Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upaya Pengembalian Tubuh yang Gagal Manis
Katedral pusat Roma masih menyisakan aroma belerang dan debu marmer yang terbakar. Di tengah puing-puing kaca patri yang hancur, Bianca dan Lorenzo berdiri mematung. Sesaat yang lalu, ledakan cahaya biru itu terasa begitu meyakinkan. Bianca sudah merasakan tarikan pada jiwanya, sebuah sensasi elastis seperti ditarik kembali ke rumah yang seharusnya. Ia bahkan sempat bersorak dalam hati karena membayangkan akan kembali mengenakan daster kesayangannya, bukan jas pria seharga mobil mewah yang terasa sangat berat ini.
Namun, saat asap menipis, kenyataan menghantam lebih keras daripada ledakan kristal tadi.
Bianca (dalam tubuh Lorenzo) menatap tangannya. Masih besar. Masih ada tato naga yang melilit di pergelangan tangannya. Ia menunduk dan melihat sepatu pantofel kulit buaya ukuran 44 yang masih membungkus kakinya.
"Mas Lorenzo..." suara berat Lorenzo keluar dari mulut Bianca dengan nada merengek yang sangat kontras. "Kok... kok saya masih tinggi banget ya? Dan kok saya masih punya jakun?"
Di seberangnya, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) juga sedang memeriksa dirinya sendiri. Ia menyentuh pipinya yang halus, lalu menarik napas dalam-dalam, merasakan kapasitas paru-paru yang jauh lebih kecil dari biasanya. Wajah cantiknya—yang seharusnya dihuni jiwa Bianca—kini tampak sangat muram dan dingin.
"Gagal," desis Lorenzo dengan suara lembut Bianca yang terdengar sangat menyeramkan saat sedang marah. "Ritualnya gagal total."
Dante berlari menghampiri mereka dengan tablet yang layarnya retak seribu. Ia berlutut di depan altar, mengumpulkan serpihan kristal hitam yang kini telah kehilangan seluruh cahayanya.
"Secara teoritis, frekuensi kalian sudah sinkron," gumam Dante, lebih pada dirinya sendiri daripada pada kakak-kakaknya. "Resonansi emosional kalian saat ledakan tadi mencapai puncaknya. Kalian saling melindungi, kalian saling... yah, kalian punya ikatan. Harusnya itu sudah cukup untuk memicu gerbang pembalikan."
"Terus kenapa kami nggak balik, Dante?!" teriak Lorenzo (tubuh Bianca). Ia mencoba melangkah maju, tapi karena jas Lorenzo yang dipakai tubuh Bianca terlalu panjang, ia tersandung ujung kainnya sendiri.
Valerio menangkap Lorenzo sebelum ia mencium lantai. "Hati-hati, Kak. Tubuh Bianca ini tidak punya keseimbangan militer seperti tubuhmu."
Dante mengarahkan senter dari ponselnya ke pola energi yang tertinggal di lantai. "Masalahnya bukan pada niat kalian. Masalahnya adalah kristal ini. Isabella menggunakannya terlalu kasar. Kristalnya 'terkunci' dalam mode proteksi. Alih-alih menukar kembali jiwa kalian, ledakan tadi justru... menyolder kalian."
Bianca (tubuh Lorenzo) melongo. "Disolder? Maksudnya saya paten di sini?"
"Bukan paten permanen," koreksi Dante cepat saat melihat Bianca mulai berkaca-kaca (yang terlihat sangat aneh di wajah sang Capo). "Tapi kristal ini butuh waktu untuk 'mengisi daya' kembali. Dan ada variabel baru: karena ledakan tadi terjadi di tengah emosi yang kuat, jiwa kalian sekarang berada di ambang pintu masing-masing, tapi pintunya macet. Kalian terjebak di tengah-tengah."
"Gagal manis," gumam Bianca lesu. "Gagalnya estetik banget, pakai kembang api biru segala, tapi hasilnya tetep zonk."
Suara sirine polisi Italia (Polizia) terdengar semakin mendekat dari arah luar katedral. Valerio segera mengokang senjatanya.
"Kita harus pergi. Sekarang. Skandal di katedral ini sudah cukup untuk membuat menteri pertahanan turun tangan. Jika mereka menemukan Lorenzo De Luca dalam kondisi seperti ini, klan kita akan tamat sebelum matahari terbit."
Mereka segera bergerak menuju pintu rahasia di bawah sakristi. Bianca (tubuh Lorenzo) harus menggendong Antonio yang masih pingsan di bahunya. Tubuh Lorenzo yang kuat membuat pekerjaan itu terasa ringan, tapi Bianca terus-menerus meminta maaf pada Antonio yang tak sadarkan diri.
