Apa jadinya jika seorang pria mencintai wanita yang telah bersuami, dan wanita itu merupakan kakak iparnya sendiri ?,
Niat ingin membantu sang kakak lelaki, Kennedy justru terbawa perasaan hingga memiliki obsesi untuk mendapatkan Joanna sang kakak ipar. Trauma Joanna yang membuat Kennedy panik akhirnya membuat pria itu hilang akal hingga berujung pada sebuah persetubuhan hangat yang tak dapat ia lupakan.
Hai readers yang budiman !
Ini novel pertama yang saya keluarkan dalam mengikuti event Cinta Yang Tak Direstui , mohon dukungannya dan salam kenal,
Jangan lupa vote dan tinggalkan saran di kolom komentar ! Terima kasih 💜☺️✌️
"Mmmmmphh" isak tangis Joanna tertahan, karena Kennedy mencium lembut bibirnya.
"Hentikan," Joanna mencoba menghindari bibir Kennedy tapi tubuh lemah nya tak mampu menghentikan tindakan adik iparnya.
"Ken,"
Tak menghiraukan segala ucapan Joanna, Kennedy justru membimbing kakak iparnya untuk mengikuti permainan lidahnya dan tak memberi kesempatan Joanna u
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon boora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Sang Pemuas Hasrat.
Kennedy begitu terpaku menatap senyum serta paras menawan dari seorang wanita yang kini terduduk dalam pangkuannya.
"Aku sangat merindukanmu Ken."
Wanita itu tersenyum dengan tetap membelai lembut pipi Kennedy.
"Pulanglah, kenapa tertidur disini ?"
Kalimat itu kembali mengembalikan kesadaran Kennedy.
"Nona !" Kennedy terperanjat dan mencari keberadaan kakak iparnya.
"Nona ?" pria itu kembali tertunduk dan memejamkan matanya, ia akhirnya menyadari akan halusinasi yang ia alami.
"Diriku sungguh merindukanmu Nona !" Kennedy bergumam dengan berlinang air mata.
Kehadiran Joanna dalam mimpinya membuat Kennedy semakin terisak atas kerinduan yang selama ini ia derita.
"Tuan Brian buka pintunya !" Linda nampak menggedor keras pintu kamar Joanna.
"Aku mohon Tuan !" wanita itu kembali memohon pada Brian untuk bisa memasuki ruangan.
Tak berselang lama pintu pun akhirnya terbuka dan menampilkan sosok Brian dengan wajah datarnya.
"Kau tidurlah di kamar lain !" Brian berucap ketus tanpa menatap Linda.
"Apa ?, tapi kenapa Tuan ?" wanita itu nampak bingung dengan perlakuan Brian yang kini begitu berubah total terhadapnya.
"Aku hanya tidak ingin berada dalam satu kamar dengan wanita sepertimu !" Brian kembali membanting pintu dan berlalu dari hadapan wanita selingkuhannya.
"Apa maksudmu Tuan ?" Linda nampak mengikuti langkah Brian dan mengejar kesenjangan langkah! diantara Brian dan dirinya.
"Menurut mu ?" Brian kembali berucap datar dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Apa Tuan tidak akan menikahi diriku ?" wanita itu kembali menghentikan langkah Brian tepat dihadapannya.
"Pernikahan, bukankah itu akan membosankan ?" Brian kembali melanjutkan langkah dan mendorong kasar tubuh Linda supaya menyingkir dari hadapannya.
Linda, wanita itu nampak berdecak kesal terhadap perlakuan Brian akhir-akhir ini.
"Kita lihat saja Tuan, aku akan tetap membuat mu menikahi diriku !" wanita itu kembali berucap dalam hati serta menampilkan senyum liciknya.
Matahari nampak telah begitu terik ketika Joanna membuka matanya.
Wanita itu masih saja tak bergerak meskipun matanya telah terbuka dengan sempurna.
"Ternyata diriku memang sendirian !" Joanna berujar dalam hatinya sendiri dengan senyum getir.
"Aaaaaaggghhhh !" wanita itu memiringkan tubuhnya dan merasakan lelah yang begitu hebat dalam dirinya.
"Aku bahkan tidak berpikir untuk membersihkan badan ini semalam !"
"Ini sungguh aroma yang membuat ku pusing !" Joanna kembali tersenyum menyadari kondisi bau serta lusuh yang tercium dari badannya sendiri.
Wanita itu kembali berguling dan memejamkan matanya dengan posisi terlentang.
"Bagaimana kabarmu Ken ?" tanpa ia sadari relung hatinya kembali menyebut nama Kennedy setelah sekian lama.
Ingatan Joanna kembali terlintas, ia kembali terbayang bagaimana manja dan usilnya sikapnya setiap kali bersama Kennedy.
"Apa mungkin mereka sudah bahagia ?" wanita itu kembali menghela nafas dalam serta bertanya dalam hatinya sendiri.
"Ayolah Joanna, segera bersihkan dirimu !" Joanna kembali memaksa untuk membuka mata sebelum akhirnya beranjak meskipun tubuhnya terasa begitu berat.
Monica mengetuk pintu dan akhirnya masuk begitu saja dalam ruang kerja Kennedy.
Gadis itu menatap bingung dengan penampilan Kennedy yang begitu acak-acakan.
"Apa kau tak pulang semalam ?" Monica seketika melontarkan pertanyaan saat menyadari pakaian kerja Kennedy yang nampak terlihat noda pada tempat yang sama seperti sebelumnya.
"Begitulah !" Kennedy menjawab singkat dengan memalingkan wajahnya.
"Ada apa dengan dirimu Ken ?"
