Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembang Pertapaan Linggapura
Begitu babi hutan itu terbelah sempurna, Jenar Karana dengan cepat menyarungkan pedang nya dan menyambar satu bagian serta membiarkan bagian lainnya jatuh ke hadapan perempuan muda berkemben merah ini. Begitu ia hendak pergi, perempuan muda ini pun segera bersuara.
"Tunggu Kisanak! Jangan pergi dulu.. "
Ucapan itu sontak membuat Jenar Karana berbalik arah dan menatap tajam ke arah perempuan muda berkemben merah itu. Tatapan matanya yang setajam tatapan mata seekor burung rajawali sontak membuat perempuan muda ini keder dan mundur selangkah ke belakang.
"Kau mau apa lagi?
Bukankah kau juga sudah mendapat bagian yang sama dengan ku?! ", tanya Jenar Karana segera.
" Bu-bukan masalah bagian hewan buruan nya. Aku aku cuma mau tanya siapa nama mu. Itu saja kok.. ", ujar si perempuan muda berkemben merah itu dengan nada takut takut.
" Hadeeeehhhh merepotkan saja...
Aku Jenar Karana dari Padepokan Pesisir Selatan. Kau bisa memanggil ku Jenar ", ucap Jenar Karana acuh tak acuh. Sekalipun menghadapi perempuan secantik ini, dia masih memikirkan Pangeran Dyah Rangga dan yang lainnya yang sedang lapar. Berbincang-bincang dengan nya hanya membuat rasa lapar semakin lama menyerang perut kawan seperjalanan nya saja.
"Aku Wulandari, anak brahmana agung Resi Wi... "
Perempuan muda berkemben merah itu tak meneruskan omongan nya begitu melihat Jenar Karana langsung berbalik arah dan melesat pergi dari tempat itu, seolah-olah tak peduli dengan omongan perempuan muda berkemben merah yang ternyata bernama Wulandari ini. Hal ini tentu saja membuat Wulandari kesal setengah mati. Dia langsung menghentakkan kakinya dengan keras.
"Dasar tidak tahu sopan santun!
Orang belum selesai bicara main pergi saja. Apa aku benar-benar tidak memiliki nilai lebih di matanya? Apa aku yang secantik ini benar-benar tidak bisa membuat nya melirik ku sedikit saja?! Dasar brengsek! Ketemu lagi aku akan memberi mu pelajaran! ", geram Wulandari penuh amarah.
Bersamaan dengan itu, dari arah belakang muncul dua orang berpakaian seragam seperti dari satu tempat. Keduanya langsung mendekati Wulandari yang sedang mengomel.
" Ndoro Putri, kau kenapa? ", tanya salah seorang diantara mereka.
" Jangan banyak tanya!! Buat aku kesal saja..!
Cepat angkat separuh babi hutan itu, kita pulang ke pertapaan!! ", jawab Wulandari sembari berbalik arah ke tempat tadi ia datang. Dua orang abdi setia itu saling pandang sebelum keduanya menggotong separuh babi hutan ini dan mengikuti kemana Wulandari pergi.
Kedatangan Jenar Karana di tempat peristirahatan disambut gembira oleh kawan-kawan nya. Pasalnya, Limbu Jati hanya berhasil membawa pulang satu tandan pisang raja dan satu tangkai singkong, sedangkan Jenar Karana membawa separuh babi hutan yang gemuk. Jika dipanggang, mereka berenam jelas kenyang makan siang.
Sambil mengolah babi hutan ini, Jenar Karana menceritakan kenapa babi hutan yang ia dapatkan hanya separuhnya saja. Si Kundu yang tidak terlalu peduli dengan asal muasal makanannya, tetap saja mengunyah irisan daging babi hutan ini dengan lahap.
Rampung bersantap ria mengisi perut, rombongan Pangeran Dyah Rangga kembali melanjutkan perjalanan. Sisa panggangan daging babi hutan mereka bungkus rapi dalam daun jati berlapis-lapis sebelum akhirnya dibungkus dengan kain hitam. Gelarsena mendapatkan jatah untuk membawanya.
Menyusuri jalan setapak di Hutan Ngasinan, mereka menuju ke arah matahari tergelincir ke arah barat. Setelah cukup lama mereka berjalan, mata Wanapati melihat pucuk atap bangunan menjulang diantara rimbun pepohonan. Ini jelas tanda bahwa ada pemukiman disana.
Dengan gembira, mereka berenam menuju kesana.
Di selatan Sungai Serayu, tepatnya di barat Hutan Ngasinan berdiri sebuah pertapaan yang cukup punya nama besar pada masa itu, Pertapaan Linggapura. Tempat itu merupakan tempat tinggal seorang pendeta sakti agama Siwa yang kondang dengan sebutan Pandita Agung Linggapura. Dia bernama asli Janamejaya yang kemudian berganti nama menjadi Resi Wiramapati.
