NovelToon NovelToon
Istri Ketiga Mas Bram

Istri Ketiga Mas Bram

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Poligami / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka Pradita

Sebuah pengorbanan dari seorang istri yang sudah menyiapkan seorang wanita terbaik untuk suaminya.

Bagaimana kisahnya? Ikuti kisahnya dan temukan jawabannya. Novel ini sarat akan makna bila diikuti sampai ending.

Ikuti kisah serunya yang dibalut religi di dalamnya.
Follow Instagram Author : ekapradita_87

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Penasaran dengan kisah Hanum, tunggu sekuelnya di Istri Pertama Mas Bram ya.

🍂🍂🍂

Selamat membaca!

"Hani kamu tuh apa-apaan sih, main peluk-peluk aja, kita itu sudah resmi bercerai, jadi jika kamu memeluk aku itu sudah haram hukumnya. Tolong ya! Aku ke sini hanya untuk menemui Devan dan melihat kondisinya," ucap Mas Bram sambil melepas pelukan Mba Hani dengan kasar.

Mba Hani langsung menitikkan air mata. Ia menangis dengan terisak karena perlakuan Mas Bram yang kasar padanya.

"Aku itu masih mencintaimu, Mas. Jadi aku belum terbiasa untuk tidak memelukmu di saat aku melihatmu, Mas."

"Kalau kamu mencintaiku harusnya kamu bisa setia sama aku. Tapi ya sudahlah, aku ingin melihat Devan, dimana dia?"

"Di kamarnya Mas," jawab Mba Hani dengan lirih.

Mas Bram langsung meninggalkan Mba Hani begitu saja menuju kamar Devan. Sementara Mba Hani kini sudah memandangku dengan sorot mata yang tajam.

Mba Hani mulai melangkah untuk mendekatiku. Saat Mba Hani sudah berada di hadapanku, aku terbitkan sebuah senyuman ramah sambil menyapanya.

"Mba Hani."

Tanganku sudah terangkat untuk bersalaman dengan Mba Hani, namun dia seperti tidak memperdulikannya, Mba Hani malah menyibakkan tanganku dengan kasar.

"Pelangi, pasti kamu kan yang menghasut Mas Bram agar menceraikan aku?"

Aku terkejut dengan pertanyaan yang lolos dari mulut Mba Hani, memang aku sebelumnya sudah menduga, bila pertemuanku dengan Mba Hani pasti akan berakhir seperti ini.

"Ma-maksud Mba bagaimana? Aku tidak mengerti."

Mba Hani semakin tersulut emosinya, dapat kulihat dari sorot matanya yang tajam dengan kedua alis yang saling bertaut.

"Halah, nggak usah pura-pura nggak ngerti deh kamu. Gara-gara mulut comel kamu yang mengadu pada Mas Bram saat melihatku jalan sama laki-laki lain di mall, Mas Bram jadi menceraikanku."

Perkataan Mba Hani membuatku terkesiap begitu kaget. Namun aku dengan cepat membantah semua tuduhan Mba Hani kepadaku.

"Bukannya Mas Bram menemukan buktinya sendiri tentang hubungan gelap Mba Hani dengan laki-laki lain?"

"Iya itu karena kamu penyebabnya, Pelangi! Semenjak kejadian itu Mas Bram, seperti mencari-cari kesalahanku karena dia mungkin sudah terhasut dengan perkataanmu. Aku tahu, semua ini pasti rencanamu untuk menyingkirkanku dan akhirnya kamu bisa jadi istri kedua Mas Bram."

"Astaghfirullah, kenapa Mba Hani menuduhku seperti ini tanpa bukti? Sumpah demi Allah Mba, aku hanya memberitahu pada Mas Bram sesuai dengan yang aku lihat, tanpa dilebihkan atau dikurangi. Mas Bram saat itu tidak mempercayaiku, aku malah baru tahu semalam kalau Mas Bram telah bercerai dengan Mba Hani."

"Nggak usah bawa-bawa Allah, aku tahu apa yang kamu inginkan, Pelangi! Dasar perempuan serakah yang tidak tahu diri, aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia bersama Mas Bram setelah merebut kebahagiaanku."

"Mba ini semua salah paham, aku benar-benar tidak pernah menghasut Mas Bram untuk menceraikan Mba Hani. Aku menerima posisiku dengan lapang dada dan cukup tahu diri sebagai istri ketiganya, tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiranku untuk menggantikan posisi Mba Hani atau Mba Hanum sekalipun. Aku tidak pernah berharap menjadi istri satu-satunya Mas Bram karena aku sudah bisa ikhlas dengan jalan hidupku ini."

