Capella Starheart!
Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.
Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.
Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.
Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?
(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 3)
[BAB 3: Rahasia Kecil Galactic]
Air dingin dari keran mengalir di antara jari-jari Capella yang gemetar saat dia menciduknya ke wajah.
Tetesan-tetesan itu mengalir di pipinya yang masih panas, membawa serta garis-garis tipis debu dan keringat yang mengering di kulitnya.
Di cermin besar sepanjang dinding, pantulan dirinya terlihat aneh_ sulit dijelaskan tapi hanya terasa begitu.
Dari habis membasuh wajahnya, tangan kanannya perlahan turun menyentuh liontin nya dengan ujung jari. Tiba-tiba tarikan nafasnya kembali berat.
Memandang liontin melalui pantulan cermin.
"Kamu akan terbiasa," bisik Galactic dari sampingnya, suaranya seperti campuran antara gumaman manusia dan dengungan mesin halus.
Capella melihat pantulannya di cermin_ Galactic berdiri menyandar di dinding dengan sikap santai yang dipaksakan.
Galactic menghela nafas panjang, Ketika dia mengangkat tangan kirinya perlahan_ setengah tinggi di depan wajah seperti sedang memamerkan jam tangan baru.
Menunjukan gelang yang hampir tidak pernah di lepasnya. Tapi Capella tidak memperhatikannya sejak awal.
Berbahan logam tebal berwarna emas dengan ukiran-ukiran rumit di permukaannya. Pusat ukirannya membentuk pola seperti matahari dengan batu berwarna merah campuran kuning dan orange di tengahnya.
"Ini memilihku juga," ujar Galactic dengan suara datar, matanya lalu tertuju pada pantulan liontin Capella di cermin.
"Seperti dia memilihmu," Tangannya kembali turun.
Capella menelan ludah. Tangannya yang basah meraih liontin bintang tanpa sadar, merasakan kehangatan aneh yang memancar dari batu aquamarine kecil di tengahnya.
Sambil memandang dirinya sendii melalui cermin di depannya, Gadis itu sedikit menceritakan kapan dan bagaiamana dirinya mendapatkan batu permata berwarna Aquamarine itu.
Menceritakan waktu kemarin... Waktu setelah Galactic tidak bisa berjalan menemaninya sampai Plaza, wilayah Plaza diblokir, bertemu dua orang asing, sampai tiba di suatu gang kota mati.
Momen pulang sekolah yang menegangkan. Dirinya tidak akan bisa melupakan puncak masalahnya.
"Um Gal... Berapa lama milikmu...?" Capella berhenti di tengah kalimat, lidahnya terasa kaku. Dia menoleh memandang langsung pada gelang milik Galactic.
"Batu milikku? Sudah hampir sembilan tahun," bisik Galactic dengan suara serak, jari-jarinya mengusap lembut permukaan batu kemerahan di gelangnya.
Di bawah cahaya lampu kamar mandi, wajahnya tiba-tiba terlihat lebih tua dari usia enam belas tahun_ garis-garis halus di sekitar mata dan mulutnya seperti bekas luka yang tak terlihat di siang hari.
Di mata Capella.... Dia seakan bisa melihat bagaimana Galactic itu membuatnya tampak seperti sosok yang sudah bertempur di ratusan pertempuran rahasia.
Jari-jari Galactic bergerak mengombak kecil di atas gelangnya.
Aura kemerahan api mulai muncul di jari-jari dan juga batu permata itu. Ting! Batunya tercabut dan mengambang tepat di depan wajahnya dalam aura sihir kemerahan bercampur kerlip-kerlip kecil yang terus menyelimuti di sekitar seperti pemandangan langit Kosmik.
Capella bergerak memutar tubuhnya perlahan dari arah cermin. Lebih fokus memperhatikan yang dilakukan si Galactic di sana.
"Dulu," mulainya dengan suara serak yang tiba-tiba berubah jadi berat, "Aku hampir mati."
Pandangan di mata Capella entah kenapa terasa tertarik masuk ke batu milik Galactic yang mengambang itu.
Semua kilasan cepat menumpuk di pengelihatannya sebelum fokus pada satu kejadian.
"Moonbase mengirim tentara untuk memburuku. Mereka memburuku karena aku memberontak pemerintahan Anomali," Suara kalimat Galactic terus mengiringi bersamaan dengan pandangan Capella yang terhanyut.
"Pada waktu itu, aku baru berumur delapan tahun... terlalu pintar... dan dianggap terlalu berani... Jadi mereka menargetkanku," terus yang diceritakannya. Capella sekarang melihat kilasan balik ketika Galactic yang berlari di gang sempit lalu terjatuh di genangan air kotor.
Akhir dari ceritanya berhenti setelah batu permata dengan ekor cahaya tipis merah api melesat turun dari langit-langit dan menjadi sebuah gelang di tangan kirinya.
