Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus.
Demian dan Sarah sudah berkutat lagi dengan orang-orang kepercayaan mereka di kantor darurat yang ada di lokasi proyek. Bersama Gunawan dan Reza, keduanya terjun langsung untuk ikut memantau pertemuan antara kontraktor dan pekerja. Demian dan Sarah memang tidak menimbrung banyak karena Gunawan lebih mendominasi. Namun Demian memastikan arahan Gunawan sesuai dengan hasil meeting mereka dengan Gottardo Group.
Saat semuanya sedang mendiskusikan material terbaik yang ingin dipakai dalam proyek, ponsel Sarah bergetar. Demian yang kebetulan menyimpan benda itu di sakunya mengeluarkannya dan melihat siapa yang menelepon. Grasian. Lagi. Batinnya.
Dia melihat ke arah Sarah yang sedang asyik mengikuti jalannya rapat. Sama sekali tidak sadar Demian memperhatikannya.
Setelah panggilan Grasian berakhir, Demian membuka aplikasi WhatsApp, berniat ingin mengirim pesan pada pria itu. Namun, sepertinya Grasian juga sudah mengirimi Sarah pesan terlebih dahulu, namun Demian tidak menyadarinya.
Grasian :
Sayang, kenapa pesanku nggak dibalas tadi malam? Sibuk banget ya?
Demian merasa cemburunya datang lagi. Ingin rasanya dia menelepon pria itu dan menyuruhnya untuk berhenti memanggil istrinya dengan sebutan 'sayang'. Demian sungguh tidak terima.
Sarah :
Sori, hari ini agendaku lumayan padat. Nanti aku kabari.
Tidak lama berselang, balasan Grasian sudah masuk lagi, bahkan Demian belum sempat menutup jendela chat mereka.
Grasian :
Aku di Medan sekarang. Kangen, pengen ketemu. Lokasi proyek kalian dimana?
Demian refleks berdiri dari kursinya, membuat semua orang tiba-tiba berhenti diskusi dan menoleh ke arahnya. Di Medan? Niat sekali dia?
"Kenapa, Pak?" tanya Sarah kaget sambil setengah berbisik. Raut wajah keras Demian membuat gadis itu kebingungan. Apalagi terlihat Demian menggenggam ponselnya.
"Ehm... Maaf. Kalian silahkan lanjutkan rapat dulu, Sarah, ikut saya... "
Sarah yang tidak tahu menahu terpaksa mengikuti Demian keluar dari ruangan kecil tersebut. Langkah Demian sangat menggebu dan tidak sabaran.
"Kenapa sih?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Sarah saat Demian sudah berhenti di sebuah pojok yang cukup jauh dari ruang meeting. Pria itu dengan cepat berbalik sampai-sampai Sarah menabrak dadanya.
"Baca!" Demian menyerahkan benda pipih itu kepada Sarah. Gadis itu menerimanya kemudian membaca dialog chat yang sudah dibuka Demian.
"Terus kenapa marah?"
"Wajar dong aku marah. Kenapa dia bisa sampai ke sini? Kau memintanya datang?"
"Bukannya dari tadi pagi handphone-ku kau yang pegang?"
Demian membuang napasnya kasar. Jelas saja dia yang pegang. Kan dia berencana ingin menghapus memori kedua orang itu hari ini.
"Jadi gimana? Kau mau menemuinya atau gimana?"
Sarah melihat tatapan tidak bersahabat dari kedua bola mata Demian. Kenapa juga Grasian harus menyusul ke Medan? Sudah tahu level cemburu Demian tidak bisa ditebak.
"Kau yang putuskan. Aku ikut saja," jawab Sarah lembut sambil tersenyum. Dia mencoba menenangkan Demian dengan mengelus lembut lengannya yang berotot.
"Yakin?"
Sarah mengangguk.
"Ya sudah. Bilang saja kau tidak bisa diganggu. Dan jangan beritahu lokasi proyek kita," ujar Demian sambil menyerahkan ponsel Sarah pada gadis itu. Dengan cepat gadis itu melakukan apa yang diperintah suaminya. Dia mengetik pesan balasan pada Grasian, lalu menyerahkan handphone-nya kembali pada pria itu.
"Sudah? Sudah nggak cemburu lagi?"
"Hm. Kalau dia tetap minta ketemu ya sudah, temui saja. Tapi aku ikut."