"Maaf ya, Mas Antonio, nanti kalau udah aman saya kasih pijat refleksi gratis," bisik Bianca sambil berlari zigzag melewati lorong bawah tanah yang sempit.
Di belakangnya, Lorenzo (tubuh Bianca) harus berusaha keras untuk tidak mengeluh. Mengenakan jas pria yang kedodoran dan berlari di lorong lembap dengan tubuh wanita yang tidak terlatih adalah siksaan fisik yang lebih berat daripada latihan special forces mana pun yang pernah ia jalani.
"Bianca, berhenti bicara pada orang pingsan dan percepat langkahmu!" bentak Lorenzo.
"Iya, Mas Bos! Galak banget sih, padahal lagi pakai muka imut saya," balas Bianca.
Dua jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah aman (safe house) yang jauh lebih kecil dan tersembunyi daripada vila di Tuscany. Rumah ini dulunya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen palsu klan De Luca. Di sinilah, di ruang tengah yang sempit dan diterangi lampu neon yang berkedip, kegagalan manis mereka terasa semakin nyata.
Bianca duduk di sofa kulit yang sudah pecah-pecah. Ia menatap cermin kecil di dinding. Ia mencoba tersenyum, tapi yang tampak di cermin adalah senyum miring sang mafia yang terlihat sangat licik.
"Mas Lorenzo, coba deh sini duduk sebentar," ajak Bianca.
Lorenzo (tubuh Bianca) duduk di kursi kayu di seberangnya. Ia mengusap wajahnya yang cantik dengan kasar. "Apa lagi, Bianca? Aku sedang mencoba memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada dewan klan bahwa Capo mereka belum kembali ke tubuh aslinya."
"Dante bilang jiwa kita sekarang 'tersolder', kan? Berarti kita makin bisa ngerasain perasaan masing-masing?"
Lorenzo terdiam. Ia memejamkan mata. Sejak kegagalan ritual tadi, ia bisa merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak hanya merasakan emosi Bianca, tapi ia bisa mendengar sayup-sayup pikiran Bianca yang sedang memikirkan... bakso?
"Kau sedang lapar, ya?" tanya Lorenzo tiba-tiba.
Bianca terlonjak. "Kok tahu?! Wah, beneran deh! Saya lagi ngebayangin bakso urat pedas yang di depan kampus saya. Pakai cuka dikit, sambelnya banyak... beuh!"
Lorenzo mendengus. "Pantas saja perutku—maksudku perutmu—terasa melilit. Pikiranmu tentang makanan pedas itu merusak konsentrasiku."
"Nah, ini dia gagal manisnya!" Bianca menepuk tangannya dengan semangat. "Meskipun kita gagal tukeran balik, sekarang kita punya kekuatan super! Kita bisa komunikasi tanpa ngomong. Kalau nanti ada musuh lagi, Mas Lorenzo tinggal kirim kode lewat pikiran, terus saya yang pukul. Praktis, kan?"
Lorenzo menatap Bianca dengan tatapan datar. "Itu bukan kekuatan super, Bianca. Itu adalah mimpi buruk bagi privasiku."
Dante masuk ke ruangan membawa sebuah buku tua besar bersampul kulit manusia—atau setidaknya itu yang dipikirkan Bianca saat melihatnya.
"Aku menemukan catatan kaki di naskah Il Sacrificio. Dikatakan bahwa jika ritual pertama gagal karena intervensi eksternal, kita bisa melakukan 'stimulasi kejutan' untuk memaksa jiwa kembali ke tempat asalnya," jelas Dante.
"Stimulasi kejutan? Maksudnya disetrum lagi?" tanya Valerio yang sedang membersihkan lukanya.
"Bukan kejutan listrik. Tapi kejutan emosional atau fisik yang ekstrem. Sesuatu yang membuat jiwa merasa sangat terancam atau sangat... bahagia, sehingga ia secara insting akan mencari perlindungan di wadah aslinya," Dante menatap Bianca dan Lorenzo secara bergantian.
"Kejutan emosional ekstrem? Kayak nonton film horor?" usul Bianca.
"Terlalu lemah," sahut Dante. "Harus sesuatu yang mengguncang eksistensi kalian."
Bianca tiba-tiba punya ide. Ide yang sangat, sangat buruk. "Gimana kalau... kita coba buat masing-masing dari kita marah banget? Mas Lorenzo, coba Mas hancurin koleksi jam tangan mahal kamu di depan saya. Eh, jangan ding, itu sayang. Gimana kalau... Mas Valerio pura-pura mau nembak saya?"
"Jangan gila, Bianca," potong Lorenzo (tubuh Bianca).
