Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Amerika Serikat
Drrrrrttttt... drrrrrttttt..
Suara dering ponsel mengalihkan pria paruh bawa yang sedang sarapan bersama bareng istrinya. Abraham menyimpan sejenak sendok serta garpu di atas piring lalu mengangkat panggilannya.
"Halo, ada apa pagi-pagi kau menelpon Papa?"
"Pah, Nathan mau cuti kerja selama satu bulan."
"Apa? mana mungkin kau cuti satu bulan sedangkan di sini pekerjaan begitu numpuk."
"Kan ada Billy yang akan membantu Papa. Lagian, aku ingin menambahkan waktu honeymoon ku. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan istriku. Please, Pah." Di sebrang telpon, suara Nathan terdengar memelas.
Abraham membuang nafasnya, "Apa kalian sudah berbaikan?" ada secerca harapan yang Abraham inginkan dari hubungan keduanya.
"Itu dia, Nathan ingin berbaikan dengan Bian. Mungkin, dengan kita menghabiskan waktu berdua bisa membuat hubungan kita semakin dekat. Nathan tidak ingin melepaskan Bian, Pah."
Senyum manis tersungging di bibirnya Abraham, dan itu tidak luput dari penglihatan Meta.
"Baiklah, Papa tambah waktu honeymoon kalian menjadi satu bulan. Semoga hubungan kalian semakin membaik dan semoga ketika kalian pulang membawa kabar baik."
"Yes, thank you, Pah. Nathan akan berusaha." Suaranya Nathan terdengar sangat senang.
Abraham menyimpan lagi ponselnya di atas meja setelah selesai berbicara dengan anaknya.
"Jadi Nathan mau menerima Bian?" tanya Meta.
"Sepertinya begitu. Semoga ini awal yang baik buat hubungan mereka."
*********
New York
"Dengan begitu, aku bisa menghabiskan waktuku bersama Bian. Bodo amatlah pekerjaan mah. Kali-kali nikmati hidup bareng wanita." Monolog Nathan tersenyum sudah banyak rencana yang ia siapkan bersama wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Aneh tapi nyata, baru putus namun tidak merasa merana apalagi kecewa. Tapi melihat Bian berpelukan dengan pria lain membuat amarahku memuncak."
Nathan menoleh ke pintu kamar mandi yang dimana istrinya masih mandi. Dia menyimpan ponsel di atas meja namun, matanya tak sengaja melihat paper bag yang ia lupakan.
"Isinya apa sih? kok aku mendadak kepo." Nathan membuka bingkisan itu. "Ponsel? apa ini dari Sean?" mendadak hatinya terbakar cemburu Sean membelikan ponsel.
Ceklek...
Nathan menoleh ke arah pintu kamar mandi. Matanya tak bisa berpaling melihat keindahan di depan mata.
Glek...
Jakunnya naik turun, hanya untuk menelan ludah saja terasa sulit. Matanya meneliti dari atas, rambut panjang tergerai basah masih dengan air yang menetes. Leher jenjang putih bersih di tandai dengan warna merah keunguan hasil karyanya yang kemarin. Pundak mulus seputih susu terlihat menggoda meski ada bekas memarnya. Handuk mini yang hanya menutupi bagian intinya terlihat begitu sexy. Paha yang terpampang nyata serta kaki jenjang mulus tanpa bulu membuat bulu roma Nathan berdiri bagaikan tersambar hantu.
( Tubuhnya begitu terlihat sempurna. )
Bian tidak menyadari jika ada Nathan di sana. Tadi, Nathan sempat berpamitan mau memesan sarapan pagi. Dengan santainya, Bian berjalan ke lemari pakaian sambil kaki yang satunya berjinjit menahan beban supaya tida menapak dengan sempurna karena ada bekas jahitan yang kemarin akibat menginjak beling kaca.
Nathan terus memandangi kegiatan Bian. Perlahan, dia menghampiri istrinya yang sedang membuka lilitan handuk bersiap memakai pakaian dalamnya.
Nathan tidak bisa menahan hawa panas yang ia rasakan. Bahkan, miliknya sudah terasa sesak di balik celananya. Tangannya ia sematkan ke perut Bian memeluk wanitanya dari belakang. Bian terlonjak kaget, tubuhnya meremang gemetar.
Deg...
"Ini aku," bisik Nathan dengan suara lembut tepat di telinga kirinya lalu mengecup ujung telinga itu. Nathan memejamkan mata menghirup aroma wangi strawberry yang menyeruak ke indera penciumannya.
