Zea telah berjanji pada dirinya untuk menutup hatinya rapat-rapat dan tidak ingin menjalin sebuah hubungan baru, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta karena penghianatan yang pernah di alaminya.
Tapi karena ancaman yang di lakukan seorang pria asing yang tidak dia kenal dan memaksanya untuk menikahi dirinya dan pada akhirnya zea dengan terpaksa menikah.
Namun siapa sangka pernikahan yang di alami zea adalah sebuah neraka baginya, karena pria yang telah me jadi suaminya tersebut memiliki tujuan balas dendam pada keluarga zea hingga zea harus menjalani takdir hidup yang begitu menyakitkan hati dan fisiknya.
Next....
NB: ini cerita menguras air mata gaes siapkan tissue yah, dan menguras emosi dengan kelakuan bejat alvaro
•
•
•
•
Selamat membaca karya pertamaku 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Memaksa nyaman dengan versi yang tak sesuai keinginan...
✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰
Di malam harinya pukul 01.00 zea terbangun karena lapar, demamnya sudah turun dan rasa sakit di badannya juga sudah perlahan menghilang, ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya untuk keluar mencari makanan di dapur.
Ia membuka kulkas mencoba mencari sesuatu yang bisa di makan, dan alhamdulillah ada roti tawar kemudian di ambilnya dan di bawa ke meja makan, zea menaburkan selai kacang lalu memakannya dengan lahap sesekali meneguk air putih.
"Alhamdulillah akhirnya rasa lapar di perut zea hilang." Gumamnya sendirian.
Ketika sedang asik memakan roti tawar tersebut tiba tiba alvaro muncul di hadapannya dan menatap zea dengan tajam, zea sontak di buat kaget dan langsung berdiri karena kondisi lampu dapur dalam keadaan tidak di nyalahkan.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku hahh, apa kamu mencuri?" sarkas alvaro.
Rasa takut yang sempat menghampirinya seketika menghilang setelah mengenal suara orang yang di depannya.
"Ma.. maaf kak zea memakan roti yang di dalam kulkas tadi zea sangat lapar." suara zea yang gugup sambil menunduk ketakutan.
Alvaro melenggang pergi begitu saja setelah mengambil segelas air putih.
"Besok kamu harus bangun pagi dan menyiapkan semua kebutuhanku." Ucap alvaro ia menghentikan langkahnya.
"Baik kak." sahut zea.
Alhamdulillah dia tidak menghukumku gara gara mengambil makanan di rumah ini. gumam zea dalam hati.
Setelah dirinya sudah tidak lapar lagi zea membereskan kembali kemudian dia kembali ke dalam kamarnya, tidak membutuhkan waktu lama zea sudah terlelap ke alam mimpi.
******
Matahari pagi mulai menampakkan diri, zea bangun pagi sesuai perintah alvaro tadi malam, setelah ia membersihkan diri zea mulai membantu bi muna untuk menyiapkan sarapan setelah selesai dia bergegas ke kamar alvaro untuk menyiapkan kebutuhan alvaro suaminya.
Zea mengetuk pintu setelah berada di depan pintu kamar milik alvaro.
"Masuk." Kata alvaro.
Kemudian zea masuk, sebenarnya ada sedikit rasa takut ketika memasuki kamar alvaro takut dia akan membuat kesalahan yang bisa menimbulkan amarah alvaro.
"Siapkan baju yang akan ku pakai ke kantor." perintah alvaro.
Zea mengangguk patuh dan segera menuju walk in closed untuk menyiapkan pakaian kantor milik alvaro, sementara alvaro menuju kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama alvaro selesai dengan kegiatan mandinya, dan zea juga sudah menyiapkan keperluan alvaro termasuk menyiapkan tas kerja alvaro.
"Kak saya keluar dulu, saya sudah menyiapkannya." Ucap zea yang melihat alvaro keluar dari kamar mandi.
"Eeemm."Sahut alvaro singkat.
Tumben alvaro hari ini tidak berlaku kasar padanya, Syukurlah. batin zea
Zea pun keluar dari kamar alvaro, kemudian melanjutkan untuk melakukan pekerjaan yang lainnya.
Zea berniat untuk menyiram tanaman di halaman rumah karena kalau dirinya menampakan wajah di ruang makan alvaro akan memarahinya.
Sementara alvaro sudah selesai bersiap dan ia menuju ruang makan untuk sarapan.
Tidak membutuhkan waktu lama alvaro telah menyelesaikan sarapannya dan langsung melenggang pergi menuju kantornya.
Setibanya di kantor alvaro langsung fokus pada layar leptop yang ada di hadapannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan milik alvaro.
"Masuk." perintah alvaro.
Roy membuka pintu lalu masuk dengan sebuah Maap di tangannya.
"Ini jadwal meeting hari ini tuan." Ucap roy menyerahkan berkas yang di tangannya.
Alvaro menerima berkas dan menelitinya satu per satu kemudian dia dan roy segera menuju ruang meeting.
Dua jam telah brlalu ketika alvaro sedang fokus menyaksikan persentase dari clientnya tiba tiba ponsel alvaro bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Alvaro tidak menghiraukannya karena sedang fokus tapi tetap saja telponnya terus bergetar.
