Aku menjalani kehidupan yang baru setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku.
Beruntung ada seseorang yang menolongku dan memberikan kehidupan dengan identitas yang baru.
Akankah kehidupan ku kali ini akan lebih baik?
🌸🌸🌸🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah Rafael mengijinkan dokternya keluar dari kamarku meskipun aku belum sadar tapi dia tetap menjagaku dan berbaring di sampingku.
Dia terus menggenggam tanganku meskipun dia dalam kondisi lelah karena baru pulang dari urusannya.
"Eum..uhuk.. uhuk.."
"Sayang, kamu kenapa? mau minum?" terbangun dan senang melihatku sadar
Rafael langsung sigap mengambilkan air minum untukku.
Glug.. glug.. glug
Tenggorokanku terasa sangat kering sehingga aku minum cukup banyak.
"Istriku apa ada yang sakit? apa perlu ku panggil lagi dokternya?" Rafael memperhatikanku dengan berlebihan karena merasa sangat cemas
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan memeluknya.
"Jangan berkata apapun, tolong seperti ini sebentar saja" ucapku dengan suara yang lirih
Karena tidak ingin aku lelah dalam posisi duduk akhirnya Rafael memintaku untuk berbaring sambil memeluknya.
"Istriku, maafkan semua kesalahanku" ucapnya sambil memelukku dengan erat
Sekarang aku merasa bodoh karena tidak mempercayai Rafael dan membuat keributan yang tidak perlu.
Aku merasakan bahwa Rafael tulus mencintaiku dengan segala bentuk perhatian yang dia berikan kepadaku dan seharusnya aku tidak membuatnya bersedih karena merasa bersalah.
"Suamiku, maafkan karena aku meragukanmu, tolong jangan membenciku"
"Mana mungkin aku membenci istriku yang sangat berharga"
"Eung"
Aku merasa sangat nyaman dalam pelukannya yang terasa hangat dan menenangkan.
Setelah 1 jam berselang.
Rafael tidur dengan pulas setelah membuatku tenang dan dia terlihat sangat kelelahan dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, Rafael?" ucapku sambil menyentuh wajahnya yang lelah itu
Karena Rafael tidur aku memutuskan untuk bangun karena merasa sangat lapar.
Aku sangat terkejut melihat kamarku yang sangat berantakan karena diriku sendiri yang tidak bisa mengontrol pikiranku dengan benar.
Sekarang aku cukup mengetahui tentang diriku yang lain, dimana saat aku merasakan stress yang berat, aku sulit mengontrol emosi dan terlalu overthinking.
Krieett..
Aku keluar dari kamar dan ternyata Niken dan Max berada di depan pintu.
"Nyonya? mau kemana?" ucap mereka yang khawatir denganku
"Pfftt..kenapa kalian kompak sekali" tertawa kecil karena mereka terlihat cocok
"Niken, aku lapar.. maaf aku sempat kasar ke kamu"
"Tidak masalah Nyonya, tunggu di dalam saja saya akan meminta pelayan yang lain membawakan makanan"
Tampaknya Niken sangat senang melihatku sudah baik-baik saja.
Tapi ada hal yang mengganjal karena Max menujukkan ekspresinya yang tampak khawatir padahal sebelumnya dia tipe orang yang tidak berekspresi.
"Aku ke ruang makan aja, Rafael sedang tidur takutnya nanti dia bangun kalau pelayan masuk ke kamar"
"Baiklah Nyonya saya pergi sekarang dan meminta mereka menyiapkan makanannya" ucapnya sambil berjalan dengan cepat ke dapur
Sedangkan aku masih merasa tidak nyaman karena Max menatapku dengan tatapan seperti itu.
"Max!"
"Iya Nyonya"
"Apa ada sesuatu di wajahku?" spontan bertanya
"Maaf atas kelancangan saya Nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya khawatir" jawabnya dengan gugup
Ternyata karena mengkhawatirkan kondisiku yang membuat Max menunjukkan ekspresinya.
"Haha... santai aja Max, kenapa kamu gugup begitu?"
"Maaf Nyonya, mari saya antar ke ruang makan"
Percakapan kami hanya sebatas itu saja dan Max mengantarku dengan berjalan di belakangku.
Tiba-tiba aku terhuyung karena merasa sangat lemas.
"Aaaa.."
Graabb..
"Nyonya! apa Nyonya baik-baik saja? perlu saya gendong?" wajahnya memerah
Max menahan tubuhku yang hampir jatuh dan itu membuatnya semakin khawatir.
"Nggak perlu Max, mungkin karena aku belum makan apapun dari semalam"
Sepertinya Max sangat ingin membantuku dengan menggendongku dari depan tapi aku tidak mau dia di marahi oleh Rafael karena telah berani mengangkat tubuh istrinya.
