Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 25
+
+
"Kak Pau." Lily memanggil Paulina yang terlihat sedang mengerjakan sesuatu tidak jauh di depannya.
"Ada apa Lily." Paulina mendekati Lily yang duduk di ujung tangga.
"Tidak, aku hanya memanggil saja." Ingin rasanya Paulina menjitak kepala sang majikan, tapi dia tidak seberani itu untuk melakukannya.
"Eh itu bukannya Giza ya, kak Pau." Tunjuk Lily pada seorang perempuan yang berpakaian sama seperti Paulina.
"Iya, hari ini dia mulai bekerja lagi." Entah kenapa Lily tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan perempuan itu. Tapi semoga itu hanya perasaannya saja.
"Ah seperti itu." Lily menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Sebentar Lily, aku perlu menyelesaikan pekerjaan ku dulu." Izin Paulina pada Lily yang tengah menatapnya.
"Tentu saja, silahkan." Lily kembali memakan es krim rasa choco mint yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Bahkan dalam satu hari dia pernah menghabiskan lima cup dan setelahnya dia di marahi Kay habis-habisan karena malamnya mengalami flu dan Paulina juga terkena amukan laki-laki itu karena dia yang membelikannya.
Lily bahkan sampai memohon agar Kay tidak memarahi Paulina karena itu semua salahnya.
Melihat es krimnya sudah habis membuat Lily berdiri lalu berjalan menuju dapur.
"Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Lily pada Giza yang terlihat mencurigakan. Tidak tahu kenapa pandangannya pada Giza jadi berubah mencurigakan padahal perempuan itu sepertinya tidak melakukan hal yang aneh-aneh,mungkin.
"Saya sedang bekerja nona." Jawab Giza dengan tenang.
"Semua orang tahu itu." Lily memutar bola matanya malas.
Karena bingung harus melakukan apa lagi, Lily berjalan menuju area bagian selatan Mansion. Lily berdecak kagum ketika dia melihat lapangan luas yang baru Kay buat. Laki-laki itu punya hobi baru yaitu mengoleksi kuda. Memang terdengar aneh untuk ukuran seorang Kay, tapi itu lah kenyataannya. Bahkan Lily berpikir Mansion ini lama-lama akan berubah menjadi kebun binatang.
Lily berjalan menuju kandang kudanya. Ya, Kay bahkan memberikannya seekor kuda berjenis kelamin betina berwarna putih. Sejak pertama kali melihatnya Lily bahkan langsung jatuh cinta.
Setelah selesai memakai perlengkapannya, Lily mengeluarkan kuda yang dia beri nama Lala. Karena sudah beberapa kali Kay ajari, Lily bisa naik ke atas kuda tanpa kesusahan. Meskipun di awal dia pernah hampir menyerah karena tidak bisa.
Karena bagian belakang Mansion ini adalah sebuah hutan, dengan sengaja Lily melewati pagar pembatas karena penasaran ingin berjalan-jalan di sana.
Memasuki area hutan, Lily memacu Lala dengan pelan untuk menikmati pemandangan disekitarnya. Lily menghembuskan nafasnya dengan perlahan menikmati udara segar, bau khas hutan yang dia suka.
Lily berharap Kay tidak sadar bahwa dia melanggar perintah laki-laki itu untuk tidak melewati pagar pembatas. Semoga saja Kay masih sibuk dengan pekerjaannya. Merasa telah memasuki hutan terlalu dalam membuat Lily memutuskan untuk kembali.
Saat akan memacu Lala, Lily mendengar ada sesuatu yang aneh membuatnya berhenti. Menajamkan telinganya Lily berusaha mencari dari mana suara itu berasal.
Karena penasaran, Lily turun dan mengikat Lala terlebih dahulu pada sebuah pohon. Saat yakin dari mana asal suara itu, Lily dengan perlahan berjalan mendekatinya. Dia juga bersikap waspada dengan melihat kanan kirinya. Takut sesuatu yang membahayakan menimpanya.
"Aisshh, kenapa harus penasaran sih." Lily merutuki dirinya sendiri.
