanya?"
"Oh iya, Sus," sahut Sagara mengangguk dengan mata yang tak pernah lepas dari Amara.
Amara pun membantu mendorong bahu Sagara agar kembali rebah.
"Lanjutkan aja, Sus," cetus Amara sambil melirik sinis kepada Sagara, "Kalau bisa, sekalian dibersihin otaknya. Bebal soalnya, Sus."
Perawat spontan menahan tawa.
Sagara mendelik gemas, "Ara!"
Amara menyilangkan tangan dan melanjutkan, "Kalau bisa telapak tangannya diamputasi juga."
"Hah?!" pekik Sagara tak percaya.
"Udah kebanyakan luka, pasti nggak berguna juga," omel Amara sambil menunjuk luka di tangan Sagara.
Namun sebelum suasana berubah muram, Sagara kembali menggoda dengan suara manja, "Ara."
"Nggak," sentak Amara.
"Aku belum ngomong," ujar Sagara tersenyum geli.
"Pasti nggak penting," sahut Amara cepat.
Sagara terkekeh, lalu kembali berkata, "Ara, sini bentar."
"Nggak mau," bantah Amara menahan diri.
"Sini. Ada yang mau kubisikin," bujuk Sagara.
"Nggak!" jawab Amara tak dapat diganggu gugat.
Dengan gerakan cepat, Sagara menarik lengan Amara.
"Mas Aga!" ucap Amara kaget.
Amara langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terdorong mendekat Sagara. Begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas hangat lelaki itu. Jantungnya langsung berdebar kacau.
Sementara itu, Sagara mencondongkan wajahnya sedikit ke arah Amara.
Lalu, Sagara berbisik pelan di dekat telinga Amara, "Kamu bawel banget hari ini."
Amara membelalak.
Belum sempat Amara menjauh, suara Sagara kembali terdengar—sangat pelan, sangat menggoda, "Tapi, aku gemas. Kalau kukecup sedikit, bisa jadi pendiam nggak?"
Bulu kuduk Amara langsung meremang. Pipinya memanas dalam sekejap.
Sedangkan di hadapan mereka, sang perawat buru-buru menundukkan kepala, pura-pura fokus pada peralatan medis agar tidak ikut tersenyum melihat tingkah dua orang keras kepala itu.