"Atau..." Dante berdehem, wajahnya sedikit memerah. "Ada satu lagi. Dalam beberapa literatur alkimia kuno, ciuman dari dua jiwa yang tertukar bisa menciptakan sirkuit tertutup yang menarik kembali jiwa ke tubuh masing-masing. The Kiss of Life."
Hening.
Valerio yang sedang minum air langsung tersedak. Bianca (tubuh Lorenzo) membeku, sementara Lorenzo (tubuh Bianca) membelalakkan matanya.
"Ciuman?" bisik Bianca. "Maksudnya... saya harus nyium diri saya sendiri yang lagi dihuni Mas Lorenzo? Dan Mas Lorenzo harus nyium badannya sendiri yang lagi saya huni?"
"Secara teknis, iya," jawab Dante sambil menatap tabletnya dengan sangat serius, seolah-olah ia sedang membahas strategi perang. "Ini adalah bentuk kejutan sensorik paling kuat bagi jiwa yang sedang tersolder."
Lorenzo berdiri dengan kaku. "Tidak. Itu tidak masuk akal. Itu konyol. Aku tidak akan mencium diriku sendiri."
"Tapi Mas, ini demi kita semua!" Bianca berdiri juga, menjulang tinggi di depan tubuhnya sendiri. "Cuma nempel dikit doang! Kayak nempel pas lagi kena sariawan gitu lho. Masa Mas mau selamanya jadi cewek imut kayak saya?"
"Aku lebih baik jadi cewek imut daripada harus melakukan tindakan narsistik yang menjijikkan itu," balas Lorenzo, meski telinganya (telinga Bianca) terlihat memerah.
"Ayo dong, Mas! One, two, three, go!" Bianca mendekatkan wajah Lorenzo yang sangar ke wajah Bianca yang cantik.
Valerio menutupi matanya dengan tangan. "Aku tidak melihat. Aku bersumpah aku tidak melihat."
Bianca memejamkan mata, bersiap untuk memberikan "kejutan emosional". Lorenzo juga memejamkan mata, tampak seperti orang yang sedang menunggu hukuman mati. Bibir mereka hampir bersentuhan...
TOK! TOK! TOK!
Pintu rumah aman digedor dengan sangat keras.
"LORENZO! KELUAR KAU! KAMI TAHU KAU DI DALAM!" sebuah suara berat dari luar berteriak.
"Itu paman tiri kita, Uncle Vinnie," bisik Valerio sambil mencabut senjatanya. "Dia salah satu petinggi dewan klan yang paling tidak menyukai kepemimpinan Lorenzo. Sepertinya berita skandal katedral sudah sampai ke telinganya."
Upaya pengembalian tubuh lewat ciuman itu gagal total sebelum sempat dimulai.
"Gagal manis lagi," keluh Bianca sambil mengacak-acak rambut Lorenzo yang rapi. "Tadi dikit lagi padahal. Udah kerasa tuh setruman-setruman cintanya."
"Itu bukan setruman cinta, itu rasa jijik yang luar biasa," sahut Lorenzo, meski napasnya sedikit tidak beraturan.
Mereka sekarang berada di bawah tekanan baru. Bukan hanya Isabella Moretti yang kini entah menghilang ke mana, tapi keluarga mereka sendiri mulai berbalik melawan mereka. Dewan klan De Luca menuntut penjelasan, dan mereka tidak akan bisa bersembunyi selamanya.
Dante menutup bukunya. "Kita tidak punya waktu lagi untuk eksperimen. Vinnie membawa pasukannya. Kita harus menghadapi mereka sebagai 'Lorenzo' dan 'Bianca'. Mau tidak mau, kalian harus tetap berakting."
Bianca (tubuh Lorenzo) menghela napas panjang. Ia merapikan jasnya, memasang wajah paling sangar yang ia bisa, dan menatap Lorenzo. "Siap, Mas Bos? Kita hadapi Paman Vinnie pakai gaya mafia rasa sinetron."
Lorenzo (tubuh Bianca) berdiri di sampingnya, membetulkan kerah jas Lorenzo yang ia pakai. "Tunjukkan wibawaku, Bianca. Jika kau gagal, aku akan benar-benar mempertimbangkan saran Dante tentang ciuman itu hanya untuk membungkammu."
Bianca nyengir. "Lho, kok jadi Mas yang nawarin? Katanya jijik?"
"Diam dan jalan!"
Mereka melangkah menuju pintu depan, bersiap menghadapi skandal baru yang menanti. Tubuh mereka mungkin gagal kembali, tapi malam itu, di tengah kegagalan yang manis dan getir, mereka menyadari bahwa meski terjebak di tubuh yang salah, mereka mulai terbiasa berbagi detak jantung yang sama.