Perpisahan kedua orang tuanya membuat Arjuna frustasi hingga akhirnya terjerumus dalam sebuah geng motor yang tekenal sejak dia sekolah, hingga sekarang ketika dia sudah kuliah semester akhir dan sudah menjadi ketua geng motor itu. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Namun, kenakalan dan kerusuhan yang sering dia perbuat membuat Ayahnya membuat perjanjian dengannya, hingga jika dia kalah maka dia harus menikah dengan wanita pilihan Ayahnya. Arjuna yang bukan tipe orang pelanggar janji yang dia ucapkan. Maka dia menepatinya. Sampai dia sendiri tidak menyangka dengan wanita yang di pilihkan oleh Ayahnya adalah Ambarani. Gadis berkerudung yang jauh dari tipe Arjuna. Bahkan semua wanita yang mendekatinya adalah sosok yang lebih menarik dari Ambarani.
"Bagaimana bisa aku tertarik dengan wanita sepertimu!"
Perjalanan rumah tangga mereka akan penuh dengan segala kerumitan setelah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26# Menerima Pernikahan Ini!
Ambarani menoleh cepat saat dia mendengar suara pintu terbuka. Dia menghela nafas lega saat melihat suaminya yang sudah kembali. Sebenarnya sejak tadi Ambarani sangat mengkhawatirkan suaminya. Takut jika Arjuna sampai melakukan hal yang tidak di inginkan.
"Kok belum istirahat?" tanya Arjuna yang melihat istrinya itu malah masih terdiam dan belum tidur di hari yang sudah malam.
"Aku nungguin Kakak" jawab Ambarani.
Arjuna tersenyum mendengar itu, segera dia menghampiri istrinya. Mengelus kepala istrinya dan memberikan kecupan di keningnya. "Aku gak sampai bunuh orang, kamu tenang saja"
Ambarani mendengus kesal mendengar ucapan Arjuna barusan. Tentu saja dirinya sangat khawatir jika sampai suaminya akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Iya Kak, syukur kalau memang tidak melakukan apa-apa. Aku takut sekali" ucap Ambarani yang tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Apalagi saat dia melihat bagaimana kemarahan Arjuna saat itu. Sungguh sangat menakutkan.
"Aku juga tidak akan melakukan apapun jika akan merugikan diri aku sendiri. Lebih baik melakukan hal yang bisa merugikan orang lain" ucap Arjuna sambil tersenyum penuh arti.
Ambarani terdiam melihat senyuman suaminya itu. Sungguh sangat tidak bis dianggap biasa saja arti senyuman suaminya yang menyeramkan. Sampai saat ini, Ambarani tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya dilalui suaminya dalam kehidupannya yang penuh misteri ini. Bagaimana Arjuna yang terlihat sangat menakutkan saat dia marah, seolah memang banyak cerita hidupnya yang tidak banyak Ambarani ketahui.
"Kak, jangan sampai membuat diri Kakak sendiri rugi karena ulah Kakak sendiri" ucap Ambarani.
Arjuna mengangguk, dia mengelus kepala istrinya. "Aku tidak akan melibatkan kamu dalam hal apapun"
"Ish, bukan seperti itu. Pokoknya jangan sampai membuat diri Kakak sendiri terluka dan rugi atas perbuatan Kakak hanya karena sebuah amarah. Bukan tentang melibatkan aku atau tidak" ucap Ambarani.
Arjuna mengangguk, tentu saja dirinya merasa sangat terharu saat ada yang peduli dengan kehidupannya ini. Bahkan Ibunya saja yang sekarang entah berada dimana, Arjuna tidak pernah merasakan dukungan apapun setelah 5 tahun lalu dia meninggalkan Arjuna.
"Sebenarnya aku senang sekarang Kakak sudah mulai berubah. Berharap akan semakin lebih baik lagi kedepannya. Aku berharap Kakak akan semakin baik lagi kedepannya ya" ucap Ambarani.
Arjuna hanya mengangguk, dia meraih tubuh Ambarani dan memeluknya. Sungguh sangat bahagia karena sekarang dirinya bisa mendapatkan istri seperti Ambarani. Sosok wanita lembut yang bisa membuat Arjuna berubah seperti ini. Bahkan jantungnya yang selalu berdebar setiap berada di dekatnya.
Sepertinya memang aku sudah jatuh cinta padanya. Hahaha. Tapi apa mungkin? Bahkan selama ini aku tidak tahu apa itu cinta.
"Kak, aku sudah boleh pulang kapan?"tanya Ambarani sambil mendongak menatap suaminya yang sedang memeluknya itu.
"Kita tunggu Dokter izinkan kamu pulang dulu saja, lihatlah wajah kamu sampai seperti ini.Kalau mengingat siapa yang membuat kamu seperti ini, rasanya aku ingin hancurkan Andin dan teman-temannya itu" ucap Arjuna dengan kilat kemarahan yang terlihat jelas dari matanya.
