Sebuah takdir yang tidak pernah terduga, membuat Qirani Andara, terpaksa menikah dengan pria yang merupakan kekasih dari kakaknya sendiri, yang meninggal akibat kecelakaan.Namun,sebelum mengembuskan napas terakhir, kaluna masih sempat meninggalkan wasiat agar jantungnya didonorkan pada Qirani yang memang sudah mengalami kelainan jantung dari kecil. Langit Radhitya Ganendra, pria tampan yang sangat mencintai Kaluna, kakak dari Qirani itu, terpaksa mau menikah dengan adik kekasihnya. Kenapa? Karena jantung wanita yang dia cintai itu bersemayam di tubuh Qirani. Harusnya pernikahan mereka menjadi kebahagiaan bagi Qirani karena gadis itu selama ini juga sudah jatuh cinta pada pria itu. Namun, bukan kebahagiaan yang dia dapat, karena suaminya sama sekali tidak pernah bisa mencintainya. yang dia pedulikan hanyalah jantung sang kakak yang ada di tubuhnya. Akankah Qirani tetap bertahan dan sabar melihat suaminya yang hanya mementingkan jantung almarhumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Langit
"Tuan Langit yang terhormat, apa anda masih mau pukul aku lagi? Ayo silakan, aku tidak akan membalas meninjumu balik. Tapi, sebagai balasannya, aku akan berusaha merebut Qirani darimu!" tantang Nathan dengan seringai sinis di sudut bibirnya.
Langit mengepalkan tangannya, dia menggertakkan giginya dan deru napasnya yang tidak teratur menandakan kalau amarahnya sudah sangat tinggi, hingga sampai ke ubun-ubun. Kalau bukan karena mereka berada di tempat umum, bisa dipastikan dia akan menghajar pria yang berprofesi dokter itu, sampai pria itu sendiri yang memohon untuk berhenti.
"Berani kamu melakukannya, kamu akan tahu akibatnya, Dokter Nathan," ucap Langit dengan tatapan membunuh.
"Kamu mau melakukan apa? Kamu mau membuat aku dideportasi dari negara ini? kamu pikir semudah itu?" tukas Nathan, masih dengan seringai di sudut bibirnya.
Langit mendengkus dan tersenyum sinis. "Kita lihat saja nanti!" ucap Langit sembari berbalik dan pergi.
"Aku akan lihat Tuan Langit. Walaupun aku akan dideportasi dari negara ini, aku akan membawa Qirani bersamaku," teriak Nathan sebelum Langit menjauh.
Langit berhenti melangkah dan kembali menoleh ke arah Nathan. "Coba aja kalau berani. Aku bisa pastikan kalau Qirani tidak akan mau. Kenapa? Karena semenjak jantung Kaluna ada di tubuhnya, dia sudah terikat denganku dan sampai kapanpun akan seperti itu," Langit tersenyum, meledek.
Nathan mendengkus dan menggertakkan tungkainya, mendekat ke arah Langit. "Kamu benar-benar pria tidak punya hati. Atas dasar apa, Qirani harus terikat denganmu karena jantung wanita yang kamu cintai ada di tubuhnya? Ingat, kamu dan Kaluna hanya pasangan kekasih yang sewaktu-waktu bisa berpisah. Sedangkan Qirani dan Kaluna adalah kakak adik yang punya hubungan darah, yang tidak bisa dipisahkan oleh siapapun termasuk kamu. Jadi yang lebih berhak memiliki jantung itu adalah Qirani bukan kamu. Paham Kamu!" Nathan mencondongkan wajahnya ke arah Langit, saat mengucapkan ucapannya.
"Kamu ...." Langit mengantung ucapannya di udara karena pria itu tidak tahu kalimat apa yang bisa membalasan ucapan pria menyebalkan di depannya itu.
"Tapi okelah, kalau kamu menganggap jantung yang ada di tubuh Qirani itu hakmu. Tidak masalah,walaupun aku yakin kalau Kaluna tahu, dia pasti akan sedih, dan sama sekali tidak bahagia, melihat adik yang ingin dia lihat hidup lebih lama dan bahagia, kamu perlakukan tidak adil seperti ini. Aku akan berusaha untuk mengembalikan jantung itu lagi padamu, kalau aku sudah menemukan donor jantung yang cocok untuk Qirani," ucap Nathan dengan tegas dan berapi-api.
Wajah Langit memerah penuh amarah. Pria itu tidak bisa lagi mengkontrol amarahnya. Ia dengan amarah yang amat sangat mencengangkan kencang kerah kemeja yang dipakai Nathan dan menggertakan giginya.
"Sekali lagi aku ingatkan, jangan macam-macam kamu! Jangan pernah berpikir untuk mengganti jantung yang ada di tubuh Qirani dengan jantung lain. Aku pastikan tidak akan ada yang cocok,"
Nathan kembali tersenyum smirk dan melepaskan cengkraman tangan Langit dari lehernya.
"Kita lihat saja nanti. Jangan lupa kalau aku ada seorang dokter. Aku bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan jantung yang cocok untuk Qirani. Dan begitu aku dapatkan aku akan mengembalikan jantung belahan jiwamu itu padamu dan membawa Qirani pergi dengan jantung yang baru. Toh yang kamu inginkan bukan fisik Qirani kan? Yang kamu inginkan hanya jantung itu. Aku mau lihat seberapa lama jantung itu bisa bertahan, tanpa ada yang memilikinya," pungkas Nathan sembari beranjak pergi meninggalkan Langit yang tidak bisa berkata apa-apa. Sumpah demi apapun mendengar ucapan Nathan yang penuh keseriusan tadi, meninggalkan rasa takut dalam dirinya.
Langit menatap kepergian Nathan tanpa bisa mencegah pria yang berprofesi dokter itu. Di saat tubuh Nathan mulai menghilang dari pandangannya, pria itu melangkah dengan gontai menuju di mana mobilnya terparkir.
"Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan rencana dokter Brengsek itu berhasil. Aku akan membuat Qirani tetap hidup bersamaku. Satu-satunya cara, aku harus membuat dia hamil anakku. Aku akan mencoba mengingkari janjiku untuk tidak menyentuhnya. Aku akan menyentuhnya malam ini!" tekad Langit sembari masuk ke dalam mobilnya.
"Aku tidak menghianati Kaluna kalau aku menyentuh Qirani. Kaluna pasti bisa mengerti, karena apa yang aku lakukan supaya aku tetap bisa mendengar detak jantungnya berdetak walaupun di tubuh Qirani," ucap Langit lagi.
Pria itu baru saj hendak menjalankan mobilnya. Tapi, dia urungkan ketika mendengar ponselnya berbunyi.
"Mama? Kenapa mama menghubungiku?" Langit mengernyitkan keningnya menatap ke arah layar ponselnya.
"Apa Mama mau membahas masalah anak lagi? Kalau iya, aku sebaiknya tidak perlu mengangkatnya," Langit meletakkan kembali ponselnya ke laci dashboard mobilnya.
Namun, lagi-lagi ponsel itu berbunyi. Dengan terpaksa, Langit kembali meraih ponselnya dan dengan menghela napas berat dan sekali hentakan, pria itu pun memutuskan untuk menjawab panggilan mamanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Langit, sembari menjalankan mobilnya.
"Kamu di mana? Kamu di kantor ya?" tanya Mona mamanya dari ujung sana.
"Tidak, Ma. Tapi, aku dalam perjalanan ke sana," sahut Langit. "Ada apa emangnya, Ma?" lanjutnya.
"Mama cuma mau ingatkan nanti malam di rumah ada acara makan malam untuk perayaan Anniversary pernikahan mama da Papa yang ke 34 tahun. Mama ingin kamu datang. Kamu tidak lupa kan tentang hari ini?" tanya Mona dari ujung sana.
"Sial! Karena masalah Qirani aku sampai lupa hari penting mama dan Papa. Mana aku belum nyiapin hadiah lagi?" Langit merutuki kebodohannya dala hati.
"Langit? Kamu masih di sana, Nak? Kamu dengar mama kan?" suara Mona dari ujung sana, menyadarkan Langit dari lamunannya.
"Iya, Ma, aku dengar kok. Tentu saja aku tidak lupa, Ma. Baiklah, nanti malam aku akan datang. Mama mau hadiah apa?" tanya Langit basa-basi.
"Mama sih maunya cucu. Tapi, sepertinya istrimu itu tidak bisa memberikannya,"
"Ma, sudahlah, jangan bahas tentang itu terus! Kasihan Qirani," ucap Langit dengan nada lembut, walaupun sebenarnya pria itu cukup jengah dengan permintaan mamanya yang itu-itu saja.
"Tumben kamu belain dia? Jangan bilang kamu sudah mencintainya," nada bicara wanita paruh baya dari ujung sana terdengar curiga.
"Sudahlah, Ma jangan berpikir yang macam-macam. Nanti malam aku akan datang. Sudah ya, Ma aku tutup dulu teleponnya!" pungkas Langit ingin segera menghindar perdebatan dengan wanita yang melahirkannya itu.
"Tunggu udulu! mama belum selesai bicara!" cegah Mona dengan cepat, membuat Langit mengurungkan niatnya untuk memutuskan panggilan.
"Ada apa lagi, Ma?" tanya Langit.
"Nanti malam, kamu bawa Qirani juga. Kalau bukan karena papamu yang minta, mama benar-benar malas. Kedua mertuamu juga sudah mama undang. Kita hanya makan malam keluarga saja, karena papamu tidak mau membuat pesta. Sudah dulu ya, mama matikan teleponnya," terdengar bunyi tut sebanyak tiga kali, pertanda panggilan antara ibu dan anak itu sudah berakhir.
Tbc
kira kira bawangnya sampe bab berapa Thor, AQ mau siapin mental buat baca biar kuat /Grin//Grin/