Kisah gadis polos bernama Kania dengan seorang laki-laki yang Kania anggap sebagai monster karena memiliki banyak memar di wajah.
Jangan lupa add Facebook Author ya : Helly IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defina Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pagi Pertama
Saat di Kamar, Daniel mulai melancarkan aksinya.
"Tubuh kamu indah banget Sayang," gumam Daniel seraya menatap penuh n4fsu diri Kania dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mendengar hal itu, Kania hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jangan diliatin terus Kak!" peringat Kania sembari merem4s-rem4s sprey saking malunya ditatap seperti itu oleh Daniel.
"Haha, mubadzir dong Sayang kalo ga diliatin. Tapi lebih mubadzir ga dinikmatin sih," jahil Daniel seraya tertawa.
"Ngomong apa sih Kak?" ketus Kania sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, bercanda Sayang."
Kania mulai bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia benar-benar kesal pada Suaminya yang malah menertawainya.
"Sebentar."
Daniel mulai turun dari kasur lalu berjalan menuju nakas untuk mengambil gelas berisi air berwarna emas keemasan.
Tanpa babibu, Daniel meneguk air tersebut sampai habis.
"Hahh.." Daniel perlahan menghela napas panjang setelah meminum jamu kuat.
Lalu tanpa pikir panjang Daniel kembali menghampiri Kania sambil membuka kaosnya.
Lalu terjadilah proses ekhem.
***
Pagi telah tiba.
Tampak pasangan Suami Istri yang baru menikah kemarin masih tertidur pulas di atas ranjang king size.
Namun, tak selang lama, salah satu dari mereka mulai menggeliat kecil saat pantulan cahaya matahari menyoroti wajahnya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Kania. Wanita yang kemarin malam telah menjadi milik Daniel seutuhnya.
Perlahan Kania pun membuka matanya. Dan seketika senyuman mulai hadir menghiasi bibirnya ketika yang dilihat pertama kali saat bangun adalah sang Suami.
"Tampan banget suaminya Kania," kagum Kania sambil menyentuh setiap inci wajah tampan milik Daniel dengan sangat lembut.
"Hmmm." Daniel mulai terusik dari tidurnya ketika mendapat usapan lembut dari jemari tangan Kania.
"Eh Sayang, kamu sudah bangun," ucap Daniel seraya tersenyum manis ke arah Kania.
"Ha!" Kania refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan saat mengingat aktivitas semalam yang dia lakukan dengan sang Suami.
"Kenapa?" tanya Daniel seraya terkekeh.
"Malu!" cicit Kania.
Mendengar hal itu, Daniel langsung tertawa. "Hahaha, kenapa harus malu. Kita kan sama-sama udah saling liat, bahkan udah saling ngerasain," ucap Daniel.
"Ihh Kakak," gerutu Kania.
"Hahaha, ya udah aku minta maaf Sayang," ucap Daniel seraya meraih kedua tangan Kania, lalu mengecup cukup lama kedua punggung tangan itu.
"Gimana? Mau ngelanjutin yang kemarin malam ga?" tanya Daniel sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
Dengan cepat Kania menggeleng. "Enggak mau! Kapok!" tolak Kania mentah-mentah.
"Kok kapok? Ya ga bisa gitu dong Sayang, nanti kamu dapet dosa loh karena nolak ajakan Suami," ucap Daniel.
"Hah, beneran Kania dapat dosa kalo nolak ajakan Kakak?" tanya Kania merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
"Yaiyalah Sayang. Ga percaya?"
Cepat-cepat Kania mengangguk. "Percaya Kak, percaya!" jawab Kania.
"Tapi Kak, kalo sekarang Kania masih ngantuk, terus capek lagi," keluh Kania dengan wajah sayu.
"Ya udah, kamu tidur lagi ya!" seru Daniel seraya merangkul tubuh Kania agar semakin dekat dengannya.
Kania mengangguk. Lalu tanpa babibu Kania menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Daniel.
Setelah itu, matanya perlahan terpejam, bergegas kembali ke alam mimpi.
*
*
*
Jam menunjukan pukul 11 pagi. Tampak di atas kasur, Kania masih tertidur dengan nyenyaknya. Dan ...
Kruukkk!
Tiba-tiba perut Kania berbunyi. Kania yang merasa risih dengan suara demo dari perutnya, langsung bangun dari tidurnya.
"Hmm, Kania laper!" rengek Kania dengan mata terpejam.
"Kak!" Kania mulai meraba-raba tubuh Daniel dengan tujuan untuk membangunkan Suaminya itu.
Namun, Kania merasakan tangannya hanya menyentuh sprey.
