JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 •Menerimamu•
☘️ Tak perlu seseorang yang sempurna, Cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun
{Presiden RI 03. Bacharuddin Jusuf Habibie}
🍂
Seorang wanita tengah duduk di kursi menunggu seorang laki-laki yang dicintainya Masih enggan untuk membuka mata.
Sudah lebih dari dua jam, setelah dokter keluar dari ruangan ICU dan kini Dimas sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Arum duduk dan memandangi wajah serta tangan Dimas yang tertancap selang infus.
Tidak tega Arum menatap Dimas, kristal bening lolos dari pelupuk matanya. Dimas yang biasa dengan gaya percaya dirinya untuk mendapatkan hatinya kembali, kini harus berbaring lemas dan tak sadarkan diri.
Dokter berkata itu hanya pengaruh obat bius dan syukurlah luka tusukanya tidak terlalu dalam. Tapi tetap masih membuat Arum khawatir.
Bi Chan tidak kalah sedihnya. Bi Chan mengurus Dimas sejak masih usia Dimas satu tahun. Bi Chan sudah mengangap Dimas anak kandungnya sendiri. Bi Chan pun menghampiri Arum mengelus punggung Arum perlahan mencoba memberi ketabahan.
"Sabar Nak, Dimas pasti akan segera siuman." ucap Bi Chan.
Arum hanya mengangguk dan sesekali menyeka air matanya. Bapak Ali dan Hasan yang sedang duduk di sofa ruangan pasien pun mengharapkan agar Dimas segera sadar.
Kumandang adzan isya terdengar Bapak pun pamit untuk melaksanakan sholat isya di Mushola rumah sakit. Hasan pun mengikuti langkah Bapak. Bapak nampak bingung. "kenapa Pak Ali ?"
"Apakah Nak Hasan Muslim ?" tany Bapak Kepada Hasan.
"Iya.! Saya memang asli kewarganegaraan China tapi saya Muslim." Mungkin Bapak bingung karena kebanyakan orang yang bermata sipit non muslim.
"Ayo, Nak Hasan mumpung masih waktu sholat utama." Ajak Bapak yang tidak ingin mengulur waktu sholat.
Hasan dan Bapak pun berjalan beriringan ke mushola, sesekali mereka mengobrol dan tertawa ringan.
Di ruang rawat Dimas, Arum pun menunaikan sholat isya bersama Bi Chan. Tanpa Bi Chan dan Arum sadari ternyata Dimas sudah siuman dan kini sedang melihat dua wanita yang bearti di hidupnya sedang menjalankan sholat berjamaah.
Setelah salam Arum pun berdoa untuk kebaikan semua. Dan melepas mukenahnya yang di bawakan supir Dimas Pak Kardi.
Arum mengerjap-ngerjapkan matanya salah lihatkah ia melihat Dimas sudar siuman dan tersenyum kearahnya. Arum pun memanggil Bi Chan yang sedang melipat mukenahnya. "Bibi, Dimas Bi, dia sudah siuman." suara Arum terdengar sangat senang begitupun Bi Chan.
Mereka langsung menghampiri Dimas. "Alhamdulillah Ya Allah. Kamu sudah siuman Dimas, Kamu membuat kami semua khawatir." ucap Bi Chan sangat lega.
Arum pun mendekati Dimas dan tersenyum. "Dim..," ucap Arum, Arum tidak bisa lagi berkata apapun selain ungkapan syukur atas kasih sayang Allah.
"Rum, menikahlah denganku sekarang." ucap lirih Dimas dengan bibir yang pucatnya. tapi masih bisa didengar Arum dan Bi Chan.
"A..pa?" jawab Arum tak percaya mendengar ucapan Dimas.
"Dimas, tunggulah saat kau sudah pulih. Atau paling tidak setelah Kau keluar dari rumah sakit." ucap Bi Chan lembut.
"Tidak Bi.! Aku tidak mau mengulur waktu lagi." ucap Dimas kekeh.
"Bagaimana Nak Arum?" tanya Bi Chan kepada Arum.
Belum sempat Arum menjawab Hasan dan Bapak masuk kedalam ruangan. "Assalamualaikum." salam keduanya.
"Waalaikumsalam." Jawab Bi Chan dan Arum.
Hasan dan Bapak juga terkejut melihat Dimas sudah siuman.
"Alhamdulillah, Kau sudah siuman." ucap Bapak.
"Bodohnya Kau membuat dia menangis karena mengkhawatirkan mu." Hasan berkata dan menunjuk Arum dengan dagunya.
Dimas pun memandang intens Arum sembari tersenyum membuat Arum malu-malu mengulum senyum dan menundukkan kepala.
"Tidak usah malu begitu Jogja. Eh Jogja, Arum maksud ku." Mendengar Hasan menyebut Arum dengan sebutan Jogja membuat Bi Chan mendelikan matanya kearah Hasan. membuat orang yang berada di sana pun tertawa ringan.
"Jadi bagaimana Rum?" Bi Chan bertanya lagi kepada Arum.
"Pak saya mohon Izin untuk melaksanakan akad nikah sekarang?" ucap Dimas kepada Bapak Ali.
"Saya serahkan kepada Arum, Karena Arumlah yang akan menjalaninya." ucap Bapak.
Dimas, Bi Chan, Hasan dan juga Bapak menatap Arum. Menunggu keputusan Arum. Arum pun mengiyakan ucapan Dimas. "Bismillahirrahmanirrahim. Iya, Arum menerimanya." ucap Arum mantap.