Air mata tak dapat aku tahan dan lolos begitu saja membasahi pipiku.

"Ngapain kamu nangis, air mata buaya! Udah deh gak usah kamu nangis-nangis, kamu mau Mas Bram melihat kamu nangis dan semakin membenciku!"

Perkataan Mba Hani semakin membuat hatiku sakit. Napasku tercekat hingga sesak membelenggu dadaku, bahkan ketika Mba Hani mendorong tubuhku, aku hanya pasrah dan tidak melawannya.

Mba Hani seakan tidak puas telah membuatku hingga jatuh terjerambab di dasar lantai, ia ingin menyerangku kembali, namun beruntung saat itu Pak Rudi datang dan menengahi amarah Mba Hani.

Pak Rudi pun membawaku ke luar rumah.

"Pergi sana dasar wanita murahan, jangan berani-beraninya kamu datang ke rumah saya lagi, kamu itu adalah wanita yang hanya memikirkan kepentinganmu saja, karena kamu masih saja menerima tawaran Mas Bram sewaktu ingin mempersuntingmu," ucap Mba Hani mengusirku dengan kasar.

Setibanya di luar rumah, Pak Rudi langsung menuntunku kembali ke dalam mobil.

"Maaf ya Mba, lebih baik Mba tunggu di dalam mobil saja, Mba."

"Pak, boleh antar saya pulang ke rumah."

"Tapi Pak Bram, gimana Mba?"

"Tolong Pak."

Mendengar tangisanku yang begitu terisak, Pak Rudi akhirnya mulai melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Mba Hani.

"Maafkan aku Mas, benar kata Mba Hani, aku memang wanita murahan yang mau saja dijadikan istri ketiga olehmu, aku seperti benalu untuk rumah tangga kalian, sebaiknya aku pergi Mas, karena kedua anakmu lebih membutuhkanmu," batinku terus merintih merasakan kesedihan yang begitu dalam.

Pak Rudi mulai memacu kecepatan mobilnya, hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kami pun sudah tiba di halaman rumah. Pak Rudi kembali melajukan kendaraanya untuk menuju ke rumah Mba Hani setelah aku turun.

Aku berlari masuk ke dalam rumah setelah berhasil membuka pintu menggunakan kunci utama yang selalu aku bawa kemanapun. Aku berjalan dengan tergesa menuju ke kamar, hatiku masih terasa sesak karena isak tangis yang menumpuk di dadaku.

Sesampainya di depan pintu kamar, aku mulai menggenggam handle pintu, lalu langsung kubuka dengan perlahan. Tiba-tiba semua kenanganku bersama Mas Bram di rumah ini terlintas memenuhi isi kepalaku, membuat hatiku semakin sakit, membayangkan jika aku harus pergi dari rumah ini. Namun tidak bisa aku pungkiri, apa yang dikatakan Mba Hani menghancurkan segala impianku untuk hidup bersama Mas Bram sampai akhir hayatku.

Aku melemparkan tubuhku dengan kasar di atas ranjang besarku. kupandangi langit-langit kamarku dengan penuh air mata kesedihan. Perkataan Mba Hani masih terngiang begitu jelas di telingaku, membuat air mata begitu deras mengalir membasahi kedua pipiku.

Suara tangisanku semakin keras memenuhi seisi kamar, aku meluapkan seluruh rasa sakit yang menyesakkan di dadaku ini, melalui tangisan. Hingga keinginanku untuk pergi semakin membuncah, karena mungkin ini yang terbaik untuk Mas Bram dan kedua anak-anaknya. Aku tidak ingin terus dicap sebagai wanita murahan oleh Mba Hani dan selalu dipersalahkan dengan statusku sebagai istri ketiga.

Aku pun bangkit dari posisi tidurku dan melangkah menuju lemari pakaian. Aku langsung mengambil koper yang berada di dalam lemari dan mulai mengemasi semua pakaianku ke dalam koper. Tangisanku masih belum mereda, karena rasa sakit di hatiku begitu menguasaiku saat ini, membuatku mengabaikan statusku yang masihlah seorang istri. Saat ini yang ada dibenakku hanyalah pergi menjauh dari kehidupan Mas Bram untuk selamanya.

"Ibu, Ayah... Maaf aku harus kembali ke kampung dengan membawa kabar buruk ini, aku akan kembali tinggal bersama kalian," gumamku penuh kesedihan.

