Mayleen merupakan artis muda multi talenta yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas terpaksa harus merenggang nyawa dalam syuting film yang sedang dijalaninya akibat ulah licik rivalnya yang memberi racun dalam air minumnya.
Begitu terbangun dia sudah berada dalam tubuh seorang putri bungsu perdana menteri yang diasingkan serta memiliki sepasang anak kembar berusia lima tahun.
Pertikaian, saling hasut dan skema licik terus bergulir dalam perjalanan hidup Mayleen bersama kedua anak kembarnya.
Dan kehadiran sosok lelaki yang mengaku sebagai ayah si kebar semakin membuat perjalanan hidup Mayleen dan anak - anaknya sulit.
Kemana mereka pergi,bahaya selalu mengintai dan nyawa menjadi taruhannya.
Mampukah Mayleen bersama sepasang anak kembarnya melewati semua halang rintang yang menghadang didepan demi bisa bersatu kembali dengan ayah mereka dan membentuk rumah tangga kecil bahagia seperti impian kedua anaknya selama ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN RU CHAO
Ru Mayleen yang masih ingin berpetualang sambil menikmati pemandangan indah disekitarnya terpaksa harus menhentikan aktivitasnya dan bergegas kembali kekediamanannya begitu batu sihir milknya menyala.
Karena tak ada telepon dijaman kuno ini, Ru Mayleen yang pada saat berada di hutan Asoka menemukan batu sihir menggunakannya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan nenek Su dan Yu Nian dikediaman.
Batu tersebut akan menyala ketika batu sihir yang dia letakkan dikediaman diaktivkan dan Ru Mayleen berpesan jika ada kondisi mendesak mereka bisa memanggilnya melalui batu sihir tersebut.
Tak ingin membuang banyak waktu, Ru Mayleen yang masih ingin menikmati keindahan salah satu kota yang ada dikawaasan kerajaan bulan terpaksa menghentikan aktivitasnya dan langsung berteleportasi untuk pulang kekediaman bersama kuda yang ditungganginya.
Sringgg....
Cahaya terang menyilaukan mata terlihat dipintu gerbang kediamanannya dan muncullah sosok Ru Mayleen diatas kuda putihnya disana.
Para prajurit yang berjaga dipintu gerbang segera menyapa dengan sopan sambil bergerak membukakan pintu sambil menunduk hormat begitu nyonya muda mereka telah kembali.
“ Selamat datang nyonya ”
“ Tuan besar Ru sudah menunggu anda didalam ”, ucap salah satu prajurit melaporkan.
“ Tuan besar Ru ? ”
“ Apa itu ayah Ru Mayleen ? ”, batinnya curiga.
Setelah turun dan menyerahkan kudanya kepada salah satu prajurit yang tadi memberi tahu kedatangan ayahnya, Ru Mayleen pun segera masuk kedalam dengan wajah penasaran.
Begitu kakinya melangkah masuk kedalam, bisa dilihat sosok seorang lelaki paruh baya tampan dengan badan tegak menatap tajam kepadanya.
“ Pantas saja Ru Mayleen sangat cantik, ayahnya juga sangat tampan ”
“ Tuan besar Ru seperti sugar dady yang hot dijaman modern ”, batinnya tergelitik.
Ru Mayleen pun segera duduk dihadapan sang ayah dengan anggun setelah memberi salam dengan hormat seperti beberapa drama yang biasa dia perankan didunianya dulu.
“ Maaf jika May datang terlambat untuk menyambut ayah karena harus mengantar si kembar pergi berguru ke pegunungan Sopka ”, ucap Ru Mayleen dengan suara lembut dan sopan.
Yu Nian dan nenek Su merasa terharu melihat nonanya bersikap anggun seperti itu karena sehari – hari Ru Mayleen sudah terbiasa bersikap semaunya tanpa menghiraukan tata karma yang ada sejak berada dipedesaan.
“ Apakah mereka diterima baik oleh guru Dao ? ”, tanya Ru Chao penasaran.
Siapapun sangat tahu jika guru Dao sudah sangat lama tidak bersedia menerima murid dan mendengar jika kedua cucunya datang berguru kepadanya tentu membuat Ru Chao sangat terkejut.
“ Tentu saja ayah ”
“ Guru Dao sendiri yang menyuruh mereka datang sehingga sayapun mengantarnya kesana ”, ucap Ru Mayleen menjelaskan.
“ Baguslah jika seperti itu ”, ucap Ru Chao sedikit lega.
Ru Mayleen merasa jika ayahnya tak akan datang jauh – jauh kemari hanya ingin menanyakan hal tersebut pun berusaha untuk menguliknya.
“ Ada hal serius apa yang membuat ayahanda datang jauh – jauh ketempat terpencil ini ? ”
“ Tidak mungkin kan jika ayahanda hanya datang untuk menanyakan kabar sikembar karena pasti Li Tian sudah memberi kabar kekediaman utama ”, ucap Ru Mayleen dengan wajah penuh selidik.