"Loh, Kak." Kania perlahan membuka mata dan tidak melihat sosok Daniel di tempat tidur.
"Kak Daniel ke mana?"
Krukkk ...
Suara demo dari perut Kania kembali terdengar.
"Duhh, laper banget!" ucap Kania sambil memegangi perutnya.
Karena merasa lapar, akhirnya Kania turun dari kasur sambil menutupi tubuh polosnya menggunakan selimut.
Bruk!
Kania langsung terjatuh ke atas lantai karena tidak bisa mengimbangi tubuhnya.
"Awww, sakit... Huaaa ...," ringis Kania seraya menangis keras ketika merasakan sakit yang luar biasa pada sekujur tubuhnya terutama di bagian mahkotanya.
"Kania?" Daniel yang kebetulan ada di kamar mandi langsung terkejut saat mendengar suara tangisan Istrinya.
Karena khawatir, Daniel pun menghentikan ritual mandinya.
Setelah itu, Daniel cepat-cepat memakai handuk lalu bergegas keluar memeriksa keadaan Kania.
"Ya ampun, Sayang!" kaget Daniel ketika mendapati Istrinya sedang dalam posisi tengkurap di atas lantai.
"Huaaa, sakit ..."
Dengan cepat Daniel menghampiri Kania. Setelah itu, ia mulai menggendong tubuh sang Istri lalu membaringkannya kembali di atas tempat tidur.
"Kok bisa jatuh hm?" tanya Daniel seraya mengusap buliran air mata Kania yang terus berjatuhan.
"Sakittt, hiksss ..." cicit Kania sambil mencengkram erat lengan kekar milik Daniel.
"Sssttt ..." Daniel perlahan membelai rambut Kania. Setelah itu ia mulai mengecup seluruh wajah sang Istri dengan lembut.
"Jangan nangis Sayang, nanti kita obati ya!" seru Daniel seraya meletakkan dahinya di dahi Kania dengan harapan Istrinya bisa merasa lebih tenang.
"Janji ya, Kakak sendiri yang harus obatin Kania. Karena gimanapun juga badan Kania sakit gara-gara Kakak, jadi Kakak harus tanggung jawab, titik," ucap Kania dengan memasang ekspresi merengek yang lucu.
"Iya Sayang, nanti aku yang tanggung jawab," ucap Daniel seraya mengelus pipi Kania dengan lembut.
"Awas aja kalo kabur!" gerutu Kania.
Mendengar hal itu, Daniel pun langsung tertawa. "Hahaha, ya engga lah Sayang, mana tega aku ninggalin istri selucu ini," ucap Daniel sambil mencubit pipi Kania dengan gemas.
"Lagian kamu ham1l pun, aku yang tanggung jawab," sambung Daniel.
Lantas dahi Kania langsung berkerut saat mendengar kata ham1l. "Ham1l? Emangnya Kania bisa ham1l?" tanya Kania.
"Loh, apa yang kita lakuin kemarin malam kan bisa buat kamu ham1l Sayang," timpal Daniel.
Kania mulai ber-oh ria. "Ooo gitu ya Kak, kirain Kania perempuan bisa bakal ham1l kalo makan terigu."
Daniel yang mendengar hal itu tentu saja langsung tertawa keras. "Hahaha, bentar ... kamu bilang apa tadi? Makan terigu?"
Kania mengangguk mengiyakan.
"Siapa yang bilang hah?" tanya Daniel.
"Mommy Milla," jawab Kania terus terang.
"Mommy tiri kamu?" tanya Daniel, yang kemudian direspon anggukan kecil dari Kania.
"Pantesan aja!" ucap Daniel, lalu menarik napas dalam-dalam berusaha untuk tidak tertawa lagi.
"Lain kali jangan terlalu percaya sama omongan Mommy tiri kamu ya Sayang!" peringat Daniel.
Kania hanya merespon dengan anggukan.
"Kakak udah mandi?" tanya Kania seraya menyentuh rambut Daniel yang basah.
"Baru setengah Sayang. Kenapa? Mau mandi bareng?"
Dengan ragu-ragu Kania menganggukan kepala.
"Tapi Kakak janji ya ga akan macam-macam?"
"Iya Sayang," jawab Daniel, lalu menggendong tubuh Kania ala bridal style menuju kamar mandi.
'Kalau gak khilaf,' batin Daniel dengan tersenyum menyeringai.
bersambung
Halo Halo, sudah lama gak berjumpa dengan kalian hihi.
ini kania emang gak tau apa apa atau gimana kk. ko lugu ya kebangetan
lo ketemu sama orang jahat gimana coba....