Dimas pun menghela nafas lega. "Baiklah saya akan mempersiapkan semua. Hasan tolong Kau kerumah penghulu dengan Pak Kardi. Dan katakan akad akan segera dilaksanakan sekarang." ucap Bi Chan.
"Baik Bi.!" ucap Hasan, Lalu berpamitan.
"Apakah harus malam ini juga?" Tanya Bapak heran.
"Maaf Pak Ali, saya tidak bermaksud mendesak Arum dan juga Bapak.!" ucap Dimas.
"Maksud saya. Tapi ini sudah pukul 19:30." ucap Bapak.
"Lebih cepat lebih baik Pak Ali." ucap Bi Chan.
Entah ada alasan lain atau tidak Arum dan Bapak akhirnya mengiyakan. Bapak berpikir yang dikatakan Bi Chan memang benar untuk menghindari fitnah dan zina.
Bi Chan mulai menyibukkan diri dengan teleponnya. Menelpon butik untuk mengantarkan stelan Pakaian pengantin yang di pesan Bi Chan ke rumah sakit.
Awalnya orang-orang butik bingung kenapa alamatnya di rumah sakit dan waktunya juga sudah malam.
Kemudian Bi Chan menjelaskan yang terjadi kepada Dimas. Akhirnya dari pihak butik pun paham. Dan akan mengantarkan ke alamat rumah sakit yang sudah di beritahu Bi Chan.
Siapa yang tidak terkejut dengan rencana Dimas yang berubah secara tiba-tiba. Bahkan Hasan yang mendatangi kediaman penghulu pun di buat kalangkabut. Belum lagi setelah sampai di rumah penghulu.
Ternyata penghulunya sedang tidak ada di rumah. Kata Asisten di rumahnya sedang pergi bersama istrinya untuk menikahkan keponakan.
Beruntung sebelum mobil Hasan melaju, terlihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumah penghulu itu. Hasan pun turun dari mobil bersama Pak Kardi.
Lalu menghampiri penghulu itu setelah turun dari mobil. "Maaf Pak? Apa Bapak yang bernama Mario Kusuma?" tanya Hasan.
"Iya, saya sendiri.! Ada apa ya?" jawab Pak Mario selaku penghulu itu. "Mari kita masuk dulu."
"Saya Hasan saudara Dimas. Maaf Pak, sebaiknya kita bicarakan di dalam mobil saja."
Nampak Pak Mario ragu. Hasan pun menceritakan tentang kejadian yang menimpa Dimas. Dan Dimas pun ingin melangsungkan akad nikah sekarang.
Pak Mario merasa iba, lalu berpamitan kepada istrinya untuk menikahkan Dimas dan Arum. "Pak Mario tidak usah membawa mobil sendiri biar nanti kami yang akan mengantarkan Bapak pulang." Hasan menghentikan Pak Mario yang akan membuka pintu mobilnya.
Hasan, Pak Mario dan Pak Kardi pun masuk ke dalam mobil Dimas. Dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Dimas di rawat.
Di rumah sakit, sudah ada Ibu dan Alif. Bapak menjemput Ibu dan Alif. Kini tinggal menunggu kedatangan Hasan.
"Assalamualaikum, Rum kamu tuh yah. Ngangap aku tuh apa? tega kamu mau nikah aja ndak ingat sama aku yang sudah berkorban perasaan selama ini untukmu. Dan kamu juga Dimas. Kalian tuh yah bener-bener bikin aku sakit hati." Cerocos Rani yang langsung nyelonong masuk menghampiri Arum dan Dimas.
"Waalaikumsalam." jawab orang-orang yang berada di sana.
Rani pun menyadari keberadaannya yang sudah di tatap heran oleh semua orang, Termasuk Bi Chan. Bagas pun tak kalah heboh.
"Iyah ni bro, nggak kasihan tuh sama istriku dia kan lagi hamil kenapa mesti mendadak gini?" ucap Bagas menyebut kata 'bro'. Seperti orang kota pada umumnya.
"Maafin aku Ran." Arum pun kemudian memeluk sahabatnya.
"Kamu juga Dim, kenapa pake acara di tusuk segala. Kaya sate aja." ucap Bagas kocak.
"Rani, Bagas ayo sini duduk dulu biar tenang." ucap Ibu Fatimah pelan.
"Iyah ni Mbak Rani, sama Mas Bagas ayo kita 'NgoSan' aja sembari nunggu penghulu dateng." ucap Alif.
"Apa tuh 'NgoSan' Lif ?" tanya Rani setelah duduk di sofa di samping Arum.
"Ngobrol Santai." ucap Alif berlagak so keren.
Semua pun tertawa mendengarnya celotehan Alif, Bagas dan Rani. Arum dan Dimas hanya saling pandang dan sesekali mengulum senyum.
Beberapa menit berlalu setelah pihak dari butik datang dengan membawa pakaian pengantin dan seorang lagi untuk memake up wajah Arum.
Arum sudah siap dengan kebaya adat Jawanya meskipun Arum memakai hijab warna senada putih, bukan riasan sanggulan tapi Arum masih terlihat mangklingi (berseri). Di tambah make up tipis.
Begitupun juga dengan Dimas yang sudah di bantu perawat laki-laki untuk memakai pakaian yang di bawa oleh orang butik. Dengan kemeja warna senada dengan kebaya Arum. Dipilih agar Dimas merasa nyaman dan tidak membuat Dimas kesakitan.
Tapi tetap saja meskipun di lakukan dengan perlahan Dimas masih bisa mengerutkan kening tanda menahan sakit.
🍂
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