Tristan Emilio, menyimpan dendam atas kematian adiknya. Merencanakan pembalasan dendam dengan menyakiti Gendis Nayaka Putri.
"Kehormatan dibalas kehornatan, nyawa dibalas nyawa," ujar Tristan.
"Lakukan apapun semaumu, lampiaskan dendammu tapi jangan sakiti keluargaku," sahut Naya.
Apakah dendam Tristan akan terbayarkan?
Bagaimana nasib Naya setelah merelakan hidupnya untuk membayar kesalahan sang Kakak?
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung jawab
Kondisi Naya sudah mulai stabil bahkan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Daru yang menemani Naya, Tristan sudah pergi entah kemana setelah menerima telepon kemarin sore.
Daru duduk tertidur di kursi sebelah ranjang dimana Naya berada. Naya mengerjapkan pelan kedua matanya dan merasakan pusing serta perih di pergelangan tangan. Melihat sekeliling dan ada Daru di sana.
“Kak Daru,” panggil Naya lirih.
Daru bergeming, sepertinya dia sangat lelah dan mengantuk. Pergerakan yang dilakukan Naya dan panggilannya tidak didengar. Naya mengingat kembali kejadian dimana dia menemui Tristan dan melukai tubuhnya sendiri.
“Nay,” ujar Daru yang terbangun dan melihat Naya. “Ada yang sakit?” tanya Daru lalu menekan tombol darurat memanggil dokter atau perawat. Tidak lama kemudian seorang perawat masuk ke dalam kamar.
“Suster, adik saya sudah sadar.”
Perawat tersebut mengecek keadaan Naya kemudian memanggil dokter. Setelah pemeriksaan, Dokter menyarankan agar Naya kembali beristirahat. Dia juga menanyakan keluhan yang dirasakan Naya.
“Kepala saya pusing,” sahut Naya.
Dokter menganggukkan kepalanya. “Hal itu wajar karena luka menyebabkan Nona Gendis kehilangan banyak dara dan seperti yang saya sampaikan kemarin, rekomendasi untuk pemeriksaan psikologi. Tapi tidak usah khawatir, pasien tetap di sini karena dokter yang akan visit,” tutur dokter pada Daru.
“Kak Daru, aku mau pulang,” pinta Naya.
“Kondisi kamu belum kuat, Kakak tidak berani memaksakan kamu untuk pulang. Kita tunggu izin dari dokter.”
“Tapi ….”
“Nay, tolong dengar Kakak kali ini. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tadi lewat, mungkin rasa bersalah akan menghantuiku seumur hidup. Jangan lagi lakukan hal yang merugikan hidup kamu Nay. Akhiri pengorbananmu, kita akan tinggalkan Jakarta dan mulai hidup baru.”
“Tapi Kak, aku ….”
“Aku tahu, kamu sedang hamil. Kondisi kamu kemarin pengaruh terhadap kehamilan kamu. Berdoa saja tidak terjadi apapun dengan janinmu.”
Naya menghela nafasnya. Sempat ceroboh dan tidak memikirkan kehamilannya saat melakukan hal yang sangat bodoh dengan melukai diri sendiri dihadapan Tristan. Tapi itu semua dia lakukan untuk menebus dan mengakhiri dendamnya. Naya sendiri tidak menyangka kalau dia malah selamat, sudah benar-benar yakin dengan keputusannya mengakhiri hidup dengan Tristan.
Sedangkan di kediaman Bagas. Tristan mendapatkan dua kali tamparan dari Papi-nya. Mengetahui apa yang Tristan lakukan pada Naya.
“Papi tidak pernah mengajarimu menjadi seperti ini, dia tidak bersalah. Perempuan itu ….” Bagas tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Awal semua ini karena aku sangat dendam pada Andaru, dia yang sudah membuat kita kehilangan Sheryl. Bagaimana mungkin dia masih nyaman dengan hidupnya sedangkan kita kehilangan Sheryl.”
“dan kamu hampir membuat kejadian Sheryl terulang. Beruntung perempuan itu masih selamat, bagaimana kalau dia meninggal. Apa otakmu tidak berpikir sampai ke sana?” teriak Bagas.
“Pih, cukup. Saat ini bukan itu yang harus kita bicarakan. Naya, dia hamil. Hamil cucu kita,” tutur Mami Tristan.
Bagas berdecak, apa yang disampaikan istrinya benar. Masalahnya sekarang adalah Naya yang ternyata hamil karena perbuatan Tristan.
“Aku akan menikahinya.”
“Kamu pikir Naya mau menerima kamu. Kalian bukan terikat karena rasa tapi karena kamu yang memaksa. Perempuan tidak akan mudah memberikan tubuhnya tanpa cinta dan Naya melakukannya karena kesepakatan dengan kamu ‘kan?”
Tristan menjambak erat rambutnya. Apa yang harus dilakukannya kalau Naya benar-benar tidak menerima tanggung jawabnya.
“Mami bisa bantu aku untuk membujuknya,” sahut Tristan.
“Entahlah, Mami tidak yakin.”
“Kita akan menemui dia besok. Saat kondisinya sudah lebih baik,” usul Bagas.
...***...
Naya sudah bisa bergerak lebih leluasa dibandingkan sebelumnya, bahkan tadi dia sudah mendapatkan kunjungan dari psikolog. Kehamilannya pun dinyatakan baik-baik saja, tapi dia belum diperbolehkan pulang.
Daru baru saja memberikan obat yang harus dikonsumsi oleh Naya setelah makan siang dan tidak lama kemudian Naya tertidur. Entah karena pengaruh obat atau memang kondisinya yang belum benar-benar pulih.
Sore harinya, Daru dan Naya dikejutkan dengan kehadiran orang tua Tristan. Kakak beradik itu tidak dapat berucap apapun hanya saling pandang lalu menatap pasangan paruh baya yang berdiri tidak jauh dari brankar Naya.
“Eh, silahkan duduk,” ujar Daru memberikan kursinya pada Ibu Tristan.
Wanita itu tersenyum lalu menatap Naya.
“Maafkan saya,” ucap Daru memecah keheningan. “Turut berduka atas kematian Sheryl,” tutur Daru.
“Tolong maafkan Kakak saya, jangan pisahkan kami dengan memisahkan kami dengan tubtutan kalian.”
“Naya,” sela Bagas. “Bukan itu yang ingin kami bicarakan. Tapi kamu,” ujar Bagas lagi.
Daru dan Naya kembali saling tatap, tidak mengerti maksud dari kedua orang dihadapan mereka.
“Aku tahu Tristan sudah bersalah padamu Nak, tolong jangan lukai dirimu lagi. Kami pastikan Tristan akan bertanggung jawab. Kamu mau menerima Tristan ‘kan?” tanya Mami Tristan pada Naya.
“Bertanggung jawab?” tanya Daru.
“Iya, izinkan Tristan menikahi adikmu,” jawab Bagas.
Daru menatap Naya yang menggelengkan kepalanya.
gentala & ajeng
kerennnnnnnn lahhhhh pkknya
tristan²... kamu kan blum tau crta aslinya gmn, main bales dendam aja, hati² besok nyesel aja, tau rasa deh
Naya gak ada salah apapun. Sheryl juga salah karena gak bisa jaga diri.
pengecut kau... semoga kau bucin sama naya