NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SESUATU YANG HANGAT

Setelah sampai rumah, Eng Sok menyerahkan buku tabungan ke tangan Ah Me.

"Ini, Ah Me. Buat... Sekolahnya Ah Ti. Gua takut ga ada simpenan kalo sepi job.", kata Eng Sok lembut.

Ah Me membuka buku tabungan itu. Matanya membaca angka-angka di halaman pertama. Tidak banyak. Tiap hari Senin akan ada kiriman dari studio. Ditransfer ke bank itu. Eng Sok mengatur bagi hasil dan pembayaran.

Ia tidak bertanya. Hanya mengangguk. Memeluk buku tabungan itu erat.

"Terima kasih, Sioh Bu."

Eng Sok mengangguk. Lalu matanya beralih ke meja ruang tamu. Di sana, Ah Ti sedang belajar. Buku terbuka, pensil di tangan. Sesekali menulis, sesekali berpaling ke arah Eng Sok—lalu cepat-cepat kembali ke buku.

Ada yang mau dikatakan, pikir Eng Sok.

Tapi tidak sekarang.

Ia masuk ke kamar. Di atas meja, sudah ada paket. Dikirim pake ojol tadi sore. Isinya: gincu. Eng Sok melihat keterangannya “Liptint”. “Apa pula lah, gincu cair bilangnya liptint!”, omelnya. Ah Ti merasa sesak dan ganti mengomel,”dih, Si Jadul!”.

Lip tint Tiga warna. Tauke gincu minta endorse video—pakai gincu liptint, bicara dua tiga kalimat di kertas itu, jangan lupa sebut merek.

Eng Sok menghela napas. Dunia modern. Dia menaruh itu di kamar dan menyiapkan layar seperti kata Sioh Bu yang biasa endorse. 

Lalu ia ambil baju dan sabun.

Ah Ti mengintip-intip

"Masuk!”, perintah Eng Sok.

Ah Ti masuk. Matanya langsung tertuju ke perban coklat di lengan kanan Eng Sok.

"Koko mau mandi?"

"He'eh."

"Sini. Aku bantu."

Ah Ti mengambil plastik dari dapur. Gulungan besar warna bening. Ia memotong dua lembar—cukup untuk menutup perban dari siku sampai pergelangan.

"Tangan Koko angkat."

Eng Sok mengangkat tangan kanannya. Ah Ti melilitkan plastik di sekeliling perban—rapi, tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar. Lalu isolasi di ujung atas dan bawah.

"Udah, Koko. Sekarang keramas."

Eng Sok duduk di kursi plastik di kamar mandi. Ah Ti mengambil gayung, membasahi rambut panjang Eng Sok, lalu menuang sampo di telapak tangannya.

Ia mengeramasi Eng Sok dengan sabar. Menggosok pelan-pelan. Menyisir dengan jari—tidak menarik, tidak terburu-buru.

Eng Sok menutup mata.

Di istana dulu... ada Kasim-kasim kecil yang bantu aku mandi. Namanya siapa aja lupa. Wajahnya juga lupa. Tapi ingat tangannya—kecil, sabar, tidak banyak bicara.

Ia membuka mata. Menatap Ah Ti yang sedang membilas rambutnya dengan air hangat. Setelah berpakaian, ia dihairdryer sama Ah Ti lalu diluncurkan ekor kuda.

Hatinya menghangat. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memejamkan mata lagi. Ia duduk di sofa sebentar pake kaos gambar ikan lele dan kolor.

Setelah minum air dan makan nasi kotak yang dibeli Ah Me di meja, ia make up simpel. Sudah biasa Pangeran zamannya pakai pensil alis, gincu, dan bedak. Makanya ia heran kenapa pria Cia Agung sekarang wajahnya kusem-kusem kayak orang yang Hokinya jelek. Ia mencari baju. Sioh Bu minta dia pake jas atau apa gitu sesuai arahan. Tapi tangannya yang nyeri dan pikirannya yang mulai ngaco menyebabkan dia malah ambil Tng Sa.