"Siap, sayang. Apa aja deh, pokoknya aku nggak lihat muka jelekmu ini," goda Sarah sambil mencubit pipi Demian dengan gemas. Sejujurnya dia sedikit khawatir jika Grasian memang ngotot ingin bertemu dengannya. Semuanya pasti akan sangat canggung.
Demian melirik ke sekeliling. Saat dia yakin tidak ada siapa pun, dia menarik Sarah ke dalam pelukannya dan memeluknya sebentar.
"Bisa nggak kita seharian di hotel aja?" desahnya manja. Kedua tangannya mendekap tubuh mungil Sarah dengan erat.
"Bisa, tapi kalau Pak Gunawan dan Reza curiga, kau yang tanggungjawab."
"Aku nggak suka melihatmu dengan pria lain mana pun, Sar. You're mine."
"Iya, aku denganmu, Sayang. I promise... " Sarah berjanji kepada Demian sambil mengelus punggung pria itu. Secara tak langsung, kalimat itu pun membuat Sarah tenang. Bersama Demian adalah keputusannya dan dia tidak akan meninggalkan pria itu untuk pria lain mana pun.
*****
Dugaan Demian ternyata benar. Grasian bersikeras ingin bertemu dengan Sarah. Entah dari mana dia bisa menemukan lokasi proyek mereka, tahu-tahu pria itu sudah ada di depan kantor saat semuanya bubar.
Sarah sedikit shock saat pria itu tahu-tahu memeluknya di depan semua orang. Termasuk Demian.
"Kau kemana saja sayang? Ponselmu susah sekali dihubungi," sambar Grasian cepat bahkan saat Sarah masih belum pulih dari kekagetannya. Mata gadis itu justru nanar melihat punggung Demian yang menjauh bersama Gunawan dan Reza. Kekhawatirannya pun dimulai.
"Oh itu, ponselku tadi lagi di charge. Ini lagi aku titip ke Pak Demian karena pakai powerbank dia. Kau kapan sampainya? Kenapa bisa sampai di Medan? Ada kerjaan?"
Grasian memeluknya lagi. Sekarang lebih erat. Namun Sarah membentengi dirinya dengan memeluk ipad dan agenda di dada.
"Aku ke sini hanya untuk menemuimu, Sayang. Kita sudah berhari-hari nggak ketemu. Aku kangen banget. Kita jalan yuk? Kalian sudah beres kan?"
Sarah menelan ludahnya. Bagaimana dia harus menolak tanpa membuat Grasian curiga atau patah hati?
"Ehm, sebenarnya kami masih akan ada meeting internal, Gras. Sepertinya aku nggak punya waktu untuk jalan deh... "
Grasian cemberut. Seperti dugaan Sarah, dia pasti patah hati. Tapi Sarah tidak ada pilihan. Dia tidak ingin Demian murka.
"Aku sudah terbang ke sini, tapi kau tidak bersedia meluangkan waktu sebentar saja. Apa itu yang dinamakan kekasih?" Grasian berubah serius. Dia kecewa dengan alasan sepele Sarah. Impossible mereka akan meeting seharian.
"Kau seharusnya tahu tujuanku ada di sini, Gras. Kalau kedatanganmu hanya untuk merusak integritasku, sebaiknya jangan datang," Sarah mencoba membentengi dirinya lagi, berusaha agar tidak terintimidasi oleh Grasian.
"Kenapa kau berbeda sekali? Seperti bukan Sarah-ku. Apa kau lagi ada masalah?"
Sarah membulatkan mata. Tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan Grasian. Ah, tapi memang perubahan sikapnya terlalu mendadak. Sebelumnya mereka masih baik-baik saja. Apakah ini adalah kesempatan Sarah untuk memutuskan hubungan mereka?
"Ada. Tapi bukan aku masalahnya. Kau, Gras! Aku mau kau tidak usah bersandiwara lagi. Aku tahu hubungan gelapmu dengan Desty."
Sementara itu...
Demian mengamati Sarah dan Grasian dari kejauhan. Dia melihat kedua orang itu seperti sedang berseteru. Susah payah dia menahan diri untuk tidak cemburu secara berlebihan, juga untuk tidak menggerakkan kakinya untuk menghampiri mereka. Dia memilih untuk menunggu Sarah yang datang kepadanya dan menceritakan semuanya.