Saat semua pakaianku sudah masuk ke dalam koper, aku mulai menarik sleting koper untuk menutupi keseluruhannya. Namun tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang melingkar di perutku.

"Jangan pergi, jangan pernah tinggalin aku, Biru."

Suara itu sangat aku kenali, aku begitu terkejut ketika mengetahui kepulangan Mas Bram yang terkesan sangat cepat.

Mas Bram memeluk tubuhku dari belakang, dia meletakkan dagunya di bahuku. Napasnya begitu terasa hangat menerpa tengkukku yang tertutup hijab, dengan segera aku membalikkan tubuhku, hingga berhadapan dengan Mas Bram, sembari melepaskan tangannya yang melingkar di perutku.

Mas Bram mulai mengusap air mata di kedua pipiku dengan lembut. Tatapan matanya ikut sendu, mungkin karena Mas Bram dapat merasakan kesedihanku.

"Maafkan aku ya, aku terlalu khawatir dengan kondisi Devan sampai melupakanmu, ternyata Devan baik-baik saja. Hani telah membohongiku. Dia hanya ingin bertemu denganku agar dapat merayuku untuk kembali dengannya."

Aku sebenarnya agak terkejut dengan kenyataan yang dikatakan oleh Mas Bram, namun aku masih begitu terluka dengan hinaan yang dilontarkan oleh Mba Hani kepadaku. Hinaan itu seakan menginjak-injak harga diriku sebagai seorang wanita.

Melihatku masih diam tanpa berkata apapun, membuat Mas Bram terlihat semakin cemas. Mas Bram kemudian menangkup kedua sisi lenganku, sorot matanya begitu tajam menatapku.

"Aku mencintaimu, aku ingin tetap bersamamu. Aku meninggalkan Hani bukan karena aku tidak mencintainya, tapi karena dia telah mengkhianati pernikahannya sendiri dan itu semua bukanlah kesalahanmu."

Perkataan Mas Bram membuat aku memutuskan untuk menghentikan pergelutan yang bergejolak di hatiku. Aku masih tetap diam tak menjawab semua yang Mas Bram katakan padaku. Namun tiba-tiba Mas Bram menarik tubuhku dan langsung memelukku, aku pun menangis tersedu dalam dekapan Mas Bram.

"Aku juga mencintaimu, Mas. Hanya saja aku sudah melakukan hal yang salah, karena dulu aku menerima tawaranmu untuk menjadi istri ketigamu."

"Kamu tidak salah, karena sebelum aku menikah denganmu, aku sudah meminta izin terlebih dahulu dengan Hanum dan Hani. Mereka pun setuju, asalkan aku tetap dapat berlaku adil, bukankah dalam Al Quran tidak ada larangan untuk berpoligami."

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

"Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisa/4 : 3]

Itulah akhir dari drama menyedihkan sore itu. Akhirnya hatiku luluh dengan semua perkataan Mas Bram. Bahkan gejolak emosi yang sedari tadi menguasai pikiranku, seketika langsung mereda, karena untaian kata-kata yang keluar dari mulut Mas Bram.

🌸🌸🌸

Bersambung ✍️

Berikan komentar kalian ya?

Terima kasih ya.

1
Afternoon Honey
pertama kali baca karya penamu author Eka Pradita
Elisya Fina
bismillahirrahmanirrahim
mau coba baca crita tetang poligami,wlapun deg deg kan ku coba untuk memahaminya
dn mengambil hikmahnya dri crita ini,
Rosmawati/jnr
Bagus
Nila Hariyanti
keren ceritanya banyak ilmu agamanya
Eka Pradita: Makasih ya, baca cerita saya yang lain ya
total 1 replies
Agustin Ria Astuti
darius bukan🤔🤔🤔
Bunda Ayubi
Saya cari belum ada yaa kak yg judulnya Istri Pertama Mas Bram
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
penasaran bgt siapa sh priany
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
penasaran siapa sh yg udh memperkosa sofi
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
leo km hrs move on dr biru
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
biru km harus ingt bhw km sudah menikah
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
wah mas bram cmburu
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
yg sbr y bram glm kok plg cuma seminggu j
Erni Ynnn
biru bodoh
Erni Ynnn
Darius kyok'e yo 😅
Erni Ynnn
buat Darius bucin sm pelangi Thor..biar si mas Bram cemburu gitu 🤣🤣
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
bnr2y tuh mulut minta w jahit apa
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
sbr y hani
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
semoga istri pertama baik2j
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
udh cantik solehah lg
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
beruntung bgt bram punya istri sprt hani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!