Liora Annetta, biasa di panggil Lily.
Lily gadis remaja yang manis dan periang si penjual bunga kesayangan Papa Miko. Mamanya sudah lama meninggal.
Setelah usai ujian menengah atas, papanya menjodohkan dan menikahkannya dengan seorang yang usianya jauh diatasnya. Demi mewujudkan keinginan terakhir mamanya ia pun menerima pernikahan itu dengan lapang dada.
Apakah ia dan Dion, suaminya bisa saling jatuh cinta mengingat mereka menikah akibat perjodohan? Dan lagi, Dion adalah laki-laki kaku yang sulit dibaca isi hati dan pikirannya. Berbeda dengan mantannya yang romantis dan pengertian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah
Lily, gadis bertubuh mungil itu sudah segar dan rapi. Rambut panjangnya masih lembab dan dibiarkan terurai. Di dalam kamar dia tidak kesulitan untuk menemukan alat kecantikan. Lagi-lagi mami yang sudah menyiapkan segala keperluannya.
“Selamat pagi menantu mami tercantik.”
“Eh, selamat pagi juga, Mi.” Masih kikuk. Tersadar kalau dia sekarang adalah bagian dari keluarga kaya ini. Mami sudah menyambutnya di bawah tangga.
“Kata suami kamu, kamu tadi masih tidur. Jadi Mami sengaja menunggu kamu biar kita sarapan bareng. Gimana tidur kamu, nyenyak kan?”
“Iya, Mi. Nyenyak.” Lily tersenyum. Memalukan sekali kalau kejadian tadi diceritakan. “Makasih ya Mi, untuk pijatan tadi malam.”
“Iya Sayang. Ayo kita sarapan!” ajak mami. Lily menurut saja. Perutnya memang sudah lapar. Mami menuntun Lily ke meja makan yang ia belum hapal betul di mana letaknya. Sepertinya dalam seminggu ke depan dia baru akan tahu letak semua ruangan yang ada di rumah mewah ini.
“Oh ya, Mi. Papi mana?” tanyanya disela-sela sarapannya.
“Papi dan Dion udah berangkat ke kantor.”
Gadis itu manggut-manggut. “Oh ya, Mi. Anak kecil yang manis yang pernah mami bawa ke toko bunga di mana?”
“Ah Mami lupa kasih tahu, Tiara dan keluarganya nggak bisa datang ke pernikahan kalian kemarin. Beberapa minggu ke depan baru datang. Karena acara pernikahan kalian yang mendadak, mereka nggak bisa mengatur waktu.”
“Ogh gitu ya, Mi.”
“Ga apa-apa kan sayang, Mbak Tiara nggak datang ke acara nikah kamu?”
“Nggak papa dong Mi. Lily cuman penasaran kenapa nggak lihat anak manis itu. Mungkin sedikit kangen aja, hehe.”
Mami tersenyum, “namanya Ariel.”
Mereka melanjutkan lagi sarapannya sampai selesai.
“Ly, kamu nggak papa kan Mami tinggal di rumah sebentar. Mami ada reuni sama teman-teman Mami, atau kamu ikut Mami aja.”
“Nggak kok Mi, nggak papa lah. Mami pergi aja. Lily juga sepertinya akan ke rumah mengambil barang keperluan Lily.”
Mami berpikir barang apa yang belum disediakannya buat menantunya itu. “Memang apa yang mau kamu ambil sayang? Mami belum siapin apa di kamar kamu?”
“Lily cuman mau ambil ponsel dan beberapa buku kok, Mi,” jawabnya. Padahal dia juga mau membawa beberapa potong baju dan celana jeans. Lily sudah melihat isi lemari yang di dominasi gaun. Mana nyaman dia memakai pakaian itu.
Aku juga kangen banget sama papa.
“Ya udah bareng aja sama Mami ya. Biar Mami antar.”
_____________________________________________
Di rumah Lily.
“Bi, papa udah berangkat ya?”
“Eh, Neng Lily.” Bi Itan sedikit kaget, menghentikan acara menyuci piringnya. Lily meminta mami untuk menurunkannya di depan gang saja. Jadi Bi Itan tidak mendengar suara kendaraan. “Udah Neng, satu jam yang lalu.” Bi Itan membilas tangannya dan mendekat.
“Neng, Neng geulis pisan pake baju ini.” Bibi kagum melihat penampilan Lily yang lebih feminim. Biasanya kalau di rumah, Lily hanya memakai kaos oblong dan celana pendek rumahan. “Bibi pangling.”
“Bibi bisa aja. Lily mah cantik wae pake baju apa juga.”
Bibi tertawa. “Iya, betul pisan. Tapi yang sekarang ini paling cantik.” Mereka berdua tergelak.
“Selamat menempuh hidup baru ya Neng. Maaf bibi nggak bisa datang kemarin,” sesal bibi.