Ru Chaoi tampak menghembuskan nafas dengan berat sebelum dia mulai menceritakan tujuannya datang menemui sang putri yang dia ungsikan sejak enam tahun yang lalu didesa terpencil ini.
“ Apakah waktu menuju pegunungan Sopka kamu bertemu putra mahkota Zhang Yuan ? ”, Ru Chao tampak mengamati ekpresi putrinya yang terlihat sedang berpikir tersebut.
Ru Mayleen tampak berpikir sejenak karena dia seperti melupakan sosok penting tersebut dalam memorinya.
Akan tampak aneh jika saat ini Ru Mayleen tak mengenal sosok putra mahkota Zhang Yuan, seorang lelaki yang sangat dicintainya hingga membuatnya terusir dari keluarganya dan membesarkan kedua anak kembarnya selama enam tahun seorang diri seperti ini.
“ Kami bertemu secara tak sengaja diperjalanan ketika kereta putra mahkota Zhang Yuan dihadang bandit ”, ucap Ru Mayleen sedikit ragu.
Hanya lelaki dalam kereta kuda kerajaan matahari dan putra mahkota kerajaan bulan saja yang ditemuinya dalam perjalanan sehingga Ru Mayleen pun sangat yakin jika lelaki yang telah dia tolong adalah putra mahkota Zhang Yuan.
“ Apakah kamu dan kedua anakmu ikut berkelahi melawan bandit itu ? ”, tanya Ru Chao penuh selidik.
“ Mereka bukan bandit biasa ayah karena jumlah mereka sangat banyak dan ada aura kegelapan yang menyelimutinya ”, ucap Ru Mayleen menjelaskan.
“ Aura kegelapan ? ”, tanya Ru Chao terkejut.
Ru Mayleen pun segera menjelaskan semua hal yang dia alami selama membantu putra mahkota Zhang Yuan menghadapi para bandit di kota perbatasan dua kerajaan malam tersebut.
Ru Chaopun mendengarkan semua cerita putrinya dengan wajah serius sambil sesekali membulatkan mata begitu mendengar jika pemimpin dan empat orang bandit yang menyerang memiliki kekuatan berada dilevel tingkat langit.
“ Pantas saja baginda raja begitu menginginkan kedua cucuku, kurasa mereka ingin melatihnya untuk menghadapi para penyihir hitam dan para pemberontak yang sudah mulai menunjukkan pergerakannya ”, batin Ru Chao berspekulasi.
Melihat sang ayah terdiam sambil mengkerutkan kedua keningnya cukup dalam, Ru Mayleen diam – diam merasa cemas karena dia juga masih belum bisa mendapatkan jawaban mengenai kedatangan ayahnya hari ini.
“ Berkemaslah sekarang karena kamu akan ikut ayah pulang ke ibukota ”, perintah Ru Chao tegas.
“ Tapi ayah....”, ucap Ru Mayleen protes.
“ Yu Nian...siapkan semua barang milik nyonya muda dan segera masukkan kedalam kereta ”, perintahnya tegas.
Yu Nian pun segera mundur untuk menyiapkan semua pakaian dan barang yang akan nyonya mudanya bawa pulang.
Ru Mayleen yang tidak suka dengan keputusan sepihak yang diberikan oleh sang ayah hanya bisa menampilkan wajah gelapnya.
Keingginanya untuk membuka bisnis di pusat kota terhenti karena ulah ayahnya yang tak jelas ini padahal dia sudah menyewa tempat dan menyiapkan semuanya.
“ Kenapa ayah selalu bertindak seenaknya begini dan tidak pernah mau mendengar pendapatku ”, ucap Ru Mayleen protes.
“ Semua akan ayah jelaskan dalam perjalanan ”
“ Sekarang bersiaplah sebelum hari menjadi gelap ”, Ru Chao berucap tanpa mau dibantah lagi.
Ru Mayleen pun menghentakkan kakinya dilantai beberapa kali untuk melampiaskan kekesalan hatinya yang hanya ditanggapi dingin oleh Ru Chao.
“ Masih saja keras kepala dan susah diatur ”, guamn Ru Chao menghembuskan nafas dengan kasar.
Ru Mayleen hanya mengajak Yu Nia dan meninggalak nenek Su serta semua prajurit yang dulu dibawanya untuk meneruskan rencana bisnis yang akan Ru Mayleen jalankan.
Meski pada awalnya Ru Chao sempat menolak, tapi karena kekeraskepalaan anak bungsunya yang mengancam tak mau balik ke ibukota dengan berat hati diapun mengabulkannya.
Sebenarnya bagi Ru Mayleen tinggal dimana saja tak jadi masalah karena dia bisa pulang pergi dengan cepat menggunakan teleportasi.
Hanya saja, dia tak suka cara ayahnya yang terkesan otoriter dan tak ingin dibantah, membuatnya sedikit geram.