Lily membekap mulutnya sendiri ketika di depannya dia melihat ada sekitar tiga orang laki-laki yang sedang menyiksa seorang perempuan. Lily masih terpaku melihatnya. Lily seakan diingatkan ketika dirinya mengalami hal itu.
Lily mundur secara perlahan lalu menggelengkan kepalanya dan tidak sadar air mata mengalir dari kedua matanya. Lily menutup telinganya ketika melihat satu laki-laki itu menendang dada si perempuan. Itu sangat-sangat menyakitkan.
"Tidak tidak tidak, sadar Lily." Lily berusaha melawan rasa takut yang dirasakannya. Bagaimana pun juga dia harus menolong perempuan itu. Dengan jantung yang berdetak kencang Lily mencoba untuk menenangkan dirinya dengan memeluk dirinya sendiri. Setidaknya hal itu bisa meredakan emosi yang bergelut didalam hati dan pikirannya.
Setelah merasa baikan, Lily mendekati orang-orang itu tanpa mereka sadari. Lily langsung menendang satu orang yang akan melepaskan celana perempuan itu dengan paksa.
"Apa-apaan ini, darimana datangnya ****** ini." Teriak seorang laki-laki dengan kepala pelontos.
Orang yang di tendang Lily tidak terima dan dia bangkit langsung berusaha untuk menyerang balik. Lily sudah mengantisipasi hal itu dan dia sudah siap dengan posisinya.
Ketiga orang itu tiba-tiba saja menyerang Lily secara bersamaan membuat gadis itu kewalahan di buatnya. Sekuat-kuatnya Lily, tetap saja dia seorang perempuan dan tubuh ketiga orang yang menyerangnya pun jauh diatasnya.
"ANJING!" Lily sudah tertular Kay yang suka mengumpat.
Lily meringis ketika mendapat pukulan di pipinya. Sial, Kay pasti akan mengamuk ketika melihatnya.
Satu orang berhasil tumbang setelah Lily memukulnya di bagian bawah rahangnya. Tinggal tersisa dua orang lagi.
"Mati kau ******!" Laki-laki itu menendang perut Lily membuatnya jatuh. Tidak ingin terlihat lemah, Lily bangkit kembali.
Memegang perutnya, Lily merasa perutnya pasti akan meninggalkan memar. Dia memutar otaknya dan mengamati dua orang di depannya yang sudah bersiap untuk menyerangnya kembali.
Saat satu orang itu berlari kearahnya dengan sekuat tenaga Lily mengumpulkan kekuatan kakinya lalu dalam satu kali gerakan Lily menendang aset laki-laki itu hingga membuatnya tumbang seketika dan mengerang kesakitan.
Melihat temannya kesakitan membuat laki-laki terakhir menatap Lily dengan tatapan membunuhnya. Tanpa Lily duga laki-laki itu memiliki senjata berupa sebuah pisau kecil membuatnya waspada.
Melihat ke sekitarnya Lily tidak mendapati benda yang bisa dia pakai sebagai senjata. Mau tidak mau dia harus melawannya dengan tangan kosong. Lily menghindar ketika orang itu mengayunkan pisaunya di depan wajahnya.
Lily tidak menyadari orang yang dia tendang di selangkangannya bangkit dan berlari untuk menyerangnya. Tapi orang itu kalah cepat dengan Lily yang menyadarinya dan menghindar hingga orang itu menabrak temannya sendiri.
"Rasain."
Terdengar langkah kaki beberapa orang dari belakangnya membuat Lily waspada dan bersiaga kembali. Saat melihat orang yang paling depan adalah Aebi membuat Lily bernafas lega. Dia kira yang datang adalah kawanan orang-orang ini.
"Lily apakah kau baik-baik saja?" Tanya Aebi langsung setelah di depan Lily.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Lily dengan yakin.
"Kenapa melanggar perintah tuan Lily." Ujar Aebi penuh penekanan.
Lily hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu dia teringat dengan perempuan tadi membuatnya segera berlari menghampirinya. Matanya melirik orang-orang tadi sedang diikat oleh teman-temannya Aebi.
