Awalnya, pernikahan itu baik-baik saja. Semua menjadi hangat, luka akibat masa lalu Ainayya Hikari Salvina sedikit demi sedikit mulai sembuh.
Tapi, pernikahan hangat itu tiba-tiba diterpa gelombang. Menghancurkan sebuah kepercayaan dan membuatnya meninggalkan rumah yang sudah mengajarkan arti sebuah keluarga harmonis.
Lalu, mampukah Albara Demian Dominic. Sang pelaku kehancuran tersebut memperbaiki rumah tangga yang sudah membuatnya sembuh dari kejadian di masa lalu? Bisakah Albara mengobati luka yang ia berikan pada istrinya?
Mari kita lihat bagaimana perjalanan Albara dalam mengejar cinta istrinya kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa sitepu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk (Revisi)
Setelah bermain satu harian dengan paman serta bibi cantiknya. Adam akhirnya pulang, di jemput oleh Intan, namun sebelum pergi. Lagi-lagi Adam menyampaikan bahwa Nayya akan menjadi istrinya di masa depan, membuat sang ibu hanya bisa menggelengkan kepala sedangkan sang adik.
Bara semakin membuat keponakannya marah.Malam menjelang, Bara yang biasanya bekerja di ruangannya kini berpindah ke kamar. Tidak ingin kecolongan karena takut Nayya sendirian dan mimpi buruk lagi seperti yang di ucapkan Nayya kemarin malam, maka ia memutuskan bekerja sambil mengawasi istrinya.
Seperti biasa, jika tubuh Nayya telah menyentuh ranjang. Maka matanya akan langsung terpenjam, terkadang Bara bingung. Apakah memang hanya istrinya yang bisa melakukanitu atau memang efek ranjang mereka tidak bisa mengalahkan insomnia yang ia derita.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Bara yang hampir selesai dengan pekerjaanya tiba-tiba terusik dengan suara di ranjang. Sang istri terlihat sangat gelis dalan tidurnya, bahkan selimut yang di gunakan kini melilit kedua kakinya.Tampaknya Nayya mulai mimpi buruk kembali, sebenarnya bukan sekedar mimpi. Itu sebuah kejadian di masa lalu, ketika ibu tirinya menyiksanya dengan berbagai macam cara.
Mulai dari memukul, mencambuk bahkan menempelkan setrika panas di tubuhnya dengan di lapis pakaian tipis.Bara tidak berusaha membangunkan, bukan karena tidak perduli. Tapi ia bingung harus melakulan apa ketika melihat seseorang bermimpi buruk.
Kegelisahan Nayya semakin menjadi-jadi, tubuhnya berguling ke kiri dan ke kanan. Membuat Bad Cover mereka terlepas dari segala sisi. Ranjang yang semula rapi kini berantakan, seperti ada pergulatan di atasnya namun hanya di lakukan oleh Nayya seorang.
Setelah menunggu, akhirnya Nayya terbangun. Ia bahkan langsung menangis dan memanggil bundanya kembali, sepertinya mimpi itu sudah membuatnya sangat ketakutan. Dan hanya sang bunda yang mampu menenangkannya.
Nayya yang terduduk mulai mencari, ia yang sedang sedih akibat mimpi tersebut berusaha menyakiti dirinya kembali. Hal itu tidak lepas dari pandangan Bara.
Melihat bahwa istrinya akan berbuat sesuatu yang melukai diri sendiri. Bara memutuskan menghampirinya, bertanya apa yang terjadi agar pikiran istrinya kembali tenang.
Dengan wajah normak dan terkesan ramah, Bara duduk di Sampin Nayya yang sedang mencari benda tajam di meja samping tempat tidur.
"Mengapa kau terbangun? Apakah kau mimpi buruk? Atau ingin minum air?"
Suara Bara mengejutkan Nayya. Kepalanya langsung tertunduk ketika tahu bahwa suaminya sedang duduk di samping. Tiba-tiba saja Nayya merasa kena karma akibat membohongi suaminya dengan mimpi buruk dan kini ia mengalami mimpi buruk itu lagi.
"Apakah kau mimpi buruk? Atau kau memimpikan kejadian di masa lalu yang pernah kau alami."
