Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah
Lilis kembali ke kesatuannya di Yogyakarta. Tere dan Sri gembira sekali menyambutnya. Kini gadis itu memiliki status ganda. Sebagai marksman dan sniper saat dibutuhkan.
"Perawatan sana! Lihat kau mirip ban nci beneran," kata Sri yang melihat muka Lilis makin kusam dan lebih mirip cowok. Sekilas Lilis mengingat Herman yang dulu mengajaknya perawatan. Ya, kalau dipikir pikir itu perawatan untuk dirinya bukan Sidiq. Ha, Lilis merasa kecil. Bahkan Herman harus melakukan perawatan untuk dirinya sebelum bertemu orang tuanya.
Lilis menemui Edy yang sedang sibuk melakukan persiapan pernikahan bersama Sinta. Ya, dua insan itu akhirnya mantap menikah.
"Kakak tahu kemana Komandan Herman pindah?" tanya Lilis. Edy menggeleng. Kepindahan Herman sangat tertutup. Bahkan tanpa perpisahan dan kata kata. Herman tiba tiba menghilang begitu saja. Lilis putus asa. Mau mencari lewat atasannya juga percuma. Atasannya cuma bungkam. Seperti memang disuruh bungkam. Apa ini pertanda Herman meninggalkannya?
Satu bulan berlalu…..
Lilis sedang merokok di baraknya. Dampak buruk dari pendidikan keras menjadi sniper adalah Lilis akrab dengan rokok. Nikotin itu seperti pelampiasan untuk dirinya. Pula dengan menghilangnya Herman. Lalu bagaimana nasib lamarannya??? Huft…. Lilis menghembuskan nafas bersamaan dengan asap tembakaunya yang mengepul. Berita duka juga baru dirinya dengar. Salah satu teman satu leting pendidikan snipernya gugur. Dia gugur saat beradu dengan sniper pemberontak ujung timur negeri ini. Bahkan suporternya juga gugur. Tere mendekat. Membawa selembar undangan atas nama Lilis. Undangan dari Edy dan Sinta.
"Mungkin dia akan datang, bukankah dia sepupu jauh Sinta," kata Tere sambil menepuk pundak Lilis memberi semangat. Tere tahu kegalauan hati Lilis mencari kekasihnya yang seakan raib ditelan bumi.
***
Lilis sudah berdandan sebisanya, tapi rasanya memang wajahnya terlalu maskulin sekarang. Lilis sampai tidak mengenali dirinya sendiri, jika dibandingkan saat dirinya masih sekolah dulu.
"Siap?" tanya Tere nyembul dari pintu kamar Lilis. Gadis itu mengangguk. Mereka berangkat rame rame. Menuju kota asal Sinta. Kota Sol.
Dijalan Lilis teringat teringat study tournya jaman SMA. Juga…. Seorang lelaki berandal yang ternyata tidak seberandal itu. Ah, mikir apa. Batin Lilis.
Ternyata Herman tidak datang. Mata Lilis berkeliling dengan tajam saat upacara pedang pora dimulai. Edy memang bukan perwira, tapi Sinta adalah perwira. Maka upacara pedang pora dapat dilakukan. Pedang pora hanya dapat dilakukan oleh prajurit pria. Pedang pora untuk perwira wanita hanya bisa dilakukan jika dirinya mendapat jodoh tentara pula. Meskipun bukan perwira. Jika jodoh prajurit wanita orang sipil, maka upacara pedang pora tidak bisa dilakukan. Pedang pora juga hanya dilakukan sekali seumur hidup. Duda tidak bisa melakukan upacara pedang pora lagi saat menikah yang kedua.
Mata Lilis justru menangkap Jendral Yono dan istrinya. Lilis langsung mencoba menyapa saat upacara pedang pora usai. Tanggapan mereka sangat mengena jantung. Mereka acuh saja.
"Bapak Ibu," sapa Lilis sambil mengulurkan tangannya. Sepasang orang tua itu terkejut. Menerima uluran tangan Lilis dan berpura pura menyapa tamu lain.
"Kami…. Harus menyapa," kata Lita sambil menunjuk tamu lain. Padahal tamu itu tidak melihat kearahnya. Bahkan sangat terlihat menghindar dari Lilis. Tidak diberi waktu bicara sedikit pun. Lilis merasa cintanya memang sudah….. pupus. Mungkin ini cara Herman membatalkan lamarannya.
