"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek "Jago Fuji" dan Skandal Petai di Rumah Miliarder
Pagi itu, Tokyo masih terasa dingin, tapi suhu di dalam bus mewah yang membawa rombongan Pasukan Tapir justru memanas. Mereka sedang menuju kawasan elit di lereng pinggiran Tokyo, tempat tinggal Mr. Yamamoto, seorang kolektor seni sekaligus pengusaha properti yang memiliki obsesi aneh terhadap segala sesuatu yang berbentuk ayam jago.
Bagas duduk di kursi paling depan, memangku Supra. Di sampingnya, Dira terus-menerus mengecek tas jinjing Mama Ratna.
"Ma, beneran ya, jangan dikeluarin petainya!" bisik Dira dengan nada mengancam. "Ini rumah miliarder, Ma. Bukan pasar kaget Bekasi!"
Mama Ratna cuma merapikan sanggulnya yang hari ini lebih tinggi dua sentimeter dari biasanya. "Dira, kamu itu nggak ngerti seni diplomasi. Orang kaya di Jepang itu bosan sama kemewahan. Mereka butuh kejutan aromatik! Petai ini adalah truffle versi kearifan lokal. Ini oleh-oleh eksklusif!"
"Kalau kita dideportasi gara-gara bau petai, aku nggak mau tanggung jawab ya!" pungkas Dira pasrah.
Bus akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang kayu raksasa yang dijaga dua orang pria berjas hitam dengan wajah tanpa ekspresi. Begitu gerbang terbuka, pemandangan taman Zen yang sangat luas dan rapi menyambut mereka. Di tengah taman itu, Mr. Yamamoto sudah menunggu, berdiri di samping sebuah gundukan besar berisi Pasir Gunung Fuji yang berwarna abu-abu keunguan yang sangat eksotis.
"Bagas-san! Selamat datang!" sapa Mr. Yamamoto melalui penerjemahnya. "Saya sudah menyiapkan bahan-bahannya. Pasir ini diambil langsung dari lereng suci Fuji. Saya ingin Anda membuat replika Jago yang memiliki jiwa gunung tersebut."
Bagas turun dari bus dengan gaya sok maestro. Mendekati gundukan pasir itu, mengambil segenggam, kemudian mengendusnya. "Hmm ... teksturnya sangat spiritual, Yamamoto-sama. Pasir ini memiliki densitas yang pas untuk dipadukan dengan semen sisa pembangunan pagar saya."
Proyek dimulai. Bagas mulai mencampur semen dengan pasir Fuji di dalam sebuah ember kayu raksasa. Jaka bertugas menjadi asisten pengaduk, sementara Manda berdiri di pojokan taman sambil melakukan gerakan yoga untuk menyerap energi gunung agar patungnya tidak retak.
"Gas, ini pasirnya beda banget sama pasir bangunan di komplek kita," bisik Jaka sambil mengaduk sekuat tenaga. "Rasanya kayak ngaduk bedak mahal."
"Ssst! Diem lo, Jak! Fokus! Ini proyek milyaran!" balas Bagas yang sudah mulai membentuk bagian kaki Jago.
Di sisi lain taman, Dira sedang berbincang dengan istri Mr. Yamamoto, seorang wanita Jepang yang sangat anggun mengenakan kimono sutra. Semua berjalan lancar sampai Mama Ratna merasa suasana terlalu kaku.
"Madam Yamamoto," panggil Mama Ratna dengan bahasa Inggris pas-pasan. "You want to try Indonesian Super food? Special Medicine for Power!"
Dira yang mendengar kata "Super food" langsung menoleh dengan horor, tapi terlambat. Mama Ratna sudah mengeluarkan beberapa papan petai yang ukurannya sangat besar dan sudah sangat ... matang.
KREK!
Mama Ratna mengupas satu biji petai hijau itu dan menyodorkannya langsung ke depan hidung Madam Yamamoto.
Seketika itu juga, angin sepoi-sepoi di taman Zen yang tadinya wangi bunga sakura, mendadak berubah menjadi aroma gas alam yang sangat tajam dan intimidatif. Para penjaga di gerbang sampai terlihat mengendus-endus udara dengan dahi berkerut, mengira ada pipa gas yang bocor di bawah tanah taman tersebut.
Madam Yamamoto tertegun. Wajahnya yang putih porselen mendadak berubah jadi agak pucat. Menatap biji petai itu seolah-olah sedang melihat alien kecil yang siap menyerangnya.
"This is Pe-Tai," jelas Mama Ratna bangga. "Eat this, and your spirit will be strong like Shogun! It’s like wasabi, but with after taste (rasa sisa) yang bertahan tiga hari!"
