NovelToon NovelToon
Perjodohan Dan Pernikahan

Perjodohan Dan Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Putritritrii

Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?

Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.

Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.

Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.


"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB25 - DAVINA MENGHILANG.

Pagi kembali menyapa. Kelihatan dari sinar matahari yang terbit dari ufuk timur. Kehangatannya, menyelimuti puncak kepala Davina. Dibawah terik matahari, kedua kakinya berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan yang baru saja ia tempati bersama Dave.

"Ini sangat jauh. Kenapa juga aku tidak membangkun, Dave. Rasanya sangat panas, tenggorakanku kering. Mana perumahan ini sungguh panjang jalannya." Davina menggerutu sendiri. Tangan yang penuh kantong pelastik, tak mampu mengusap peluh yang berkucuran sejak tadi.

Tin ... Tin ... Tin ...

Suara klakson terdengar dari arah belakang. Tapi, Davina sedikit pun tidak merasa kalau itu di arahkan ke dia. Pengendara mobil itu, menepi ke arah Davina, tanpa mematikan mesin mobilnya. Merasa ada yang mengikutinya, Davina menoleh dengan kaca yang terbuka.

Ekor matanya bertemu dengan si sopir.

"Maaf, Nona. Apa kau butuh tumpangan?" tanya pria si pengemudi.

Dahi Davina mengerut.

"Maaf, Tuan. Saya bisa berjalan." Sedikit senyum Davina berikan.

"Baiklah. Saya hanya menawarkan tumpangan, karena kita tetangga depan rumah. Kalau begitu, saya duluan," katanya dengan sopan. Davina mengangguk sebagai jawaban. Lalu, mobil sedan mewah itu kembali melaju kencang.

"Ramah sekaki dia. Baru tinggal di sini beberapa hari. Hanya dia yang menyapaku." Buru-buru ia berjalan cepat. Pikiran Davina, kembali mengarah ke Dave. Ia meninggalkan sang suami, ketika matanya masih terpejam.

Davina memilih pergi ke pasar, untuk berbelanja bahan masakan yang akan ia buatkan untuk Dave. Ini hari kedua bagi mereka tinggal di rumah baru tanpa keluarga. Masih banyak kekurangan, yang belum sempat mereka penuhui.

***

Di kediaman Dave dan Davina. Sinar cahaya kembali menyelinap masuk, dari celah jendela, hingga berlabu ke permukaan wajah Dave. Matanya berkedut, mencoba melawan sinar yang enggan pergi dari wajahnya. Ia bergerak, mengganti posisinya. Hingga ia merasakan, tangannya kosong, mendarat di atas kain spreinya.

Bola mata Dave seketika membola. Ia langsung tersadar, saat perasaannya menjadi gak karuan, tidak mendapati tubuh Davina. Ia pun beranjak duduk.

"Kemana perginya dia?" Menyingkap kain selimutnya, kemudian menjekkan satu persatu kakinya di atas lantai marmer dingin yang tersapu AC.

Dave memperhatikan ke arah kamar mandi.

"Pintunya terbuka. Apakah dia di bawah?" Dave perlahan berjalan keluar kamar. Masih mengenakan celana ketat pendek tanpa atasan. Ia tidak sadar, kalau dirinya masih setengah telanjang.

"Vina." Suaranya menggema. Rumah mereka belum terisi penuh. Karena Dave dan Davina, memang belum punya waktu kusus untuk rumah mereka.

Suara Dave saja terdengar menggema di seisi ruangan dengan di iringi suara hentakan kakinya menuruni anak tangga. Dapur adalah tempat utama Dave untuk mencari keberadaan Davina.

"Tidak ada juga. Kemana dia. Apa dia mengilang?" Ekor mata dan kepalanya, sibuk menelusuri ke setiap sudut rumah. Pikiran dan perasaan Dave, seakan sedang di aduk-aduk. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Davina. Buru-buru, Dave setengah berlari menuju pintu gerbang rumah mereka yang langsung berhubungan dengan pinggir jalanan komplek.

Pagar terbuka, saat Dave menarik dengan kencang. Kedua matanya, langsung tertuju pada badan jalan. Tapi, salah satu tetangga di depan rumahnya, baru saja turun dari mobil. Kedua mata mereka saling bertemu.

"Apa anda mencari istri, anda?" tanya pemuda di depannya. Mengenakan kaca mata bergagang emas. Tubuh tinggi semampai, berkesan elegan di mata Dave.

"Kok tahu?"

"Ouh, saya tadi melihatnya berjalan. Habis ke pasar mungkin. Soalnya, saya melihat barang belanjaannya. Terus, saya menawarkan tumpangan. Tapi, istri anda menolak. Hanya itu, saya masuk dulu." Pria itu terlihat dingin, tapi tampak bersahabat.

"Terima kasih." Buru-buru Dave mengucapkan terima kasih. Sebelum pria itu berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Dave berjalan mengusuri jalanan komplek. Ia sadar akan dirinya yang tidak mengenakan atasan, sandal, juga celena ketat. Baru beberapa langkah, mata Dave dikejutkan dengan penglihatanya. Ya, tubuh mungil Davina terlihat dari posisi Dave.

Kaki Dave berlari sekencang mungkin untuk tiba di dekat Davina. Davina sendiri, melihat Dave bertelanjang dada ke arahnya, membuat dirinya bertanya-tanya.

"Benar Dave, kan? apa yang sedang dilakukannya di luaran?" Davina mempercepat langkah kakinya. Meskipun, ia merasa sakit di kedua kakinya.

