Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Pengangkatan Rahim
Luna menoleh pada pemilik suara bariton yang memanggilnya dengan ramah. Dokter spesialis kandungan, kini tengah tersenyum sembari mengangguk padanya.
“Iya, Dok?” sahut Luna beranjak berdiri kemudian melenggang semakin mengikis jarak dengan Dokter berkacamata bulat itu.
Arash mendengkus kesal, ia memutar bola matanya malas. Hatinya yang sedang terpercik api, kini semakin berkobar melihat lelaki berjas putih itu terlihat tebar pesona di matanya.
Pria itu beranjak berdiri, berjalan melalui dua dokter beda gender itu sembari menendang tong sampah yang terbuat dari besi. Sehingga menimbulkan kebisingan yang cukup mengganggu.
Luna memejamkan mata sembari menghela napas panjang, maniknya menatap punggung sang suami yang kini semakin jauh. Ingin sekali bersamanya, karena Arash terlihat benar-benar membutuhkan sandaran. Tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Dokter Luna apa Anda mendengarkan saya?” panggil Dokter Irfan sekali lagi.
“Ah, iya, Dok. Maaf. Ada apa ya?” Luna terperanjat, buru-buru menyadarkan pikirannya
Dokter Irfan masih mengulum senyum, “Begini, ini mengenai pasien yang tadi Anda periksa.”
“Kenapa? Ada yang salah dengan analisis saya?” Luna menautkan kedua alisnya serius. Takut jika melakukan kesalahan.
“Bukan! Bukan! Analisis Anda sepenuhnya benar. Saya justru menemukan gejala lain. Jadi, ada fibroid yang tumbuh di rahimnya. Ini yang menyebabkan janin tidak berkembang dengan baik,” jelas Dokter Irfan, sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Emmm ... Hari ini juga, saya akan melakukan operasi pengangkatan rahim. Kebetulan asisten saya sedang libur, saya mohon bantuan Dokter Luna sebagai asisten saya selama proses operasi.”
Luna terperangah mendengarnya, menelan salivanya pahit mendengar operasi pengangkatan rahim. Sebagai seorang wanita, ia panas dingin membayangkannya.
“Apa Anda bersedia, Dok?” tawar Dokter laki-laki itu ramah.
“Baik, Dok. Saya akan bersiap.”
“Terima kasih sebelumnya,” tutur Dokter Irfan mengangguk, lalu melenggang pergi menyampaikan operasi pada timnya.
Tisa terdengar histeris usai mendengar penjelasan dokter. Ia bukan hanya kehilangan janin dalam kandungannya. Namun ternyata, juga akan kehilangan rahimnya.
Carlos terus memeluknya, berusaha untuk menenangkan selingkuhannya itu. Meski sendirinya tengah syok berat. Pria tua itu hanya bisa terdiam tanpa suara. Pikirannya kosong entah ke mana, batinnya berguncang hebat.
Bahkan ketika suster meminta persetujuan pun, ia langsung menandatanganinya. Jika tidak segera dilakukan, akan semakin berbahaya dan mengancam nyawa Tisa.
...\=\=\=000\=\=\=...
Arash melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga kini tiba di depan bengkelnya, yang dioperasikan oleh teman-temannya.
"Weh, tumben kemari. Ada angin apa?” sapa Omed yang sedang bermandikan keringat dan oli di depan.
“Mobil sudah beres?” tanya Arash langsung mencari keberadaan mobil Luna.
“Udah! Cobain aja, kalau ada yang kurang biar nanti dibenerin lagi!” sahut Omed berteriak, karena Arash sudah masuk ke bengkel miliknya yang sudah lama tidak dia sambangi.
Tanpa berbicara lagi, Arash langsung membawa mobil Luna keluar dari bengkel, melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Omed dan kawan-kawannya cukup terkejut, mereka sampai berhamburan keluar melihat sang bos yang tidak seperti biasanya.
“Arash kenapa?”
“Heh, kau apakan si bos, Omed?”
Satu per satu pertanyaan terlontar dari karyawan di bengkel tersebut.
“Apaan? Gua enggak tahu apa-apa! Beberapa hari terakhir Cuma nanyain bengkel sama King Cobra doang. Selebihnya enggak ada masalah!” elak Omed yang juga heran sendiri dengan bungkamnya Arash.
“Aiish! Udah balik kerja! Nanti juga cerita sendiri!” tambah lelaki berkaos kutung itu sembari menggerakkan kedua lengannya agar kawan-kawannya kembali masuk dan bekerja.
...\=\=\=000\=\=\=\=...
Sementara itu, mobil yang dikendarai Arash kini menepi di depan minimarket. Pandangannya mengeliling mencari plang petunjuk jalan. Kakinya terus melangkah memasuki gang kecil yang tidak muat dimasuki kendaraan.
Arash terus menyusuri jalan, hingga tiba di sebuah rumah kecil dan sempit dengan nomor 21, sesuai ucapan adiknya. “Ini?” gumamnya dengan dada berdebar.
Perlahan kakinya melangkah masuk, baru mengayunkan tangan hendak mengetuk, ia mendengar suara batuk-batuk dari dalam rumah. Arash bergeming menajamkan pendengarannya, suara batuk yang tiada jeda itu membuatnya sesak.
“Mama!” teriak Arash mendorong pintu dengan kasar. “Ma! Mama di mana?” panggilnya berulang semakin masuk.
Bersambung~