Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau berubah marah
"Ish.."
Raditya melempar berkas yang ada di tangannya, bahkan berkas yang tak bersalah itu menjadi korban kekesalannya.
Waktu hampir siang hari, tapi sejak tadi ia mengirim pesan pada Luna tidak di balas, jangankan di balas, di baca saja tidak membuat Raditya kesal plus galau.
Abis di servis dia galau 🤭
Suara ketukan pintu membuat Raditya mengehela napas panjang, pekerjanya banyak tapi otaknya tidak mau di ajak kerja sama, yang ada malah memikirkan Luna yang tidak membalas chat nya.
"Masuk!"
Pintu ruanganya terbuka, Bimo masuk dengan tatapan mata menyipit melihat penampilan bosnya.
"Ada apa!" Tanya Raditya to the poin dengan wajah temboknya.
"Pertemuan dengan klien Artara, sebentar lagi. Apa anda sedang-"
"Kita pergi sekarang!" Raditya memotong ucapan Bimo, pria itu berdiri dan merapikan penampilannya yang sejak tadi kacau gara-gara Luna.
Ya, bagi Raditya hari ini Luna adalah pengacau segalanya.
Bimo hanya bisa menunduk saat Raditya berjalan melewatinya, mereka berdua masuk kedalam lift untuk menuju lobby.
Di dalam lift, beberapa kali Raditya terus melihat ponselnya, entah kenapa rasa kesalnya menjadi rasa khawatir mengingat Luna yang tadi pagi tidak bisa berjalan.
Ting
Pintu lift terbuka keduanya keluar dengan Raditya yang berjalan didepan, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti membuat Bimo langsung mengerem kakinya mendadak, untung saja Bimo memiliki reflek yang bagus sehingga ia tidak membuat masalah dengan menabrak pugung atasanya.
"Bim, kamu handel pertemuan dengan Artara." Ucap Raditya sambil membalikkan tubuh menatap asistennya.
Bimo tidak menjawab, ia hanya menatap wajah bos-nya yang cemas.
"Baik Tuan." Tidak ada pilihan kain, karena memang Bimo adalah bawahan ia harus menurut apa yang di perintahkan.
"Hasilnya kirim saja ke email, bersama pekerjaan yang lain, aku pulang dulu."
Bimo ternganga mendengar kalimat yang bagi Bimo cukup panjang dari Raditya, apalagi pamit pulang.
"Kesambet apa si bos," Gumam Bimo sambil menatap punggung atasanya.
*
*
Raditya mengendarai mobilnya dengan cepat, karena pulang cepat jalanan sedikit lengang hingga tidak butuh waktu lama untuk Raditya sampai di rumah dalam waktu dua puluh menit.
Mobil Raditya terparkir didepan rumah kakek Seto, tapi pemandangan didepan sana membuat mata Raditya memanas begitu juga dengan hatinya.
Di teras rumah dua orang sedang mengobrol, bahkan Luna sampai tertawa saat bicara dengan pria lain.
Keduanya tangan Raditya mencekram setir kemudi dengan kuat, sorot matanya sangat tajam dengan wajah mengeras.
"Jadi mengabaikan chat ku hanya karena sedang berduaan." Gumam Raditya dengan nada geram.
Luna yang menyadari mobil Raditya datang mengerutkan keningnya.
"Aldo ini jam berapa?" Tanya Luna pada Aldo yang duduk diseberang meja diantara kursi kayu tempat mereka duduk.
Aldo menatap jam tangannya sambil menatap mobil yang baru saja datang.
"Sebelas, memangnya kenapa?" tanya Aldo pada Luna.
"Ada apa dia pulang jam segini, " Gumam Luna sambil menatap lurus kedepan, di mana Raditya baru saja turun dari dalam mobil dengan tatapan tajam dan dingin. Bahkan lebih dingin dan mengerikan dari biasanya, Luna bisa melihat itu.
"Kenapa dia." Ucap Luna dalam hati sambil bertanya-tanya.
"Tumben Om sudah pulang?" Luna berdiri dari duduknya dan bertanya saat Raditya sampai didepanya.
Bukanya menjawab, Raditya justru menatap Aldo dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi.
"Em, O-om kok-"
"Sejak kapan kau jadi keponakan ku!" Seru Raditya dengan suara beratnya, jangan lupakan tajam Raditya yang membuat siapa saja pasti akan menciut, terutama Aldo.
"Eh i-itu." Aldo menjadi gugup dan menelan ludah susah payah.
"Sial, siapa pria ini. Kenapa dia menatap ku seperti mangsa yang enak." ucap Aldo dalam hati.
"Dia antar motor aku, yang kemarin di-"
"Masuk! aku tidak bertanya padamu!" Tegas Raditya tanpa mengalihkan tatapannya pada Aldo, padahal dia sedang bicara pada Luna.
"Tapi Om-"
"Masuk Luna!!" Sentak Raditya, kali ini Raditya menatap wajah Luna yang berubah kesal menatapnya, sedangkan Raditya tidak peduli dan semakin menajamkan matanya pada Luna.
Luna mehentakkan kakinya, kesal meskipun masih sedikit nyeri di bagian intinya, tapi karena kesal Luna tidak pedulikan, dengan wajah di tekuk Luna masuk rumah.
Aldo menahan napas saat melihat pria yang di panggil Luna dengan 'Om' masih berdiri didepannya.
"O-Om saya mau-"
"Jangan pernah lagi dekati Luna, apalagi datang ke rumah ini, dan satu lagi jangan pernah kamu menemuinya di luaran sana, kalau masih sayang dengan perkutut mu!"
Mata Aldo terbelalak, reflek kedua kakinya merapat dengan tangan menutupi perkututnya.
"Jangan Om," Lirih Aldo yang ketakutan.
"Ingat apa yang aku katakan, kalau tidak-" Raditya menghentikan ucapanya dan memberi isyarat tangannya mengiris lehernya sendiri untuk memeberikan peringatan pada Aldo.
"Ampun Om, tidak lagi." Aldo yang ketakutan langsung lari ngacir tanpa menoleh lagi.
Sedangkan Raditya membuang napas kasar setelah melakukan tindakan yang tidak pernah ia pikirkan, tapi melihat istrinya sedang berduaan dengan pria lain membuat Raditya tersulut kemarahan, hingga dirinya melakukan hal di luar nalarnya.
"Kenapa aku ini," Gumamnya sambil masuk rumah dan mengunci pintunya, ia harus memberikan pelajaran pada istri kecilnya itu.
*
*
Luna mau diapain lagi coba 🤣🤣🤣