“Nggak papa lah Bi. Kesehatan Mang Jodi lebih penting loh. Jadwal cuci darah Mang Jodi kan kemarin,” ucap Lily dengan senyum sumringahnya. Mang Jodi, suaminya Bi Itan kena gagal ginjal selama setahun ini. Papa yang membantu mereka, karena saat itu belum memiliki asuransi kesehatan. Dan sayangnya sampai saat ini belum mendapatkan pendonor yang pas. “Lalu bagaimana keadaan mamang sekarang?”
“Seperti biasa Neng. Nggak sanggup kerja berat, gampang capek.”
“Yang sabar ya, Bi.” Mengusap lembut lengan bibi. “Semoga mamang cepat dapat pendonor.”
“Amin. Makasih ya Neng. Eh ini Neng, Bibi udah siapin kado buat Neng.” Pergi ke meja makan dan mengambil kado itu. “Tadinya Bibi mau titip aja ke bapak, tapi bapak bilang lebih baik langsung aja kasih ke orangnya. Untunglah Neng Lily datang. Sekali lagi selamat menempuh hidup baru ya Neng.” Memberi kadonya.
“Aduh, Bibi jadi repot-repot begini. Makasih banyak ya, Bi.”
“Neng, jangan dilihat isinya ya. Bibi bingung mau kasih apa. Karena Bibi lihat Neng suka nulis, jadinya Bibi beli buku harian saja.”
“Jadi ini isinya buku diary ya, Bi?”
“Oalah, keceplosan. Kumaha ieu teh. Jadi bukan kejutan.”
“Haha, ya nggak papa lah Bi. Lily juga nanti akan tahu.” Senyum-senyum melihat wajah kesal bibi. “Makasih banyak ya Bi, kadonya. Lily senang banget.”
“Bukan apa-apa Neng, cuman hadiah sederhana. Semoga pernikahan Neng langgeng sampe punya anak cucu ya.”
Lily tidak mampu untuk mengamini. Dia juga tidak tahu sampai sejauh mana pernikahan ini akan bertahan. Pernikahan yang tidak didasari cinta. “Oya, Bi. Bibi lagi apa, biar Lily bantu.”
“Itu Neng, cuci piring. Tinggal sedikit lagi kok."
“Kalo gitu, Lily ke kamar dulu ya Bi.”
Bibi melihat punggung gadis mungil itu sampai menghilang. Bi Itan tahu pernikahan ini terjadi karena perjodohan. Bibi juga melihat ada gurat kesedihan di wajah anak majikannya tadi. Bibi hanya bisa berdoa supaya pernikahan itu menemukan titik kebahagiaan.
Dia merindukan kamar ini. Baru satu malam saja tidak tidur di sini, rindunya sudah sangat berat. Menghempaskan tubuhnya di kasur itu, berguling ke kanan dan ke kiri, kemudian terlentang menatap langit-langit.
“Aku nggak nyangka akan menikah di usia ini.
Laki-laki itu, dia tidak mencintai aku dan aku juga tidak.” Dia bergumam sendiri di kamar itu.
“Dan anehnya, kenapa tadi malam aku bisa tidur nyenyak ya. Biasanya kalau di tempat baru aku susah tidur. Apa karena pijatan dengan mami tadi malam?” Masih bicara dengan dirinya sendiri.
“Sebentar, aku belum menemukan jawaban kenapa dia bisa tidur denganku.” Melamun sebentar, "ah udah pasti itu modusnya.” Bangkit berdiri, lalu mondar-mandir.
“Nggak, nggak. Itu bukan modus. Terlihat jelas kalau dia sama sekali nggak tertarik padaku. Apa benar aku yang merengek minta ditemani olehnya? ahh, yang benar saja. Sudah gila apa aku. Apa sebenarnya yang terjadi tadi malam??”
Dengan masih pertanyaan itu di kepalanya, Lily mengambil tas kecil. Memasukkan beberapa potong baju kesayangannya, membawa juga sebingkai foto dan beberapa buku dan tak lupa juga diary kesayangan. Laptop dan ponsel pintarnya juga adalah barang yang wajib dibawa.
“Apa yang aku kerjakan sehari-hari nantinya ya? apa aku akan diam terus di rumah? itu kan membosankan. Nanti aku minta saja kuliah. Kalau nggak dikasih, aku minta sama papa.”
Lily kini sudah di atas motor kesayangannya. Dia tentu saja akan ke toko bunga. Sebelumnya dia sudah mengganti baju dengan pakaian yang menurutnya nyaman di tubuhnya.
Ih kok maksa hahaha🤣🤣🤣
author bisa aja loh.
keren thor...pengulangan kalimat yang tepat menggambarkan suasana tokoh. mantap betul Thor👍👍👍👍👍👍
Salam dari "KARENA USTADZ AKU CACAT"