Saat ini aku merasa sikap Max semakin aneh bahkan saat dia melihat bekas merah di leherku, dia langsung bereaksi aneh dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Akhirnya aku bisa makan setelah semalaman belum makan apapun.
"Niken, aku butuh bunga Lavender.. apa bisa panggilkan rose"
"Baik Nyonya"
Aku sangat ingin menghirup aroma bunga Lavender yang menenangkan karena saat ini pikiran ku kacau.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya Max yang selalu berdiri di belakangku
"Ya, aku hanya merasa gelisah Max"
"Max, apa kamu menganggapku sebagai Alexa? atau Fiona?"
Karena hanya ada kami di ruangan itu, aku memberanikan diri bertanya kepada Max karena hanya dia yang tahu tentang ku selain Rafael.
"Kenapa Nyonya bertanya seperti itu? tentu saja sekarang Nyonya adalah Alexa" Max merasa terkejut tapi dia menjawab dengan hal yang dia yakini
"Begitu ya?"
Benar yang di katakan oleh Max terlepas dulunya aku adalah Fiona tapi tetap saja wajahku adalah Alexa dan sekarang aku hanya perlu menjalani kehidupan sebagai Alexa tanpa memikirkan hal yang sudah berlalu.
Keyakinan itu terkadang goyah hanya karena pikiranku yang kacau saat menerima informasi yang menurutku sulit di mengerti.
"Max, apa semalam pekerjaannya terlalu berat?"
Deg..
"I, iya Nyonya" terkejut dan gugup
Max bereaksi aneh dan gugup dalam menjawab seolah dia ragu.
"Pantas aja, Rafael tampaknya sangat lelah, Max! apa kamu nggak istirahat bukannya kamu juga lelah setelah bekerja"
"Saya harus menjaga Nyonya!"
"Tapi tetap aja Max, kamu juga perlu menjaga kesehatan"
"Terimakasih atas kekhawatirannya Nyonya tapi sekarang saya masih harus menjalankan tugas dari Bos.. maksud saya Tuan" wajah Max memerah dan salah tingkah
Aku sempat bingung kenapa Max tadi memanggil Rafael dengan sebutan bos tapi langsung dia ganti tuan.
Banyak hal yang sangat janggal.
"Baiklah, tapi duduklah! jangan terus berdiri seperti itu"
"Tapi Nyonya" mencoba menolak
"Ini perintah Max, duduk di situ" ucapku dengan tegas
Akhirnya dia mau mendengarkan perintahku meskipun seharusnya aku memintanya untuk istirahat saja tapi sepertinya dia tidak boleh jauh dariku karena Rafael takut ada sesuatu yang menimpaku.
"Aneh, padahal di dalam rumah tapi kenapa aku tetap di kawal seperti ini?"
"Terkadang aku berfikir apa kehidupan orang kaya selalu seperti ini"
Sebenarnya aku merasa tidak nyaman karena waktu untukku sendirian hanya saat di dalam kamar sedangkan kemanapun itu aku harus di kawal beberapa pengawal.
Tapi mengingat kejadian sebelumnya sepertinya aku memang membutuhkan hal seperti ini.
Dalam benakku mungkin banyak dari pesaing bisnisnya Rafael yang berusaha membuatnya dalam masalah.
Dan hal itu berimbas kepadaku yang merupakan istrinya.
"Max, gimana pendapatmu soal Niken? bukankah dia cantik?"
"Uhuk.. uhuk.. ma.. maksud Nyonya apa?" Max sangat terkejut mendengarku
"Haha.. kenapa wajahmu memerah Max, bukannya kalian sudah lama kenal? dia baik dan kuat sepertinya dia cocok denganmu Max"
Aku berusaha membuat Max membuka dirinya agar mau menjalani hubungan dengan Niken yang menurutku sangat cocok dengannya.
"Saya tidak tertarik Nyonya, sudah ada orang yang saya sukai"
"Benarkah? siapa Max? kenapa kamu nggak bilang" ucapku dengan antusias
"Nyonya tidak mengenalnya" jawabnya dengan tegas
"Hemm.. baiklah, tapi jangan terlalu lama.. perempuan lebih suka di beri kepastian"
"Iya Nyonya"
Ternyata Max bisa tersipu malu seperti itu, aku cukup senang karena Max mempunyai seseorang yang dia sukai.
Dia juga berhak untuk hidup bahagia dengan orang yang di cintainya karena dia terlalu menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja saja.
trus si istri hidup kembali mencoba untuk mencintai suami mafianya ituh.
ada yg tau gak judulnya apa.????
plis penasaran sama endingnya
sgt rapi, ga ada typo