Tidak mengetahui siapa orang tuanya dan ditinggalkan selamanya oleh sang kakak tercinta membuat Shanum harus hidup terlunta-lunta. Tiada belas kasihan apalagi sebuah pelukan yang mampu menguatkan hatinya yang remuk redam karena diporakporandakan oleh keadaan.
Kesedihan Shanum tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia yang dipungut, justru dipaksa menjadi pengemis. Shanum merasa lelah, tetapi ia tidak bisa pergi karena wanita licik itu memiliki ribuan cara untuk membuat Shanum tetap bertahan.
"Tuhan ... aku lelah. Beri aku satu pelukan saja agar bisa kuat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HMP-26
Shanum bersembunyi di balik pohon besar. Berharap tubuh mungilnya tidak akan terlihat oleh orang jahat tadi. Bahkan, Shanum berharap pria tersebut tidak mengejarnya. Anak perempuan itu duduk bersandar di akar pohon. Sambil mengatur napasnya yang tersengal karena terus berlari sejak tadi.
Matanya terpejam. Memanjatkan doa dalam hati semoga tidak lagi dipertemukan dengan orang-orang yang jahat. Sampai tanpa terasa bulir-bulir bening mengalir dari kedua sudut matanya. Ia teringat semua orang yang sudah meninggalkannya. Diandra, Nenek Lasmi, dan Sky. Bayangan mereka begitu mengusik pikiran hingga menorehkan rasa sakit yang begitu membekas.
Shanum melepas kalung buatan Sky yang masih terpasang di lehernya. Mengangkat dengan tinggi dan menatapnya sangat lekat. Lalu menghela napas dengan panjang.
"Kak Sky. Kau di mana sekarang? Apa kau tidak merindukanku?" Shanum menangis.
Ia merindukan anak lelaki itu. Merindukan semuanya. Terlalu lelah ia berdiri dan hidup sendirian tanpa ada tempat untuk berkeluh kesah apalagi menemani.
"Apa lebih baik aku menyerah saja? Hidup ini tidak adil untukku." Shanum berbicara dengan berat.
Pikirannya terusik. Keinginan untuk mengakhiri hidup begitu kuat. Hingga tanpa sadar ia berjalan mendekati sebuah jurang yang terletak tepat di depannya. Menatap ke bawah sana dan memperhitungkan bahwa ia bisa langsung kehilangan nyawa jika sampai jatuh ke sana.
Sebersit keraguan datang, tetapi Shanum terlalu lemah dan lelah saat harus menghadapi rasa sakit yang tidak jua usai. Kalung dari Sky masih digenggam dengan kuat. Sebelum melakukan hal tersebut, Shanum berdoa dan berharap semoga apa yang dilakukannya tidak mengecewakan semua orang.
"Kak Diandra ... tunggu aku datang."
"Hei, Kau!"
Shanum terkejut lalu membuka mata dengan cepat saat mendengar ada orang yang memanggilnya. Seketika tubuhnya gemetar hebat karena takut jika orang tersebut adalah lelaki tadi.
"Apa yang kau lakukan!"
Shanum berbalik dan makin terkejut melihat wanita yang sedang mendekatinya. Wajah wanita tersebut terlihat penuh dengan kekhawatiran dan langsung menarik tubuh Shanum agar menjauh dari tepi jurang tersebut. Lalu mengajaknya kembali duduk di akar pohon tadi.
Wanita yang beberapa kali bertemu dengan Shanum itu, segera mengeluarkan air mineral dari dalam tas dan meminta Shanum untuk menghabiskannya.
"Apa yang ada dipikiranmu? Kenapa kau hendak loncat dari sana. Apa kau tidak tahu kalau itu sangat berbahaya untukmu?" ujar wanita tersebut setengah membentak. Shanum hanya diam sambil terus menatapnya. Melihat sorot mata Shanum yang sedih, membuat wanita tersebut langsung merasa bersalah.
"Maaf, aku sudah membentakmu." Wanita itu menarik Shanum masuk dalam dekap eratnya. Bahkan, beberapa kali mendaratkan ciuman di puncak kepala anak perempuan itu. "Aku hanya khawatir padamu."
"Te-Terima kasih," ucap Shanum lirih.
Wanita itu melerai pelukannya dan menatap wajah Shanum yang sudah dipenuhi air mata. Ia menangkup kedua pipi anak perempuan itu lalu membantu mengusap air mata dengan perlahan.
"Kenapa kau berterima kasih padaku?" tanyanya heran.
Shanum memeluk kedua lututnya lalu menyandarkan dagunya di atas sana. Tatapannya terlihat nanar.
"Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu ataupun ayah. Aku hanya tinggal bersama dengan Kak Diandra yang tidak pernah memarahiku. Temanku bilang, jika ibu marah itu adalah bentuk kepedulian juga karena ibu sangat sayang pada kita. Tapi aku tidak pernah merasakan itu."
"Memangnya ibu dan ayahmu ke mana?" tanya wanita tersebut.
Shanum menggeleng cepat tanpa menjawab. Hal itu pun sontak membuat wanita tersebut mengerutkan keningnya secara dalam.
"Aku tidak tahu." Shanum menghela napas panjangnya.
"Apa kau mau berkenalan denganku?" tanya wanita tersebut. Mengulas senyum ketika Shanum mendongak dan menatapnya. "Kenalkan, namaku Rosita."
Shanum menatap uluran tangan wanita tersebut lalu menyambutnya.
"Shanum."
"Nama yang cantik. Em, Shanum ... apakah kau menjadi putri angkatku untuk menggantikan putriku yang sudah meninggal?"
Bibir Shanum terkatup rapat saat mendengar permintaan Rosita.