“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepenting Itu-kah Aku?
...“Apa … aku sepenting itu buat Kak Austin?” – Sasha Rodrigoez...
...💨💨💨...
Plakkk!!!
Sebuah tamparan melayang ke pipi Austin. Danny menatap anaknya dengan sorot mata yang tegang dan membulat dengan sempurna. Pupil mata yang mengecil menunjukkan bahwa Danny benar-benar sedang terbakar emosi.
"Dasar anak tak guna!" umpat Danny pada Austin.
"Lihatlah! Perbuatanmu itu membuat malu Papa! Bisa-bisanya seorang pengusaha terkenal yang disegani memiliki anak sepertimu!"
Austin hanya diam dengan sorot mata yang malas dan tak peduli. Baginya, tamparan yang mendarat di pipinya itu tak ada sedikitpun rasa sakit. Yah … itu sudah menjadi vitamin baginya.
“Ini yang ke berapa kalinya kamu masuk penjara?! Kalau nggak bikin malu keluarga, Papa nggak akan pernah mau keluarin kamu dari sana! Lagian, ngapain juga sih kamu bergaul sama anak pembantu itu? Emangnya nggak ada wanita lain apa?!”
Danny meninggalkan Austin yang masih berdiri di ruang tamu. Pria yang Austin panggil Papa itu benar-benar muak dengan anak keduanya yang selalu saja terlibat perkelahian dan selalu saja masuk penjara. Berbagai upaya telah Danny lakukan agar Austin mendengarkannya, tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan sampai mengancam untuk tidak memberikannya uang jajan pun sudah Danny lakukan. Tapi percuma, anak itu tetap saja berulah.
“Ck! Belain pelacur sampe rela masuk penjara,” ejek Freed dengan senyum yang menyebalkan. Pria itu turun dari tangga menuju dapur sambil melewati Austin.
Padahal, Austin adalah adik kandung Freed. Tapi, karena didikan Dania dan Danny yang membenci Austin, Freed jadi ikut membenci dan memusuhi adik kandungnya sendiri.
“Duh, anjing mana sih yang menggonggong,” celetuk Austin sambil mengorek kupingnya. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Saat Austin keluar dari rumahnya, ia langsung melajukan motornya untuk bergegas pulang ke apartemen. Pikirnya, Sasha sudah menunggunya di apartemen. Ia juga ingin segera bertemu dengan gadis itu untuk menghilangkan suntuk dan kekesalannya barusan.
Di saat yang sama, saat Austin meninggalkan rumah mewah itu, ternyata Sasha sedang menunggunya di depan gerbang. Tapi karena malam dan pakaian Sasha saat itu juga berwarna hitam, Austin tidak menyadari bahwa Sasha sedang menunggunya di depan gerbang yang tinggi itu.
“Yah … malah pergi,” ucap Sasha sambil menggigit bibirnya.
Sasha menghela nafasnya. Meskipun ia kesal dengan Austin, tetap masih tersisa sedikit rasa kasihannya pada pria itu. Bagaimanapun, Austin rela menghajar pria-pria tadi karena telah melecehkannya. Andai ia tak dilecehkan, mungkin saja Austin tak akan semarah itu.
“Apa … aku sepenting itu buat Kak Austin?” gumam Sasha pelan sambil berjalan menelusuri jalan raya. Tangannya menjinjing helm hitam yang dibelikan oleh Austin.
...💨💨💨...
Setibanya Austin di apartemen, dahinya mendadak mengkerut saat menyadari apartemen tersebut gelap. Lampu yang masih mati menandakan tak ada orang di apartemen tersebut. “Ke mana lagi sih dia?!”
Austin mendadak kesal saat mendapati Sasha tak ada di apartemen. Pikirnya, gadis itu sengaja melarikan diri darinya. Ia mengeram dengan sangat keras dan berdecak sebal.
Austin memutuskan untuk keluar dari apartemen dan mencari Sasha. “Pasti dia masih di Jakarta! Lagian mau ke mana lagi sih dia malam-malam begini?!”
Austin menelusuri jalan yang ia lewati tadi, bahkan ia menelusuri kantor polisi di mana ia sempat di tahan tadi. Matanya sibuk berkeliling sambil ia mengendarai motor kesayangannya itu. Cukup lama ia berkeliling. Hingga akhirnya motor yang ia kendarai kembali membawa ia ke depan rumah mewah yang ia sendiri sudah malas tinggal di sana.
“Duh! Ngapain ke sini lagi sih?!” gerutu Austin saat menghentikan motornya.
Austin kembali mengendarai motornya dengan sorot mata yang masih fokus menatap ke kiri dan ke kanan untuk menemukan sosok gadis yang ia cari-cari sejak tadi. Hingga akhirnya, mata Austin menatap fokus ke sebuah sosok tubuh yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di pinggir jalan.
“Sasha?!” gumam Austin sambil menepi ke arah sosok gadis yang sedang duduk bersandar di kursi panjang itu.
“Ck! Bukannya pulang, malah keluyuran!” kesalnya.
Austin menghentikan motornya tepat di depan kursi yang Sasha tempati.
“Kak Austin?!” Sasha tersenyum lega saat mendapati Austin menemukannya.
“Naik!” perintah Austin dingin.
...💨💨💨...
BERSAMBUNG…
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech