Pendahuluan:
Seorang pemuda yang tidak bisa berkultivasi dengan normal, seorang pemuda yang bahkan tidak layak disebut sampah, orang yang sia-sia.
Itulah yang selalu orang katakan saat melihatnya, tapi sekarang?
Apakah dia manusia? Ataukah Dewa? Mungkinkah dia Iblis?
Dengan satu tangan membawa perdamaian dan tangan lainnya membawa pembantaian, itulah yang selalu mereka katakan.
Saat dia hadir semua keberadaan akan tertekan, Langit dan bumi ada dalam genggamanya.
Dia adalah seorang pria yang menaklukan hati setiap orang hanya dengan tatapannya,
membuat semua orang rela mati hanya karena ucapannya.
Pria yang bangkit hanya untuk menjadi penguasa - Jiang Chen
Legenda mengatakan:
Jiang Chen adalah seorang revolusioner perang yang muda dan berbakat, tapi ketika dia marah bahkan langit akan terbelah dan bumi akan berguncang ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizki Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Klan Ming
Setelah berjalan cukup lama, Jiang Chen dan MingMei akhirnya sampai didepan pintu gerbang KlanMing, Gerbang itu sangat besar bahkan lebih besar dari gerbang KlanJiang.
Disana terlihat ada beberapa prajurit yang sedang berjaga, tapi ketika mereka melihat MingMei yang sedang berjalan mendekat, mereka segara berbaris dan membungkuk, lalu berkata
"Salam Putri Ming"
Ming Mei terlihat santai dan seperti sudah biasa dengan itu, dia hanya menganggukan kepalanya dan mulai berjalan melewati mereka.
Jiang Chen melihat para penjaga yag ada "Apakah mereka juga Anggota dari KlanMing?"
Ming Mei menggelengkan kepalanya dan menjawab "Mereka adalah warga sekitar yang berkerja pada Klan Ming, sehingga mereka dilatih oleh Klan Ming untuk menjadi prajurit penjaga"
Jiang Chen sedikit terkejut dan bertanya kembali "Maksudmu Klan Ming yang melatih mereka semua dengan cuma-cuma"
Ming Mei mengangguk dan tersenyum "Mereka adalah orang-orang yang pernah KlanMing bantu, dan untuk membalas budi mereka ingin mengabdikan diri pada KlanMing, walaupun ayahku sudah mengatakan bahwa dia ikhlas dalam membantu semua orang"
Jiang Chen mengangguk setuju karna ini sama dengan kondisi Klan Jiang, Klan Jiang juga hanya terdiri dari 30 orang dan mereka adalah Klan terkecil di Kota Mohe, tapi walaupun begitu banyak orang yang bersumpah setia pada Klan Jiang karena kebaikannya.
Jiang Chen dan Ming Mei berhenti di sebuah bangunan, tapi dari pada di sebut bangunan, itu lebih mirip dengan istana yang besar dan mewah.
Saat mereka masuk, mereka langsung di sambut dengan sebuah ruangan berwarna putih yang sangat indah, dan di ruangan itu ada seorang pria paruh baya berpakaian putih yang sedang duduk.
Melihat pria itu, Ming Mei yang biasanya tenang, sebenarnya mulai berlari menuju pria paruh baya itu, dan langsung memeluknya, sambil berkata dengan gembira.
"Ayahhhhh"
Pria baruh baya itu tertawa dan berkata "Hahaha..... Bangunlah, apakah kau tidak malu dengan temanmu itu"
Ming Mei tersadar mendengar itu, sehingga dia pun segera pelukannya dan mulai bejalan kesamping, sambil merapihkan bajunya.
Melihat itu Jiang Chen sebenarnya ingin tertawa, tapi dia memilih untuk tidak melakukannya untuk kesopanan.
Pria paruh baya itu pun batuk kecili untuk mencairkan suasana dan berkata "Nak, Perkenalkan saya adalah Ming Ho, ayah dari anak perempuan yang tadi kau coba kencani, dan saya juga adalah Ketua Klan Ming"
Jiang Chen terkejut mendengar itu, bukankah itu berarti bahwa dia telah mendengar semua percakapan yang Jiang Chen lakukan dengan Ming Mei.
Ming Ho tersenyum dan mengangkat tangannya "Tenanglah nak, aku tidak bisa mendengar percakapanmu dengan putriku, tapi dari ekspresimu sepertinya aku benar"
Jiang Chen menjadi canggung dan akhirnya memilih untuk menangkupkan tinjunya, lalu berkata dengan berani
"Jiang Chen menyapa Ayah Mertua"
Ming Ho dan Ming Mei terkejut mendengar ucapan Jiang Chen, terutama Ming Mei wajahnya yang manis mulai memerah dan berkata dengan kesal pada JiangChen "Apa yang kau katakan bodoh?"