Alvaro dengan kesal undur diri dan mempercayai roy untuk meeting hari ini lalu segera mengangkat telponnya yang sejak tadi berdering.
"Halo.." Alvaro membuka suara dengan datar.
"Halo al, apa kabar kenapa kamu lama sekali mengangkat telponnya, apa kamu sengaja mengabaikan telpon dari ibumu sendiri?" Kesal mama rena di seberang sana.
"Aku sedang mengadakan meeting ma.. ada apa menelpon? " tanya alvaro.
"Kamu harus pulang besok ada yang perlu mama sudah memutuskan kalau kamu akan bertunangan bersama celin dan keluarga celin sudah menerimanya, kamu harus pulang al." Ucap mama rini dengan antusias dan tanpa beban sedikit pun.
Sementara alvaro yang mendengar hal itu tentu saja tidak terima bagaimana mungkin mama rena dengan seenaknya menyurhnya untuk bertunangan dengan wanita yang tidak di inginkannya.
"Mama tentu alvaro tidak bisa ma, bagaimana bisa mama mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku, sementara aku yang akan mengalaminya." Sarkas alvaro sudah mulai emosi.
"Mama tidak mau tau kamu harus pulang al, besok kamu harus tiba di sini, jika tidak kamu tidak akan menemuikunlagi dalam keadaan bernyawa al, camkan itu." Ucap mama rena dengan nada emosi dan langsung mematikan telponnya.
Alvaro tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan ibunya, ia terlihat prustasi.
"Aaaahhhrrggg." Emosi alvaro sambil membanting semua barang barang yang ada di hadapannya.
Roy mendengar keributan di dalam ruangan bosnya dan langsung menghampirinya, melihat alvaro di penuhi emosi roy memberanikan diri untuk bertanya barangkali bisa sedikit membantu.
"Apa yang sedang terjadi tuan?" Pertanyaan roy membuat alvaro menatap tajam ke arahnya.
"Segera pesan dua tiket untuk penerbanganku besok bersama zea, aku akan pulang dan ku harap kamu bisa menangani perusahaan disini." perintah alvaro dengan tegas.
"Baik tuan." sahut roy.
Roy segera keluar dan menjalani tugas yang di perintahkan alvaro.
Setelah kepergian roy, alvaro kembali fokus pada benda pipih yang ada di hadapannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan agar tidak terbengkalai nantinya selama ia berada di london.
Sesekali alvaro memikirkan perkataan ibunya.
******
Malam harinya alvaro baru saja sampai rumah tepat pukul 20.45 langsung menuju kamar miliknya. pikiran alvaro masih saja tertuju pada perkataan ibunya melalui telpon siang tadi.
Alvaro berpikir bahwa dia harus mengajak zea untuk di kenalkan terhadap ibunya, agar tidak selalu mendesaknya untuk bertungan dengan wanita pilihan mama.
Lima belas menit alvaro memikirkan cara agar bisa meyakinkan mama rena besok ketika sampai di negara tujuannya yaitu london tempat alvarp di besarkan meski tidak lahir di sana.
Aaahhh mungkin harus berendam diri sejenak agar pikiranku bisa tenang.pikirnya
Kemudian alvaro segera berendam untuk mungkin saja pikirannya bisa benar benar sedikit tenang.
Sementara zea sedang asik menonton dia tidak sadar jika alvaro sudah pulang mungkin karena ke asyikan menonton.
Zea sedang asyik menonton film korea kesukaannya yang di putar di salah satu channel TV Indonesia sesekali dia ikut menggeram dan tersulut emosi ketika menyaksikan adegan pemeran antagonisnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini haah, enak saja bersantai seperti ini." Sarkas alvaro seketika mematikan TV.
Zea menunduk takut melihat alvaro tiba tiba muncul memarahinya.
"Segera kemaskan barang barangmu untuk besok." Kata alvaro sambil melempar satu tiket yang tertera nama zea.
Tentu saja zea sangat di buat terkejut melihat tiket tersebut, ia memberanikan diri untuk bertanya pada alvaro.
"Maaf kak zea tidak bisa ikut, saya mohon biarkan saya tetap disini." Ucap zea dengan ekspresi memohon.
"Apa maksudmu hahh? saya tmenerima bantahan dari kamu." Sinis alvaro menghampiri zea yang sudah berani menolaknya spontan tangannya mencengkram dagu zea.
Zea hanya meringis kesakitan mengeluarkan air mata.
"Bagaimana saya bisa menjenguk mama jika saya berjauhan." Sahut zea yang sudah mengeluarkan cairan bening di kedua matanya.
Zea tidak bisa membayangkan jika dia tinggal di berbeda negara dengan mama rini, zea menggeleng sama sekali tidak menyetujui keinginan alvaro meskipun alvaro kini sudah sah menjadi suaminya.
"Saya tidak suka dengan penolakanmu yang tidak berguna itu." Alvaro sudah di penuhi dengan emosi dan dengan kasar dia melepas cengkramannya, kemudian berlalu pergi begitu saja.
★
★
★
★
Bersambung...
Terimakasih sudah Setia menunggu kelanjutan ceirtanya.. jangan lupa tinggalkan jejak ya readers... like sebelum next dam beri vote se ikhlasnya saja 😊😊🙏