"Davina!" seru Dave sesaat keduanya saling berhadapan.

"Dave? apa yang kau lakukukan di luar? apa kau sedang berolahraga?" tanya Davina. Dave setengah membungkuk, dengan meyentuh kedua lututnya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

"Kau baik-baik, saja?" Davina berjongkok. Menggapai wajah Dave yang di penuhi peluh.

"Kau ... dari mana saja? kenapa membuat jantungku hampir copot?" keluh Dave. Ia turut berjongkok di depan Davina. Kedua mata mereka saling bertemu. Napas mereka terdengar membaur.

"Maafkan aku. Aku gak tega banguni kamu, Dave."

Ekor mata Dave membalas tatapan mata Davina.

"Terus. Kamu tega membiarkan aku, melihat istriku berjalan kaki dari pintu masuk perumahan, hingga ke sini. Aku merasa tidak berguna jadi suami, Vin." Davina mengulum senyum.

"Kau sangat berguna. Sudah, lain kali kita berbelanja bareng. Ayo kita pulang."

Dave mengangguk. Kedua tangannya menutupi dadanya. "Aku juga merasa kedinginan." Wajahnya berubah manja.

"Ayo berdiri. Kau tidak malu, keluar tanpa mengenakan atasan." Davina duluan membawa kakinya. Dave memperhatikan pundak Davina. Kaos yang ia kenakan, terlihat basah. Dengan cepat, Ia menarik seluruh barang belanjaan Davina.

"Biar aku yang bawa."

"Tidak perlu, Dave."

"Gak apa-apa. Lihat jari-jarimu memerah." Dave kemudian berjalan di depan Davina. Dengan bawaan Davina di tangannya. Ada senyum tipis menghiasi area bibir Davina. Kakinya, melangkah mendekati Dave.

Sesampainya di dalam rumah. Dave meletakkan semua barang belanjaan di atas meja bartender. Di ikuti oleh Davina. Kakinya kemudian, berjalan ke bagian laci rak, mengambil gelas bening. Kemudian, menarik pintu kulkas dan mengisinya dengan air mineral.

"Minumlah." Dave menempelkan gelas bening dalam genggamannya ke lengan Davina. Davina terjingkat karena sensasi dingin yang ia rasakan.

"Terima kasih, Dave." Keduanya sama-sama tersenyum. Kaki Dave kembali menjauh, ia mencari letak tisu. Setelah mendapatinya, kembali ia mendekati Davina.

Dave menarik tubuh Davina. Keduanya saling menatap.

"Kau mau apa?" Davina merasa ada yang tidak beres dari pandangan manik milik Dave.

"Tidak perlu takut. Aku cuma mau mengusap air keringatmu. Kenapa kau tidak membangunkan aku. Jangan pernah merepotkan dirimu sendiri. Jika tidak sempat memasak, kau tidak perlu memasak, Vin. Aku akan memanggilkan pekerja untuk membantumu. Jadi, nantinya kau tidak perlu lagi merepotkan dirimu. Bekerja saja sudah sangat menguras pikiranmu Jadi, biarkan pekerja di rumah kita yang akan mengurusnya." Tangan Dave masih sibuk mengeringkan keringat yang terkucur di dahi hingga wajah Davina.

"Apakah dia tulus dengan yang dia lakukan? Sejujurnya, aku masih belum bisa sepenuhnya mempercayaimu, Dave," gumam Davina dalam hatinya.

Kedua mata saling memandang. Terlihat kedua bola mata Dave menelusuri wajah Davina. Ia sudah bertekad, mencoba mengusai dirinya untuk seorang wanita yang ia sebut sebagai 'istri'.

Bersambung.

Hello. Lama banget ya? gak usah di tunggu ya kak. Benaran, saya bakalan melanjutkan kisah Raka dan Eva di Terpaksa Menikah. Melihat, di sana masih banyak yang ingin di lanjut, jadi saya coba. Hanya saja, di sini juga saya lanjut. Cuma gak setiap hari. Sebisa saya pokoknya hehehe. Karena itu, saya katakan jangan di tunggu. Bantu dukung Raka dan Eva, ya.Terima kasih ^^

1
Margareta Djawan
Lumayan
Margareta Djawan
Biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
ecca pelakor
Micke Rouli Tua Sitompul
tinggalkan aja si dave
muhammad anshari
Kecewa
muhammad anshari
Buruk
srimusvita
seru
Vera Wilda
terima kasih Thor...
Vera Wilda
Alurnya agak bolak balik, 🤔🤔🤔
Vera Wilda
selalu aja ada yg mengganggu jd gak selesai2 🤭😄😄😄
Vera Wilda
kelamaan banget Thor dg situasi SPT ini, belum ada perkembangan mereka berdua, jd bosan dikit 🤭😊
Vera Wilda
kok Dave ngomong nya jd begitu ? ngomong SM Davina nya mau sama2 belajar mencintai sekarang ngomong k William lain lagi...
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔
Vera Wilda
masak iya Davina cuma gara2 d cium aja marah, dia kan suami mu, agak lebay sich sikap Davina ... 😊
Vera Wilda
hadir nich Thor ....
Rari
Cerita menarik tidak bertele2
Melani Mardiansyah
rekomemded banget cerita ny
Siti Aminah
😊
Ayu Prasetyowati
❤️❤️
Risti Sari
👍❤
sari emilia
kl gtu hrs nya byk berdoa ucp syukur krn selamat bukan mlh minun2an....dasar manusia tdk berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!