Lalu, mengikuti arahan dan siap-siap ambil video sendiri. Seperti di tempat syuting kapan hari saat dia endors kripik bawang. Waktu itu dia sama Ah Bwee tapi Ah Bwee yang edit video dan pasang gambar. 

---

Video jadi, siap diedit. Suara mantap.

"Bisa, Bang?" suara Sioh Bu dari atas.

Eng Sok menatap layar ponsel. "Bingung."

Sioh Bu turun. Melayang di samping Eng Sok.

"Edit. Ini. Pencet ini. Lalu ini. Lalu ini. Lalu... gua lupa."

Eng Sok melongo. Mulutnya komat-kamit.

Ah Ti, yang dari tadi mengintip dari balik pintu, masuk.

"Ah Me, aku bantu Koko Fosil bikin video endorse dulu.", pamit Ah Ti serampangan 

Ah Me naik darah,”He! Ga boleh lu bengsut gitu Ah Ti… awas kualat punya lu!”

Ah Ti cengengesan. Ada kepuasan batin ketika akhirnya dia diomeli Ah Me seperti anak normal lainnya. Ia jarang diomeyAh Me.

Ah Ti duduk di samping Eng Sok. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi edit video, dan mulai menggesek-gesek layar dengan jari-jari kecilnya.

Eng Sok cuma bisa melongo.

"Koko, gak usah melongo. Pokonya caranya gini, nambah efek gini…., cara motong….."

"O... oke."

Tidak sampai satu jam, video jadi. Ah Ti sampai melongo.

“Katanya Koko ga ngerti video, na! Ini konsepnya bagus menarik gitu!”,tanya Ah Ti sambil melihat HP itu. 

Adik kecil itu lalu menyerahkan ponsel ke Eng Sok. "Kirim, Koko. Bagus udah sui aa."

Eng Sok menekan tombol kirim. WA ke Tauke gincu. Tiga menit kemudian, balasan masuk: "COCOK! Sisa bayaran menyusul. Ah ada bonus, karena lu videonya bagus, ambil aja liptint itu na. Nih, gua kasi invoice biar gak dimasalahin anak buah gua."

Tring! 

Dompet digital Sioh Bu berdering.

Ada juga WA isi invoice. Eng Sok mencetaknya dan meletakkannya dalam map seperti kebiasaan Sioh Bu dulu.

Eng Sok menatap layar. Lalu menatap Ah Ti. Lalu kembali ke layar.

"Terima kasih, Ti."

Ah Ti tersenyum. Lalu—tiba-tiba—ia manja.

"Koko, ajarin aku dong. Aku lupa." Ah Ti menggeser kursi plastik dan meja plastiknya.

Eng Sok menatap Ah Ti. Anak ini sudah bisa. Tapi dia lupa pura-pura. Eng Sok sendiri senang main sama Ah Ti gini. Jadi dia pura-pura mengajar. 

HP? Biar ajalah. Gak semua isi HP bikin pinter, kapan hari buka HP masak isinya orang berciuman tanpa dia minta!

Tapi ia tidak bilang itu. Ia hanya mengangguk.

"Baik. Aku ajarin."

Dan mereka duduk berdua di depan green screen—pangeran kuno dari seribu lima ratus tahun lalu, dan anak kecil yang kehilangan kakak aslinya—saling berpura-pura. Ah Ti pura-pura tidak bisa. Eng Sok pura-pura mengajar.

Di sudut ruangan, Sioh Bu menatap mereka. Dadanya mengembang mengempis—tanpa udara, tanpa detak.

Dulu... aku yang duduk di sana. Bersama Ah Ti. Tapi aku tidak sabar. Aku cepat bosan. Aku lebih sering main HP daripada ngajarin dia.

Ia memejamkan mata.

