NovelToon NovelToon
Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tokyo Revengers / Tamat
Popularitas:47k
Nilai: 5
Nama Author: sit nur Aisyah

bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.

"wanita cantik" takemichi

"apa kau lihat lihat!?" izana

"garang sekali" takemichi

"kau sekarang sama denganku" izana

"hah?" takemichi nge-lag

"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

party

Maafkan aku yang melukaimu.

.

.

.

.

Izana berdiri di depan jendela kamarnya.

Tatapannya menerobos kaca bening yang memperlihatkan hamparan pepohonan hijau di luar sana. Burung-burung beterbangan di antara ranting-ranting yang rimbun, menciptakan suasana tenang yang seharusnya menenangkan hati.

Namun tidak untuk Izana.

Pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran.

Dua orang yang paling penting baginya saat ini belum ditemukan.

Dari belakang, Kakucho memeluk pinggangnya dengan lembut.

Ia menyandarkan dagunya di bahu Izana sebelum mengecup singkat pundaknya yang mulus.

"Kenapa?"

"Masih memikirkan mereka?"

tanya Kakucho pelan.

Izana menghela napas panjang.

"Apakah mereka baik-baik saja?"

"Aku benar-benar mengkhawatirkan mereka."

Perlahan ia membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan langsung dengan Kakucho.

Kakucho tersenyum tipis.

Tangannya menggenggam jemari Izana lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Aku yakin mereka baik-baik saja."

"Percayalah."

"Firasatku mengatakan mereka masih hidup dan sedang berusaha melarikan diri."

Setelah itu, Kakucho mengecup kening Izana.

Izana memejamkan mata sejenak.

Ia menikmati ketenangan yang diberikan Kakucho.

Saat membuka mata kembali, ia menatap wajah pria itu beberapa saat.

Lalu memberikan kecupan singkat di pipinya.

"Sungguh..."

"Terima kasih sudah menemaniku."

gumam Izana.

Senyum Kakucho semakin melebar.

"Ayo makan."

"Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."

ujarnya sambil menggandeng tangan Izana.

"Um."

Izana mengangguk pelan.

.

.

.

.

Di tempat lain...

Seorang wanita berdiri di depan jendela besar.

Tatapannya mengarah ke taman luas yang membentang di luar kastil.

Burung-burung beterbangan bebas.

Sesuatu yang sangat ia iri saat ini.

Takemichi menyentuh kaca jendela dengan ujung jarinya.

Bebas.

Ia ingin seperti mereka.

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu kamar terbuka.

Seorang pelayan wanita masuk sambil membawa sebuah kotak besar.

Begitu melihat Takemichi dari belakang, pelayan itu langsung membeku.

Wajahnya memerah.

Ia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Bahkan setelah berhari-hari melayani Takemichi, ia masih tidak terbiasa dengan kecantikan wanita itu.

"N-Nona."

"Saya membawa gaun yang akan Anda kenakan malam ini."

"Karena akan ada pesta besar."

Pelayan itu menundukkan kepala.

"Saya harap Anda bersedia berdandan dan menghadirinya."

Takemichi menoleh.

Tatapannya beralih pada gaun biru yang dibawa pelayan itu.

Beberapa saat kemudian...

Ia tersenyum.

Lalu mengangguk.

Pelayan itu langsung terkejut.

Biasanya Takemichi akan menolak mentah-mentah.

Namun kali ini ia begitu tenang.

"B-baiklah, Nona."

"Saya akan menyiapkan semuanya."

Pelayan itu membungkuk lalu keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup...

Senyum Takemichi langsung menghilang.

Wajahnya kembali datar.

Bruk.

Gaun itu dilemparkannya ke atas ranjang besar yang menyerupai tempat tidur seorang putri kerajaan.

"Pesta, ya?"

gumamnya.

Sebuah benda berkilau muncul di tangannya.

Sebuah pisau kecil.

Takemichi memutarnya perlahan.

"Tenang saja."

"Aku akan mengacaukan pesta itu."

"Dan membawa Mikey-kun keluar dari tempat ini."

ucapnya mantap.