Pandangan Capella lalu kembali menjauh dari batu itu. Galactic membuang muka sebentar.
Hening sesaat dengan mata terpejam rapat.
Mulutnya kini lebih melengkung ke bawah dibandingkan dia tadi sedang bercerita.
Tangan kanannya bergerak menutup batu pada gelangnya dengan kepalan tangan kiri yang diperkuat.
"Maaf... Aku... Aku tidak bermaksud untuk... membuatmu tidak nyaman~"
"Oh tidak. Tidak..Tidak apa!" selip cepat Capella, menggeleng samar.
Galactic kembali menatap Capella dengan berusaha mengembalikan senyumnya sendiri yang tadi sempat hilang di sepanjang cerita.
"Apa yang kamu lihat dari tampangku Cap?" Tanyanya setelah batu itu kembali menempel di tengah-tengah ukiran bentuk simbol matahari pada gelangnya.
Capella menjelajahi tubuh Galactic singkat dari bawah hingga atas. "Uh... Baju merah, tinggi, dan... Memesona?" Jawabnya, sedikit menggoda untuk mengurangi ketegangan setelah cerita yang hampir tidak bisa diselesaikan Galactic.
Galactic terkekeh singkat.
"Menurutmu begitu? Yah... bagi mereka yang mengancam... Maksudku... Benar-benar berbahaya... yang dilihat mereka bukanlah aku, " Galactic menegakkan tubuhnya dari dinding, perlahan mendekat pada Capella. "Batu ini menyamarkanku dari orang-orang yang bermaksud buruk."
"Aku menjadi tak terlihat di mata mereka!" Ucapnya sekali lagi, hanya kiasan atau bukan secara harafiah.
Kedua tangannya melipat di dada sambil bersender pada wastafel tepat di sebelah Capella.
Dalam yang diceritakannya, dia juga menyinggung soal warna-warna dan maksud artinya di zaman sekarang itu. Yang pasti...warna Ungu memang warna umum kebanggaan yang dimana Capella juga sudah tahu.
Tapi Merah... Itu sebagai simbol pemberontakan. Itulah kenapa dia memakai baju berwarna merah.
Mengenakan jenis pakaian apapun berwarna merah sudah dilarang semenjak berdirinya pemerintahan Anomali.
Karena Merah sebagai simbol perlawanan terhadap mereka.
Walaupun begitu Galactic tetap menggunakannya, dan bangga dengan simbolis itu. Dia bilang... itu adalah jati dirinya.
"Gal... Apa kamu sekarang... merasa bahagia?" Lirih Capella. Satu pertanyaan yang terlintas setelah kisah yang diceritakan Galactic."Maksudku dengan dirimu yang sekarang?"
Terdiam menarik nafas berat sejenak... "Aku berusaha," Jawabnya, wajahnya beralih lebih menunduk.
Dia juga sedikit menceritakan keluarganya. Dia sekarang tinggal sendirian di apartemen_ berpisah tempat dengan anggota keluarganya yang lain.
Hanya mencoba memastikan mereka tidak terlibat masalah dan tetap aman dari berbagai ancaman.
Sejujurnya... Galactic meminta keluarganya untuk membuat kabar palsu mengenai kematiannya kepada para urusan Moonbase yang masih sempat memburunya. Supaya mereka tidak lagi mengusik Galactic maupun keluarganya.
Dan keluarganya juga sudah tahu mengenai kekuatan yang ada padanya itu. Mereka merahasiakannya.
"Oh..." Capella tidak bisa berkata-kata. Galactic cepat-cepat mengusap sudut matanya.
Ruang WC pun hening tiba-tiba. Lebih lama dari yang tadi.
Tidak ada suara lagi selain alarm dari luar yang baru saja berbunyi. Wajah mereka berdua sama-sama teralihkan ke arah pintu yang tertutup.
"Astaga, aku melakukannya lagi," Galactic mendongak malas ke langit-langit ruangan.
"Aku rasa aku bercerita terlalu lama," Sambungnya, tetap berusaha tersenyum.
Mereka melewatkan sisa dari pelajaran Pak Louis.
Tapi setidaknya mereka berdua tidak perlu repot-repot menyelesaikan lukisan mereka, atau mendengar setiap ucapan flamboyan penuh dramatis guru mereka yang satu itu.
"Yah... Aku senang bisa berbagi masa lalu denganmu. Kamu orang pertama yang tahu rahasia kecilku di Akademi ini," ucap Galactic, tangan kirinya menarik pintu setengah terbuka, sebelum dia menyelip keluar.
Capella teridam di tempat. Matanya masih mengambang pada arah pintu yang sudah kembali menutup dengan sendirinya.
…
…
…
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