Ambarani langsung mengelus dada suaminya, berharap suaminya akan lebih tenang lagi. "Sudah ya, tidak perlu terus mengingat tentang kesalahan orang lain. Ingat saja kebaikannya, mungkin selama ini Kak Andin juga banyak berbuat baik sama kamu"
"Iya, dia berbuat baik karena menginginkan ku"
Ambarani hanya menghela nafas pelan, dia tahu jika emosi suaminya ini belum bisa terkontrol dengan baik.Terlihat jelas dari pergaulan Arjuna yang selama ini. Meski sebenarnya Ambarani juga tahu bagaimana Arjuna yang sekarang terlihat lebih banyak perubahan dari Arjuna yang awal pertama kali dia bertemu.
Apa aku bisa percaya kalau dia terlibat dengan penembakan orang tuaku? Rasanya hati ini tidak bisa percaya untuk itu.
"Mungkin saja Kak Andin marah karena merasa dibohongi sama aku. Waktu itu aku bilang kalau aku ini adalah adik sepupu kamu, eh sekarang malah jadi istri kamu. Jadi dia sangat marah besar karena merasa di bohongi" ucap Ambarani.
Arjuna duduk di pinggir ranjang pasien, lalu dia menatap istrinya dengan tidak percaya. Entah kenapa sekarang dirinya tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia merasa kagum dengan Ambarani yang sepertinya tidak pernah mempunyai perasaan dendam dan benci pada seseorang.
"Lagian kenapa juga waktu itu kamu bilang kalau kita adalah saudara sepupu" ucap Arjuna.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang untuk tidak menyebarkan tentang pernikahan kita. Tapi sekarang pastinya kabar tentang pernikahan kita ini akan tersebar cepat. Bagaimana dong" Ambarani yang terlihat kebingungan karena sekarang doa sudah tidak bisa lagi menutupi tentang pernikahan dirinya dan Arjuna.
"Tidak papa, aku juga sudah bilang sama Dekan Kampus kalau kamu adalah istri aku" ucap Arjuna sambil mengelus punggung tangan Ambarani yang berada di atas pangkunnya.
Ambarani langsung menatap dengan terkejut ada suaminya itu. "Kak, jangan bercanda! Bukannya pernikahan kita ini harus disembunyikan?"
Arjuna menggeleng pelan, dia menggenggam tangan istrinya. "Mungkin memang seharusnya aku mulai menerima pernikahan ini dan aku juga ingin orang-orang tahu jika kita memang sudah menikah. Biar tidak ada lagi yang berani gangguin kamu"
Mata Ambarani terasa memanas, dia berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Arjuna barusan. Rasanya tidak percaya jika dia akan mendengar ucapan Arjuna barusan. Padahal dirinya saja sudah sangat pasrah jika pernikahan ini mungkin tidak akan diketahui orang-orang dan tidak akan seperti apa yang dia inginkan dalam sebuah kehidupan pernikahan ini.
"Apa mulai saat ini aku sudah bisa memakai cincin pernikahan kita?" tanya Ambarani dengan suara bergetar. Rasanya masih tidak percaya hari ini akan tiba juga.
Arjuna mengangguk, dia seolah yakin dengan keputusannya ini. Meski sebenarnya Arjuna juga tidak mengerti kenapa hatinya bisa secepat ini luluh oleh wanita seperti Ambarani yang kata temannya adalah sosok wanita yang jauh dari tipenya itu.
"Pakailah, aku sudah menerima pernikahan ini dan mulai sekarang kita akan mencoba untuk memperbaiki hubungan kita agar lebih baik lagi" ucap Arjuna.
Dan air mata Ambarani menetes begitu saja mendengar ucapan Arjuna barusan. Akhirnya suaminya itu mau menerimanya dan pernikahan ini. Terkadang Ambarani selalu membayangkan hari ini, tidak menyangka akan terjadi secepat ini.
"Kenapa malah menangis?" Arjuna mengusap air mata Ambarani dengan ibu jarinya. Dia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya itu.
Ambarani tersenyum, dia memegang tangan Arjuna yang berada di pipinya. "Aku hanya masih tidak menyangka saja kalau ternyata sekarang aku bisa mendengar kamu telah menerima pernikahan ini"
Arjuna tersenyum mendengar itu, dia memeluk Ambarani dengan matanya yang ikut berkaca-kaca. Entah kapan terakhir kali Arjuna menangis, tapi saat ini kenapa matanya terasa perih dan berair.
Tidak Juna, untuk apa kau menangis.
Bahkan kepergian Ibunya saja tidak membuatnya menangis.
Bersambung