.

.

.

.

Di sisi lain...

Mikey kini sudah jauh lebih baik.

Sudah seminggu berlalu sejak ia dikurung di kastil itu.

Meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, kondisinya jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Hari itu, kamar Mikey kembali dipenuhi para pelayan.

Mereka membawa pakaian mewah dan berbagai perlengkapan pesta.

Mikey sebenarnya tidak ingin ikut.

Namun ancaman yang melibatkan Takemichi membuatnya tidak punya pilihan.

"Tuan."

"Saya akan membantu merapikan penampilan Anda."

ucap salah seorang pelayan.

Mikey hanya melambaikan tangan.

Isyarat agar mereka segera menyelesaikan pekerjaan mereka.

Tak lama kemudian semua pelayan pergi.

Ruangan kembali sepi.

Mikey duduk di kursi dekat jendela sambil memegang cangkir teh.

Tangannya meraba bekas luka di lehernya yang kini mulai memudar.

"Hmph."

"Sebuah kehormatan katanya."

ucapnya sinis.

"Tapi lihat saja apa yang akan terjadi nanti."

Mikey menyeruput tehnya dengan tenang.

Sorot matanya justru menunjukkan sesuatu yang berbahaya.

.

.

.

.

Skip.

Malam akhirnya tiba.

Aula besar kastil dipenuhi para tamu undangan.

Lampu kristal berkilauan di langit-langit.

Musik lembut mengalun memenuhi ruangan.

Semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka.

Tep.

Tep.

Tep.

Suara tepuk tangan terdengar ketika pasangan-pasangan bangsawan mulai memasuki aula.

Tak lama kemudian...

Dua pasangan utama muncul.

Cain bersama Takemichi.

Dan Rania bersama Mikey.

Seluruh perhatian langsung tertuju pada mereka.

Sebagian besar tamu menatap kagum.

Sebagian lagi menundukkan kepala memberi hormat.

Di atas panggung, pembawa acara mulai berbicara.

"Selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir."

"Hari ini kita berkumpul dalam perayaan yang sangat istimewa."

"Yaitu pertunangan Yang Mulia Cain dan Putri Rania dengan pasangan pilihan mereka."

Pembawa acara kemudian mempersilakan Cain naik ke panggung.

Cain tersenyum.

Tangannya mengapit jemari Takemichi yang sejak tadi tampak dingin dan tidak berekspresi.

"Terima kasih atas kehadiran kalian."

"Kami berharap kalian menjadi saksi bagi ikatan yang akan terbentuk malam ini."

ucap Cain.

Setelah menyampaikan pidatonya, ia turun dari panggung.

Musik kembali dimainkan.

Cain mengulurkan tangannya kepada Takemichi.

Di sisi lain aula, Mikey menggertakkan giginya.

Melihat Takemichi berada di samping pria itu membuat dadanya dipenuhi rasa kesal.

"Mikey."

"Ayo berdansa."

ajak Rania sambil menggandeng lengannya.

"Ck."

"Baiklah."

jawab Mikey dengan enggan.

Sementara itu, Cain langsung menarik Takemichi ke tengah aula.

Mereka mulai berdansa mengikuti irama musik.

Namun gerakan Cain terasa terlalu memaksa.

Takemichi hanya mengikuti seperlunya.

"Takemichi."

bisik Cain.

"Kau milikku."

"Pasanganmu sudah berada di sisi adikku."

"Lupakan dia."

"Jadikan aku satu-satunya di hatimu."

Takemichi tidak menjawab.

Ia hanya menunduk.

Kemudian...

Tangannya bergerak ke belakang gaun.

Jlep.

Mata Cain langsung membelalak.

Musik yang sebelumnya memenuhi aula mendadak terasa menghilang.

Semua orang terdiam.

Cain terhuyung.

Sebuah belati perak telah menancap di dadanya.

Darah mengalir membasahi pakaian mewahnya.

"Nii-sama!!"

teriak Rania.