*****
Demian tidak bisa tenang selama menunggu pintu kamarnya diketuk. Dia sedang dipersimpangan keyakinan tentang apakah Sarah akan kembali padanya atau akan pergi bersama Grasian. Sudah satu jam sejak dia kembali ke hotel namun gadis itu belum kunjung datang. Keyakinan serta rasa percaya dirinya perlahan-lahan terkikis, hingga akhirnya satu jam kemudian suara ketukan itu pun terdengar.
Demian melihat Sarah berdiri di luar pintu lewat layar monitor. Rasa lega bercampur rindu menyelimuti dirinya. Entah apa pun alasan Sarah sehingga terbilang cukup lama kembali padanya, Demian sudah memutuskan akan mengabaikannya.
Baru saja dia selesai menekan password pintu, tahu-tahu Sarah mendorong pintu tersebut sehingga terbuka lebih cepat dan tidak ada sedetik dia sudah berlabuh memeluk Demian.
Demian shock juga kebingungan. Dia menutup pintu lagi dan membalas pelukan Sarah dengan sama eratnya.
"Kenapa lama sekali? Kukira kau bakal pergi dan meninggalkan aku," Demian tidak kuasa lagi untuk menahan apa yang dirasakannya sedari tadi. Kekhawatiran yang membuat rasa percaya dirinya nyaris hilang.
"Sekarang aku sepenuhnya milikmu, Demian," bukannya menjawab pertanyaan Demian, Sarah malah mencetuskan satu kalimat ambigu kepada suaminya. Bukannya dia memang sudah sepenuhnya milikku setelah kami menikah? Tanya Demian kebingungan di dalam hati.
"M... Maksudmu apa, Sar?"
Sarah melonggarkan pelukannya dan menatap wajah kebingungan Demian. Sungguh, wajah inilah yang sedari tadi mengganggu pikirannya sehingga tidak sabaran ingin menyudahi pertemuannya dengan Grasian. Dia merindukan wajah ini dan dia tidak tahu pasti apa arti dari rasa rindu itu.
"Aku dan Grasian sudah resmi putus."
Kedua bola mata Demian membesar. Tidak percaya dengan apa yang diutarakan Sarah.
"Serius?????"
Tapi Sarah malah mengangguk-angguk meresponi keterkejutannya.
"Gimana ceritanya?"
"Aku ceritakan nanti, sambil menghabiskan sisa hari ini bersamamu di sini... " Sarah menjatuhkan dirinya lagi ke dalam pelukan hangat Demian sambil memejamkan matanya. Aroma tubuh Demian lagi-lagi berhasil menghilangkan kepenatan yang sempat memenuhi kepalanya.
Demian masih belum pulih dari rasa tidak percayanya. Dia mengamati Sarah yang terlena dengan pelukannya sendiri.
"Aku nggak mimpi kan ini?"
Sarah menggeleng. Dia mencubit-cubit pipi Demian dengan lembut.
"Sayang, kakiku capek. Gendong ke kasur... "
Jiwa liar Demian bergejolak saat suara manja Sarah menembus gendang telinganya. Dengan cepat dia melakukan permintaan istrinya itu. Hanya dalam waktu sekejap, keduanya sudah berada di atas kasur dengan posisi Demian berada di atas Sarah dengan kedua siku tertumpu di sebelah kiri dan kanan kepala gadis itu.
"I need you, Sayang," ungkap Demian sedikit frustasi. Seperti ingin Sarah tahu benar jika dia sungguh membutuhkan gadis itu.
"I know. And I just realized, that I need you too."
Demian mendaratkan kecupan manis di bibir Sarah yang tepat berada di bawahnya.
"Kok bisa?"
"Entahlah, sepanjang pembicaraan dengan Grasian tadi, hanya kau yang kupikirkan. Kau menjampi-jampi aku ya dari kejauhan?"
Demian tertawa, kini mengelus puncak kepala Sarah dan mengecup keningnya mesra.
"Iya. Aku meneriaki namamu setiap saat dari sini. Syukurlah itu ampuh."
"Meski pun itu lebay, but it works. Aku sekarang sudah ada di sini, di atas kasur dan di bawah tubuhmu. Perfect! "
"Hahaha... kau siap sayang?"
"Siap apa?"
"Menghabiskan waktu bersamaku di sini... " tangan Demian tahu-tahu sudah berada di dalam pakaian Sarah dan mengelus-elus perutnya.
Sarah melipat bibirnya sambil tersenyum. Dia mengerti arah kalimat pria itu. Benar saja, baru sebentar Sarah mengangguk, dia sudah langsung diserang Demian dengan ciuman-ciumannya.
*****