"Kau terlihat tak begitu bersemangat akhir-akhir ini !" gadis itu kembali mendekat dan mencoba untuk meluluhkan hati Kennedy.
"Kau tak akan mungkin bisa memahami ku !"
"Jadi tolong menjauh lah !" Kennedy kembali menanggapi kalimat Monica dengan wajah datarnya sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkan ruang kerja kantornya.
"Bagaimana diriku bisa memahami mu Ken ?"
"Kau tak pernah terbuka sama sekali padaku !"
"Tidak adakah kesempatan untuk diriku memperbaiki semua kesalahanku padamu ?" gadis itu kembali termenung seorang diri di ruang kerja Kennedy.
Rambut basah Joanna kembali membuat wanita itu sibuk dengan handuk ditangannya.
"Cuaca begitu terik, sepertinya akan bagus jika aku menjemur padi hari ini !"
"Tapi kenapa badanku masih lelah sekali ?" wanita itu kembali melakukan peregangan pada otot-ototnya sebelum akhirnya Sean mengalihkan perhatiannya.
"Apa yang kau lakukan Sean ?" pria kecil itu nampak mengatur dan menancapkan bambu pada sisi kiri dan kanan jalan menuju rumah Joanna.
"Kakak tidak ingat dengan benih Anggur kita ?" Sean menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya, ia masih nampak sibuk dengan memukul bambu kedalam tanah supaya bisa tertancap sempurna.
"Ooh, apa itu berhasil Sean ?" Joanna nampak melotot seketika.
"Kalau tidak untuk apa saya membuat ini semua Kak ?"
"Tanaman anggur butuh tempat untuk menjalar bukan ?" Sean berucap dengan wajah kesalnya karena Joanna yang dari awal meragukan benih anggur yang ia beli.
"Aaaaaghhh !" Joanna nampak melompat kegirangan, wanita itu seketika mengusap lembut kepala Sean yang tetap sibuk dengan aktivitasnya.
"Ini akan menjadi terowongan anggur ?"
"Bukankah begitu Sean ?" Joanna kembali tersenyum bahagia dengan bayangan pemandangan didalam pikirannya.
Sean hanya tersenyum mengangguk melihat tingkah Joanna.
"Ternyata Kakak juga bisa bertingkah seperti anak kecil !" pria itu berucap dalam hatinya dengan memperhatikan raut wajah bahagia Joanna.
"Bagaimana dengan hasil panen kakak kemarin ?"
"Apa kakak tidak akan menjemurnya ?" Sean kembali melontarkan pertanyaan pada wanita dihadapannya.
"Mungkin besok pagi, hari ini aku masih terlalu lelah Sean !" Joanna kembali menanggapi pertanyaan Sean dengan tangan yang tak berhenti mengusap rambut basahnya.
Linda nampak terburu-buru dan berlari menuju wastafel di dapur rumah Joanna.
Wanita itu kembali memuntahkan cairan dari dalam perutnya.
"Ada apa dengan ku ?"
"Kenapa perut ku mual sekali mencium semua aroma masakan disini ?" wanita itu terus bertanya dalam hati dengan mual yang tak terhenti.
Brian yang turun dan hendak makan akhirnya kembali dibuat emosi karena belum juga tersedianya makanan di meja.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan Linda ?"
"Ini sudah siang tapi kau belum juga menyiapkan makanan ?"
"Apa kau ingin membuat ku mati kelaparan ?" Brian kembali berucap ketus pada wanita yang selama ini ia jadikan selingkuhan.
"Maaf sayang !"
"Bagaimana kalau kita makan di luar ?"
"Ini weekend bukan ?" Linda kembali mendekati Brian seraya membelai lembut pipi Brian untuk menggodanya.
"Apa ?, Mmmmmphh !" perkataan Brian terhenti karena Linda telah berhasil membekap mulut pria itu dengan bibirnya.
"Tuan sepertinya memang tipe lelaki yang suka dipaksa !" Linda kembali berucap dengan manja dengan tangan yang tak berhenti memberikan rangsangan pada kejantanan pria yang kini berada dalam kendali permainannya.
"Aku akan memuaskan mu sayang !"
"Emosi mu sungguh tak stabil akhir-akhir ini !" Linda kembali mendorong tubuh Brian untuk duduk di kursi meja makan dan dengan begitu binal wanita itu kembali memainkan kejantanan milik Brian menggunakan bibir seksinya.
Brian akhirnya luluh dan mengikuti permainan wanita selingkuhannya, adegan-adegan liar kembali tersaji karena keduanya kembali bercumbu mesra di ruang makan rumah Joanna.
"Cukup Linda, kau benar-benar membuat ku kewalahan !" Brian beranjak dan meninggalkan wanita selingkuhannya begitu saja begitu ia telah mendapatkan puncak kenikmatan dalam dirinya.
Pria itu berjalan dengan langkah gontai untuk membersihkan dirinya.
"Apa ini ?"
"Tidak ada kecupan terimakasih sama sekali untuk diriku ?" Linda kembali berdecak kesal seorang diri.
Tak berselang lama bel pintu rumah nampak terdengar begitu nyaring.
Linda dengan santainya melangkah begitu saja untuk membuka dan memeriksa siapa yang tengah bertamu hari itu.
"Dasar perempuan murahan !" wanita paruh baya itu meninggikan suara seketika saat Linda muncul dan membuka pintu untuknya.
"Tak bisakah kau berpakaian dengan lebih sopan saat menerima tamu ?" ibu Brian nampak kembali meluapkan emosi ketika mendapati penampilan Linda dihadapannya.
Novel ini mengikuti event Cinta Yang Tak di Restui, kritik dan saran akan sangat membangun bagi diri saya ☺️🙏