Ia berlari menghampiri Cain dan langsung memeluk tubuh kakaknya yang mulai kehilangan tenaga.

Takemichi menundukkan kepala.

Tangannya gemetar.

Ia tidak ingin melakukan ini.

Namun ia juga tidak ingin terus terkurung.

"Nii-sama!"

"Bertahanlah!"

Rania menangis.

Seluruh aula mulai gempar.

Tatapan para vampir tertuju pada Takemichi.

Sebagian marah.

Sebagian terkejut.

Sring!

Seorang penjaga menghunus pedangnya.

Hampir saja menyerang Takemichi.

Namun Takemichi tetap berdiri diam.

Matanya menatap Cain.

Lalu...

Cruss.

Ia mencabut belati itu dari dada Cain.

Darah kembali mengalir.

Semua orang menahan napas.

Mikey menatap Takemichi dengan bingung.

Apa yang sedang ia lakukan?

Cruss.

Takemichi menyayat pergelangan tangannya sendiri.

Mata Mikey langsung membelalak.

"Takemichi!"

Serunya panik.

Aroma darah segera memenuhi aula.

Beberapa vampir tampak kesulitan mengendalikan diri.

Namun Takemichi tidak peduli.

"Darahku adalah obat bagi kalian."

ucapnya tenang.

"Tapi aku tidak memberikannya secara cuma-cuma."

Semua orang terdiam.

Tatapan Takemichi tertuju pada Cain.

"Bebaskan aku dan Mikey."

"Dan aku akan memberikan darahku kepadamu."

"Apa kau bersedia?"

Cain yang masih sadar menatapnya dalam diam.

Sementara Rania hanya menggigit bibir.

Ia tahu kakaknya salah.

Namun ia juga tahu perasaan Cain begitu tulus.

Beberapa detik berlalu.

Takemichi tidak menunggu lebih lama lagi.

Ia mengulurkan tangannya.

Darahnya diberikan kepada Cain.

Wuuung—

Cahaya terang memenuhi aula.

Semua orang menutup mata mereka.

Tubuh Cain diselimuti sinar yang menyilaukan.

Lukanya perlahan menutup.

Darah berhenti mengalir.

Semua orang menatap Takemichi dengan takjub.

Sementara Cain masih menggenggam tangannya.

Namun perlahan...

Genggaman itu melemah.

Lalu terlepas.

Cain menatap Takemichi dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan.

Sedangkan Takemichi tidak menoleh lagi.

Mikey segera menghampirinya.

Tanpa membuang waktu, keduanya berlari meninggalkan aula megah itu.

Meninggalkan kastil.

Meninggalkan para vampir.

Dan meninggalkan seseorang yang akhirnya harus merelakan orang yang dicintainya pergi.

.

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

1
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran sama cerita selanjutnya
Kirana Yola adiba
aku penasaran kak lanjut kak
Kirana Yola adiba
lanjut kak penasaran aku dg cerita selanjutnya
makasih ya kak udah up banyak
shinobu
lanjut min ceritanya bagus
Kirana Yola adiba
penasaran aku dg cerita selanjutnya
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu
lanjut ke konten utama nya
Kirana Yola adiba
lanjut kak
Kirana Yola adiba
aduh penasaran aku lanjut kak semangat
Saada Sania
lanjut author
Kirana Yola adiba
lanjut kak
hore kakak up
Kirana Yola adiba: sama sama
total 4 replies
REN & HARUKA
baguss thorrr🤩
누르하이다🤭☺️
pantesan thor aku tungguin gak up up ternyata eh ternyata.....
누르하이다🤭☺️: gak papa thor tapi kalo ada rencana mau buat cs/novel baru kabari ya thor biar aku bisa basa
total 2 replies
Kirana Yola adiba
padahal cerita nya bagus dan menarik
AkuAulia loplop pecinta BxB: iya bener
total 3 replies
haruchiyo aya
Luar biasa
aza
Kecewa
aza
Buruk
Kirana Yola adiba
lanjut kak
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak
nea oktavia d
author lanjut
Shazarina Kamlun
di tunggu kelanjutaanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!