Resi Wiramapati konon kabarnya memiliki kesaktian yang luar biasa. Selain itu dia juga terkenal karena pintar meramal nasib seseorang. Puluhan orang setiap harinya mendatangi Pertapaan Linggapura hanya untuk ingin tahu nasib mereka kedepannya. Tak cuma dari kawasan Paguhan, bahkan dari negeri manca seperti Galuh, Saunggalah, hingga ke Kalingga pun juga ada yang mendatangi Pertapaan Linggapura dengan maksud serupa.
Akibat dari hal ini, banyak sumbangan yang diberikan oleh orang-orang yang berkunjung hingga Pertapaan Linggapura pun berdiri megah selayaknya istana. Kawasan sekitarnya pun berubah menjadi ramai oleh orang-orang yang ingin ikut menikmati kejayaan Pertapaan Linggapura hingga membentuk sebuah perkampungan besar yang mirip sebuah kota kecil.
Resi Wiramapati memiliki 2 istri, Nyai Rampwas dan Nyai Gati. Dari mereka Resi Wiramapati memiliki 5 orang anak. Dari Nyai Rampwas, Resi Wiramapati berputra Widarba, Wikana dan Wulandari. Sedangkan dari Nyai Gati, lahir dua putri kembar Windara dan Windari.
Kelima anak Resi Wiramapati memiliki keahlian yang membuat mereka dihormati oleh para penduduk sekitar Pertapaan Linggapura. Selain bisa olah kanuragan, kelima nya memiliki keahlian istimewa. Widarba sangat pintar dalam urusan hukum dan ilmu tata negara, Wikana jago berdagang sedangkan Wulandari ahlinya bermain panah. Si kembar Windara dan Windari selain cantik juga pintar dalam urusan membatik dan kerajinan tangan.
Si kembar Windara dan Windari sudah bersuami dengan dua orang pejabat Kadipaten Paguhan, pun juga dengan Widarba. Di Pertapaan Linggapura saat ini hanya tersisa Widarba yang menjadi calon penerus pimpinan Pertapaan Linggapura dan Wulandari saja, karena Wulandari merupakan anak bungsu Resi Wiramapati.
Wulandari juga merupakan putri kesayangan Resi Wiramapati. Selain cantik, ia juga jago beladiri dan pintar bermain panahan. Menjadikannya seorang kembang pertapaan yang banyak digandrungi oleh para pemuda.
Sore itu Wulandari sedang duduk sambil menekuk wajahnya di teras kediaman Resi Wiramapati. Hal ini tentu saja memantik perhatian sang ayah yang baru selesai melakukan pengajaran di aula utama Pertapaan Linggapura.
"Kok wajahmu ditekuk begitu, Cah Ayu?
Ada apa? Apa ada orang yang mengganggu mu? Lekas cerita pada ayah mu ini", tanya Resi Wiramapati dengan lembut.
" Ayahanda, aku sedang kesal dengan seseorang yang membuat ku kehilangan separuh hewan buruan ku tadi siang. Kalau sampai ketemu lagi, hihhh pasti ku hajar dia habis-habisan", jawab Wulandari dengan mengepalkan tangannya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh putri bungsu nya, Resi Wiramapati tersenyum tipis.
"Jadi perempuan jangan galak galak begitu. Nanti susah dapat jodoh.. "
" Tapi Ayahanda, dia itu... "
Belum selesai Wulandari bicara, seorang penjaga gapura pertapaan berlari ke tempat mereka. Sesampainya disitu, ia segera menghormat pada Resi Wiramapati.
"Lapor Guru..
Ada serombongan orang berjumlah 6 orang yang semuanya laki-laki datang ke pertapaan kita. Sepertinya mereka datang dari jauh. Katanya mereka ingin meminta bantuan pada Guru", lapor sang cantrik penjaga gapura pertapaan segera.
Hemmmmmmmmm...
Resi Wiramapati menghela nafas dalam dalam sembari menghitung sesuatu pada jari jemari tangan nya. Setelah berhitung, ia tersenyum penuh arti.
"Yang ditunggu akhirnya datang juga. Ayo kita sambut mereka", ucap Resi Wiramapati sambil berjalan menuju ke arah gapura pertapaan.
" Ayahanda aku ikut.. ", ujar Wulandari sambil bergegas mengejar sang ayah yang sudah lebih dulu berjalan diiringi oleh sang cantrik penjaga gapura.
Sesampainya di gapura pertapaan, mata Wulandari terbelalak lebar melihat sosok pria tampan yang membuat perasaannya kesal setengah mati tadi pagi. Dia pun langsung berseru lantang,
"Ayahanda, itu dia orang nya..!!! "