"Hei apakah kau masih sadar." Lily menepuk-nepuk pipi perempuan itu yang memejamkan matanya.
"Paman." Panggil Lily pada Aebi yang langsung menghampirinya.
"Ada apa Lily."
"Paman tolong bantu perempuan ini." Lily menunjuk perempuan yang ada di sampingnya.
"Baik." Aebi memerintahkan yang lainnya agar mengangkat perempuan yang tidak sadarkan diri itu.
"Ayo kita kembali sebelum tuan kembali." Ajak Aebi pada Lily yang malah melamun. "Lily."
"Ah, iya paman."
"Ayo." Saat Aebi sudah beberapa langkah di depannya, Lily teringat dengan Lala.
"Paman aku mau ambil Lala dulu." Aebi berhenti lalu berbalik dan menatap Lily.
"Biar nanti di urus."
"Tidak mau, di sana tidak jauh kok." Lily menunjuk ke arah sampingnya.
"Baiklah ayo kita kesana."
Saat Aebi akan berjalan Lily menahannya, "Tidak usah paman duluan saja, nanti aku menyusul."
"Ayo kita bersama-sama mengambilnya." Aebi tidak mau meninggalkan Lily sendirian karena dia tidak tahu ada bahaya apa lagi yang mengancam di tempat ini.
"Hai Lala, maaf aku meninggalkanmu terlalu lama." Lily melepaskan ikatan Lala di pohon lalu mengelus kepala kudanya dengan sayang.
"Ayo paman." Lily dengan sengaja tidak menaiki Lala dan memilih untuk berjalan kaki.
"Paman apakah Kay belum pulang?" Tanya Lily saat keduanya melewati pagar pembatas.
"Sebaiknya kau bersiap." Ucapan Aebi membuat Lily bingung.
"Maksudnya apa paman?" Tanya Lily dengan penasaran apa maksud perkataannya.
"Nanti kau tahu sendiri." Jawaban Aebi tidak membuat Lily puas.
"Aduh, paman tolong masukkan Lala kedalam kandang aku sudah tidak tahan." Lily lari dengan kencang karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil yang sudah dari tadi dia tahan.
"Semoga kau baik-baik saja." Aebi memandang kepergian Lily lalu beralih pada kuda di depannya.
"Leganya." Lily keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega.
Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama karena ketika dia akan melewati ruang tengah Kay berdiri membelakanginya di depan jendela kaca. Meneguk ludahnya kasar, Lily bingung apakah dia harus kabur atau mendekati laki-laki itu.
Sepertinya pilihan pertama lebih bagus. Dengan perlahan Lily berjalan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Saat akan menginjakkan kakinya di tangga pertama, suara dari belakangnya membuat Lily menghentikan langkahnya. Dengan perlahan Lily membalikkan badannya lalu dengan ragu menatap Kay yang ternyata tengah memandangnya dengan tatapannya yang tajam.
"Kau melanggar perintahku Jillian."
"Aku, a-anu." Lily lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kay berjalan mendekati Lily membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Kau tahu, aku paling tidak suka seorang pembangkang." Kay berkata dengan tajam membuat Lily tidak bisa berkutik.
"Maaf aku hanya ingin jalan-jalan." Lily menunduk tidak berani menatap wajah laki-laki di depannya.
"Mendapat luka di wajahmu, apa itu yang kau sebut dengan jalan-jalan." Kay menyentuh luka di pipi Lily dengan telunjuknya.
"Aku, tidak menduga akan terjadi hal seperti itu Kay, maaf." Ujar Lily penuh sesal.
"Aku paling tidak suka jika kau mendapat luka selain oleh ku sayang." Kay beralih membelai wajahnya membuat gadis itu merinding.
"Maaf."
"Tidak ada kata maaf." Lily mendongak melihat mata Kay yang masih menyorotnya dengan tajam.
"Kenap-AAARGGHH"
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
..."I'm not that impatient honey"...
sukses otor, dan semangat 💪😘