Sekarang Jiang Chen yang pura-pura terkejut "Lohh, bukanya tadi kamu yang memaksaku untuk melamarmu"
Ming Mei sebenarnya merapatkan bibirnya, dan tidak tahu harus berkata apa, karna dia juga baru pertama kalinya bertemu orang yang tak tahu malu seperti Jiang Chen.
Ming Ho tiba-tiba tertawa dengan lepas "Hahaha...... Masa muda memang harus seperti itu bodoh dan tak kenal rasa takut, aku menyukaimu nak"
Jiang Chen juga tertawa dan berkata "Hahaha.....Maafkan atas kelancanganku, Paman Ho"
Ming Ho tertawa dan berkata dengan santai "Hahaha... Kau boleh memanggilku ayah jika kau suka, sebenarnya aku sedikit khawatir pada putriku ini, dia selalu menempel padaku dan menolak semua pria yang mendekatinya, tapi siapa sangka dia akan menyerah padamu"
Mendengar ucapan ayahnya, Ming Mei menjadi sangat malu dan berkata dengan kesal
"Ayahhhhhh"
Jiang Chen juga tertawa dan berkata dengan percaya diri "Hahaha.... Maka ayah bisa percaya padaku"
Ming Mei mengalihkan pandangannya pada JiangChen dan dengan kesal "Kamu........"
Setelah mengatakan itu Ming Mei pun berjalan pergi dengan kesal, dan meninggalkan Jiang Chen dengan Ming Ho yang sedang tertawa lepas.
Melihat kepergian Ming Mei, Ming Ho tiba-tiba berhenti tertawa dan berkata dengan serius "Nak dengarkan aku, Jika kau menyukai putriku, aku harap kau bisa mengikuti tiga aturanku"
Jiang Chen juga menjadi serius dan berkata "Ayah bisa memberithuku"
Ming Ho tersenyum dan mengangkat 1 jarinya "Mudah saja, pertama kau harus menjaganya"
JiangChen mengangguk dan berkata "Aku pasti akan melakukannya"
"Kedua, kau tidak bisa memaksanya untuk menyukaimu, dan jika kau melakukannya, kau harus berhadapan langsung denganku"
"Tentu"
Ming Ho melanjutkan dengan serius "Terakhir, kau harus membuktikan bahwa kau layak untuknya, tapi kau tidak harus membuktikannya padaku ataupun Ming Mei, tetapi pada dirimu sendiri"
JiangChen menjawab dengan serius "Ayah bisa yakin akan hal itu"
Ming Ho mengangguk puas, dan berkata dengan tulus "Walaupun wajar untuk kultivator bisa memiliki tunangan di usia 12 dan menikah pada usia 15. Namun, itu hanya berlaku pada kultivator biasa yang tidak memiliki bakat dan memilih untuk berkeluarga, tapi aku yakin kamu berbeda"
Jiang Chen mengangguk dan berkata "Nasihat paman akan selalu aku ingat"
Ming Ho tersenyum "Aku benar-benar tidak keberatan dengan kau memanggilku ayah, dan ayahmu Jiang Jian memiliki hubungan yang cukup baik dengan Klan Ming, sehingga aku cukup nyaman dengan panggilanmu"
JiangChen menggelengkan kepalanya "Aku berjanji pada paman, bahwa aku akan berusaha menjaga Ming Mei sebaik mungkin, dan jika itu ditakdir aku pasti akan memanggil anda ayah dimasa depan"
Ming Ho mengangguk puas dengan prilaku Jiang Chen "Maka aku tidak akan memaksa, dan sebaiknya kau kejar Ming Mei, lalu katakan padanya untuk memanggil kakeknya"
Jiang Chen mengangguk dan berbalik, lalu mulai berlari menuju arah Ming Mei pergi, sedangkan untuk Ming Ho, dia juga berbalik dan pergi menuju arah yang berlawanan dengan JiangChen.
Saat ini Ming Mei sedang berjalan dilorong, dengan ekspresi wajah yang kesal dan bergumam "Kenapa orang bodoh itu bisa sangat tak tahu malu, dan kenapa ayah ingin mengundangnya makan malam, apakah mereka berkerja sama di belakangku"
Setelah berpikir sesaat Ming Mei Menggelengkan kepalanya dan berkata "Untuk apa ayah melakukan itu, dan harusnya mereka belum pernah bertemu sebelumnya"
Namun, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang Ming Mei, dan itu terdengar sangat dekat dengan telinganya.
"Tentu saja dia ingin menjodohkanmu denganku, karena dia tahu betul bahwa aku adalah pria yang baik dan jujur"
Ming Mei terkejut dan langsung berbalik, dibelakangnya dia melihat Jiang Chen yang sedang tersenyum padanya dengan tulus dan memasang wajah tanpa dosa.