"Na-Nathan.. ka-kau ma-mau apa?" sungguh, keadaan Bian saat ini polos tanpa sehelai benangpun. Dia begitu gugup, takut, namun juga tak mampu menolak karena Nathan suaminya.
Nathan tidak menjawab. Pria itu malah menyusuri setiap lekuk leher Bian. Mengecup lembut pundaknya, punggungnya, lehernya.
"Na-Nathan..."
"Sssttt..." Nathan menghadapkan tubuh Bian secara perlahan sehingga keduanya saling berhadapan. Bian menunduk memejamkan mata, malu, gugup, dan juga takut. Takut jika Nathan akan berbuat kasar lagi seperti kemarin malam.
Nathan menangkupkan kedua tangannya di pipi Bian menatap wajah gugup bercampur takut. Dia mengerti akan kondisinya, maka dari itu, Nathan ingin memperbaikinya dengan sentuhan lembut.
"Buka matamu! Tatap aku!" pintanya sangat merdu dan juga halus. Bian yang tadinya menunduk perlahan mendongak namun, masih dengan menutup mata.
"Tatap aku sayang!"
Nyes...
Hati Bian merasa bergejolak kala kata sayang terucap begitu merdu dan juga mesra. Sontak, dia membuka mata, dan kedua matanya langsung bertubrukan dengan manik mata Nathan yang begitu teduh seolah menghipnotisnya.
"Izinkan aku memperbaikinya, izinkan aku memulai dari awal hubungan ini. Beri aku kesempatan untuk menjadikanmu istriku yang sesungguhnya dan juga beri aku kesempatan untuk mencintaimu, mengenalmu lebih dalam lagi. Aku serius, Bian." ucapnya sangat lembut.
Bian tak mampu menolak pesonanya Jonathan Fernandez. Pria tampan blasteran Amerika-Brasil itu mampu menghipnotis matanya. Meski penampilan terlihat brandalan namun itu semua sungguh terlihat tampan dan juga mempesona.
( Apa aku salah kalau aku terpesona pada suamiku sendiri? apa aku salah kalau aku ingin lebih mengenalnya? apa aku salah jika aku ingin menyerahkan seluruh hidupku kepada pria di hadapanku? sungguh, aku tertarik padanya saat pertama kali berjumpa. )
Nathan mengikis jarak di antar keduanya sampai kedua benda kenyal mereka menyatu. Nathan memberikan kecupan lembut penuh perasaan. Dia ingin membuat Bian nyaman dengan sentuhannya. Dia pria normal yang tidak mampu menolak hasrat yang ia rasakan hanya untuk istrinya. Mamanya benar, jika dia hanya akan bernafsu kepada istrinya saja. Wanita yang telah halal untuk ia sentuh bahkan, bayangan sang Mama tidak nampak di kala dirinya mulai menyentuh setiap tubuh sang istri.
Merasa tidak ada penolakan, Nathan membopong tubuh Bian membawanya ke atas kasur king size lalu membaringkannya secara perlahan. Nathan masih merasakan gemetar di tubuh Bian.
"Kalau kamu tidak sanggup kita lanjutkan lain kali." Nathan tak ingin memaksa lagi.
"A-aku takut." lirihnya terpejam menahan gejolak rasa sakit dan juga takut yang kemarin ia rasakan. Nathan membuang nafasnya secara kasar. Dia ingin menyingkir dari atas tubuh Bian namun wanita itu malah merangkul lehernya.
"Tapi aku ingin memulainya dari awal. Lakukan dengan lembut, tolong hilangkan rasa takutku menjadi sesuatu yang akan sulit ku lupakan!" pintanya menatap lembut manik mata pria yang ada di atas tubuhnya.
Nathan tersenyum, pria itu mengecup kening istrinya penuh perasaan. Nathan berjanji pada dirinya untuk memperlakukan Bian dengan baik, lembut, dan juga penuh perasaan.
Keduanya sama-sama ingin memulai dari awal, menjalani rumah tangga yang sesungguhnya, menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya, menyatukan dua insan yang tidak saling mengenal dalam mahligai rumah tangga penuh keharmonisan.
Jika mereka tidak mencoba, maka keduanya tidak akan bisa bersama. Jika mereka terus menolak karena keegoisan maka keduanya akan berakhir dengan perceraian. Segala sesuatu harus di coba dulu. Jika tidak di coba, mereka tidak akan tahu hasilnya bagaimana.
Bersambung....