Sekali lagi, Bara bertanya. Meskipun tidak terbiasa dengan banyakbicara, Bara berusaha mengajukan pertanyaan pada Nayya berulang kali.
Nayya menganggukan kepalanya dua kali menandakan bahwa ia mengalami kedua hal tersebut.
"Apa kau masih takut jika aku akan mencampakan mu?" Uji Bara.Nayya mengangguk tiga kali secara naluri, lalu menggelengkan kepalanya ketika menyadari bahwa ia setuju jika dia masih takut jika suaminya membuang dirinya karena penyakitnya.
Pergantian peristiwa itu membuat Bara tersenyum kecil. Geli melihat Nayya yang tidak bisa berbohong."Mau minum?"
Sekali lagi, Nayya mengangguk kepalanya. Entah mengapa ia merasa sangat haus setelah Bara mengajaknya berbicara.Mengambil air minum yang sudah tersedia di meja kerja yang digunakan saat bekerja, Bara lalu memberikannya pada Nayya. Wanita itu tampak sangat haus karena air tersebut habis dalam hitungan menit.
"Apa kau ingin tidur?"
Nayya menggelengkan kepalanya, ia takut mimpi itu datang lagi dan tidurnya tidak lagi nyaman karena rasa takut.
"Apa mimpi itu membuat mu bisu?" Bara menjadi kesal karena Nayya hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya setiap kali di tanya.Mendengar nada kesal Bara, membuat Nayya menjadi sadar dengan tingkah lakunya yang seperti orang bisa karena rasa takutnya pada sang suami.
"T-idak," ucap Nayya akhirnya.
"Lalu, mengapa kau selalu menggelengkan kepala mu setiap kali aku bertanya?"
Tidak ingin membuat sang suami tersinggung. Nayya langsung mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah samping, tidak berani melihat ke arah suaminya yang sedang menatapnya dengan sangat intens.
"Sekarang kembalilah tidur, aku akan menjaga mu di sini. Jangan lakukan hal yang merusak tubuh mu lagi. Apakah kau sudah mendengarnya?"
"Tapi Nayya takut tidur, Nayya tidak ingin mimpi itu datang kembali," ucap Nayya sedih.
Tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang karena mimpi buruk sang istri. Membuat Bara menghembuskan nafas kasar, lalu mengajaknya duduk di pangkuannya.
"Sekarang tidurlah, aku akan menjaga mu seperti ini," ucap Bara sambil menyandarkam tubuhnya di kepala ranjang sambil memangku Nayya.
Tubuh kecil Nayya sama sekali tidak membuat Bara keberatan. Ia bahkan mulai berfikir bahwa porsi makan Nayya harus di perbanyak agar tubuhnya bisa semakin berisi.
Gugup, Nayya sangar gugup saat duduk di pangkuan suaminya. Tapi ia juga merasa nyaman, ini kali pertama ia berada di atas tubuh suaminya. Dan membuat mata yang tidak mengantuk kini mulai tertutup.
Bara yang tidak melakukan apa pun selain memangku, Nayya akhirnya tertidur. Hal itu membuat Bara menjadi bertanya-tanya apakah Nayya memang mudah tertidur di segala tempat atau memang tubuhnya mampu membuatnya tidur dengan cepat.
"Sepertinya aku harus bertanya pada kak Intan mengapa dia biasa mudah tertidur," ucap Bara.Dan 10 menit
kemudian, mata Bara mulai tertutup.
Sudah tidak heran mengapa matanya melakukan hal semacam itu ketika berada di dekat Nayya. Walau pun, tidak
masuk akal. Tapi itu sebuh kenyataan yang sudah Bara rasakan selama beberapa minggu menikah dengan Nayya.
Mungkin itu adalah takdir, menikah dengan seseorang yang sudah ia buat menderita dan kini Bara harus bergantung pada wanita itu untuk bisa tidur seperti orang normal.Lucu dan tragis memang, tapi Tuhan selalu punya banyak rencana.
Semoga di masa depan, takdir itu tidak membuat keduanya terluka. Dan semoga mereka bisa hidup bahagia selamanya.