Melihat Jiang Chen, Ming Mei tidak mengatakan apapun dan lansung berbalik kembali mengabaikannya, sambil berjalan menjauh.
Jiang Chen tidak diam saja, dia berlari kedepan Ming Mei dan menghalangi di depannya, sambil tersenyum dan berkata dengan nada yang lembut "Apakah aku melakukan sesuatu yang salah padamu? Jika ya, maafkanlah aku"
Ming Mei mendengus kesal dan memalingkan wajahnya "Hmm.... Setelah apa yang kau lakukan, kau hanya mengatakan maaf"
Jiang Chen berkata dengan pasrah "Terus apa yang harus aku lakukan, haruskah aku memelukmu dan menyatakan ketulusanku padamu"
Mendengar itu, pipi Ming Mei berubah merah muda dan berkata dengan kesal "Bodoh apa yang katakan.... Awas saja kau kalau mengikuti lagi"
Setelah mengatakan itu Ming Mei pun berbalik dan berjalan menjauh, sambil menghentak-hentakan kakinya karna kesal, sedangkan Jiang Chen dia hanya menyeringai melihat itu.
Sepanjang jalan Ming Mei terus bergumam dengan kesal
"Kenapa dia begitu menjengkelkan"
"Aku tidak menyukainya"
"Dia bahkan tidak merasa bersalah setelah semua yang dia lakukan"
"Setiap aku melihat wajahnya, aku menjadi kesal"
"Walaupun dia sedikit tampan seharusnya dia tidak bertindak seenaknya"
"Hm..... Dia memang cukup tampan, dan senyumnya yang tadi terlihat cukup tulus"
Ming Mei berbalik dan melihat bahwa Jiang Chen tidak mengikutinya, dia pun sedikit merasa bersalah dan hendak berjalan kembali menuju arah Jiang Chen.
Namun, setelah sampai disana, dia melihat bahwa Jiang Chen sudah tidak ada lagi disana, sehingga dia pun menjadi gelisah dan merasa lebih bersalah karena dia pikir Jiang Chen pergi karenanya.
Tepat saat Ming Mei akan berlari dan mencari Jiang Chen, tiba-tiba sebuah tangan besar dan hangat menepuk pundaknya, lalu terdengar suara yang lembut dari belakangnya
"Apakah kau mencariku"
Ming Mei berbalik dan melihat Jiang Chen yang sedang tersenyum padanya.
Ming Mei Mendengus, tapi sekarang dia tidak memalingkan wajahnya "Hm...Aku tidak mencarimu, hanya saja aku harus menghargai setiap tamu yang datang Ke KlanMing"
Jiang Chen berkata dengan acuh tak acuh "Baiklah kalau begitu kau tidak perlu lagi mengikutiku, aku akan pergi sendiri"
Ming Mei membalas dengan tergesa-gesa "Tunggu, apakah ayah tidak mengatakan sesuatu padamu"
Jiang Chen tersenyum dan berkata "Sebenarnya ayahmu menyuruhku, untuk memintamu memanggil kakekmu, tapi sepertinya kau tidak membutuhkanku untuk menemanimu, maka aku akan pergi"
Ming Mei yang melihat Jiang Chen akan berbalik, tiba-tiba berkata "Tunggu aku membutuhkanmu"
Jiang Chen menyeringai dan pura-pura tidak mendengarnya
"Apa? Aku tidak mendengarnya"
Ming Mei memerah dan segera menunjuk Jiang Chen dengab kesal "Bodoh maksudku, karena ayah sudah menyuruhmu, maka kau harus menemuinya secara langsung"
Jiang Chen menggelengkan kepalanya dan berkata dengan pelan, sambil berjalan berbalik "Tidak usah sebaiknya aku pulang saja"
Ming Mei yang kesal pada Jiang Chen akhirnya menarik kerah baju Jiang Chen dan berkata dengan melas
"Maafkan aku, aku seharusnya tidak bersikap seperti itu kepadamu"
Jiang Chen tersenyum dan berkata "Apa yang kau katakan, aku ingin pulang, karena aku merasa tidak ada lagi yang harus aku lakukan disini"
Ming Mei berkata denga tegas "Tidak kau harus menemui kakekku terlebih dahulu, dan baru kau bisa pulsng"
Jiang Chen pura-pura berpikir sejenak dan berkata "Baiklah karena kamu, aku akan melakukannya"
Ming Mei senang dengan jawaban Jiang Chen, sehingga dia berkata dengan gembira "Maka sekarang ikutilah aku"
Jiang Chen mengangguk setuju dan tersenyum, lalu mengikutinya