Dira langsung melompat ke tengah-tengah mereka. "Madam, Gomen ne! Sumimasen! My mother is just ... very enthusiastic about organic vegetables!"
Mr. Yamamoto yang sedang memperhatikan Bagas bekerja, tiba-tiba menoleh karena mencium aroma yang tidak biasa itu. Dia berjalan mendekat. "Aroma apa ini? Begitu ... primitif, tapi mendominasi?"
Bagas, dengan otak Tapir-nya yang bekerja dalam hitungan milidetik, langsung berdiri tegak sambil memegang ulekan (yang entah kenapa dia bawa juga). "Ini adalah bagian dari ritual pembuatan patung, Yamamoto-sama! Kami menyebutnya 'Aroma Pengikat Jiwa'. Tanpa aroma petai ini, semen Fuji tidak akan mau menyatu dengan doa-doa kami!"
Mr. Yamamoto tampak terpukau. Mengambil biji petai dari tangan Mama Ratna dengan sangat hormat. Mengamatinya, kemudian dengan berani ... memakannya mentah-mentah.
Hening. Seluruh taman Zen itu seolah berhenti bernapas. Jaka sampai berhenti mengaduk semen.
Mr. Yamamoto mengunyah perlahan. Matanya melotot. Wajahnya memerah, kemudian dia mulai batuk-batuk kecil, tapi ... tak lama kemudian, dia tersenyum lebar. "Sangat ... berani! Rasanya seperti ditabrak truk bermuatan bawang yang sedang jatuh cinta! Luar biasa! Istriku, kita harus masukkan ini ke dalam daftar menu jamuan makan malam kita!"
Madam Yamamoto yang patuh pada suaminya, akhirnya ikut mencicipi sedikit. Dan dalam waktu singkat, suasana taman yang tadinya kaku berubah jadi ajang Pesta Petai Internasional.
Bagas yang melihat situasi aman, langsung melanjutkan pekerjaannya dengan semangat dua kali lipat. Hasilnya, sebuah patung Jago setinggi satu meter berhasil diselesaikan dalam waktu tiga jam. Karena menggunakan pasir Fuji, patungnya memiliki kilauan ungu yang sangat mewah saat terkena sinar matahari.
"Sempurna!" seru Mr. Yamamoto. "Saya beri nama patung ini 'Fuji-no-Jago'. Dan sebagai tanda terima kasih atas perkenalan budaya petai ini, saya akan menambah bonus pembayaran untuk Anda, Bagas-san!"
Malam harinya, saat mereka dalam perjalanan pulang ke hotel, Jaka mengecek saldo rekening tim di tabletnya. Matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Gas ... Dira ... bonus dari Mr. Yamamoto ... cukup buat kita beli tiket pesawat First Class pulang pergi Jakarta-Tokyo sepuluh kali!" teriak Jaka kegirangan.
"Wah, hebat ya!" seru Mama Ratna. "Tuh kan Dira, Mama bilang juga apa. Petai itu kunci kesuksesan!"
"Iya Ma, sukses bikin seluruh bus ini baunya kayak toilet pom bensin," gumam Dira sambil membuka jendela bus lebar-lebar.
Bagas merangkul Supra yang sedang asyik tidur di pangkuannya. "Satu misi lagi selesai, Ndoro. Jago sudah punya kembaran di lereng Fuji. Sekarang, saatnya kita nikmati malam terakhir di Tokyo sebelum pulang ke Jakarta untuk menghadapi ... kenyataan."
"Kenyataan apa, Pir?" tanya Dira.
"Kenyataan bahwa adek gue, si Liam, besok sama-sama mendarat di Jakarta dan dia yang bakalan jemput kita juga di bandara. Ingat kan, Ma? Liam yang katanya lagi patah hati itu?"
Mama Ratna menepuk jidatnya. "Oh iya! Waduh, Mama hampir lupa punya anak satu lagi yang normal! Cepat, kita harus packing! Kita bawa oleh-oleh sushi buat Liam, siapa tahu dia jadi ceria lagi!"
Bagas menyeringai. "Ma ... Bagas ragu sushi bisa bikin dia ceria, tapi kalau dia liat Supra pake baju kimono, mungkin dia bakal langsung sembuh ... atau malah makin depresi karena ngerasa abangnya makin gila."
Proyek Jago Fuji sukses besar, dan pundi-pundi Pasukan Tapir makin melimpah. Mereka meninggalkan Jepang dengan kepala tegak (dan aroma mulut yang sedikit mencurigakan).
Di Bandara Soekarno-Hatta esok harinya, mereka sudah ditunggu oleh sesosok pemuda rapi dengan koper elit dan wajah yang sangat ... waras.
Selamat datang, Liam. Dunia normal kamu akan segera runtuh dalam 3 ... 2 ... 1 ....