Pangeran ini... lebih sabar dari aku.

---

Saat senja, Eng Sok keluar rumah. Langit berwarna jingga. Angin sore bertiup pelan.

Ia memesan ojol. Tujuan: Rumah Sakit Umum Chhai Lian Hoe Po.

---

Di ruang rawat inap khusus psikiatri, Ah Chio duduk di tepi ranjang. Tubuhnya terbungkus jaket khusus—jaket pengaman untuk pasien dengan risiko bunuh diri. Tangannya bebas, tapi bahunya terikat.

Eng Sok berdiri di luar pintu. Melihat dari kaca.

Seorang suster mendekat. "Mau menjenguk, Bang?"

"Iya."

"Sabar ya. Dia masih... sedikit sensitif."

Eng Sok mengangguk. Suster itu membukakan pintu.

Ah Chio menoleh. Matanya merah. Wajahnya pucat. Rambut acak-acakan—tidak seperti di toko herbal, tidak seperti saat pemotretan.

Eng Sok masuk. Di tangannya, sebotol anggur—merah, manis, siap minum. Tidak perlu gelas. Tidak perlu buka tutup repot-repot.

Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang.

"Anggur," katanya sambil  menyodorkan kardus terbuka isi anggur. "Bisa langsung dimakan."

Ah Chio tidak menjawab. Matanya menatap kardus itu. Lalu ke wajah Eng Sok.

Lalu—ia menangis.

Bukan isak tangis pelan. Bukan sedu sedan sopan. Tangis keras, seperti air yang tertahan puluhan tahun akhirnya pecah.

“Ko, peluk aku!”, katanya.

Eng Sok memeluknya. Tubuh Ah Chio tegap, bahunya seperti prajurit, dadanya bidang juga berisi, tapi gemetar dan dingin. Ia ingat saat pemotretan tingginya 165 cm sedangkan Ah Chio 163 cm. Benar-benar nyaris sama tinggi.

Ia masih malu-malu mengingat kembali bahwa beberapa kali waktu pemotretan itu mata sialannya fokus pada Bohiong (kemben) Ah Chio. Ah Ti sampai menginjak sepatunya karena kurang fokus.

Eng Sok merasa kalah. Dulu banyak orang yang bilang dia seperti wanita. Ia direndahkan istri karena bahunya yang menurun membuat tubuh atasnya seperti wanita walaupun otot-ototnya perkasa. 

Istrinya kecewa karena bahu tegapnya hanya efek baju. Kadang Eng Sok menginginkan bahu seperti Ah Chio.

Eng Sok tidak bergerak. Tangannya—tangan kirinya yang sehat—pelan-pelan naik. Menepuk punggung Ah Chio.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Di istana dulu, tidak ada yang mengajariku bagaimana menghibur hati yang hancur. Tapi... tanganku bergerak sendiri.

Ah Chio masih menangis di pelukannya. Eng Sok tidak bicara.

Lama.

---

Ah Chio melepaskan pelukan. Matanya basah. Hidungnya merah.

"Maaf," bisiknya. Suara serak. "Maaf sudah merepotkan. Maaf karena aku tidak ingin hidup... tapi malah mencelakai Koko."

Eng Sok menatapnya. "Aku paham."

"Ah Pa udah... cerita?"

"He'eh."

Ah Chio menunduk. Tangannya menggenggam ujung jaket pengaman itu.

"Aku sudah tidak percaya Thien. Tidak percaya Giam Ong. Tidak percaya surga, neraka, malaikat, apalagi hari kiamat." Ia berhenti. "Aku lebih takut kalau usiaku seperti Lao Cu aku, seperti Ah Kong, atau seperti Ah Mak —seratus tahun."

Eng Sok diam itu yang dia inginkan. Tapi melihat Ah Chio dia jadi mikir ulang.