Lilis berjalan keluar gedung. Meski acara masih berlanjut. Dadanya sesak. Matanya juga mengabur oleh air mata. Lilis tidak mau terlihat menangis. Dirinya terus lurus berjalan menuju pintu keluar. Duduk di kursi taman bawah pohon ballroom hotel itu. Menyulut kembali nikotinnya. Berusaha keras menahan air mata. Kenapa harus menangis?...... karena ini terlalu sakit…… batin Lilis bermonolog sendiri.
Matanya menangkap segrombolan pemuda yang juga keluar gedung. Dari postur dan gerakannya jelas mereka bukan tentara. Mungkin juga bukan tamu undangan. Ternyata motor mereka terparkir didekat Lilis duduk.
"Rendangnya enak. Es buahnya juga seger…. Lumayan bener deh pesta ini," kata seorang diantaranya.
"Pesta TNI Brow, pasti enak dong," sahut yang lain.
"Mayan… untung pas kita pakai batik," kata pemuda ber rambut gondrong.
"Ji, petugas keamanan Ji….," kata yang lain sambil menepuk nepuk pundak pemuda gondrong. Memang ada petugas keamanan yang sedang mengawasi mereka.
"Modiyar! Jangan jangan mereka tahu kita tamu tak diundang. Kabor!!! kabor!!!" kata pemuda gondrong itu. Dia mensetater motornya dan pergi. Petugas keamanan berlari kearah mereka.
"Hey Ji…. Tunggu Ji….. Aji!!!" teriak yang lain. Mensetater motor masing masing dan kabur. Celakanya motor Aji justru mogok. Dia tertangkap petugas keamanan seorang diri. Tanpa terasa bibir Lilis menyunggingkan senyum.
Si Aji di tanya tanya petugas keamanan dengan garang. Bahkan digeledah. Seorang petugas memeriksa KTP Aji sungguh sungguh. Setelah dirasa bukan ancaman berarti. Hanya orang numpang makan di resepsi, para petugas itu melepas Aji. Hanya menghukum ringan push up 50 kali. Dan lihatlah gaya push up Aji yang mirip lumba lumba. Hanya pan ntatnya saja yang terangkat tinggi. Pemuda itu bahkan sudah benar benar tidak mampu dalam hitungan 30. Lilis tertawa ngakak dari bangkunya. Juga para petugas keamanan yang kebanyakan tentara. Habis Aji dikerjai para petugas.
Akhirnya sebagai ganti tidak mampu push up, Aji disuruh petugas keamanan teriak teriak. Mengaku kalau dia tamu tidak diundang dan sudah makan apa saja tadi. Padahal tamu undangan sudah mulai bubar. Resepsi berakhir. Lilis sampai kebas perutnya karena terus ngakak oleh tingkah Aji.
Hingga Tere menepuk pundaknya.
"Apa sih, ketawa sampai nangis gitu," kata Tere. Lilis terkejut. Iya, dia tadi menangis. Gara gara Aji jadi tertawa. Bahkan air mata masih sedikit menggenang. Lilis menghapus sisa air matanya. Berjalan mengikuti Tere menuju mobil mereka. Teman temannya ingin jalan jalan ke kota ini. Saat lewat keraton, Lilis mengingat sebuah nama yang dikenalnya dulu.
"Aji," gumam Lilis seorang diri. Kalau diamati wajah Aji yang tadi, juga sama dengan wajah Aji yang dulu dia temui. Apakah dia orang yang sama???
***
Sementara itu Aji balik ke kosnya dengan marah marah.
"Kalian ninggalin aku gitu aja!!! Dasar teman gak otak!!!" kata Aji memarahi teman temannya. Menceritakan kalau dirinya dihukum para tentara itu. Mereka kemudian ngakak bersama. Sebenarnya Aji bukan cowok miskin. Bahkan di dompetnya ada atm yang isinya bisa membayar seluruh catering tadi. Dia hanya ngikut teman temannya yang suka makan gratis di kondangan. Bagi Aji itu hanya sebuah ketegangan dan keseruan. Sekarang tidak hanya tegang tapi juga capek!!! Badannya pegal pegal karena disuruh push up tadi. Apes! Pria itu memutuskan pulang ke rumahnya. Disambut Mbok Jiyem. Wanita tua yang mengabdi pada keluarganya.
"Mbok, panggilkan tukang pijit!" perintah aji sambil menuju kamarnya.
"Baik Den," jawab Mbok Jiyem buru buru menuju rumah tukang pijit langganan.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh