Aku berusaha tegar , berusaha untuk tidak menangis saat dalam pelukan Agung . Meski sakit tapi aku tidak boleh lemah di hadapannya, agar tidak lebih membebani dia .
Perlahan tapi pasti Kereta yang saya tumpangi mulai berjalan meninggalkan Agung yang masih berdiri di tempat terakhir dita bersama . Dan meninggalkan semua kenangan yang kita ciptakan selama satu minggu saya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Ho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ulang tahun sindi
Tepat jama dua belas siang gue bangun karena mencium wangi masakan. gue sudah bisa menebak pasti emak sedang menyiapkan makan untuk gue.
dan benar saja gue lihat emak sedang berada di dapur sibuk dengan alat alat masaknya.
" wah masak banyak banget mak? " tanya gue
" eh sudah bangun gung? iya emak sengaja masak banyak untuk menyambut kepulangan kamu. " jawab emak.
" kaya Agung pulang dari medan perang saja pake acara penyambutan segal." sambung gue.
" emak kangen pengen masak buat kamu. emaknya kamu tidak kangen sama masakan emak.? " tanya ema lagi
" hehe kangen dong mak masa enggak! " sambung gue.
" sudah sekarang panggil bapak di belakang kita makan sama sama " kata emak.
Akhirnya setelah enam bulan gue makan sendirian terus, sekarang bisa merasakan lagi makan bareng bapak dan emak.
" Bagaimana kerjanya gung? " tanya bapak
" lumayan lah pak, awalnya Agung sulit beradaptasi karena setiap hari harus kena AC , tapi lama kelamaan jadi terbiasa " jawab gue
." syukurlah kalau kamu sudah bisa beradaptasi di sana " sambung emak.
" selama Agung di jakarta Sindi pernah datang kesini ngak mak? " tanya gue ke emak.
" dasar bocah baru pulang yang ditanya malah pacarnya. " ledek bapak
" bukan pernah lagi gung tapi sering . ada kali seminggu sekali sindi datang kesini " jawab emak
" malah kadang kadang di anterin langsung sama pak Budi " sambung bapak.
" yang bener pak.? " tanya gue tidak percaya
" iya. sepertinya pak budi ingin cepat menikahkan kalian deh " sambung emak lagi.
" ngaco ah. Agung baru dua puluh tahun masa sudah harus nikah aja " jawab gue
" sekarang aja bilangnya begitu. waktu dulu mah nangis pengen nikah " kata bapak dengan nada meledek .
gue tidak bisa mengelak lagi hanya bisa nyengir kuda mendengar ledekan bapak sambil pura pura fokus makan. setelah selesai makan gue kembali lagi ke kamar meninggalkan bapak dan emak yang masih berada di meja makan.
" dek dimana?" isi pesan yang gue kirim untuk sindi.
" Di Rumah mas . kenapa.? " jawaban sindi kembali bertanya.
" Nggak mas cuma tanya saja " jawab gue sengaja dibikin cuek.
" sepertinya mas melupakan sesuatu? " tanya sindi lagi. tapi tidak gue balas. karena rencananya sekarang gue mau ke rumah sindi.
" Selamat ulang tahun Dek " ucap gue setelah sindi membuka pintu rumah nya. gue tersenyum ketika melihat ekspresi wajah syok sindi.
" mas kok bisa ada di sini?" tanya sindi tidak percaya ketika gue ada di hadapannya.
" ya bisa lah ini kan tempat kelahiran mas juga " jawab gue sambil nyengir
" maksud aku kenapa mas pulang gak ngabarin aku? " tanya sindi lagi kali ini sambil menahan nangis.
" mas kan mau kasih kejutan masa harus ngasih tahu kamu dulu " jawab gue sambil memeluk sindi.
" Siapa yang datang Sin? " tanya Ayahnya yang tiba tiba muncul di belakang Sindi.
" Ini mas Agung Ayah. pulang ga bilang bilang " jawab sindi dengan nada manja.
" pak " sapa gue sambil tersenyum dan memberi salam.
" masuk masuk Gung " kata pak Budi.
" Eh iya sindi sampai lupa ngajak mas masuk saking kagetnya " kata sindi sambil tersenyum.
sementara gue duduk di ruang tamu menunggu sindi yang masih belum datang lagi katanya mau mandi.
" dimakan dong gung itu kue nya " kata pak Budi sambil nyamperin dan duduk di depan gue.
" bagaimana pekerjaanmu di jakarta gung? tanya pak Budi lagi.
" baik pak. walaupun awalnya susah beradaptasi " jawab gue grogi.
" wajar lah kalau pertanyaan susah beradaptasi namanya juga lingkungan baru " sambung pak Budi.
setelah beberapa saat tidak ada lagi percakapan antara gue dan pak budi.
" pak saja izin ajak sindi main ya " kata gue memberanikan diri meminta izin kepada bapaknya sindi.
" boleh tapi jangan jauh jauh ya, pulang nya juga jangan malam malam " jawab pak budi.
setelah dapat izin dari Pak budi akhirnya gue dan sindi pergi makan malam berdua untuk merayakan ulang tahun sindi.
" selamat ulang tahun dek. mas sesuai mendoakan yang terbaik untuk kamu. " kata gue sambil memegang tangan sindi.
" Terima kasih mas, sudah bela belain datang untuk merayakan ulang tahun aku " jawab sindi.
" ini mas ada kado kecil untuk kamu, tapi buka nya nanti di rumah" kata gue sambil tersenyum.
" mas aku seneng banget terima kasih lagi " kata sindi kali ini dengan mata berkaca kaca..
setelah makan kita memutuskan untuk pulang saja. malam ini kita memilih untuk menghabiskan waktu di rumah saja.
angin malam, langit penuh bintang dan orang yang gue sayang, malam ini dunia seakan sedang berpihak kepadaku. dibawah langit dan bintang gue dan sindi mengukuhkan cinta lewat ciuman yang penuh cinta.
demi ortu mu kamu tega sm kami, kmu nikah lagi, aq dan 2 anak mu trlantar Gung,, uuuhhg kalo inget masa" itu pingin tak.bejek" kamu Guuunggg... hadeeeuuuhh