"Sekarang aku dua puluh tujuh. Berarti tujuh puluh tiga tahun lagi... menderita. Kesepian. Menua. Jadi pembantu orang tua. Hidup hanya untuk pau tap—balas budi—ke orang tua." Suaranya pecah. "Sementara aku... tidak dicintai."

Eng Sok tidak berkomentar mulutnya melongo. “Penampilan semulus ini, seperti gadis 17 tahun ternyata…? Tidak ada tanda lelah, tidak ada kerut tipis? Yakin 27?”, bisiknya dalam hati. Tapi ia membekukan wajahnya lagi. 

Ia tahu. Ketakutan Ah Chio valid. Tidak perlu dihakimi. Tidak perlu dihibur dengan kata-kata "kamu kuat" atau "masih ada yang sayang sama kamu".

Kadang, orang hanya butuh didengarkan.

Dan Eng Sok mendengarkan.

Sampai Ah Chio habis bicara. Sampai air matanya berhenti. Sampai napasnya kembali teratur. Sudah jam setengah 7 malam.

"Besok gua syuting, gua pulang dulu," kata Eng Sok akhirnya.

Ah Chio mengangguk. "Terima kasih. Tidak menghakimi aku."

Eng Sok berdiri. "Sama-sama."

Ia berjalan ke pintu.

"Koh Sioh Bu."

Eng Sok menoleh.

"Besok.. semoga lengan Engkoh cepet sembuh."

Eng Sok mengangguk. Lalu keluar.

---

Di kantin RS, Eng Sok memesan segelas teh botol. Dingin. Manis. Tidak enak. Tapi ia tidak peduli.

Ia memesan ojol. Menunggu sambil minum.

Wajah Ah Chio—yang menangis di pelukannya—terbayang.

Ia tidak ingat wajah dayang itu. Wajah istrinya ia ingat—tapi tidak ada rasa. Tidak ada hangat. Hanya kewajiban.

Tapi Ah Chio...

Hatinya berdegup.

Hangat.

Ada sesuatu yang aneh. Yang ia tidak tahu apa namanya.

Ia meneguk teh botol sampai habis. Ojol datang. Ia pulang.

---

Di rumah, Eng Sok cuci tangan. Cuci muka. Sikat gigi.

Ia menyemprotkan antibakteri dan antiseptik rambut ke rambut panjangnya—kata Ah Oan, biar tidak kena penyakit dari RS.

"Iya, iya," katanya waktu itu. Padahal dalam hati, ia hanya membantu Ah Oan. Lagian tidak enak. Ah Oan sudah memberi "uang tutup mulut" padahal mulut Ah Oan yang harus ia tutup.

“Dunia modern rumit pake ginian. Tapi dari pada sakit”, pikirnya.

Ia merebahkan diri di sofa. Ganti baju dengan kaos dan kolor yang ia pakai sebelum endors lalu sikat gigi. Ah Ti sudah tidur di kamar. Ah Me di kamarnya.

Sepi.

Hanya suara kipas angin.

Eng Sok memejamkan mata.

Wajah Ah Chio—yang menangis—masih terbayang.

Ia tidak tahu apa itu. Tapi hatinya hangat.

Dan untuk pertama kalinya dalam seribu lima ratus tahun, ia tidak memikirkan elixir keabadian. Ia cuma seperti menemukan cerminan jiwanya sendiri dalam diri Ah Cio. Ada orang lain, wanita yang seperti dirinya: terikat pau tap alias balas budi. Dan perbedaan di antara mereka terasa seperti Yong dan Im (Yang dan Yin) terasa beda tapi saling berdampingan. 

Matanya terpejam. 

Di kejauhan, Ah Chio bermimpi dipeluk oleh Eng Sok lalu mereka berciuman. Ciuman yang lama dan panjang.

---

BERSAMBUNG

---

Gadis yang tidak ingin hidup.

Pangeran yang ingin hidup selamanya.

Mereka bertemu di waktu yang salah—atau mungkin tepat?

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!